Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Makan Malam Dirumah Keluarga Adiputra


__ADS_3

Pelangi memandangi dirinya didepan cermin. Dia baru saja memoles wajahnya dengan sedikit riasan, hingga kini wajah Pelangi sudah terlihat segar dan sangat berbeda.


Dia mengenakan dress bewarna putih, dress tanpa lengan dan hanya sebatas lutut saja. Rambutnya dia biarkan tergerai dan sedikit disepit kebelakang.


Sore tadi sepulang dari taman bunga dan menyelesaikan lukisan nya, Pelangi ditemani oleh Mia kepusat perbelanjaan dan juga kesalon. Dia menyempatkan diri untuk membeli dress ini dan juga mengubah sedikit gaya rambutnya. Pelangi ingin nampak berbeda dan cantik, namun dia juga tidak akan menghilangkan kesan ayu dan sederhana nya. Pelangi ingin terlihat seimbang dengan Arya yang memiliki segalanya. Setidaknya, dia tidak ingin membuat Arya malu  ketika membawa Pelangi bertemu dengan keluarga mantan kekasih nya itu.


Meski tidak secantik Zelina dan seanggun Nara, tapi setidaknya Pelangi bisa berpenampilan menarik dan tidak kampungan. Ya, meskipun sudah secantik ini dia masih saja merasa insecure.


Pelangi memandangi perutnya didepan cermin, dia sengaja memilih dress yang mengembang kebawah dan sedikit besar di pinggang agar perutnya yang mulai membuncit tidak kelihatan. Pelangi masih harus menyembunyikan kehamilan nya untuk saat ini.


Tin tin


Suara klakson mobil terdengar, itu pasti Arya yang datang. Lelaki itu benar benar tidak ingin masuk kerumah dulu. Dengan terburu buru Pelangi memakai sepatu nya, sepatu dengan hak yang sedang dan nyaman agar dia tidak jatuh dan tidak akan membahayakan anak nya. Jangan sampai karena ingin terlihat cantik dimata Arya namun Pelangi tidak memikirkan anak yang sedang dia kandung ini.


Setelah selesai memakai sepatunya, Pelangi langsung berjalan keluar rumah. Dan benar saja, Arya hanya diam di dalam mobil dengan mata yang hanya fokus pada ponsel.


Setelah mengunci pintu, Pelangi langsung berjalan kearah mobil, tersenyum melihat Arya yang ternyata sudah nampak begitu rapi dan segar. Mungkin dia sudah mandi, entah dimana.


Pelangi membuka pintu mobil dan ingin masuk kedalam, namun tiba tiba ekor mata Pelangi menangkap sebuah bayangan hitam dibalik pagar. Pelangi menoleh dengan cepat, namun dengan cepat pula orang itu pergi dan berlari dari sana.


Siapa dia???


Kenapa seperti lelaki berjaket hitam yang Pelangi lihat tadi pagi???


Melihat tidak ada pergerakan dari Pelangi, Arya yang sejak tadi memeriksa email diponselnya langsung menoleh. Dia sedikit tertegun memandang Pelangi, karena penampilan Pelangi memang benar benar berubah. Rambut yang biasanya dia kepang kebelakang atau dia ikat asal, kini digerai dengan indah dan dengan model yang berbeda pula. Dress putih dan riasan itu juga membuat aura Pelangi semakin menguar.


Dia terlihat berbeda.


Arya terkesip, dia langsung menggeleng pelan. Apa yang sudah dia fikirkan. Ada ada saja.


"Apa yang kamu lihat, mau sampai kapan kamu berdiri disitu???" tanya Arya.


Dan pertanyaan Arya membuat Pelangi terkesiap, dia langsung menoleh kearah Arya dan menggeleng pelan. Namun matanya kembali menoleh kesamping pagar yang sudah kosong.


Mungkin hanya imajinasinya saja.


Pelangi langsung masuk kedalam mobil dan mencoba untuk melupakan lelaki misterius itu. Tapi.... haruskah dia mengatakan ini pada Arya???


Tidak.. sudah lah, Arya tidak akan perduli.


Pelangi menghela nafas dan tersenyum memandang Arya, lelaki ini nampak datar saja dan mulai menjalankan mobilnya. Lagi lagi Pelangi menoleh kearah pagar, dan memang tidak ada siapapun disana. Apa itu tadi hantu???


Ah tidak mungkin


"Ada apa???" tanya Arya lagi. Dia cukup penasaran kenapa Pelangi terus gelisah seperti itu.


Pelangi menggeleng pelan.


"Tidak ada pak. Saya hanya seperti melihat seseorang saja" jawab Pelangi. Dan tanggapan Arya, dia hanya mengangguk pelan. Setidak perduli itu.


"Bapak mandi dimana, udah rapi aja?" tanya Pelangi


"Dihotel" jawab Arya


"Hotel... dengan siapa?" tanya Pelangi lagi.


"Nina" jawab Arya begitu singkat. Namun jawaban itu membuat Pelangi terkesiap, dia langsung memandang Arya dengan lekat, bahkan begitu serius.


"Bapak ke hotel, bersama bu Nina? Berdua aja???" tanya Pelangi lagi. Dadanya seketika bergemuruh dengan hebat. Tidak cukupkah Zelina saingan nya, kenapa harus ada wanita lain lagi?


"Kenapa memang nya??" tanya Arya


Pelangi meringis, antara mau marah dan ingin berteriak. Kenapa menyebalkan sekali sih gondrong ini. Kenapa harus ada pertanyaan 'kenapa'????


"Pak... masak iya bapak ke hotel sama bu Nina berdua aja. Sama saya yang istri sah aja kita tidur pisah kamar, kenapa sama bu Nina malah dihotel, berdua lagi" gerutu Pelangi dengan wajah kesalnya.


Arya langsung menoleh pada Pelangi dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Ya memang nya kenapa, Nina asisten saya, dan saya memang tidak bisa jika tanpa dia. Lagian apa kamu fikir di hotel itu hanya ada satu kamar?" jawab Arya yang kini bergantian kesal. Sudah lama sekali dia tidak berbicara banyak. Dan sejak mengenal Pelangi, Arya menjadi banyak bicara saja. Benar benar membuang energi.


"Jadi gak tidur satu kamar?" tanya Pelangi


"Ya tidaklah. Kamu kira saya apa tidur satu kamar dengan asisten sendiri" sahut Arya terdengar begitu ketus.


Pelangi langsung tertawa dan bisa bernafas dengan lega.


"Syukurlah, cukup nona Zelina saja yang menjadi penghalang saya, jangan lagi orang lain" gumam Pelangi


"Apalagi?" tanya Arya terdengar begitu ketus.Dia tidak mendengar gumaman Pelangi


"Enggak pak, saya cuma mau tanya, saya sudah cantik belum" jawab Pelangi dengan senyum nya yang terkesan menyebalkan.


"Biasa saja" sahut Arya, bahkan dia tidak ingin menoleh sedikitpun, membuat Pelangi langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Padahal saya sudah kesalon hari ini" ucap Pelangi begitu sedih, dan kali ini Arya melirik kearah nya sekilas.


"Tidak ada yang menyuruhmu kesalon, hanya untuk makan malam, bukan undangan pesta" jawab Arya


Pelangi mencebikkan bibirnya dan memandang kesal kedepan. Kenapa tidak mau memuji sedikit saja, padahal kan Pelangi begini juga untuk Arya.


Huh... menyedihkan sekali!


Setelah drama percakapan itu, tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Mereka terdiam dengan perasaan mereka masing masing. Hingga setengah jam kemudian, mereka telah tiba didepan rumah mewah keluarga Adiputra.


Sudah terparkir beberapa mobil mewah disana. Entah siapa saja yang datang, dan Pelangi benar benar gugup sekarang.


Arya turun dari mobil tanpa mengatakan apapun, dan mau tidak mau Pelangi juga ikut menyusul Arya. Mereka berjalan masuk kedalam rumah dan disambut oleh pelayan disana.


"Jangan buat saya malu, jaga dan perhatikan sikap kamu jika bersama mereka nanti" ujar Arya sedikit berbisik.


"Iya" jawab Pelangi


Pelangi menghela nafasnya dengan berat, suara tawa dan juga obrolan ringan sudah terdengar saat mereka hampir tiba diruang makan. Dan saat tiba disana, Pelangi langsung lemas tidak bertulang. Apalagi ketika melihat tamu Nara yang sudah berkumpul disana. Mereka terlihat sangat cantik dan begitu berkelas.


Ya tuhan...


"Wah,, tuan direktur, baru tiba. Kenapa lama sekali kalian?" sapa salah seorang pria, terlihat begitu ramah.


"Saya baru dari luar kota tuan" jawab Arya begitu singkat.


Pelangi tersenyum canggung dan menyapa mama Zelina.


"Pelangi ... ayo sini" panggil Nara seraya menjulurkan tangan nya pada Pelangi.


Pelangi mencoba tersenyum dan mengangguk, meski dia benar benar sudah ingin pergi sekarang.


"Kenalkan, ini teman ku, Naina dan Gendis." ujar Nara memperkenalkan kedua wanita cantik itu.


"Saya Pelangi nona" ucap Pelangi pada mereka berdua.


"Cantik dan Ayu sekali kamu" puji Naina. Pelangi hanya tersenyum simpul mendengar itu. Cantik dari mana, bahkan rasanya seujung kuku pun tidak bisa mendekati kecantikan mereka.


"Ya, cocok sekali dengan Arya" sahut Gendis pula


Nara dan Naina juga mama langsung tertawa mendengar itu. Sedangkan Pelangi langsung melirik Arya seraya dia duduk dikursi yang sudah disediakan untuk nya. Tepat dihadapan Arya.


Wajah Arya datar saja, sangat berbanding terbalik dengan wajah orang orang yang ada disini.


"Kau menikah diam diam, kenapa tidak ada mengabari kami. Jika tidak mendengar dari mulut tuan Reynand, kami tidak akan tahu" ucap Bimantara, suami Gendis.


"Pernikahan mendadak tuan" jawab Arya


"Ingin membuat kejutan ternyata" sahut Reyza,yang merupakan suami Naina


"Ya, Aryo memang penuh kejutan. Tapi terkadang cukup menyebalkan" ucap Reynand pula, membuat yang lain tertawa dan Arya hanya tersenyum tipis saja.

__ADS_1


Pelangi hanya diam, dia tidak ingin menanggapi. Pelangi takut dia salah bicara dan membuat Arya malu. Lagipula ini memang bukan tempatnya, dan melihat wajah Arya yang hanya terpaksa seperti itu, Pelangi sadar, jika Arya memang belum bisa menerima Pelangi masuk kedalam keluarga ini. Apalagi ketika melihat pandangan semua orang yang terus saja mencuri pandang padanya, membuat Pelangi menjadi semakin tidak menentu.


Entah apa yang ada difikiran orang orang ini, mereka memandang Pelangi dan Arya bergantian. Begitu penuh arti namun cukup sulit untuk diartikan.


"Sudahlah, ayo kita mulai makan malam nya" ujar tuan Abas. Dan mereka semua langsung mengangguk dengan cepat.


Menu makan malam kali ini cukup mewah, dibuat ala restauran dengan beberapa menu pilihan, membuat Pelangi benar benar canggung dan takut untuk memakan nya. Bahkan mereka makan juga dilayani oleh beberapa pelayan. Hingga tidak membuat Pelangi bingung harus memakan yang mana duluan.


"Ayo Pelangi, makan lah" ujar mama Zelina


"Iya nyonya" jawab Pelangi


"Dia cantik, sangat cocok dengan mu" bisik Bima yang memang berada disamping Arya


Arya hanya diam dan tidak menanggapi nya. Membuat Reyza langsung menyenggol bahu Bima dan menggeleng pelan.


Bima menghela nafas dan mengangguk, dia tahu arti sentuhan itu. Arya yang sekarang, bukanlah Arya yang dulu.


Mereka makan malam dengan diselingi dengan pembicaraan ringan, bahkan sesekali mereka mengajak Arya untuk mengobrol, namun suami Pelangi ini hanya menanggapi sekedarnya saja.


Nara bersama dengan kedua teman nya juga nampak begitu akrab dan cocok. Dan disini, hanya Pelangi yang merasa sendirian. Meskipun sesekali mereka mengajak Pelangi bercerita, namun Pelangi juga hanya bisa menjawab sekedarnya saja. Tatapan mata Arya membuat Pelangi tidak berkutik.


Apa kalian tahu rasanya berada ditengah tengah suasana seperti ini??? Sangat tidak enak. Sangat ramai, tapi Pelangi merasa sendiri. Bukan dikucilkan, hanya saja Pelangi yang merasa begitu rendah. Dia seperti begitu kecil disini, melihat mereka yang tertawa dan mengobrol tentang sesuatu yang bukan fashion Pelangi, membuat Pelangi benar benar merasa asing. Apalagi ketika melihat pandangan mata Arya yang begitu datar itu, membuat Pelangi semakin merasa tidak menentu. Rasanya dia ingin cepat cepat pulang dan pergi dari sini. Pelangi sudah tidak betah, bahkan dia hanya memakan makanan yang terasa sulit untuk ditelan itu dengan begitu terpaksa.


Semoga saja Pelangi tidak mual.


Hingga beberapa saat kemudian, makan malam diatas meja sudah disingkarkan dengan cepat oleh para Pelayan, dan kini berganti dengan dessert berupa puding buah.


Buah strawberry?????


"Pelangi, kamu makan sedikit sekali tadi. Makan lah puding ini, ini puding cukup enak. Kamu pasti suka. Ini puding buatan saya sendiri" ujar mama Zelina


Pelangi tersenyum getir memandang puding ini.


Dia.... dia tidak bisa memakan apapun yang bersangkutan dengan strawberry. Bagaimana ini???


"Ini puding favorite Zelina, Arya pasti tahu" sahut tuan Abas pula


Pelangi langsung menoleh pada Arya.


"Ya, ini memang puding kesukaan nya" jawab Arya dengan senyum simpulnya. Sejak tadi dia hanya tersenyum dengan terpaksa saat menanggapi perkataan Reynand dan dua teman nya. Tapi ketika menyangkut nama Zelina, kenapa Arya bisa tersenyum setulus itu???


Ya tuhan...


Sakit sekali.


"Sudah lah, ayo dimakan Pelangi" ujar Nara. Yang sepertinya dia yang paling tahu tentang Pelangi disini, dibandingkan dengan yang lain, yang malah menanggapi perkataan tuan Abas.


"Ayo Pelangi" ujar mama Zelina lagi.


Bagaimana ini?? Bagaimana cara untuk menolaknya, Pelangi tidak enak. Tapi jika memaksa memakan puding ini, maka Pelangi yang akan tersiksa.


"Kamu tidak suka ya?" tanya Naina


Pelangi menelan salivanya dan menggeleng pelan.


"Suka nona" jawab Pelangi


"Kalau begitu makan, kamu harus mengahbiskan nya. Jika sudah mencicipinya kamu pasti akan suka" sahut Nara


Pelangi melirik kearah Arya, yang ternyata dia sudah memandang Pelangi dengan tajam. Membuat Pelangi langsung menunduk dan mengangguk pelan.


Ya tuhan... semoga saja janin nya tidak akan kenapa kenapa setelah ini.


Pelangi meraih sendok nya, begitu pula dengan yang lain. Mereka memakan puding itu dengan begitu nikmat sembari memuji rasanya. Hanya Arya yang masih memandang keraguan Pelangi.


Dan karena pandangan mata Arya itu, dengan terpaksa, Pelangi juga memakan nya. Apalagi dengan pandangan mama Zelina yang berharap Pelangi mencicipi puding buatan nya.

__ADS_1


Rasanya seperti memakan racun yang akan membunuhnya segera!


__ADS_2