Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Tulip Dan Mawar


__ADS_3

Niat hati untuk langsung pulang kerumah setelah mengantar Pelangi jadi hanya tinggal rencana. Dan sekarang Arya malah terjebak dirumah orang tua Pelangi. Mau langsung pergi dia tidak enak, apalagi melihat bagaimana hangat nya orang tua Pelangi yang menyambut kedatangan nya. Mereka benar benar memperlakukan Arya seperti anak mereka sendiri.


Entah bagaimana jika mereka tahu kalau anak mereka Arya perlakukan dengan seenak nya saat dirumah. Mungkin Arya pasti langsung ditendang dari sini. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena Pelangi nampak terus menjaga nama baik nya sejak sampai disini.


Saat ini Arya sedang berada dibelakang rumah ayah Pelangi, dimana ada kandang bebek yang cukup besar, ada ayam dan juga kambing. Sepertinya ayah Pelangi memang suka memelihara ternak.


Meskipun banyak hewan ternak, tapi rumah ini cukup nyaman dan bersih. Banyak pepohonan dan juga tempat tempat yang nyaman untuk sekedar bersantai. Jadi tidak akan bosan berada disini.


Ah.... Arya jadi mengingat masa kecilnya disaat orang tua nya masih ada. Ayahnya juga sama seperti ayah Pelangi, yang sangat hobi memelihara ternak. Bahkan jika difikir fikir gaya dan sikap mereka juga sama. Dingin disaat baru pertama mengenal, namun akan sangat hangat saat sudah dekat.


Arya bukan orang berada dulunya, dia hanya anak dari seorang buruh ternak kepercayaan milik ayah Nara, sedangkan ibunya juga bekerja dirumah Nara. Namun karena mereka yang sudah cukup dekat, hidup Arya beruntung. Dia bisa sekolah tinggi dimana pun Nara sekolah, hingga kini dia yang bertanggung jawab atas perusahaan Nara dan bisa memiliki semua nya.


Dan sekarang, berada dirumah Pelangi, Arya jadi mengingat tentang masa kecil nya. Masa dimana dia belum merasakan keras nya hidup. Masa dimana dia belum memikirkan apapun selain bermain dan meminta makan.


Arya benar benar merindukan orang tua nya sekarang. Sudah lama sekali rasa rindu itu tidak hadir, kenapa sekarang bisa datang tiba tiba? Apa karena berada ditempat ini????


"Ya ampun..... kenapa gak bisa diam sih"


Suara gerutuan ayah Pelangi membuat Arya tersadar. Dia langsung menoleh kearah kandang bebek dimana ayah Pelangi yang sedang memegang satu ekor bebek yang cukup besar, terlihat kepayahan saat ingin menutup pintu. Arya berjalan mendekat, seraya melihat kandang bebek yang cukup besar disana. Mungkin sengaja diternak untuk dijual lagi.


"Bebek ini untuk dijual yah?" tanya Arya


"Enggak nak. Ini bebek sengaja diternak untuk stok rumah makan bunda kamu. Bunda kan buka rumah makan dijalan utama sana. Menu utama nya bebek" jawab Ayah seraya mengambil pisau besar yang cukup tajam dibalik kandang.


Arya hanya mengangguk pelan. Baru tahu dia bunda Pelangi juga membuka rumah makan.


"Bisa tolong ayah" pinta Ayah


Arya mengangguk pelan, meski wajah nya terlihat ragu.


"Ayah!!! Nanti baju pak Arya kotor, Pelangi gak bawain baju ganti nya" teriak Pelangi dari teras belakang, Dia nampak membawa seteko air es teh di tangan nya.


Ayah langsung terkesiap dan memandang Arya dengan canggung.


"Hehe... ayah lupa nak. Yasudah, biar ayah saja lah" ucap ayah yang langsung berlutut dan ingin memijak kaki bebek nya, namun Arya juga langsung berlutut didepan ayah dan meraih bebek itu dengan cepat.


"Tidak apa apa yah, nanti saya bisa beli pakaian jika kotor" jawab Arya. Dia hanya ingin menikmati waktu waktu seperti ini. Waktu dimana dia pernah melakukan hal ini bersama ayah nya dulu.


Arya rindu.


"Benar, nanti ayah dimarah Pelangi lagi" ucap ayah dengan tawa kecilnya. Namun Arya hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Tidak yah" jawab Arya lagi.


"Yasudah. Pegang kuat ya" ujar Ayah. Arya mengangguk pelan dan menguatkan pegangan tangan nya dikaki bebek itu. Sedangkan ayah mulai membaca doa dan langsung mengiris leher bebek itu dengan perlahan, membuat darah nya langsung mengucur dengan deras.


Arya langsung memejamkan matanya dan memalingkan wajah, dia benar benar tidak ingin melihat darah. Dia takut dan ngerih. Rasa trauma dan kesakitan itu masih selalu ada. Meski sedikit, tetap saja membuat Arya bergetar ngerih.

__ADS_1


Sial... dia sudah seperti Reynand saja sekarang.


Ayah langsung melemparkan bebek yang dipegang Arya masuk kedalam tempat besar. Dan Arya langsung berdiri dengan cepat seraya membalikkan tubuhnya. Membuat ayah benar benar heran melihatnya.


"Kenapa, ngerih sama darah?" tanya Ayah seraya menahan senyum melihat Arya. Apalagi ketika melihat wajah Arya yang mulai berubah.


"Geli yah" jawab Arya dengan senyum getir nya.


"Astaga, badan aja besar. Yasudah, cuci tangan disana aja" ujar Ayah seraya menunjuk sebuah tempat seperti tempat menampung air yang terbuat dari bambu.


Arya mengangguk dan langsung berjalan kearah sana. Bahkan dia masih mendengar gerutuan Pelangi pada ayahnya karena membiarkan dia ikut menyembelih bebek tadi. Apa Pelangi memang secerewet itu? Pantas saja dia tidak bisa diam saat dirumah.


"Pak Arya ini sabun nya" ujar Pelangi yang ternyata mengikuti Arya.


Arya hanya mengangguk dan langsung menjulurkan tangan nya dibawah pancuran air itu.


"Bapak ngerih sama darah ya?" tanya Pelangi seraya meletakkan sabun di bawah kaki mereka.


Arya menggeleng pelan. Namun tangan nya yang bergetar dan wajahnya yang sedikit pucat sudah menjawab semua nya.


Pelangi tersenyum dan langsung meraih lengan Arya. Menyingkap lengan kemeja panjang yang dipakai Arya hingga kesiku agar lebih mudah untuk dibersihkan.


Dan setelah itu Pelangi mengambil penggosok yang sudah dia baluri dengan sabun.


"Sini pak, saya bantu. Kalau gak digosok gak akan hilang bau amis nya" ujar Pelangi seraya meraih tangan Arya. Membuat Arya sedikit terkesiap.


"Biar saya saja" kata Arya yang langsung menarik kembali tangan nya.


"Wajah saya juga?" tanya Arya


Pelangi tersenyum kecil dan mengangguk seraya dia yang menggosok tangan dan lengan Arya.


Arya menghela nafas dan memandang Pelangi yang masih membersihkan tangan nya. Wajah Pelangi masih pucat, bahkan dia merasa jika suhu tubuh Pelangi juga masih hangat. Tapi masih saja dia mau kesana kemari.


"Maafin ayah ya pak. Kadang kadang dia suka lupa diri. Apalagi kalau udah suka sama orang, pasti langsung di anggap kayak anak sendiri" ucap Pelangi


Arya hanya diam dan memperhatikan tempat air itu yang menarik perhatian nya. Sangat unik karena terbuat dari bambu. Seraya dia yang terus membiarkan Pelangi membersihkan tangan nya.


"Nah sudah pak, ini sabun untuk bersihin wajah bapak. Atau mau saya bantu juga?" tawar Pelangi


Arya menggeleng dan mendengus memandang Pelangi. Membuat Pelangi langsung mundur perlahan dan menahan senyum melihat wajah Arya yang menggemaskan.


Lelaki berbadan besar tapi ternyata takut darah. Lucu sekali.


Tapi sama saja, Pelangi juga takut darah sejak kejadian kakak nya yang kecelakaan waktu itu. Dan .,.... apa mungkin Arya juga? Entah lah.


Setelah selesai, Pelangi langsung menyerahkan handuk kecil pada Arya. Handuk yang sengaja dia bawa dari dalam.

__ADS_1


"Masak bebek masih lama, bapak mau ikut saya dulu kesana" tawar Pelangi lagi seraya menunjuk ke ujung jalan setapak yang mungkin seperti daerah dataran rendah.


"Saya mau ambil bunga untuk ziarah siang nanti. Tempatnya bagus kok pak. Dari pada bapak bosan menunggu disini" ujar Pelangi


Arya nampak terdiam, dia menoleh sejenak kearah ayah Pelangi yang sedang membersihkan bulu bebek dan ibu yang sedang membuat bumbu disana. Dan akhirnya Arya mengangguk pelan, membuat Pelangi langsung tersenyum senang.


Setidaknya, walau sebentar dia bisa menikmati waktu bersama Arya kan.


Mereka berjalanan beriringan menuju tempat yang Pelangi maksud. Jalan setapak yang diselingi oleh rumput rumput pendek dan juga beberapa pohon yang ada disana membuat suasana disekitar tempat itu cukup sejuk dan nyaman. Tempat yang sepertinya enak untuk menenangkan diri.


Arya dan Pelangi sama sama masih terdiam dan menikmati suasana disana. Pelangi yang rindu tempat ini dan Arya yang menikmati suasana baru yang juga membuatnya rindu masa kecilnya dulu.


"Disini juga ada bunga tulip pak" ucap Pelangi tiba tiba. Membuat Arya langsung menoleh kearah nya.


"Tuh lihat" Pelangi menunjuk kearah depan mereka. Tempatnya lebih kebawah, tempat yang datar hingga dari jauh tidak kelihatan.


Arya tertegun, bahkan dia sampai menghentikan langkah kaki nya melihat pemandangan ini. Meski tidak luas tapi cukup epik dan memanjakan mata. Apalagi dari atas sini, ada dua petak memanjang tanaman bunga tulip disana, tulip putih dan pink yang ditata dengan cantik. Dan bukan hanya bunga tulip saja, melainkan juga bunga mawar yang ditanami disekitar bunga tulip itu . Mawar merah dan juga putih yang sangat segar dan tumbuh subur. Dari atas sini mereka terlihat cantik dan saling melengkapi. Apalagi dengan sungai kecil yang mengalir agak kebawah. Membuat semua terlihat begitu indah.


Disana juga ada beberapa bunga matahari dan juga bunga krisan, tapi entah kenapa yang paling menonjol adalah bunga tulip dan mawar itu.


Bunga yang saat ini ada didalam kehidupan Arya.


Sangat picisan dan berlebihan memang, tapi begitulah kenyataan nya.


Arya langsung berjalan mengikuti Pelangi yang sudah berjalan kebawah duluan. Tempatnya cukup terang dan terbuka hingga bunga bunga itu dapat tumbuh dengan subur.


"Bunga tulip ini kesukaan kakak, dia suka sekali bunga ini. Meski kami kembar tapi kami mempunyai selera yang berbeda. Dan karena tidak ingin ada kecemburuan, jadi bunda menanam dua bunga ini bersama sama" ungkap Pelangi seraya memetik bunga tulip untuk dia bawa ke makam kakak nya.


Arya hanya diam dan memandangi Pelangi saja.


"Kakak bilang kalau bunga ini adalah lambang cinta yang abadi, cinta yang tulus dan cinta yang murni. Jadi dia suka bunga ini. Namun nyatanya cinta yang abadi itu adalah cinta yang dia bawa sampai kealam keabadian, cinta yang ternyata adalah kecintaan Tuhan padanya hingga membawa kakak pergi jauh kesana. Dimana disanalah tempat dari segala ketulusan dan keabadian itu berada."


deg


Arya langsung tertegun mendengar perkataan Pelangi.


"Sama seperti nona Zelina yang suka bunga tulip kan pak. Seperti itulah kakak saya" ucap Pelangi yang kini memandang pada Arya. Namun hanya sekilas, dan Pelangi kembali yang memetik setangkai bunga tulip. Dan kini malah beralih pada mawar merah.


"Jika bunga tulip melambangkan cinta yang abadi dan murni, maka bunga mawar, melambangkan cinta yang tulus." gumam Pelangi seraya memetik setangkai mawar merah. Namun tiba tiba dia meringis saat duri itu menusuk jarinya. Tapi bukan nya mengeluh, Pelangi malah tersenyum, membuat Arya memandang nya dengan heran.


"Berduri dan sakit, karena cinta tidak pernah ada yang berjalan baik baik saja. Dia indah, tapi tetap saja jika ingin mengambil keindahan itu, harus dilalui dengan rasa sakit terlebih dahulu" ungkap Pelangi lagi. Dia langsung memandang Arya yang masih terdiam sejak tadi. Entah apa yang sedang lelaki itu fikirkan. Tidak tahu, Pelangi hanya mengungkapkan filosopi bunga menurut beberapa sumber dan pengalaman hidup nya.


Pelangi tersenyum seraya berjalan mendekat kearah Arya.


"Saya jadi banyak berbicara ya pak. Ayo... bapak mau saya temani kemana lagi?" ajak Pelangi.


Arya sedikit terkesiap, dia menghela nafasnya dan menggeleng pelan seraya matanya yang memandang bunga tulip dan mawar yang Pelangi genggam dalam satu genggaman.

__ADS_1


Mawar dan Tulip...


memang tidak bisa saling menggantikan, tapi mereka bisa tumbuh subur dan indah ditempat nya masing masing.


__ADS_2