
Pelangi berlari kecil masuk kedalam rumah. Hujan lagi lagi turun disenja itu. Padahal siang tadi cuaca cukup cerah, tapi sekarang sudah berubah lagi. Apa langit sedang tidak baik baik saja sekarang?
Pelangi mengibaskan rambut nya yang sedikit basah, dia juga melihat lukisan yang dia bawa ini. Untung saja sudah dilapisi kain, jika tidak, cat yang belum mengering seluruhnya pasti hancur lagi terkena air hujan.
Pelangi berjalan kearah pintu dengan helaan nafas yang cukup berat. Hari sudah senja, dan sialnya Arya juga sudah dirumah, mobilnya sudah terparkir rapi digarasi.
Apa Arya akan marah lagi setelah ini??
Ya ampun,, Pelangi jadi takut lagi sekarang.
Dengan pelan dia mengetuk pintu. Beberapa kali... Namun tidak ada juga jawaban atau pun suara langkah kaki Arya.
Apa Arya tidak mendengar??
Pelangi memencet bel rumah.
Lagi..... sudah beberapa menit menunggu pintu juga tidak kunjung terbuka.
Kemana Arya????
Jantung Pelangi mulai bergemuruh tidak menentu.
Apa jangan jangan Arya marah dan tidak lagi mengizinkan nya masuk??? Tapi kan Pelangi sudah izin dan sudah memberitahu Arya tentang kedua teman nya itu. Seharusnya jika tidak cinta Arya tidak akan marah kan.
Pelangi mencoba mengetuk pintu kembali.
"Pak Arya!!" panggil Pelangi
"Pak!!" seru nya sedikit lebih kuat.
Nihil...
Hingga akhirnya Pelangi mencoba untuk membuka pintu.
Ceklek
Tidak dikunci???
Pelangi mengernyit bingung. Tidak dikunci, berarti Arya ada didalam kan. Tapi kenapa dia tidak ingin membukakan pintu untuk Pelangi.
Sunguh demi apapun, jantung Pelangi benar benar berdenyut ngilu. Dia takut jika Arya akan mengamuk setelah ini.
Pelangi mengintip kedalam. Sepi dan hening. Kemana Arya?? Apa dia dikamarnya. Tapi kenapa lampu dirumah ini tidak ada yang dihidupkan satu pun??? Apa Arya ketiduran??
Pelangi meletakkan alat lukis dan tasnya diatas sofa, dan setelah itu dia langsung menghidupkan lampu diruang tamu dan ruang dapur. Karena hari sudah senja juga hujan diluar yang semakin deras membuat rumah ini sudah benar benar gelap seperti rumah hantu.
Pelangi pulang terlambat karena menunggu taksi, jalanan juga macet karena ada kecelakaan lalu lintas, apalagi hujan seperti ini. Membuat dia tiba dirumah saat hari sudah mulai gelap.
Dan sekarang, kenapa keadaan rumah seperti ini??? Kemana Arya.
Pelangi menoleh kearah kamar Arya dilantai atas. Sama gelapnya. Apa dia tidak ada? Tapi mobilnya sudah didepan.
Apa Arya ketiduran???
Ya tuhan...
Kenapa Pelangi menjadi tidak tenang seperti ini???
Menyebalkan...
Dan karena rasa penasaran, Pelangi akhirnya memberanikan diri untuk naik ke lantai atas. Dia ingin melihat Arya. Meski Pelangi tahu ini sama saja membangunkan singa yang sedang tidur.
Hanya ingin melihatsaja, jika sudah tahu, Pelangi tidak akan menganggu Arya.
Jantung Pelangi berdetak tidak menentu, berdenyut ngilu seirama dengan langkah kaki nya yang sudah tiba dilantai atas.
Pelangi menarik nafasnya dalam dalam, menempelkan telinga nya didaun pintu kamar Arya. Hening, tidak terdengar apapun. Apa Arya memang sedang tertidur???
Entah setan apa yang merasuki Pelangi, dia benar benar ingin melihat Arya sekarang. Hingga dia nekad untuk mengintip dari celah pintu tempat kunci yang biasa tergantung.
Gelap!
__ADS_1
Tidak kelihatan apapun.
Tangan Pelangi meraba handle pintu, sedikit bergetar karena sebenarnya dia juga takut. Tapi rasa penasaran membuat Pelangi tidak bisa menahan diri. Hingga dia memutar handle pintu itu dengan pelan, sangat pelan bahkan kini hanya detak jantung nya yang terdengar bergemuruh dengan kuat.
Klek
Tidak dikunci juga.
Pelangi mengintip kembali, matanya mengernyit namun sedetik kemudian langsung terbuka lebar saat melihat kamar Arya yang begitu berantakan. Bahkan foto foto Zelina juga vas dan bunga bunga tulip hancur berserakan disana.
Meski gelap dan terlihat meremang, namun Pelangi bisa melihat keadaan kamar Arya yang memang berantakan.
Ada apa dengan kamar ini???
Dan tanpa berfikir panjang, Pelangi langsung masuk kedalam, dia menoleh kesana kemari dan mencari dimana Arya. Tapi tidak kelihatan karena kamar ini cukup gelap dan terlihat menyeramkan.
Pelangi berjalan dengan hati hati, meraba dinding mencari dimana saklar lampu berada.
Hingga saat sudah menemukan nya, dia langsung menghidupkan lampu dikamar itu.
klap
Kamar yang benar benar berantakan itu langsung terlihat jelas, bahkan lebih terlihat mengerihkan karena bgeitu banyak pecahan vas bunga dan bingkai bingkai foto. Bahkan kaca lemari juga pecah???
Astaga...
Apa apaan ini????
Mata Pelangi kembali mengedar, dan dia langsung mematung saat melihat Arya yang ternyata ada disudut kamar. Terduduk dengan memeluk lutut nya dan menyembunyikan wajahnya dibalik lengan. Tubuhnya terlihat bergetar, bahkan bisa Pelangi lihat jika telinga Arya memerah, mungkin wajahnya juga.
Tetesan darah terlihat menetes dan berceceran dilantai disekitar Arya, membuat Pelangi benar benar merinding takut.
Dan tetesan darah itu berasal dari punggung tangan Arya.
"Pak Arya" panggil Pelangi
Arya tidak bergeming, dia hanya diam dan semakin meringkuk ke sudut dinding. Membuat Pelangi benar benar iba sekaligus takut melihat ini.
Bahkan ketika sudah berada didekat Arya, ada puluhan butir obat yang berceceran diatas lantai. Pelangi meraih botol obat itu. Dan matanya langsung melebar, saat tahu itu adalah obat penenang dengan dosis tinggi.
Apa Arya selalu mengkonsumsi obat ini??
Pelangi mencampakkan botol obat itu dan langsung berlutut disamping Arya.
"Pak Arya" panggil Pelangi. Dia mengusap bahu Arya yang masih bergetar. Meski ragu, tapi sungguh, Pelangi tidak ingin melihat Arya terpuruk seperti ini. Dan kenapa bisa Arya seperti ini???
"Pak" panggil Pelangi lagi.
"Pergi" usir Arya, dia sedikit mengelak saat Pelangi ingin menyentuh tubunya lagi.
"Pak, jangan seperti ini" ucap Pelangi. Dia ingin menarik tangan Arya, namun Arya langsung menepis nya dengan kuat.
"Pergi saya bilang" bentak Arya. Membuat Pelangi langsung terkesiap kaget dan menjauh sejenak.
Wajah Arya memerah, basah dan begitu kusut, ditambah dengan rambut Arya yang berantakan membuat penampilan nya benar benar kacau.
Nafas Arya bergemuruh, memandang Pelangi dengan perasaan tidak menentu.
"Pak ... saya tidak akan pergi, jangan seperti ini" kata Pelangi yang ingin menarik tangan Arya namun kembali Arya tepis. bahkan dia semakin meringkuk kesudut dinding dan tersandar lemas disana.
"Kenapa kamu tidak pergi Pelangi!!! Kenapa kamu masuk kedalam kehidupan saya!!!!" teriak Arya begitu frustasi, bahkan dia berbicara seperti itu sambil menangis meraung. Membuat Pelangi juga ikut menangis
"Saya ini bodoh, saya kejam, dan saya sudah jahat padamu. Tapi kenapa kamu tidak pergi juga Pelangi!!!" ucap Arya lagi, terlihat begitu frustasi. Bahkan sadar atau tidak, dia menangis dengan begitu pilu.
Pelangi menggeleng, dia kembali mendekat pada Arya yang nampak begitu hancur.
"Pak, saya tidak akan pergi, saya masih ingin disini bersama bapak" jawab Pelangi
Arya menggeleng, menarik rambutnya dengan kuat hingga membuat wajahnya memerah dan pucat.
"Tolong jangan siksa saya, saya lelah, saya ingin tenang. Tapi bayangan dia selalu menghantui saya. Saya lelah" lirih Arya
__ADS_1
"Pak... relakan. Nona Zelina sudah tenang disana" ucap Pelangi seraya mengusap lengan Arya yang bergetar.
"Dia jahat, dia merebut semua nya dari saya. Dia membuat saya seperti ini. Dia membuat saya terpenjara seperti ini. Dan kamu!!!" seru Arya sembari memandang Pelangi dengan tatapan yang begitu tajam.
Pelangi langsung terkesiap dan mematung memandang Arya
"Kamu malah masuk kedalam sini, kamu semakin menambah beban saya Pelangi!" teriak Arya
Pelangi terdiam, hanya air mata yang menetes di wajahnya.
Dan air mata itu semakin membuat Arya tidak menentu.
"Lihatkan, saya hanya bisa membuat kamu menangis. Saya hanya bisa membuat kamu bersedih Pelangi" lirih Arya yang kembali menangkup wajahnya dan menangis disana.
"Sakit sekali, sakit menjadi saya, kenapa harus seperti ini" gumam Arya
Pelangi menggeleng, dia menarik tangan Arya dengan kuat dan langsung memeluk tubuh Arya. Mendekap nya dengan hangat dan erat. Meski Arya memberontak, namun Pelangi tetap memeluk Arya, mendekap pria lemah ini kedalam dekapan nya.
"Sabar pak... bapak gak boleh seperti ini" ucap Pelangi yang juga tidak bisa menahan tangisan nya.
"Saya lelah" ucap Arya yang membalas pelukan Pelangi, bahkan dia merebahkan kepalanya kedada Pelangi. Menangis dengan begitu pilu, seolah dia memang sedang mengungkapkan segala kesakitan nya selama ini. Kesakitan yang dia pendam sendiri hingga mampu mengubah karakter dirinya menjadi dingin dan tidak lagi bisa disentuh.
Pelangi membiarkan Arya menangis, dia terus mendekap lelaki itu dengan tangan yang mengusap pundak Arya. Tubuh Arya masih bergetar hebat, bahkan dia memeluk Pelangi dengan kuat, mungkin dia benar benar menangis dan meluapkan perasaan nya.
Tidak tahu apa yang membuat Arya seperti ini. Padahal sejak pulang dari taman bunga tadi, Pelangi sudah mewanti wanti dengan kemarahan Arya. Namun yang terjadi malah seperti ini, untuk yang pertama kali nya sejak dua bulan mereka menikah, Arya terlihat begitu lemah dan rapuh.
"Untuk apapun yang sudah terjadi, cobalah untuk mengikhlaskan nya pak. Jangan seperti ini" bisik Pelangi
Arya menggeleng
"Dia selalu membayangi setiap hal dalam hidup saya" gumam Arya terdengar begitu lirih
"Dia sudah tenang disana. Dia juga ingin melihat bapak bahagia. Yang membayangi kehidupan bapak adalah rasa kehilangan itu sendiri" ungkap Pelangi.
Arya terdiam, hanya isak tangis yang terdengar sesekali. Lelaki bertubuh gagah dan berwajah dingin, bisa menangis seperti ini. Dan tangisan nya terdengar begitu menyakitkan. Membuat hati Pelangi juga merasakan sakit yang sama.
Suami nya menangis, dan itu karena perempuan lain.
Pelangi mengusap kepala Arya dengan lembut, membiarkan lelaki itu terus tersandar didadanya.
Cukup lama, cukup lama Pelangi memeluk Arya, mencoba untuk menenangkan suami nya ini.Hingga Pelangi bisa merasakan jika tubuh Arya yang tadinya bergetar dan tegang, kini sudah mulai tenang lagi.
"Saya lelah Pelangi" gumam Arya
Pelangi duduk dan tersandar di dinding, tepat disamping Arya.
"Tidurlah, jangan ingat apapun. Saya akan menemani bapak malam ini" bisik Pelangi yang langsung menarik tubuh Arya untuk berbaring di pangkuan nya. Dan entah kenapa, Arya menurut dan langsung merebahkan kepalanya dipangkuan Pelangi. Bahkan matanya langsung terpejam dengan rapat.
Apa sebegitu lelah nya dia???
Bukan lelah tubuh, tapi hatinya yang pasti sudah tidak lagi berbentuk.
Pelangi mengusap wajah Arya dengan lembut, mengusap kepala nya dengan penuh rasa sayang. Hingga tanpa terasa Arya memang langsung tertidur diatas pangkuan Pelangi.
Entah karena efek obat penenang itu, atau karena dia yang sudah lelah mengamuk hingga membuat kamar ini sudah tidak lagi berbentuk. Pelangi tidak tahu.
Mata Pelangi memandang nanar kekacauan yang telah dibuat oeh Arya, seraya tangan nya yang terus mengusap kepala Arya, namun ketika tangan kanan nya mencoba untuk mengusap dada Arya, Pelangi sedikit terkesiap, saat tiba tiba Arya meraih tangan itu dan menggenggam nya dengan erat. Membuat Pelangi langsung tersenyum tipis dan membalas genggaman tangan itu.
"Tidurlah.... akan ada Pelangi setelah badai yang selama ini kamu rasakan" bisik Pelangi seraya mengusap kepala Arya kembali dan membiarkan tangan yang satunya berada dalam genggaman tangan lelaki itu.
Kepala Pelangi mendongak, dan langsung terpandang dengan figura besar milik Zelina, yang entah kenapa seperti sedang memandang kearah nya sekarang.
Pelangi tersenyum tipis dengan mata yang berkaca kaca.
'Aku mohon, biarkan Arya bahagia Ze. Aku tahu kamu juga ingin dia bahagia kan.
Lihatlah lelaki ini, lihat lelaki yang sama sama kita cintai ini.
Dia terpuruk karena kehilangan mu, dan semakin terpuruk dengan kehadiran ku.
Bisakah kamu merelakan nya untuk ku?
__ADS_1
Aku berjanji, aku tidak akan pernah melukai nya Ze. Tolong biarkan dia bahagia didunia ini dengan kebahagiaan yang lain'