
Desiran angin pagi menerpa wajah Pelangi yang pucat dan sembab. Matanya memandang nanar perkuburan yang bersusun rapi seluas mata memandang. Rumput hijau yang masih basah dengan embun terasa begitu segar. Mata Pelangi berair, dia melangkah menuju kesatu makam yang terletak dipaling ujung. Tempat nya cukup indah karena seperti terawat setiap waktu.
Pelangi melangkah dengan ragu, tapi entah kenapa dia memang sangat ingin bertemu dan menyapa gadis itu.
Gadis yang dicintai oleh Arya.
Ditangan nya Pelangi membawa tiga tangkai mawar merah, sebagai bukti jika dia datang dengan penuh penghormatan.
Pelangi tertegun, dia memandang dengan lekat batu nisan hitam yang bertuliskan nama 'Zelina Adiputra'. Tertera tahun dimana kepergian gadis ini. Sudah sangat lama, sudah lima tahun berlalu. Tapi sampai saat ini sosoknya masih selalu dirindukan oleh orang yang dia cintai.
Pelangi berlutut dihadapan makam itu, dia tersenyum tipis namun matanya yang kembali berkaca kaca. Tangan nya bergetar meletakkan bunga mawar yang dia bawa keatas gundukan tanah yang sudah tertutupi oleh rumput hijau.
"Hai Ze" sapa Pelangi
"Aku datang bersama anak ku untuk menemuimu" ucap Pelangi yang mulai meneteskan air matanya. Hatinya masih terasa sakit. Bukan ingin mengeluh, hanya saja dia ingin berbagi cerita pada Zelina. Orang yang sama sama mencintai Arya.
"Maafkan aku yang sudah mencoba untuk merebut cinta pak Arya dari mu. Meski kenyataan nya, aku juga tidak berhasil" ucap Pelangi lagi. Air mata semakin banyak menetes, membuat dia tertunduk dan menahan isak tangis yang benar benar ingin dia luapkan sekarang.
"Kenapa aku tidak bisa seperti mu Ze? Kenapa aku tidak bisa dicintai oleh nya seperti dia mencintai kamu. Rasanya sakit sekali. Bisakah kamu merasakan rasa sakitku ini Ze???"
"Aku memang tidak bisa seperti mu. Aku bukan kamu yang istimewa, aku bukan kamu yang mempunyai segalanya hingga pantas dicintai oleh pak Arya dengan begitu besar"
Pelangi berbicara dengan segenap perasaannya. Rasanya benar benar sesak dan perih, hingga air mata itu tidak bisa berhenti untuk mengalir. Tempat yang sepi dan hening membuat dia dengan mudah meluahkan segala perasaannya.
"Aku hanya berharap dia bisa melihatku sedikit Ze. Aku tidak berharap untuk merebut semua cintanya dari mu. Aku hanya meminta sedikit. Apa aku salah????" isak tangis Pelangi semakin lirih.
"Aku butuh dia, anak ku membutuhkan ayahnya. Tapi sekarang, aku tidak bisa egois untuk terus mempertahankan hubungan ini. Aku tidak sanggup Ze. Aku tidak sanggup ketika melihat suamiku sendiri masih begitu mengingatmu. Hanya kamu yang ada dimatanya, hanya kamu yang ada dihatinya. Hingga sedikitpun peranku tidak pernah dia lihat"
hiks
hiks
"Aku kalah Ze..... andai waktu bisa diputar. Sungguh, aku tidak ingin masuk kedalam kehidupannya. Tapi sekarang, semua sudah terlambat. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah lepas dari bayang bayang pak Arya" ungkap Pelangi. Dia mengusap air matanya dan memandang nisan Zelina kembali.
"Cintaku tidak memaksa, aku ingin dia bahagia. Tapi aku tahu, ketika aku pergi, dia juga tidak akan mendapatkan kebahagiaan itu karena kamu juga sudah tidak ada. Tapi untuk bertahan, aku sudah tidak sanggup lagi."
"Ze..." lirih Pelangi
"Tolong jangan buat dia tenggelam dalam bayang bayang mu untuk seumur hidupnya. Jika bukan padaku, biarkan dia bahagia dengan orang lain. Aku yakin, kamu juga ingin dia bahagiakan???" tanya Pelangi. Isak tangis itu masih saja terdengar dengan jelas.
"Aku mencintainya Ze. Sangat mencintainya. Tapi cintaku juga tidak sanggup jika harus bertahan dalam bayang bayang mu. Maafkan aku, aku menyerah. Tenanglah kamu disana Ze. Dan jika bisa tolong minta pada Tuhan untuk memberikan seseorang yang bisa menyembuhkan luka hati pak Arya" ucap Pelangi seraya mengusap nisan Zelina.
Cukup lama Pelangi menangis disana. Meluahkan segala perasaannya yang begitu hancur karena harus memilih pergi disaat dia sedang mengandung seperti ini. Ini bukan hal yang mudah.
Dia mengusap kembali wajahnya. Memandang nisan Zelina dengan pandangan perih. Tangan nya tertadah, matanya memejam, sedangkan bibirnya mulai membacakan sebait doa untuk Zelina dialam sana.
Sakit, perih dan terluka. Tapi ini bukan salah Zelina. Ini adalah takdir Tuhan. Pelangi hanya ingin mengungkapkan segala isi hatinya pada Zelina.
"Aku pergi, dan.... sampai jumpa" ucap Pelangi yang langsung beranjak dari makam Zelina.
Dia tersenyum tipis dan membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan makam Zelina, seiring dengan angin dingin yang tiba tiba menerpa wajah dan tubuh Pelangi hingga membuat Pelangi memejamkan matanya sejenak. Bulu romanya meremang, dia tahu itu pasti Zelina.
...
Sementara dirumah Arya....
Hari sudah senja dan hampir malam. Arya masih berada didalam kamarnya. Sejak pagi, bahkan sejak malam tadi dia tidak ada keluar dari kamar sedikitpun. Dia masih belum tahu dimana Pelangi sekarang. Arya masih larut dalam perasaan yang membuat dia benar benar tidak berdaya.
Perasaan kalut dengan bayangan Zelina, dan perasaan aneh dengan kehadiran Pelangi. Semuanya benar benar membuat Arya tidak berdaya dan tidak bisa berfikir dengan jernih.
__ADS_1
'Zelina sudah tidak ada, dia sudah tenang disana. Ada Pelangi yang menjadi istri kamu. Ada Pelangi yang harus kamu terima kehadiran nya. Buka mata kamu Yo. Kamu sudah mulai menyukai nya, kamu sudah mulai jatuh hati pada Pelangi. Biarkan dia hadir didalam kehidupan mu. Bukan sebagai pengganti, melainkan menjadi sebagian dari pemilik hati kamu'
Perkataan Nara terus terngiang ngiang di kepala Arya. Wajah Pelangi dan wajah Zelina berputar putar dan datang silih berganti. Membuat Arya benar benar pusing dan semakin tidak menentu.
Pelangi, yang tanpa sadar memang sudah membuat perhatian nya dari Zelina teralihkan sedikit demi sedikit. Bahkan ada yang berbeda dirumah ini pun Arya tidak sadar lagi jika bukan karena dia yang kehilangan foto Zelina.
'Jangan sampai menyesal Yo. Pelangi itu benar benar mencintai kamu, jauh sebelum kalian menikah'
Lagi perkataan Nara pagi tadi kembali terngiang.
'Tidak ada yang tulus setulus Pelangi. Dia tahu kamu mencintai Zelina, tapi dia masih terus bertahan untuk menyembuhkan lukamu'
Arya meraup rambutnya yang panjang dengan kuat hingga wajah nya memerah.
'Buka hati kamu Yo, buka mata kamu dan lihatlah Pelangi. Kamu tidak takut dia pergi? Kamu tidak takut dia menyerah?'
Arya menggeleng kuat. Perasaan nya benar benar tidak menentu. Gejolak dihati yang tadinya membayangkan Zelina kini malah wajah Pelangi yang terngiang dikepalanya. Senyuman nya, tangisan nya dan sikapnya yang menyebalkan yang mampu mengalihkan dunia Arya dari Zelina.
"Tidak... tidak. Pelangi jangan pergi" gumam Arya akhirnya. Dengan susah payah dia langsung beranjak dan berjalan keluar kamar.
Kakinya kebas dan kaku, pinggangnya kembali nyeri, hingga membuat langkah Arya terhuyung huyung menuruni anak tangga satu persatu.
Arya meringis sakit saat dia merasa jika luka di pinggang nya kembali berdenyut dan terbuka lagi. Tapi tidak dia hiraukan. Saat ini Arya hanya ingin bertemu dengan Pelangi. Arya hanya ingin meminta maaf karena sudah mengabaikan nya selama ini. Arya ingin berkata jika dia akan melupakan perjanjian tiga bulan itu. Arya ingin mengatakan jika dia sudah akan menerima Pelangi menjadi istrinya.
Arya hanya ingin Pelangi. Arya tidak ingin kehilangan lagi.
"Pelangi!!" seru Arya seraya membuka pintu kamar Pelangi dengan cepat.
Namun dia langsung tertegun saat melihat kamar Pelangi yang kosong.
Kemana Pelangi????
"Pelangi" gumam Arya.
Wajahnya memucat, jantung nya mulai berdenyut ngilu.
Tidak mungkin Pelangi pergi kan????
"Tidak... tidak mungkin" gumam Arya dengan suara yang terasa tercekat ditenggorokan.
Pelangi tidak mungkin pergi. Masih ada waktu sampai besok sebelum perjanjian itu. Tidak mungkin Pelangi pergi tanpa pamit. Tidak ... tidak mungkin.
Arya tertegun, saat melihat sebuah surat yang terletak diatas meja nakas. Diatas surat itu ada setangkai mawar merah.
Arya meraih surat itu dengan tangan yang bergetar. Dan jantung nya semakin bergemuruh hebat saat mulai membaca isi surat.
Pak Arya..
Salahkah jika saya mengharapkan cinta dari suami saya sendiri?
Besok genap tiga bulan kita bersama. Saya benar benar berharap jika pernikahan ini tidak terhenti sampai disini.
Saya benar benar berharap jika kita bisa menjadi pasangan suami istri seperti yang lain, yang saling mencintai sampai akhir hayat.
Tapi ternyata, harapan saya hanya tinggal angan angan.
Saya sudah kalah. Sekuat apapun saya berjuang, tapi ternyata bapak tidak bisa melihat saya sedikitpun.
Maafkan saya pak. Maaf jika saya sudah merepotkan bapak selama ini.
__ADS_1
Maaf jika saya hanya menambah beban bapak semakin berat.
Tapi percayalah, semua yang saya lakukan adalah tulus karena saya.... mencintai pak Arya.
Saya hanya ingin bapak bahagia. Tapi nyatanya, bukan saya kebahagiaan bapak.
Senyum saya tidak mampu membuat bapak tersenyum.
Perlakuan saya tidak mampu membuat bapak terkesan.
Saya benar benar kalah dengan masa lalu bapak.
Bukan ingin merebut, saya hanya ingin berbagi tempat dihati bapak bersama Zelina.
Tapi ternyata, saya tidak mampu.
Maaf pak..
Saya pergi tanpa pamit.
Saya benar benar tidak sanggup jika harus mendengar talak dari mulut bapak sendiri.
Jaga kesehatan ya pak.
Terimakasih untuk kenang kenangan yang telah bapak berikan dalam hidup saya. Saya pasti akan menjaga nya dengan baik.
Semoga bapak bisa menemukan kebahagiaan, meski bukan dengan saya, ataupun Zelina.
Salam sayang,
Pelangi.
..
Arya langsung jatuh terduduk diatas lantai dengan tangan yang masih menggenggam surat dari Pelangi. Matanya memandang nanar kearah lemari Pelangi. Jantung nya benar benar berat untuk berdetak. Bibirnya bahkan terasa sulit untuk membuka suara.
Benarkah ini?
Benarkah Pelangi pergi meninggalkan nya??
Kenapa dia pergi??
Kenapa dia tega meninggalkan Arya??
Kenapa tidak ingin bertahan sebentar saja???
Kenapa???
"Aaaarrgggghhhh Pelangi!!!!!" teriakan Arya begitu kuat menggema didalam kamar Pelangi.
"Kenapa kalian tega meninggalkan aku sendirian lagi. Kenapa kalian tega!!!" teriak Arya yang kembali mengamuk dan menendang meja nakas Pelangi dengan kuat.
"Pelangi!!!! kenapa kamu pergi sekarang!! kenapa kamu pergi" Arya tersandar lemas dengan wajah yang memucat.
Arya benci perpisahan. Arya benci kehilangan. Tapi kenapa sekarang dia merasakan hal ini lagi. Kenapa disaat dia sudah tahu dengan perasaan nya sendiri, jika dia sudah mulai bisa menerima Pelangi tapi Pelangi malah pergi.
Kenapa harus sekarang??
Kenapa harus kehilangan lagi!!!!
__ADS_1