Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kerumah Sakit


__ADS_3

Arya membuka pintu mobil dengan cepat. Memandang Pelangi sejenak yang nampak masih menahan sakit dan memegangi dadanya. Dengan sigap dia ingin meraih tubuh Pelangi, namun Pelangi menggeleng dan membuka mata. Dia memandang Arya dengan begitu memelas.


"Pak... saya tidak mau masuk" ucap Pelangi, nafasnya masih terasa berat, namun rasa sesak itu sudah mulai berkurang.


"Kamu hampir mati Pelangi, jangan membantah" tegas Arya. Bahkan tanpa mendengarkan perkataan Pelangi, Arya langsung menangkat tubuh Pelangi dan membawanya masuk kedalam rumah sakit. Ya, mereka sudah berada didepan sebuah rumah sakit besar sekarang. Arya langsung membawa Pelangi kerumah sakit saat melihat keadaan Pelangi yang sudah lemas dan kesulitan bernafas. Pelangi sempat pingsan, namun ketika tiba dirumah sakit dia malah sadar.


"Pak... tolong" pinta Pelangi lagi, dia memandang wajah Arya yang kini membawanya masuk kedalam rumah sakit itu. Namun Arya tidak bergeming, dia terus membawa Pelangi masuk dan menemui perawat yang berjaga disana.


Pelangi hanya bisa menghela nafas pasrah. Dia bingung dan juga takut. Bagaimana jika Arya tahu tentang kehamilan nya ini??


Sungguh Pelangi masih belum ingin membuat Arya semakin terbebani.


Tapi untuk memberontak, Pelangi juga tidak bisa. Perasaan panas, sakit dan sesak ini masih terus membuat tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya.


Hingga akhirnya, Pelangi dibawa masuk keruang pemeriksaan. Arya menunggu diluar, duduk dengan wajah datar dan terus memandangi ruangan Pelangi.


Didalam ruangan...


Dokter memeriksa Pelangi dengan cepat. Entah apa saja yang disuntikkan kedalam tubuhnya. Sebisa mungkin Pelangi tetap menjaga kesadaran. Hingga beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksanya sedikit bereaksi dan memandang Pelangi dengan lekat.


"Apa nona sedang hamil???" tanya dokter lelaki itu


Pelangi mengangguk pelan.


"Kehamilan nona masih terlalu muda kan, saya tidak bisa menyuntikkan obat obatan sembarangan. Dan karena alergi ini saya juga takut akan berpengaruh pada janin nona. Sebaiknya nona juga berkonsultasi dengan dokter kandungan. Nanti saya akan bekerja sama dengan dokter itu" ungkap nya


Namun Pelangi menggeleng.


"Bisakah memberi saya obat pereda sakit saja dokter. Saya yakin anak saya kuat. Saya juga tidak ingin di infus, saya ingin pulang" pinta Pelangi. Wajahnya begitu memelas membuat dokter itu menatap iba pada Pelangi.


"Tapi keadaan nona masih lemah. Apalagi nona yang sedang mengandung. Nona sebaiknya menginap dulu satu malam disini. Agar semua nya baik baik saja" ujar dokter itu.


Pelangi terdiam, dia benar benar bingung. Dia memang masih merasa begitu lemah. Namun untuk dirawat inap disini, bagaimana??


"Nona harus memikirkan keadaan janin nona juga" tambah dokter itu.


Pelangi menoleh kearahnya dengan sendu.


"Tapi bisakan dokter merahasiakan kehamilan saya ini dari siapapun? Termasuk pada suami saya" pinta Pelangi.


Dokter itu langsung memandang Pelangi dengan bingung. Bahkan wajahnya benar benar terkejut.


"Kenapa nona, keadaan nona sekarang juga tidak bisa dianggap remeh" ucap dokter itu tidak habis fikir.


"Dokter, tolong... Jika dokter tidak bisa memenuhi permintaan saya, maka tolong biarkan saya pulang saja" kata Pelangi lagi. Dia benar benar tidak ingin Arya tahu sekarang.


Dokter itu terlihat bingung, dia dan perawat yang ada disana langsung saling pandang dengan pandangan tidak menentu.


"Baiklah, kami akan merahasiakan hal ini. Tapi jika terjadi sesuatu pada nona, atau keadaan nona yang memburuk, saya tetap harus memberitahukan hal ini pada suami anda" ujar dokter itu.


Pelangi mengangguk pelan.


"Ya, tapi untuk saat ini, saya mohon agar dia jangan tahu dulu dokter. Saya sudah menyiapkan kejutan yang besar untuk suami saya. Dan saya tidak ingin menghancurkan rencana yang sudah saya buat hanya karena alergi ini" ungkap Pelangi.


Ya ampun... dia harus berbohong lagi...

__ADS_1


Entah sudah berapa banyak dosa nya karena terus dan terus membohongi orang orang.


"Baiklah nona, tapi besok pagi nona juga harus memeriksakan kandungan nona ini" ujar dokter itu


Pelangi hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Terimakasih dokter" ucap Pelangi.


Hingga akhirnya, dengan segala alasan dan pertimbangan Pelangi berhasil merayu dokter itu. Mudah mudahan saja keadaan nya cepat pulih, dan tidak terjadi sesuatu pada anaknya agar besok pagi dia sudah bisa pulang kerumah.


Pelangi memandangi dokter dan perawat itu keluar dari ruangannya, dan bahkan Pelangi bisa mendengar ketika Arya bertanya tentang keadaan Pelangi pada dokter itu. Dan beruntungnya dokter ataupun perawat itu tidak memberi tahu tentang kehamilan nya.


Dan mungkin, untuk malam ini Pelangi bisa bernafas dengan lega.


Pelangi menarik nafas dalam dalam dan kembali memejamkan mata. Dia masih merasa begitu lemas, bahkan saat Arya masuk kedalam dan mendekat kearahnya Pelangi masih terus memejamkan mata.


"Pelangi" panggil Arya


Dan mau tidak mau Pelangi kembali membuka mata. Dia memandang Arya dengan mata yang begitu sayu. Karena sungguh, efek obat dan tubuhnya yang tidak berdaya membuat Pelangi sudah ingin tertidur.


"Apa masih ada yang sakit?" tanya Arya. Nada bicaranya dan wajahnya yang datar seperti tidak berekspresi, namun dimata Pelangi, pertanyaan itu sudah seperti bentuk perhatian dari Arya.


Pelangi tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Tidak ada pak, hanya tinggal lemas" jawab Pelangi


"Istirahatlah" ujar Arya. Dia memandang Pelangi dengan perasaan yang tidak menentu.


Pelangi mengangguk pelan.


Dan sungguh, Pelangi baru saja berfikiran positif pada raut wajah Arya, namun sekarang sudah harus ditampar lagi dengan kenyataan ini. Bisa bisa nya Arya mau pergi dan meninggalkan Pelangi sendirian disini? Kenapa kejam sekali.


"Nara menghubungi saya, dia bilang Zeze demam dan mencari saya sejak tadi" ungkap Arya


Pelangi menghela nafas pelan dan memejamkan matanya sekilas. Jika menyangkut mereka, Pelangi bisa apa.


"Ya, tidak apa apa pak. Tapi bisakah pergi jika saya sudah tertidur? Saya takut berada disini sendirian" pinta Pelangi.


Arya mengangguk pelan. Bahkan dia langsung menarik kursi yang ada disana dan duduk di samping Pelangi.


Pelangi tersenyum dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Arya.


"Untuk malam ini saja pak, boleh saya pegang tangan bapak ya, saya takut dirumah sakit. Saya ingat mendiang kakak" pinta Pelangi lagi, wajahnya begitu memelas, hingga lagi lagi membuat perasaan Arya tidak menentu.


"Kamu tidak sedang membohongi saya?" tuding Arya


Pelangi tertunduk dengan wajah yang sedih, bahkan matanya berkaca kaca sekarang. Dia menarik kembali tangannya yang terjulur dan meletakkan didekat dadanya.


"Maaf pak, saya tidak bohong. Saya hanya takut, tapi jika bapak tidak mau, tidak apa apa" jawab Pelangi, yang kembali memejamkan mata, namun mata yang terpejam itu membuat bulir air nya menetes keluar, namun dengan cepat Pelangi hapus. Bahkan dia menyembunyikan wajah sedihnya dibalik lengan.


Arya menghela nafas panjang. Sial sekali, kenapa dia malah tidak tega dan tidak bisa melihat Pelangi yang seperti ini.


Hingga akhirnya Arya meraih tangan Pelangi dan menggenggam nya denganĀ  pelan. Membuat Pelangi langsung membuka mata dan memandang Arya dengan senyuman yang lemah.


"Terimakasih pak" ucap Pelangi. Dia membalas genggaman tangan itu, bahkan langsung memejamkan mata seraya membawa tangan Arya kedalam dekapan nya.

__ADS_1


Arya hanya memandangi wajah Pelangi yang pucat, bahkan bulir air mata itu masih menetes dari sudut matanya. Entah kenapa gadis ini masih menangis, apa dia sedih? Atau memang ketakutan. Karena Pelangi yang memang tidak pernah mau untuk dibawa kerumah sakit.


Arya hanya bisa membiarkan Pelangi menggenggam tangan nya dengan erat. Seolah mencari kenyamanan dari genggaman tangan itu. Bahkan sangat lama Arya duduk dan menunggu Pelangi tenang dan tertidur lelap. Hingga beberapa saat kemudian, Arya bisa merasa jika genggaman tangan Pelangi sudah mulai melemah. Dan itu artinya dia sudah mulai terlelap.


Arya menarik perlahan tangan nya, dan memang Pelangi tidak lagi bergerak. Dia sudah larut kedalam alam bawah sadarnya. Wajah Pelangi juga sudah tidak sepucat tadi, nafasnya juga mulai teratur. Dan itu membuat Arya sedikit lebih tenang.


Karena bukan hanya Pelangis saja yang takut rumah sakit, tapi Arya juga. Rasanya rumah sakit adalah tempat yang paling tidak ingin dia datangi.


Segala harapan, luka dan air mata pernah Arya dapatkan ditempat ini, hingga dia benar benar membenci rumah sakit.


Tapi keadaan Pelangi yang seperti tadi harus membuat Arya melawan egonya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Pelangi. Apalagi bisa Arya lihat jika Pelangi benar benar kesakitan dan menderita karena alergi itu.


Pelangi dan Zelina, nyatanya memang tidak bisa disamakan.


Arya menghela nafas pelan, matanya masih memandang wajah damai itu. Dan tanpa sadar tangan nya malah terjulur dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Pelangi. Jika seperti ini, bagaimana mungkin dia tega membiarkan Pelangi sendirian disini???


Tapi Zeze, keponakan kecilnya itu juga tidak akan bisa jika dia sudah mencarinya. Bahkan sejak tadi Reynand sudah menghubungi Arya berulang kali.


Tapi bagaimana dengan Pelangi....


Ck... kenapa Arya jadi bingung seperti ini.


Sudah lah, lebih baik dia pergi sebentar. Nanti setelah Zeze tenang, Arya akan kembali kerumah sakit.


Arya menghela nafas pelan, dan dengan pelan pula dia beranjak dari kursi nya. Sebelum melangkah keluar, dia memandang Pelangi kembali. Menarik selimut dan menyelimuti tubuh Pelangi dengan baik. Dan setelah itu dia langsung berjalan keluar meninggalkan Pelangi sendirian disana.


Arya pergi dengan tergesa. bahkan dia berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Sejak dulu, jika sudah demam Zeze memang selalu mencari Arya. Tidak tahu kenapa gadis kecil itu begitu manja padanya dari pada dengan ayahnya sendiri.


Bahkan karena panik dan fikiran yang bercabang, Arya mengemudikan mobil nya dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai dirumah Nara. Dan beruntungnya lagi jarak rumah sakit dengan rumah keluarga Adiputra tidak terlalu jauh. Karena Arya memang mencari rumah sakit terdekat tadi.


Namun tiba tiba, saat memelankan laju mobilnya karena didepan lampu merah menyala, seorang pengendara motor mendekat pada mobil Arya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket nya.


Dan ...


Plak


Arya tersentak kaget, saat tiga butir telur dilemparkan orang itu kekaca jendelanya dengan begitu brutal.


Arya mengernyit, wajahnya langsung berubah marah, dia langsung keluar dari mobil dan memandang pemotor itu yang sudah melajukan motornya meninggalkan Arya, menyelip diantara pengguna jalan yang lain dengan begitu lihai.


"Hei... sialan!!!!" teriak Arya begitu kuat hingga membuat pengendara lain juga memandang nya dengan bingung serta heran.


Siapa yang sudah berani melakukan ini???


Kenapa kurang ajar sekali,


Ada masalah apa dia dengan Arya


Arya memandang kaca mobilnya yang sudah kotor, dan kembali memandang kedepan dimana pemotor itu sudah menghilang tanpa jejak.


Orang iseng kah? Tapi kenapa keterlaluan!


Dan Arya sempat melihat, jika dia adalah seorang lelaki. Lelaki dengan jaket hitam dan helm hitam yang menutupi seluruh wajahnya.


...

__ADS_1


Ada yang bisa menebak siapa lelaki berjaket hitam itu ?????


__ADS_2