
Tiada hal yang lebih menyakitkan ketika harus memaksakan sesuatu yang sebenarnya tidak cocok namun tetap dipaksa. Benar benar menyakitkan dan membuat sesak dan menderita.
Pelangi menarik nafas dalam dalam, dadanya mulai sesak, jantung nya mulai bergemuruh dengan hebat, Bahkan kepalanya mulai berdenyut tidak menentu.
Padahal dia baru memakan puding strawberry ini beberapa suap saja, tapi rasanya sudah seperti ingin merenggut nyawanya.
Pelangi meminum air putih dengan cepat. Dia menoleh kearah Arya yang sesekali melirik nya. Dan pandangan mata Pelangi langsung menoleh pada Nara yang masih asik bercerita dengan Gendis dan Naina.
Tidak...
Pelangi tidak bisa bertahan lebih lama disini.
"Emmm nyonya" panggil Pelangi pada mama Zelina. Sebisa mungkin dia bersikap untuk tenang, meski rasanya sudah sulit untuk bernafas
"Ada apa Pelangi?" tanya mama Zelina, membuat semua orang yang ada disana langsung menoleh kearah Pelangi.
"Saya izin ketoilet sebentar" ucap Pelangi seraya beranjak dari kursi. Wajahnya mulai memucat, dan itu membuat Nara heran.
"Kamu baik baik saja Pelangi?" tanya Nara
Pelangi tersenyum dan mengangguk pelan.
"Saya baik baik saja nona, hanya ingin kekamar mandi. Permisi" jawab Pelangi. Bahkan tanpa menunggu apapun lagi, Pelangi langsung berjalan dengan cepat menuju kekamar mandi dibelakang, didekat dapur.
Arya memandang kepergian Pelangi dengan pandangan datar. Meski sebenarnya dia juga bingung, kenapa Pelangi seperti menahan sesuatu begitu??
"Hei ndrong"
Suara Bima membuat Arya menoleh kearah nya.
"Jangan terlalu kejam pada istrimu, kau tidak mau menyesal seperti tuan angkuh itu kan" ucap Bima sedikit berbisik, namun masih didengar ditelinga Reyza.
"Sepertinya dia juga gadis yang baik. Bersikaplah lembut sedikit" ujar nya pula.
Arya hanya diam dan menggeleng pelan.
"Aryo memang mau mengikuti jejak ku. Tidak tahu saja dia rasanya penyesalan itu seperti apa sakitnya. Bahkan seumur hidup juga tidak akan bisa hilang"sahut Reynand yang ternyata mendengar ucapan mereka.
Nara dan kedua wanita cantik itu hanya memandang pada para lelaki yang sedang saling memberi tahu. Karena sepertinya cerita mereka memang hampir sama. Menunggu menyesal, baru sadar akan perasaan masing masing. Apalagi Reynand yang paling parah.
"Saya tidak pernah kasar padanya, tidak seperti anda tuan" jawab Arya
Reynand langsung mendengus mendengar itu.
"Kau memang tidak bersikap kasar, tapi dari cara pandangan mu saja sudah bisa membuat dia makan hati berulam jantung" sahut Reynand
Arya terdiam, dia hanya memandang datar pada puding yang ada dipiring nya.
"Berusaha untuk menerima takdir, kau pasti akan bisa sedikit lebih tenang" ujar Bima seraya menepuk bahu Arya sekilas.
__ADS_1
....
Sementara didalam kamar mandi..
Bruk
Pelangi langsung jatuh terduduk dengan wajah dan kulit yang mulai memerah. Nafasnya tersengal, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya, dia memegang dadanya yang sakit.
Sakit sekali, bahkan Pelangi menggeliat didalam sana sendirian. Sendirian menahan sakit dan panas disekujur tubuhnya.
Bagaimana ini???
Apa yang harus Pelangi lakukan???
Harus kepada siapa dia meminta tolong???
Pelangi menggeleng dan bergerak begitu gelisah, wajahnya sudah benar benar pucat. Rasanya sudah tidak menentu dan tidak bisa dijelaskan bagaimana sakitnya.
Rasa sakit, rasa panas, rasa gatal, dan sesak ini begitu membuat Pelangi kesulitan untuk bernafas. Dia alergi pada buah strawberry. Setiap memakan makanan yang mengandung buah itu Pelangi pasti akan demam dan sesak nafas. Apalagi tadi dia makan puding buah dengan seratus persen strawberry, membuat Pelangi serasa ingin mati sekarang.
Pelangi memasukkan jarinya kedalam mulut dalam dalam, berusaha untuk memuntahkan apa yang sudah dia makan. Berulang kali, bahkan hingga air mata mengucur deras membasahi wajah nya yang memang sudah basah karena air mata.
Benar benar menderita sekali.
Hingga akhirnya...
huek...
Pelangi berhasil memuntahkan isi perutnya kembali. Bahkan semua yang ada didalam perutnya Pelangi keluarkan, hingga dia benar benar lemas dan tidak berdaya.
Suara kesakitan Pelangi membuat pelayan yang sedang bekerja didapur mendengar nya. Apalagi dengan pintu kamar mandi yang memang tidak ditutup dengan rapat. Membuat dia langsung mendatangi dan melihat Pelangi.
"Ya Tuhan nona" ucap nya begitu terkejut. Apalagi ketika melihat Pelangi yang tersandar lemas didinding dengan wajah yang begitu pucat.
"Bu.. tolong" lirih Pelangi.
Pelayan itu langsung membantu Pelangi untuk keluar, namun karena sudah tidak tahan, Pelangi kembali terduduk didepan kamar mandi itu dan tersandar lemas. Dia benar benar sudah tidak berdaya. Kepalanya sakit, dan dadanya sesak.
"Nona kenapa, saya panggil nyonya besar dulu ya, atau pak Arya" ujar pelayan itu. Dia ingin pergi, namun Pelangi langsung menahan tangan nya.
"Jangan bu, tolong jangan" pinta Pelangi
"Tapi keadaan nona seperti ini" kata pelayan itu yang memandang Pelangi dengan iba
"Saya tidak ingin membuat mereka repot bu. Jika ada saya minta obat pereda alergi saja ya" pinta Pelangi, suaranya terdengal tersengal karena yang memang kesusahan untuk bernafas.
Pelayan itu langsung mengangguk dengan cepat dan segera berlari menuju lemari mengambil obatnya. Dengan sigap dia kembali pada Pelangi dan menyerahkan obat itu.
Dengan tangan bergetar, Pelangi langsung menelan obat itu. Berharap rasa sakit ini akan berkurang.
__ADS_1
Hingga tiba tiba dia terkesiap dengan kedatangan Arya kesana.
Arya begitu terkejut melihat Pelangi yang terkulai diatas lantai. Apalagi dengan wajah yang benar benar pucat, tubuhnya yang memerah dan dada Pelangi yang nampak naik turun membuat Arya seketika menjadi cemas.
"Hei... ada apa dengan mu?" tanya Arya yang langsung berlutut dihadapan Pelangi.
Sejak Pelangi pamit kekamar mandi Arya sudah curiga, dan beberapa menit kemudian Pelangi tidak kembali membuat Arya menyusulnya. Dan sekarang dia malah melihat Pelangi yang seperti ini.
"Pelangi" panggil Arya lagi.
"Nona Pelangi sepertinya alergi makanan pak" jawab pelayan itu.
Pelangi tersenyum tipis dan menggeleng.
"Alergi?" tanya Arya
"Tidak apa apa pak. Saya masih bisa menahan. Tapi.... bisakah kita pulang sekarang?" tanya Pelangi. Wajahnya begitu memelas, dengan helaan nafas yang masih tersengal.
Arya langsung melepaskan jas nya dan membalut tubuh Pelangi. Dia ingin menggendong Pelangi, namun Pelangi menggeleng.
"Saya masih bisa pak. Jangan membuat mereka bertanya" ucap Pelangi. Dia meraih lengan Arya untuk menopang dirinya hingga Arya dengan cepat membantu Pelangi berdiri.
"Kamu serius?" tanya Arya. Apa lagi bisa dia lihat jika Pelangi benar benar seperti menahan sakit. Ruam merah dikulit Pelangi sudah menjawab jika dia memang tidak baik baik saja.
"Saya tidak apa apa. Maaf merepotkan pak" jawab Pelangi
Arya hanya mendengus, dan mereka berjalan menuju ruang makan dina Reynand dan yang lain masih ada disana.
"Pelangi ada apa?" tanya Nara
"Tidak apa apa nona, hanya sakit perut. Saya permisi pulang duluan ya" ucap Pelangi yang begitu memaksakan senyum nya.
"Kamu benar hanya sakit perut nak?" tanya mama Zelina pula
Pelangi mengangguk pelan.
"Iya nyonya" jawab pelangi
"Tuan, kami permisi dulu" pamit Arya pada tuan Abas dan yang lain. Dan tanpa menunggu jawaban mereka Arya langsung membawa Pelangi keluar rumah.
Langkah Pelangi terhuyung, bahkan beberapa kali Pelangi seperti ingin terjatuh. Namun dengan sigap Arya menahan tubuhnya.
Wajah Pelangi semakin pucat
"Uuhh" lenguh Pelangi yang kembali memegangi dadanya yang benar benar sakit dan sesak
"Pelangi" panggil Arya
Pelangi menggeleng dalam rangkulan Arya
__ADS_1
"Saya.... saya gak kuat lagi pak" ucap Pelangi. Dan setelah mengatakan itu, dia langsung terkulai lemah dalam rangkulan Arya. Membuat Arya panik dan langsung mengangkat tubuh Pelangi masuk kedalam mobil.