Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Tetap Bertahan


__ADS_3

Pagi pagi sekali, bahkan disaat matahari masih baru terbit, Pelangi sudah membersihkan dirinya dan sudah berada didapur. Dia menunggu Arya. Pelangi takut jika lelaki itu sudah pergi duluan seperti semalam. Jangan sampai mereka tidak bertemu lagi. Setidaknya, walau hanya di pagi dan malam hari saja Pelangi sudah sangat senang.


Pelangi sedang memasak omelet untuk mereka sarapan nanti. Semoga saja Arya mau memakan nya. Dan setengah jam kemudian, sarapan yang dia buat dengan segelas teh hangat untuk Arya sudah tersaji di atas meja. Bersamaan dengan langkah kaki yang turun dari lantai atas.


Benarkan, Arya turun pagi pagi sekali. Bahkan dia sudah sibuk dengan ponsel ditangan nya.


Pelangi benar benar heran. Padahal dia bos nya, tapi kenapa rajin sekali pergi pagi pagi buta seperti ini.


Pelangi terkesiap, saat Arya sama sekali tidak ada memandang nya bahkan dia langsung melangkahkan kaki menuju pintu keluar tanpa ingin sarapan seperti biasa.


Dengan sigap Pelangi langsung membawa gelas teh nya dan sedikit berlari mengejar Arya.


"Pak Arya!!" seru Pelangi. Wajah nya meringis saat terkena tumpahan teh yang dia bawa karena memang masih panas.


Arya terhenti dan langsung menoleh ke arah nya.


"Bapak tidak sarapan dulu?" tanya Pelangi, dengan senyum secerah mentari.


"Tidak" jawab Arya begitu singkat. Bahkan dia ingin kembali melanjutkan langkah nya, namun dengan cepat Pelangi kembali menghadang.


"Ah, jika tidak ingin sarapan, bapak bisa minum teh dulu" ujar Pelangi seraya menyodorkan gelas teh ditangan nya dengan tangan yang bergetar.


Arya menoleh kearah gelas teh itu sekilas dan kembali memandang Pelangi. Wajahnya yang datar sebenarnya cukup membuat Pelangi takut. Tapi Pelangi tidak ingin berlarut larut dalam kemarahan Arya. Setidak nya dia bisa membuat Arya mau duduk dimeja makan lagi bersama nya.


"Minggir!" usir Arya


Pelangi menggeleng.


"Setidak nya minum teh ini dulu pak. Supaya tidak masuk angin. Hari masih terlalu pagi" ujar Pelangi


"Minggir kataku!" ucap Arya lagi seraya kembali ingin berjalan. Namun Pelangi lagi lagi menghalangi jalan nya.


"Kau"


Arya mulai menggeram, dia bahkan memandang Pelangi dengan begitu tajam.


"Cuma seteguk teh pak. Saya minta maaf karena sudah membuat bapak marah kemarin. Tapi sungguh, bukan saya yang mendatangi nona Nara. Saya bertemu dia saat berbelanja. Saya tidak selancang itu untuk menemui keluarga bapak" ungkap Pelangi dengan mata yang berkaca kaca.


Arya terdiam dan masih memandang Pelangi.


"Jangan marah lagi pak. Hanya tinggal dua bulan lagi. Saya tidak berharap banyak dan tidak berharap apapun. Hanya untuk saat ini setidak nya bapak mau satu meja makan dengan saya" pinta Pelangi


"Kenapa kau yang mengatur ku?" tanya Arya. Suara ketus nya itu benar benar membuat hati Pelangi sakit. Tapi dia harus tetap bertahan. Setidaknya menciptakan kenangan indah dalam dua bulan lagi masa nya berada dirumah ini.


Pelangi tersenyum memandang Arya. Dia menyodorkan gelas teh itu kembali pada Arya.


"Saya hanya ingin bapak sehat dan tidak sakit. Karena tanggung jawab bapak besar kan" ucap Pelangi, yang sangat jauh dari pengharapan yang ada dihatinya.


Arya mendengus senyum sinis dan kembali memandang teh ditangan Pelangi.


"Apa kau kira aku akan menuruti perkataan mu itu?" tanya Arya


deg


Rasanya seperti terhempas, namun Pelangi tetap memasang senyum nya. Tidak apa apa. Harus sabar.

__ADS_1


"Mungkin setiap pagi bapak akan terlambat pergi bekerja karena saya akan terus menghadang seperti ini" jawab Pelangi


"Kau mengancam ku?" tanya Arya lagi. Namun dengan cepat Pelangi menggeleng.


"Tidak pak. Ayolah diminum dulu, setelah itu saya akan pergi. Kata bunda tidak baik sudah ditawari tapi tidak diminum. Pamali" ujar Pelangi.


"Tidak mau" jawab Arya. Bahkan dia langsung menyingkirkan tubuh Pelangi dan kembali melangkah. Tapi lagi lagi, Pelangi kembali mengejar Arya.


"Pelangi, kau benar benar" Arya terlihat menggeram. Tapi Pelangi tidak perduli, dia kembali menyodorkan gelas teh itu pada Arya.


Arya menghela nafas kesal dan langsung merebut gelas teh itu. Bahkan dia langsung meneguk nya sekejap dan kembali menyerahkan gelas itu dengan kasar pada Pelangi.


Pelangi langsung tersenyum dengan senang meski tangan nya tertumpah teh panas itu.


"Terimakasih. Hati hati dijalan pak" ucap Pelangi yang langsung menyingkir dari ambang pintu.


Arya mendengus kesal dan langsung berlalu tanpa kata dari rumah itu. Meninggalkan Pelangi yang melambaikan tangan melepas kepergian nya. Kenapa ada gadis semenjengkelkan Pelangi didunia ini. Padahal sudah dibentak dan di perlakukan kasar. Tapi dia masih saja bisa tersenyum dan tidak menyerah juga.


Arya benar benar tidak habis fikir.


Sementara Pelangi dia langsung berjalan kedapur dan menyirami tangan nya yang terasa panas dengan air dingin. Bahkan tangan itu sekarang sudah nampak memerah.


"Huh.. begini sekali hanya karena ingin memandang nya saja" gumam Pelangi dengan begitu sedih.


....


Siang harinya, Pelangi baru saja selesai membereskan rumah Arya. Dia duduk dengan lemas diatas sofa. Entah kenapa akhir akhir ini badan nya terasa tidak enak. Apa dia kelelahan karena setiap hari harus membereskan rumah ini sendirian?


Entah lah.


Pelangi terkesiap.


Siapa yang datang, batin nya?


Dia langsung beranjak dan berjalan untuk membukakan pintu. Dan ternyata yang datang adalah Nara, bersama..... seorang pria tampan???


"Nona Nara" sapa Pelangi yang langsung tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuh nya, Meski dia heran kenapa Nara datang disaat Arya tidak ada. Dan lagi, kenapa tatapan pria ini memandang nya dengan aneh ya?


"Boleh kami masuk?" tanya Nara. Membuat Pelangi langsung terkesiap dan mengangguk dengan cepat. Astaga... dia jadi lemot sekarang.


"Ah iya nona, silahkan" jawab Pelangi yang langsung bergeser dan membiarkan Nara dan pria tampan ini masuk. Dia berjalan dibelakang mereka dengan begitu heran, bahkan jantung nya langsung berdetak tidak menentu saat ini.


Apa yang mau Nara lakukan disini?


Arya kan sedang tidak dirumah.


"Kenapa malah melamun seperti itu. Ayo duduk dulu. Ada yang ingin kami bicarakan padamu" ucap Nara.


Pelangi langsung mengernyit heran. Dan dengan canggung dia langsung duduk didepan Nara dan pria yang sejak tadi memandang nya dengan aneh.


"Jadi kamu istri Arya?" tanya pria ini


Meski bingung, tapi Pelangi hanya mengangguk pelan.


"Dia suamiku Pelangi. Reynand, Kakak Zelina" ucap Nara

__ADS_1


deg


Jantung Pelangi semakin berdetak tidak menentu. Bahkan tangan nya langsung mendingin dicuaca sepanas ini. Jadi ini kakak Zelina. Tampan sekali, pantas saja Zelina begitu cantik.


Tapi apa yang mau mereka katakan?


Apa tuan tampan berwajah angkuh ini tidak suka Pelangi menggantikan posisi adik nya???


Benarkah begitu?


"Pelangi, kami kemari untuk membicarakan sesuatu padamu. Karena sebagai keluarga Arya, kami tidak ingin kamu diperlakukan dia dengan tidak baik" ungkap Nara


Pelangi tertunduk takut.


"Apa nona dan tuan tidak suka saya menjadi istri pak Arya?" tanya Pelangi dengan begitu lirih.


"Lalu apa kau suka menjadi istri Arya?" tanya Reynand pula


Pelangi tertegun


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Reynand lagi.


"Kami kemari untuk memberikan mu dua pilihan Pelangi" ucap Reynand. Suara berat dan tegas nya itu benar benar membuat Pelangi takut.


"Bertahan tapi kau harus berusaha. Atau pergi sebelum kau semakin terluka"


deg


Jantung Pelangi terasa dihempas sesuatu dengan kuat. Dia mendongak dan memandang Nara dan Reynand bergantian.


"Kami tidak melarang mu untuk bertahan Pelangi. Tapi seperti yang kamu tahu, Arya belum bisa mengalihkan hati dan fikiran nya dari adik kami. Dan sudah pasti kamu akan tersiksa bersama Arya disini. Maka dari itu kami memberian mu dua pilihan itu" ujar Nara pula


Pelangi masih terdiam


"Kau sudah mengenal Arya lama kan?" tanya Reynand kembali


Pelangi mengangguk dengan cepat.


"Apa kau sudah menyukai nya?" tanya Reynand lagi.


"Saya menyukai nya tuan. Bahkan saya rasa ini lebih dari sekedar perasaan suka. Maka dari itu saya masih berusaha untuk bertahan disini. Dan maaf, karena saya sudah merebut posisi adik kalian" jawab Pelangi yang kembali menundukkan kepala nya.


"Kami tidak masalah Pelangi, karena bagaimana pun dia sudah tidak ada dan tidak akan kembali. Tapi yang kami harapkan, jika kamu memang benar benar mencintai dia dan ingin bertahan. Maka kami harap kamu bisa merebut hatinya. Jika kamu memang serius. Kami akan membantu kamu" ujar Nara. Dan Reynand langsung mengangguk pelan.


Pelangi terperangah..


"Membantu?" gumam nya


"Ya, walau bagaimanapun Arya saudara ku. Aku tidak ingin dia terus terpuruk dan bersedih seperti ini. Aku ingin ada orang yang bisa merubah dia seperti dulu" jawab Nara dengan begitu sendu.


"Itu jika kamu serius. Jika tidak, maka pergilah dari kehidupan Arya sekarang. Agar beban dihatinya tidak semakin bertambah!" ujar Reynand. Terdengar begitu serius dan mengancam.


Pelangi menghela nafasnya dengan berat dan mengangguk pelan.


"Waktu yang diberikan pak Arya ada dua bulan lagi tuan, nona. Dan selama itu, saya akan bertahan dan berusaha untuk merebut hatinya" ucap Pelangi dengan begitu serius

__ADS_1


__ADS_2