
Jalanan pagi yang cukup cerah. Meski padat dan sedikit macet, tapi masih bisa dilalui dengan cepat. Arya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang setiap hari dia lalui. Namun pagi ini rutenya berbeda. Dia harus mengantar Pelangi untuk pulang kerumah nya.
Akibat ancaman Nara semalam, mau tidak mau pagi ini Arya harus menurut untuk mengantar Pelangi. Tidak ada yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan. Mereka berdua hanya terdiam dengan fikiran mereka masing masing.
Pelangi yang tidak berani memulai pembicaraan, dan Arya yang tidak ingin berbicara. Jadilah suasana didalam mobil itu begitu hening. Bahkan suara musik dan radio pun tidak ada dipasang oleh Arya. Benar benar menunjukkan isi hatinya yang sedang hampa dan kosong.
Pelangi hanya bisa menghela nafasnya dan bersandar dikursi, dengan kepala yang juga dia sandarkan. Rasanya masih pusing dan lemas. Tubuhnya masih juga terasa tidak enak. Ingin cepat sampai dan tidur memeluk bunda nya, mungkin itu akan bisa sedikit mengurangi perasaan tidak enak ini.
Ah tapi .... bagaimana dengan Arya?
Apa dia mau bertemu orang tua Pelangi hanya untuk sekedar berbasa basi?
Pelangi langsung menoleh pada Arya yang masih mengemudikan mobilnya. Terlihat keren sekali dan sangat manis. Betapa beruntung nya dia jika Arya menganggapnya sebagai itri seperti suami suami yang lain. Tapi.... apa mungkin?
Ck... kenapa jadi melenceng kesana.
Pelangi menarik nafasnya dalam dalam seraya duduk dengan tegak dan menoleh pada Arya.
"Pak..." panggil Pelangi dengan hati hati. Jantung nya saja yang sudah bergemuruh dengan hebat sekarang. Memulai berbicara dengan Arya seperti menghadapi lima puluh kepala sekolah saat dia membuat kesalahan dulu.
"Hmm" gumam Arya.
"Nanti bapak mau menemui orang tua saya kan. Sebentar saja" pinta Pelangi
"Tidak, saya mau langsung pulang saja" jawab Arya tanpa mau memandang kearah Pelangi.
"Sebentar saja pak, setidak nya untuk bapak beristirahat dan minum kopi" ujar Pelangi lagi.
Dan kali ini Arya menoleh kearah nya, membuat Pelangi langsung tertegun. Apa Arya akan marah?
"Kamu mau mengatur saya?" tanya Arya
Namun Pelangi dengan cepat menggeleng.
"Bukan .... bukan seperti itu. Hanya saja, selama sebulan lebih ini saya tidak pernah pulang. Saya juga tidak memberi mereka izin untuk datang kerumah bapak. Setidaknya, biar mereka tahu kalau kita baik baik saja. Saya hanya takut jika ayah akan mencari rumah bapak nanti kalau bapak tidak mau berpura pura baik pada saya" ungkap Pelangi dengan wajah sedih nya.
Berpura pura???
Apa selama ini Arya memang sudah begitu jahat?
"Sebentar saja pak, agar ayah dan bunda tidak datang kerumah. Hanya sekedar minum kopi bersama ayah." pinta Pelangi lagi.
Arya terdiam sejenak dengan mata yang masih fokus kedepan. Apa yang dikatakan Pelangi benar juga. Pelangi anak semata wayang mereka. Tentu mereka akan marah jika tahu anak mereka Arya perlakukan tidak adil selama ini.
Yah, dari pada mereka yang datang dan semakin membuat Arya pusing, memang lebih baik Arya yang berbasa basi sebentar.
"Mau ya pak" pinta Pelangi lagi. Dia masih memandang Arya dengan wajah penuh harap nya.
"Hmm... baik lah. Hanya sebentar" jawab Arya akhir nya.
Pelangi langsung tersenyum senang mendengar nya.
"Terimakasih pak." ucap Pelangi dengan helaan yang cukup lega.
Sementara Arya melirik nya sekilas dengan pandangan heran nya. Tapi terbesit dihati Arya, apa Pelangi tidak akan mengadukan perlakuan Arya selama ini padanya?????
Entah lah... Lihat saja nanti. Jika Pelangi mengadu dan orang tua nya tidak suka, bukan kah mereka akan dengan mudah untuk berpisah?
Dan satu jam kemudian, mobil yang dikendarai Arya sudah memasuki kawasan perumahan Pelangi. Pelangi nampak tersenyum senang ketika melihat rumah nya sudah nampak. Bahkan bunda nya sedang menyapu teras rumah sekarang.
Sudah satu bulan lebih tidak bertemu, jelas saja rindu yang sudah membuncah itu tidak bisa lagi tertahan.
Arya melirik Pelangi sekilas seraya dia yang memutar setir mobil memasuki halaman rumah Pelangi. Membuat bunda Pelangi nampak memandang mereka dengan heran.
"Ayo pak turun" ajak Pelangi pada Arya. Tapi tanpa menunggu jawaban Arya Pelangi langsung membuka pintu dan berlari keluar.
"Bunda!!!!!" teriak Pelangi begitu kuat. Bahkan dia langsung berlari kearah bunda nya yang nampak terkejut.
__ADS_1
"Ya Allah Pelangi. Kamu pulang nak" ucap bunda dengan wajah yang begitu bahagia. Buru buru dia meletakkan sapu yang dia pegang dan merentangkan tangan saat Pelangi berlari kearah nya.
"Ayah!!! Yah... anak kita pulang yah!!!!!" teriak bunda kedalam rumah memanggil manggil suami nya.
Pelangi tertawa dan langsung memeluk bunda. Mereka berpelukan dengan erat, bahkan sangat erat karena mereka memang sudah benar benar rindu.
"Kenapa baru jenguk bunda sekarang. Bunda kangen sekali" ucap bunda seraya menangkup wajah Pelangi dan menciumi nya dengan lembut.
"Pelangi juga kangen" jawab Pelangi dengan air mata yang sudah menggenang.
"Kenapa nangis, maka nya kalau kangen itu pulang. Bunda yang mau kesana, kamu gak boleh" omel bunda seraya mengusap wajah putri kesayangan nya.
Pelangi tertawa dan menggeleng pelan.
"Pelangi takut bunda dan ayah kecapean. Jadi biar Pelangi yang pulang" jawab Pelangi
"Kamu kemari sama siapa, sama suami kamu kan?" tanya bunda.
Pelangi langsung tertegun, dia mengangguk dan langsung menoleh kearah mobil. Apa Arya tidak ingin turun?
Tapi ketika melihat Arya yang turun dengan membawa oleh oleh yang sempat mereka beli tadi. Pelangi langsung tersenyum bahagia.
"Iya bunda, tuh sama pak Arya" jawab Pelangi.
"Kok manggil nya masih bapak?" tanya bunda dengan heran.
Pelangi tersenyum getir dan langsung mendekat pada bunda nya.
"Kan dia memang udah bapak bapak bun" bisik Pelangi
Membuat bunda langsung tertawa lucu dan menggeleng pelan.
"Ada ada aja kamu" gumam nya
"Ya ampun, anak anak ayah yang datang. Kenapa baru pulang sekarang?" tanya ayah yang baru keluar dari dalam rumah.
"Pelangi kangen ayah" ucap nya.
"Ayah juga kangen. Kamu kenapa baru pulang sekarang ha?" tanya Ayah seraya mencium dahi Pelangi sejenak. Sedangkan Arya langsung menyalami punggung tangan bunda, itu juga bunda yang menyambut nya lebih dulu.
"Maaf yah, pak Arya sibuk. Pelangi gak mau pulang kalau gak sama pak Arya" jawab Pelangi
Arya langsung menoleh kearah Pelangi dan tersenyum getir. Bisa saja alasan gadis ini, batin nya.
"Jangan bekerja terus, kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri nak" ujar Ayah pada Arya, seraya mereka yang saling berjabat tangan.
"Iya yah" jawab Arya dengan singkat.
"Sudah ayo ayo masuk. Ayah sudah kangen sama kalian. Ayo nak" ajak ayah yang langsung merangkul pundak Arya dan membawa menantunya itu masuk kedalam rumah.
Pelangi memandang mereka dengan senyum getir, apalagi saat melihat reaksi Arya yang sedikit terkejut. Semoga saja, setelah pulang dari sini dia tidak marah marah lagi.
Ayah mengajak Arya duduk disofa, sedangkan Pelangi menyusul bunda yang sibuk kedapur untuk membuat minum untuk Arya.
"Bunda, gak usah repot repot. Kenapa sih gak bisa duduk diam, Pelangi kan masih kangen" ucap Pelangi yang cemberut dan mengikuti kemana bunda nya pergi.
"Sebentar dulu nak. Bunda bikinin kopi untuk suami kamu dulu. Kemarin nenek ada ngasih kopi dari kampung, juga bunda baru aja bikin kue kesukaan kamu. Pas banget kamu datang" ungkap bunda yang sibuk menyeduh dua gelas kopi.
Pelangi hanya tersenyum getir mendengar itu. Begitu antusias nya bunda dan ayah menyambut mereka. Apa mereka tidak tahu jika Arya mau ketempat ini karena terpaksa?
"Kamu kenapa pucat? Gak enak badan?" tanya bunda
"Iya, Pelangi ingat kakak" jawab Pelangi. Membuat bunda yang sedang meletakkan kue didalam piring langsung terdiam sejenak.
Dia menoleh kearah Pelangi dan tersenyum hangat seraya mengusap wajah Pelangi dengan lembut.
"Nanti siang kita ziarah ya" ucap bunda
__ADS_1
"Iya bunda" jawab Pelangi.
"Ayo, sekarang kita kedepan, kamu bawa ini" ujar bunda seraya menyerahkan sepiring kue pada Pelangi.
Pelangi menerima nya dan langsung mengikuti bundanya untuk keruang tamu, seraya dia yang memperhatikan rumah itu dengan penuh rindu. Rumah tempat dia menghabiskan waktu sejak kecil hingga dewasa sebelum dia ikut Arya dan menerima hal yang sangat jauh berbeda.
Arya ...
Ya, lelaki itu nampak sedang berbincang dengan ayahnya. Meski nampak tertekan, tapi Pelangi bersyukur karena Arya mau duduk dan sekedar mengobrol dengan ayahnya. Setidaknya ayah dan bunda Pelangi tidak akan tahu jika semua ini hanya sandiwara kan.
"Nak Arya, ayo diminum dulu kopi nya. Pasti capek kan jalan jauh" ujar bunda seraya meletakkan kopi didepan ayah dan Arya.
"Terimakasih bunda" ucap Arya.
"Ini ada kue. Kue kesukaan Pelangi" ungkap bunda.
"Eh,,, tapi nak Arya suka gak ya, ini kue dari ubi soalnya" kata bunda lagi dengan tawa kecilnya. Membuat Arya langsung tersenyum tipis dan menggeleng.
"Iya, kami gak tahu kalau kalian mau datang. Kalau gak kan bunda bisa bikin makanan yang lebih baik" sahut Ayah pula.
"Tidak perlu repot repot ayah, bunda. Saya tidak memilih" jawab Arya
"Jangan sungkan begitu lah nak. Ibu gak repot kok. Kamu kan anak kami juga sekarang" jawab bunda seraya duduk disebelah Pelangi.
Arya tersenyum tipis mendengar itu. Mereka begitu hangat menyambutnya, bagaimana jika mereka tahu kalau anak mereka Arya perlakukan dengan buruk?? Pasti mereka tidak akan sehangat ini bukan. Arya langsung menoleh pada Pelangi, yang kini sudah merebahkan diri dipangkuan bunda nya tanpa canggung. Terlihat sekali jika dia begitu dekat dengan orang tuanya.
"Pelangi, tidak malu lagi bermanja sama bunda, udah punya suami lo" ucap ayah pada Pelangi yang masih menikmati usapan bunda dikepalanya.
"Pelangi kangen bunda, ayah. Lagian pak Arya juga enggak apa apa." jawab Pelangi seraya memandang Arya yang juga memandang nya.
Wajahnya datar, tapi bukan wajah datar yang dingin seperti seperti biasa.
"Pelangi demam ayah, nanti kita bawa ketempat kakak nya" ujar bunda.
"Demam?" tanya Ayah
"Ayah gak perhatian ih, gak lihat Pelangi yang lemas kayak gini" gerutu Pelangi.
Ayah langsung terkekeh mendengar itu.
"Biasanya kan kamu merengek terus. Tapi ini enggak. Jadi mana ayah tahu" jawab ayah
"Malu dong sama pak Arya" sahut Pelangi
Ayah dan bunda langsung tertawa dan memandang pada Arya yang hanya tersenyum saja.
"Maafin kalau Pelangi ngerepotin ya nak. Pelangi memang sedikit aneh" ucap bunda
"Aneh" gumam Arya
Bunda dan Ayah langsung mengangguk bersamaan.
"Dia pasti udah bikin kamu panik" ucap bunda.
Arya memandang Pelangi dengan bingung. Membuat Pelangi langsung beranjak dan tersenyum getir.
"Udah ah, kenapa malah bilangin Pelangi aneh. Kami belum makan dari pagi lo bun, bunda gak masak hari ini ya?' tanya pelangi yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka. Tidak perlu Arya tahu apa yang membuat nya demam dan sakit. Arya hanya harus tahu jika dia perempuan yang kuat dan tidak akan menyerah.
"Loh... kenapa gak makan. Yaudah bun, masak dulu gih. Nanti ayah sembelih bebek kita dibelakang. Nak Arya suka bebek kan? Bebek bakar bunda enak" ungkap Ayah
"Tidak perlu repot repot ayah. Saya tidak bisa lama disini" ucap Arya tidak enak.
"Tidak, kalau mau pergi harus makan dulu. Biar bunda masak. Jangan pergi dulu ya. Kalian kan baru ini pulang. Ayo bun" ajak Ayah yang langsung beranjak dan pergi kebelakang dengan begitu bersemangat. Begitu pula dengan bunda.
Meninggalkan Arya dan Pelangi berdua yang nampak canggung sekarang. Pelangi langsung tersenyum getir saat Arya memandang nya dengan lekat.
"Setelah makan pak" gumam Pelangi
__ADS_1
Dan Arya hanya bisa menghela nafas kesal.