
Beberapa hari berlalu, dan semua masih berjalan begitu saja tanpa ada yang berubah. Pelangi masih menjalani hari hari seperti biasa. Menyiapkan makanan untuk Arya, membereskan rumahnya dan juga menunggu Arya pulang bekerja setiap malam. Tidak ada yang spesial, hanya saja saat ini Arya sudah mau duduk dimeja makan bersama Pelangi setiap pagi. Karena jika malam hari Arya pasti lembur.
Hari ini setelah membereskan rumah, Pelangi ingin berjalan jalan ke taman bunga Zelina. Dia ingin melukis disana. Sudah lama sekali Pelangi tidak melukis disana. Siapa tahu dia bisa menghasilkan lukisan yang baik nantinya. Otak Pelangi sudah dipenuhi oleh berbagai imajinasi yang menjadi bahan untuk dia tuangkan dalam kanvas yang dia bawa.
Seperti biasa, Pelangi pergi menggunakan dengan ojek online menuju kesana. Dia juga sudah menghubungi Mia, sahabatnya. Gadis itu sudah berkali kali ingin bertemu dengan Pelangi, namun baru kali ini dia sempat keluar. Bukan karena sibuk, melainkan tubuhnya yang juga baru sehat.
Pelangi tidak ingin kelelahan dan mengakibatkan resiko untuk calon anak nya nanti. Jadi dia memang harus bisa menjaga diri sendiri mulai sekarang.
Satu jam kemudian Pelangi tiba ditaman bunga itu. Dan langsung, suara Mia menyambut Pelangi yang baru turun dari motor.
"Lama banget deh Pel!" seru Mia. Bahkan dia masih jauh, tapi sudah berteriak seperti itu. Memang menyebalkan.
"Singgah bentar tadi beli kuas" jawab Pelangi yang sedikit kesusahan membawa perlengkapan melukisnya.
"Niat banget ngelukis disini" ucap Mia
"Iya dong, kan udah lama gak ngelukis disini. Siapa tahu hasilnya bagus dan bisa dijual" jawab Pelangi
Mia langsung menjelakkan wajahnya mendengar perkataan Pelangi.
"Tumben mikir nya untuk dijual. Gak dikasih uang sama pak Arya" sindir Mia
"Gak pernah dikasih uang" jawab Pelangi
Mia langsung terkejut mendengar itu.
"Beneran?? Kok kejam banget sih" ucap Mia terdengar begitu marah membuat Pelangi langsung tertawa seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sandang nya.
"Memang gak pernah dikasih uang cash, tapi dikasih ini" jawab Pelangi seraya memperlihatkan sebuah kartu pada Mia, hingga membuat gadis itu terbelalak kaget.
"Oh my god, golden card" gumam nya begitu takjub. Bahkan Mia langsung merebut kartu kredit itu dari tangan Pelangi
"Seriusan Pel???" tanya Mia yang memandangi kartu itu dengan mata yang benar benar terperangah tidak percaya.
"Beneran lah, kamu kira aku dapat kartu ini dari mana" jawab Pelangi yang langsung merebut kartu itu dan menyimpan nya kembali kedalam tas.
"Walaupun pak Arya cuek dan dingin. Tapi untuk masalah itu dia gak pernah lalai. Bahkan kartu itu dia kasih waktu hari pertama kami nikah" ucap Pelangi
"Gila ya. Ternyata pak Arya memang orang kaya" gumam Mia
Pelangi langsung mendengus mendengar itu.
"Apaan sih kamu. Dengan ngelihat taman bunga ini aja udah membuktikan kalau dia orang kaya. Apalagi dia yang kerja diperusahaan besar itu. Jadi bos lagi" jawab Pelangi.
"Beruntung banget kamu jadi istrinya" ucap Mia
Pelangi langsung tertegun mendengar itu. Dia tersenyum miris dan menggeleng pelan.
Beruntung dari mana, bahkan mungkin dia adalah istri yang paling menyedihkan di dunia ini. Status Pelangi memang istri Arya. Tapi istri macam apa yang tidak bisa menyentuh suami nya sendiri. Jangankan merebut hatinya, untuk sekedar melihat senyum Arya saja tidak pernah Pelangi lihat. Lantas, keberuntungan apa yang harus Pelangi akui????
Karena uang yang banyak ini??
Tidak... itu bukan sebuah keberuntungan. Itu adalah bumerang untuk dirinya sendiri jika Pelangi memakai nya sesuka hati.
"Itu dari pandangan kamu yang melihat Mia. Tapi kenyataan nya gak semudah itu. Jadi istri pak Arya itu sulit dan sakit" ucap Pelangi pada Mia
Mia memandang Pelangi dengan heran. Dia tahu ini, dia memang tahu. Kelihatan dari wajah Pelangi dan dari perkataan Arya tempo lalu yang tidak mengakui Pelangi sebagai istrinya.
"Kenapa begitu? Dia memperlakukan kamu gak baik dirumah?" tanya Mia
Pelangi menggeleng dan tersenyum. Mereka terdiam sejenak ketika Pelangi membeli karcis untuk masuk kedalam taman bunga itu.
Bahkan mereka diam saat berjalan masuk ketaman bunga yang semakin hari semakin indah dan tak pernah bosan untuk dipandang.
__ADS_1
Pelangi meletakkan alat alat lukisnya diatas rumput, begitu pula dengan Mia yang meletakkan kantung dan keranjang kecil yang dia bawa sejak tadi. Keranjang berisi makanan untuk mereka menghabiskan waktu disana.
"Sekarang cerita sama aku. Apa yang buat kamu ngerasa gak beruntung menikah sama pak Arya. Bukankah selama ini dia adalah orang yang paling kamu sukai?" tanya Mia seraya duduk dan memandang Pelangi yang mulai mempersiapkan semua nya.
"Dia gak pernah berbuat kasar, dia baik, dia mau ngerawat aku ketika aku lagi sakit. Dia ngasih aku uang untuk beli apapun yang aku mau. Tapi kamu pasti ingat kan tentang perjanjian pernikahan yang pernah aku bilang waktu itu" ucap Pelangi
Mia langsung menganguk dengan pelan. Seraya dia yang terus memandangi Pelangi yang mulai mengoleskan warna dasar dikain kanvasnya.
"Apa dengan pernikahan tiga bulan itu bisa dikatakan beruntung. Aku ingin menikah sekali, dan untuk seumur hidup Mia" ucap Pelangi lagi
"Kamu pasti bisa, bukankah kalian udah hidup bersama, satu rumah, satu kamar, dan pasti kamu bisa ngomong sama dia dari hati ke hati" jawab Mia.
Pelangi langsung tersenyum perih mendengar itu.
"Jangankan untuk berbicara dari hati ke hati. Untuk sekedar mandang wajah aku aja dia gak mau. Ngomong seperlunya, dan ada dirumah juga kalau udah malam" ucap Pelangi
Mia terdiam
"Dia gak pernah nyentuh aku Mia"
Ungkapan Pelangi membuat Mia mematung.
"Hanya malam dimana dia gak sadar karena pengaruh obat itu aja. Dan sampai sekarang, dia gak pernah lagi nyentuh aku. Bahkan tidur pun kami di kamar yang berbeda. Kami suami istri, tapi kami seperti orang lain. Kami hidup satu atap, tapi tembok pemisah kami cukup tinggi" ungkap Pelangi lagi
"Pelangi..... kenapa seperti itu???? Apa .... pak Arya udah punya wanita lain, atau kekasih????" tanya Mia. Dia memandang sedih pada Pelangi. Wajah Pelangi memang datar, tapi binar matanya tidak bisa dibohongi, jika dia memang sedang sedih saat ini.
"Ya ... dia udah punya kekasih" jawab Pelangi. Matanya memandang jauh hamparan bunga tulip didepan matanya ini.
"Kekasih??" gumam Mia
Pelangi mengangguk.
"Pemilik taman bunga ini" ucap Pelangi
Mia mengernyit bingung.
"Ya... ini adalah taman bunga yang dibuat pak Arya untuk menjadi mahar dihari pernikahan dia dengan kekasih nya Mia" ungkap Pelangi. Kali ini matanya berkaca kaca mengingat hal yang luar biasa itu. Bahkan Mia sampai melebarkan matanya dan memandang kehamparan bunga tulip didepan mereka.
"Jadi dia akan menikah. Dan ini mahar nya???? Tapi taman bunga ini udah lama banget Pel. Udah bertahun tahun" ucap Mia
Pelangi mengangguk
"Ya, memang udah lama, tapi cinta Pak Arya gak pernah hilang meski udah bertahun tahun kekasihnya pergi" sahut Pelangi
Mia kembali terdiam, memandang Pelangi yang kini mengusap air mata yang mulai menetes.
"Calon istri Pak Arya meninggal karena kecelakaan, tepat dua minggu sebelum mereka menikah. Waktu itu mereka lagi fitting gaun pengantin. Tapi takdir dengan kejamnya mengambil calon istri pak Arya saat itu juga" ungkap Pelangi
Mia kembali terperangah mendengar cerita Pelangi
"Jadi intinya dia belum bisa move on dari calon istri nya itu???" tanya Mia
Pelangi langsung mengangguk pelan
"Pel... itu pasti hal yang paling menyakitkan buat dia. Cinta nya pasti besar banget hingga dia rela buat taman bunga ini untuk mahar pernikahan mereka. Pasti gak mudah nerima orang baru, apalagi dengan cara yang salah dan tiba tiba" ujar Mia
Pelangi kembali mengangguk
"Aku tahu. Maka dari itu dia cuma minta waktu tiga bulan untuk pernikahan ini." ucap Pelangi
Mia langsung mengusap bahu Pelangi dengan lembut.
"Kalau kamu tahan, kamu harus buat dia move on, tapi kalau enggak, pergi Pel. Jangan buat diri kamu sendiri yang tersiksa" ujar Mia
__ADS_1
Pelangi tersenyum dan mengangguk
"Aku tahu Mia. Hanya sebulan lagi, dan aku masih coba untuk merebut sedikit hati pak Arya. Aku juga gak tega lihat dia tenggelam dalam kesedihan yang udah bertahun tahun dia rasain ini. Aku ingin dia bahagia lagi, meski aku tahu ini gak akan mudah" jawab Pelangi
"Kamu pasti bisa, terus buat pak Arya sibuk sama kamu. Meski dia kesal, tapi setidaknya dia gak akan mengingat tentang kekasihnya lagi" ujar Mia
Pelangi mengangguk
"Itu yang sedang aku usahai Mia. Kamu dukung aku kan" tanya Pelangi
Mia langsung mendengus senyum dan mengangguk cepat
"Ya, tentu aja. Aku pasti dukung sahabat aku. Meski sebenarnya aku juga kesal sama kamu karena kamu sempat ngerahasiain hal ini dari aku" ucap Mia
Pelangi tertawa sembari mengusap matanya sekilas.
"Maafin aku. Ini gak mudah, hati aku masih kacau banget waktu itu" ucap Pelangi
"Dan sekarang makin kacau kan. Apalagi pernikahan ini pasti pernikahan rahasia" sahut Mia
"Ya, tapi meskipun begitu saudara pak Arya, nona Nara dia dukung aku untuk buat pak Arya move on" jawab Pelangi
"Syukur deh, setidaknya kamu gak sendiri" ucap Mia
Pelangi mengangguk dan tersenyum.
Dia memang tidak sendiri, tapi bukan berarti semua nya mudah. Hati Arya yang sudah tertutup membuat dia tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Apalagi menerima Pelangi begitu saja.
Banyak tangis dan air mata yang harus Pelangi keluarkan untuk meraih cinta Arya meski dia tidak tahu ini akan tercapai atau tidak.
Yang terpenting, Pelangi akan mencoba nya dulu.
Pelangi melukis sembari bercerita tentang Arya pada Mia. Tidak ada yang dia tutupi, hanya saja Pelangi tidak bilang jika dia sudah hamil sekarang. Pelangi tidak ingin membuat Mia khawatir dengan keadaan ini. Apalagi harus mengasihaninya.
Hingga tidak lama kemudian, suara seseorang mengejutkan mereka.
"Kalian piknik gak mau ajak aku?" tanya Rangga. Dia datang dengan senyum teduhnya seperti biasa.
"Kak Rangga kan lagi sibuk, gak kelihatan juga tadi di depan" ucap Mia
"Iya, tadi keliling. Eh rupanya lihat kalian disini" jawab Rangga yang langsung duduk disamping Pelangi yang sedang fokus pada lukisan nya.
"Keliling kemana?" tanya Pelangi
"Keliling cari kumbang yang mengganggu bunga bunga suami kamu ini lah" jawab Rangga, terdengar kesal saat menyebutkan kata suami itu.
"Ya, awas saja kalau pak Arya lihat kakak disini deketin istrinya, bisa gawat kan ya" sahut Mia
"Kalau berdua mungkin iya, tapi kalau bertiga kayak nya enggak deh" jawab Pelangi
"Emang nya kenapa kalau berdua aja? Cemburu dia?" tanya Rangga
"Pertanyaan aneh" sindir Mia
Rangga hanya terkekeh saja
"Cemburu mungkin enggak. Tapi kan kalau dia lihat gak enak aja kak"jawab Pelangi
Rangga menghela nafas berat dan mengangguk pelan
"Nasib banget temenan sama istri orang" gumam Rangga
"Ngerih ngerih sedap ya kak" goda Mia
__ADS_1
"Iya" jawab Rangga
Pelangi langsung tertawa mendengar itu.