Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Panas Dan Berkeringat


__ADS_3

Arya dan Pelangi sudah tiba dirumah bunda. Mereka disambut dengan begitu hangat oleh ayah dan bunda Pelangi. Karena demi apapun, kepulangan seorang anak dan menantu pasti akan menjadi suatu kebahagiaan tersendiri untuk orang tua. Apalagi Pelangi memang anak tunggal. Terlepas dari perbuatan Arya yang pernah mengecewakan putri mereka, namun ayah dan bunda sudah melupakan itu. Mereka hanya berharap, dengan kejadian itu Arya dan Pelangi bisa lebih dewasa dalam menjalani pernikahan mereka. Dan tentunya mereka berharap jika cinta Arya dan Pelangi akan semakin kuat.


Cukup lama Arya mengobrol dengan orang tua Pelangi. Dan sekarang mereka hanya tinggal berdua diruang tamu. Karena bunda sedang sibuk memasak didapur, sedangkan ayah membantu bunda memasak. Cukup romantis.


Arya memandangi Pelangi yang terlihat begitu nikmat memakan martabak yang mereka beli dipinggir jalan tadi. Entah kenapa Pelangi begitu menyukai martabak. Sejak tadi dia tidak berhenti mengemil makanan itu.


Dan jika bercerita tentang martabak, Arya selalu mengingat kelakuan jahatnya dulu. Ya, kelakuan jahat yang tidak pernah menuruti keinginan Pelangi yang hanya ingin makan makanan murah itu.


Bahkan karena martabak Pelangi hampir celaka. Dua kali.


Astaga ..


Sungguh, Arya merupakan suami dan calon ayah yang tidak punya hati. Padahal Pelangi ingin memakan itu karena bawaan bayi mereka.


"Kenapa mandang Pelangi begitu mas?" tanya Pelangi


Arya sedikit terkesiap. Dia mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan.


"Cuma ingat kelakuanku dulu" jawab Arya.


Pelangi mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Yang udah udah, lupain aja. Katanya mau mulai semua dari awal lagi" ucap Pelangi seraya dia yang menyuapkan martabak itu kemulut Arya.


Arya membuka mulut dan menikmati martabak manis itu dengan perasaan getir.


Semua memang sudah berlalu, tapi perasaan bersalah itu tak akan pernah bisa dilupakan.


"Hanya saja perasaan bersalah itu gak akan pernah bisa hilang Pelangi" jawab Arya


Pelangi kembali menggeleng dan menikmati martabaknya. Entah kenapa dia memang suka martabak. Dan kali ini rasanya lebih nikmat daripada biasa. Apa karena dia menikmatinya dengan hati yang sudah bahagia?


"Enggak apa apa. Pelangi juga udah lupain itu. Anggap aja itu sebagai pelajaran untuk kita. Kalau gak begitu, mungkin sekarang mas gak ada disini kan" ucap Pelangi


Arya menghela nafas dan mengangguk pelan. Dia tersandar di sandaran sofa sembari memandangi Pelangi yang sedang mencuci tangan.


"Capek nih, pengen baring. Mau ikut ke kamar?" tawar Pelangi


Arya mengernyit heran.


"Kamar?" gumam nya. Fikiran nya langsung melayang mendengar kata kamar.


"Iya mas, pinggang Pelangi pegal. Bunda juga bakalan lama masak nya. Yuk kita dikamar aja" ajak Pelangi seraya dia yang beranjak dari sofa.


Arya tersenyum simpul. Karena sungguh, entah kenapa otak nya benar benar aneh sekarang. Apalagi bisa berdua didalam kamar.


Dan bukankah disini aman. Tidak akan ada yang mengganggu?


Dan akhirnya, dengan semangat Arya juga langsung beranjak. Berjalan mengikuti Pelangi masuk kedalam kamarnya. Kamar bewarna biru muda dan putih. Bersih dan harum karena bunda sudah membersihkan kamar itu sebelum mereka datang.


Pelangi langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tempat tidur yang sudah sangat lama tidak dia tempati. Mungkin terakhir kali saat dulu, sebelum Pelangi tahu jika dia hamil.


"Kenapa sekarang jadi mudah capek ya" gumam Pelangi


Arya juga duduk disamping Pelangi. Memandangi Pelangi yang berbaring dan menghadap kearahnya.


"Mungkin karena perut kamu yang udah mulai besar" jawab Arya seraya tangan nya mengusap perut Pelangi dengan lembut.


"Kalau di usap begitu rasanya nyaman banget mas" ucap Pelangi


Arya tersenyum dan mencium gemas perut buncit itu, membuat Pelangi langsung tertawa geli.


"Nanti aku usap setiap hari ya." kata Arya dengan senyum simpulnya


"Huh... itu sih modus bapak aja kan" ucap Pelangi


Arya tertawa kecil dan juga berbaring disamping Pelangi. Rasanya dia juga ikut lelah. Padahal jarak rumah sakit dan rumah orang tua Pelangi tidak sampai dua jam.

__ADS_1


"Modus juga sama istri sendiri. Gak ada yang ngelarang" jawab Arya. Dia menarik pinggang Pelangi hingga membuat tubuh mereka kini merapat.


"Jangan dekat dekat. Panas pak" ujar Pelangi seraya tangan nya menahan dada Arya.


"Manggil bapak terus deh dari tadi" ucap Arya. Dia mengecup singkat dahi Pelangi yang tersenyum getir.


"Udah kebiasaan, jadi suka lupa. Hehe" jawab Pelangi dengan tawa kecilnya.


Arya kembali mencium bibir Pelangi sekilas. Membuat Pelangi memandang Arya dengan risih.


"Pelangi bau, belum gosok gigi, belum cuci muka. Jangan diciumi terus" ujar Pelangi


"Enggak, masih harum" jawab Arya. Dia ingin kembali mencium Pelangi, namun dengan cepat Pelangi menutup mulutnya dengan tangan.


"Gak boleh" ucap nya.


"Pelit banget. Nanti aku gigit nih" ancam Arya


"Pelangi aduin bunda" sahut Pelangi


Arya terkekeh dan memeluk Pelangi dengan gemas. Bahkan dia menciumi seluruh wajah Pelangi hingga membuat Pelangi berteriak kesal.


"Iiihhhhh panas mas Arya!!!!" teriak Pelangi


Arya semakin terbahak, apalagi ketika melihat wajah Pelangi yang memerah.


"Iya iya enggak lagi. Cuma cicip doang, pelit banget" ucap Arya


"Tengah hari ini, gak enak panas panasan. Lihat kan, keringatan" ucap Pelangi seraya menunjuk leher nya yang memang mulai berkeringat.


"Kalau malam boleh ya" bisik Arya


Pelangi langsung memicingkan matanya.


"Mau ngapain malam?" tanya Pelangi


"Nerusin apa?" Pelangi benar benar belum mengerti. Atau memang tidak ingin mau mengerti.


"Ck... jengukin baby" bisik Arya.


blush


Seketika wajah Pelangi langsung merona merah mendengar itu. Dia menampar dada Arya dengan kesal.


"Modus banget. Gak boleh" ucap Pelangi. Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya dari Arya.


"Kenapa gak boleh? kan suami istri" tanya Arya yang kembali menarik dagu Pelangi


Wajah Pelangi benar benar merah, namun sungguh, itu sangat menggemaskan dimata Arya. Padahal dia sendiri pun tidak tenang jika harus membayangkan hal itu. Mereka menikah karena terpaksa, dan melakukan hal itu juga rasanya tanpa sadar. Dan sekarang, rasanya jika membicarakan hal itu memang terasa canggung.


Tapi sebagai seorang pria dewasa, Arya memang butuh itu kan. Tidak munafik. Apalagi dengan hati yang sudah menerima Pelangi sekarang. Semua sudah terasa begitu indah dan ingin dinikmati.


"Bukan nya mas masih sakit" ucap Pelangi


Arya tersenyum dan mencium bibir Pelangi sejenak. Rasanya tidak pernah bosan.


"Tidak lagi, nanti malam aku sudah sembuh" jawab Arya


Pelangi langsung mengerucutkan bibirnya dan mendorong dada Arya untuk menjauh.


"Bohong banget, nanti kalau udah benar benar sehat baru boleh" ucap Pelangi


"Aku kan sudah sehat Pelangi" sahut Arya


"Enggak boleh" ucap Pelangi


"Kenapa? dosa tahu nolak suami" Arya memandang Pelangi dengan heran.

__ADS_1


"Pelangi datang bulan mas" jawab Pelangi dengan cepat.


Arya tertegun, dia memandang Pelangi dengan lekat. Namun beberapa detik kemudian Arya langsung mendengus senyum, apalagi ketika melihat Pelangi yang terbahak dan menjauh darinya.


"Kamu nakal ya!!!" seru Arya. Bahkan dia langsung mengungkung tubuh Pelangi dan langsung menggelitiki perut buncit itu dengan gemas.


"Hahaha..... ampun ampun.... geli mas!!" seru Pelangi yang tidak bisa untuk tidak tertawa. Apalagi ketika melihat wajah kesal Arya.


"Rasakan, suka banget jahilin suami. Awas aja kamu nanti malam. Gak akan selamat" ancam Arya


Pelangi langsung bergidik ngerih mendengar itu. Bahkan tawanya langsung meredup, apalagi saat melihat wajah Arya yang benar benar serius.


"Kejam banget sama istri. Nanti kalau anak kita kenapa kenapa gimana?" tanya Pelangi.


Arya langsung tertegun. Dan sedetik kemudian wajahnya langsung lesu.


"Jadi memang gak boleh ya" tanya nya


Pelangi terkekeh dan mengusap wajah Arya dengan lembut.


"Boleh kok. Tapi pelan pelan ya" ujar Pelangi dengan wajah yang kembali merona.


Senyum kembali mengembang diwajah Arya.


"Beneran boleh?" tanya Arya


Pelangi mengangguk malu.


cup


Lagi, satu kecupan mendarat di bibir merah muda itu.


"Terimakasih" ucap Arya.


"Sekarang awas dulu, lihat kita udah keringatan" ujar Pelangi seraya mendorong tubuh Arya


Arya langsung beranjak, dan duduk disamping Pelangi seraya mengusap wajahnya yang memang sedikit berkeringat.


"Gak ada AC ya?" tanya Arya


"Gak ada, lagi rusak, besok pagi baru dibenerin. Nyalain kipas aja mas. Tuh disana" Pelangi menunjuk kipas yang memang tergantung disamping meja riasnya.


Arya mengangguk, dia langsung turun dan berjalan kearah sana. Namun matanya langsung memicing saat melihat sebuah lukisan yang tergantung didekat kipas.


Lukisan taman bunga tulip dan seorang pria.


Tunggu .... tunggu....


Bukankah pria ini adalah dirinya???


Arya langsung berbalik arah, memandang Pelangi dengan heran.


"Kamu yang buat?" tanya Arya


Pelangi yang sedang membenarkan pakaian langsung menoleh kearah Arya. Dia juga duduk disisi tempat tidur sekarang.


"Iya" jawab Pelangi


"Ini.... aku???" tanya Arya


Pelangi mengangguk


"Ini udah lama kan?" tanya Arya lagi


"Ya, itu lukisan tiga tahun lalu"


deg

__ADS_1


__ADS_2