Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Pelangi Dan Nina


__ADS_3

Pelangi memandang Arya dengan pandangan mata tidak menentu. Sejak tadi dia terus merengek ingin ikut Arya pergi ke perusahaan. Pelangi takut di tinggal sendirian dirumah. Teror lelaki misterius itu benar benar membuat nyali nya menciut berada dirumah seharian. Pelangi takut lelaki itu akan datang lagi dan malah mencelakai nya.


Sedangkan Arya, dia nampak bingung sekarang. Antara ingin membawa Pelangi atau tidak.


"Pak... saya takut dirumah" kata Pelangi untuk kesekian kalinya.


Arya yang sedang memakai jam tangan nya hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Yasudah, tapi ingat jangan merepotkan saya disana" ucap Arya akhirnya.


Pelangi langsung tersenyum dengan lebar. Dia mengangguk dengan cepat. Bahkan langsung berlari keluar dari kamar Arya.


"Saya siap siap dulu pak!!!" seru Pelangi seraya menuruni anak tangga.


Arya hanya menggelengkan kepala nya mendengar itu. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Pelangi sendirian. Jika terjadi sesuatu pada gadis itu, bisa dia yang repot. Lagi pula sepertinya teror lelaki berjaket hitam itu memang tidak bisa di anggap remeh. Dia berani merusak cctv dirumah ini, tidak bukan merusak melainkan menyabotase dengan menempelkan sesuatu dikamera cctv yang ada didepan rumah mereka.


Entah siapa orang itu. Entah Rangga atau ada orang lain lagi. Tapi nanti akan Arya cari tahu.


Atau haruskah dia meminta bantuan Reynand???


Mungkin iya, mungkin ada orang orang Reynand yang bisa menjadi mata mata disini.


Arya menghela nafas panjang, dia meraih ponsel diatas meja dan juga kunci mobilnya. Namun pandangan matanya tiba tiba terpandang foto Zelina.


Ah Ze....


Kenapa rasanya akhir akhir ini ada yang berbeda???


Arya mengusap wajah itu dengan lembut. Dia tersenyum tipis, dan akhirnya memilih pergi meninggalkan kamar nya. Kamar yang hanya dipenuhi oleh semua tentang Zelina.


Arya berjalan menuruni anak tangga, dia melirik kearah kamar Pelangi yang terbuka. Dan dapat dia lihat jika Pelangi sedang memoles wajahnya didepan cermin.


"Saya tidak suka menunggu" ucap Arya seraya terus berjalan keluar.


Buru buru Pelangi menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dan langsung berlari keluar kamar.


Dia menutup pintu rumah dan mengunci nya dengan cepat. Walau meskipun dikunci, tapi tetap saja, jendela mereka yang pecah juga belum diperbaiki. Mungkin nanti saat Arya berlibur, dia akan memanggil tukang.


Pelangi dengan cepat masuk kedalam mobil. Dia tersenyum memandang Arya yang hanya datar saja. Tidak apa apa, yang terpenting Pelangi sudah bisa melihat satu senyuman manis itu. Ya, walaupun harus merasakan sakit dan kesal terlebih dulu.


"Kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Arya yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah mereka.


"Saya senang, bapak mau bawa saya keperusahaan" jawab Pelangi


"Jangan saja kamu membuat ulah disana" ujar Arya


Pelangi menggeleng


"Enggak akan. Saya bakalan duduk diam nunggu bapak kerja" jawab Pelangi.


Arya hanya mendengus dan kembali melajukan mobilnya menembus jalanan macet pagi itu.


Senyum Pelangi terus mengembang diwajahnya. Sikap Arya hari ini membuat Pelangi sedikit bisa melupakan rasa takut nya pada teror lelaki berjaket hitam itu.


Meksi dia juga penasaran siapa sebenarnya lelaki itu. Dan perkataan Arya yang mencurigai Rangga cukup mengusik hati Pelangi. Dia tidak yakin jika orang itu adalah Rangga. Karena Pelangi tahu bagaimana Rangga sejak dulu.


Pelangi tahu Rangga menyukai nya, dan tidak mungkin Rangga tega membuat Pelangi ketakutan seperti malam itu.


Rangga adalah orang yang tidak pernah membiarkan Pelangi merasa takut apalagi bersedih.


Jadi sudah bisa dipastikan jika orang itu memang bukan Rangga. Ya, Pelangi yakin jika lelaki berjaket hitam itu bukan Rangga.


Semoga saja kasus ini bisa terungkap. Misi untuk mendapatkan hati Arya saja belum selesai tapi sekarang sudah ditambah masalah teror lelaki berjaket hitam ini.


Hah... waktunya tinggal dua Minggu lagi. Apa bisa???


Kenapa waktu cepat sekali berlalu???


Dan benar, waktu memang selalu cepat berlalu. Bahkan tidak terasa sekarang mereka sudah tiba di perusahan Polie. Perusahaan tempat Arya bekerja. Dan yang baru Pelangi ketahui, ternyata perusahaan ini adalah perusahaan milik Nara. Dulu Arya hanyalah asisten wanita cantik itu, tapi semenjak Nara menikah, Arya yang menduduki jabatan sebagai direktur utama.

__ADS_1


Keren!


Entah sebanyak apa uang Arya. Tapi yang Pelangi lihat, Arya memang orang yang cukup sederhana. Padahal jika digabungkan dengan hasil taman bunga nya, Arya pasti bisa membangun hunian mewah. Tapi dia malah hanya tinggal disebuah hunian kecil seperti itu.


Pelangi turun dari mobil dan berjalan mengikuti Arya dibelakang. Dia sedikit canggung saat pandangan mata semua orang memandang kearahnya tanpa berkedip. Bahkan Pelangi sampai memandangi penampilan nya sendiri.


Apa ada yang aneh???


Dress bunga bunga dengan rambut yang dia gerai dan sedikit dia sempit kebelakang. Memakai sepatu ber hak pendek karena Pelangi takut terjatuh saat berjalan.


Ini adalah penampilan yang paling cantik menurutnya. Semoga saja tidak aneh di pandangan orang orang.


"Selamat pagi pak" sapa seluruh karyawan Arya, dan begitu lah sampai mereka masuk kedalam lift.


Dan Arya hanya mengangguk saja menanggapi mereka.


Dasar batu!


"Pak kenapa ramai sekali didepan tadi?" tanya Pelangi saat mereka sudah berada didalam lift.


"Ada interview mahasiswa magang" jawab Arya yang kini fokus pada ponselnya.


Pelangi hanya mengangguk saja. Mereka tiba saat hari sudah siang. Jadi seluruh karyawan juga sudah bekerja.


Ting


lift terbuka, dan mereka langsung keluar.


"Selamat pagi pak Arya" sapa Nina dengan senyum secerah mentari nya.


Namun ketika melihat Pelangi yang datang bersama Arya, senyum itu langsung meredup.


"Siapkan jadwal saya sekarang" ujar Arya tanpa mau memandang pada Nina.


"Baik pak" jawab Nina dengan cepat.


"Heh... tunggu dulu, kenapa kamu bisa ikut pak Arya?" tanya Nina yang menarik tangan Pelangi. Dia masih ingat wajah Pelangi, dan memang akan selalu dia ingat karena Pelangi yang telah menghancurkan segala harapan dan impian nya.


"Kenapa memang nya?" tanya Pelangi. Dia memandang Arya yang sudah masuk duluan kedalam ruangan.


"Nanya lagi kenapa. Ya ngapain kamu ikut pak Arya kemari. Kenapa gak diam aja dirumah" sahut Nina


Pelangi mengernyit, dia memandang Nina dengan heran. Kenapa memang nya jika Pelangi ikut Arya keperusahaan. Pelangi juga istrinya kan.


Ah.... Pelangi tahu, Nina pasti cemburu. Sudah jelas.


"Saya kan istri pak Arya bu. Wajar dong kalau saya mau ikut pak Arya" jawab Pelangi.


Nina mendengus


"Istri yang terpaksa dinikahi. Jangan bangga dulu deh. Kalau bukan karena ob gila itu yang mau ngejebak kamu, kamu gak akan pernah nikah sama pak Arya" jawab Nina


Pelangi langsung terdiam mendengar penuturan Nina.


Ob itu ... ya Pelangi baru ingat tentang dia. Bukankah dia yang....


"Istri yang juga bakal dicerai sebentar lagi"


Deg


Ucapan Nina membuat Pelangi langsung tertegun. Dia memandang Nina dengan pandangan tidak menentu.


Nina tahu tentang hal itu???


"Kenapa? terkejut karena saya tahu itu?" ucap Nina terdengar begitu sinis.


"Ibu tahu dari mana?" tanya Pelangi.


"Ya tahulah, apa yang gak saya tahu dari kehidupan pak Arya. Semua nya saya tahu, karena pak Arya.... selalu curhat ke saya." jawab Nina

__ADS_1


Pelangi kembali terdiam, namun debar jantungnya yang mulai bergemuruh hebat.


"Dia selalu bilang, kalau dia udah gak tahan sama kamu. Dia pusing ngadepin kamu. Dan dia.... udah gak sabar nunggu waktu tiga bulan itu untuk menceraikan kamu" ucap Nina lagi


Pelangi langsung tersenyum getir mendengar itu.


Kenapa Arya tega?


Kenapa dia membicarakan rumah tangga mereka pada orang lain?


Bahkan dia menyampaikan perasaan nya seperti itu?


Tidak bisa untuk tidak dipercaya apa perkataan Nina, apalagi karena Nina tahu tentang perjanjian tiga bulan itu. Sudah jelas Nina berkata jujur atas apa yang dia ucapkan barusan.


Hati Pelangi benar benar teriris mendengar ini. Benarkah selama hampir tiga bulan ini tidak ada sedikitpun memori yang tertinggal dengan keberadaan Pelangi dirumah itu.


Pelangi tersenyum getir dan menggeleng.


Sudah lah, jangan terfokus pada perkataan Nina. Masih ada dua Minggu lagi. Semoga Arya bisa merubah keputusannya.


"Kamu sudah jatuh cinta ya sama pak Arya?" tuding Nina


Pelangi hanya diam dan memandang Nina saja.


"Wajar sih, siapa yang enggak jatuh cinta sama orang kayak pak Arya. Apalagi gadis muda kayak kamu, suka nya sama yang udah dewasa dan banyak uang" sinis Nina lagi.


"Tahu apa sih Bu sama kehidupan rumah tangga kami, ibu kan cuma sekretaris. Kenapa jadi julid begitu?" tanya Pelangi


"Bukan julid, tapi cuma mau ngingetin kamu. Biar sadar diri dan mempersiapkan hati ketika nanti dibuang sama pak Arya" jawab Nina begitu tega.


Pelangi tersenyum dan mengangguk. Kesal sekali rasanya melihat sekretaris cantik ini. Tapi mau marah juga tidak mungkin.


"Saya sudah mempersiapkan diri sejak dulu. Dan saya cukup beruntung, walaupun hanya tiga bulan, setidaknya saya sudah merasakan hidup berdua bersama pak Arya, satu atap. Dari pada hanya bisa mengagumi dari jauh tapi tidak bisa juga menyentuh hatinya" ucap Pelangi tak kalah sinis. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung pergi meninggalkan Nina yang nampak kesal dengan jawaban Pelangi barusan.


Sebagai sesama pengagum Arya, seperti nya mereka memang saling ingin menjatuhkan. Dan Pelangi, cukup termakan dengan semua omongan Nina.


Pelangi menarik nafas dan membuka pintu ruangan Arya. Dia memandang Arya yang sudah duduk didepan komputernya. Wajah seriusnya membuat aura ketampanan Arya semakin bertambah berkali lipat di mata Pelangi. Tapi ketika mengingat perkataan Nina tadi, Pelangi benar benar kesal.


Arya dengan tega malah membicarakan perasaannya pada Nina. Keterlaluan!


Pelangi duduk disofa, memandangi Arya yang bahkan sama sekali tidak ada melirik nya. Dan itu semakin membuat Pelangi kesal.


Pelangi kembali menghela nafas. Kenapa mood nya jadi berantakan seperti ini.


Sial... ini pasti gara gara Nina.


ceklek


Pintu terbuka, dan Nina masuk dengan membawa berkas ditangan nya. Pelangi hanya melirik nya dengan wajah datar.


Memperhatikan penampilan Nina yang benar benar menyakitkan mata. Kenapa dia memakai pakaian kurang bahan seperti itu?


Apa sengaja???


Dasar pelakor!


"Pak, ini jadwal bapak siang ini hingga sore nanti" ucap Nina yang menyerahkan berkas itu pada Arya.


Pelangi mengernyit, saat memperhatikan bahasa tubuh Nina.


Kenapa terkesan menggoda begitu?


Astaga menjijikkan!


Apa Nina fikir Arya akan tergoda.


Cih! pantas saja menjadi perawan tua, jika kalakuannya seperti itu.


Untung saja Pelangi tahu jika saingan cinta nya hanya Zelina. Jika tidak, mungkin dia sudah mencakar wajah Nina sekarang!

__ADS_1


__ADS_2