Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kamu Harus Kuat


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Waktu bergulir begitu cepat. Siang dan malam berganti tanpa terasa. Begitu pula dengan tangis dan tawa yang terus menghiasi kehidupan Arya selama ini.


Tidak terasa, sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah dari kedua anak lelakinya. Siapa yang menyangka, jika semua ini bisa Arya rasakan setelah hal mengerihkan itu terjadi.


Ini adalah bulan kesembilan dari kehamilan Pelangi. Semakin mendekati hari kelahiran, Arya semakin takut dan cemas. Entahlah, rasa kehilangan yang pernah membuat Arya hampir gila kini kembali menghantuinya. Apalagi dokter Sandra berkata jika Pelangi harus di operasi karena kondisi janinnya yang tidak tepat pada jalan lahir. Sungguh, Arya benar benar tidak tenang.


"Uncle Aryo!" Seruan suara Zeze membuat Arya yang sedang melamun di atas meja makan sedikit terkesiap.


Dia menoleh, dan langsung tersenyum memandang gadis kecil kesayangannya ini.


"Zeze, kamu datang bersama siapa?" Tanya Arya. Dia langsung menangkap Zeze dan memangku gadis kecil itu di pangkuannya.


"Zeze diantar om sopir uncle. Bosan dirumah, Daddy selalu ngomel ngomel terus." Adu Zeze. Wajah cemberutnya itu benar benar menggemaskan di mata Arya.


"Kalau Daddy ngomel pasti Zeze dan kak Vanno buat salah." Ucap Arya sembari tangannya yang mengusap kepala Zeze dengan gemas.


"Enggak bukan Zeze. Tapi kak Vanno. Kasihan tahu uncle, Daddy marah karena kak Vanno mau minta ambil kelas melukis. Daddy malah suruh kakak untuk belajar, belajar dan belajar." Ungkap Zeze panjang lebar.


Arya tersenyum lucu dan menggeleng pelan. Entah harus tertawa atau tersenyum miris mendengar perkataan Zeze. Tapi dia tahu, jika tuan angkuh itu memang sedikit keras dalam mendidik putranya. Jika anak anak nya sudah besar nanti, mungkin Arya tidak akan seperti itu. Dia ingin menjadi ayah yang baik dan bijaksana. Tidak akan dia batasi keinginan dan impian anak anaknya kelak. Arya ingin mereka bahagia, dan tentunya dengan kasih sayang kedua orang tua yang lengkap. Karena mau bagaimana pun Arya tahu rasanya hidup sebatang kara itu sangat tidak enak.


"Zeze .. kamu datang cu? Sama siapa?" Tiba tiba suara ayah membuat mereka langsung menoleh.


Ayah dan bunda Pelangi memang sudah tinggal di rumah Arya. Apalagi sudah mendekati hari Pelangi untuk melahirkan. Arya dan Pelangi ingin mereka berkumpul bersama.


"Kakek, Zeze datang sendiri di antar om sopir." Jawab Zeze.


"Tidak sekolah ya?" Tanya ayah. Kini dia duduk di meja makan bersama Arya.


"Ini kan hari minggu, gimana sih kakek." Sahut Zeze.


Arya langsung tertawa mendengar itu.


"Astaga, iya. Kakek lupa. Namanya juga sudah kakek kakek, pasti banyak lupanya." Ucap ayah. Dia terkekeh lucu memandang gadis kecil yang sangat cantik ini.


"Nanti uncle Aryo kalau udah tua pasti pelupa juga kayak kakek." Kini Zeze kembali pada Arya seraya tangan nya yang memainkan kerah baju uncle kesayangannya itu.


"Semua orang kalau udah tua juga pelupa Ze." Jawab Arya.


"Tapi gak boleh lupa sama Zeze ya uncle." Pinta Zeze.


Arya terkekeh dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Enggak dong. Zeze kan gadis kecil kesayangan uncle. Mana mungkin uncle lupa." Jawab Arya. Dia langsung mencium gemas pucuk kepala Zeze.


"Tapi nanti kalau Dedek bayi udah lahir, Zeze pasti di lupain." Zeze terlihat sedih saat mengatakan itu. Dan ini juga bukan kali pertamanya dia mengatakan hal ini. Sejak kehamilan Pelangi semakin besar, Zeze selalu mengatakan hal ini pada Arya. Sepertinya dia memang begitu takut jika kasih sayang Arya akan terbagi nanti. Apalagi jika Arya melupakannya.


Lucu sekali.


Padahal Arya bukan ayah kandungnya, namun gadis kecil ini lebih terlihat dekat dengan Arya dari pada daddynya sendiri. Ya, dan itulah sebabnya Reynand selalu cemburu pada Arya jika mereka sudah berkumpul.


"Enggak, uncle gak akan lupa sama Zeze. Zeze tetap anak gadis uncle yang paling cantik." Ungkap Arya. Dia kembali memeluk Zeze dengan gemas dan penuh sayang. Walau bagaimanapun, sejak dulu Zeze adalah obat hatinya disaat semua terasa begitu gelap.


Zeze ... Gadis kecil yang semakin lama semakin mirip dengan Zelina.


"Uncle janji." Pinta Zeze


"Janji sayang." Jawab Arya.


"Yeay, terimakasih uncle. Zeze sayang uncle." Zeze menggeliat dalam pelukan Arya dan memeluk tubuh kekarnya.


Ayah tertawa melihat pemandangan manis ini. Dia sudah terbiasa melihat kedekatan Zeze dengan Arya. Bahkan tidak jarang jika diapun merasa memiliki cucu jika Zeze dan Vanno sudah datang berkunjung ke rumah mereka.


"Aryo!!? Ayah!!!"


Tiba tiba suara pekikan bunda membuat mereka semua terkejut. Arya dan ayah langsung menoleh kebelakang. Dimana suara bunda terdengar disana.


Kembali, suara bunda membuat Arya panik. Ayah langsung beranjak dan berlari mendapati bunda. Sedangkan Arya langsung menurunkan Zeze dari atas pangkuannya.


"Aunty Pel mau lahiran?" Tanya Zeze.


"Iya, kamu hubungi mama kamu ya sayang. Bilang aunty mau lahiran. Uncle lihat aunty dulu." Ujar Arya.


Zeze mengangguk dengan cepat. Anak kecil itu hanya melihat dan membiarkan Arya berlari menuju ruang tengah dimana Pelangi dan bunda berada.


Wajah Arya memucat, apalagi saat melihat Pelangi meringis kesakitan dengan air yang membasahi lantai tempat dia duduk bersama bunda.


"Sayang... Ke... Kenapa?" Arya berjalan mendekat, dimana Pelangi sudah di papah oleh ayah.


"Kita kerumah sakit nak, Pelangi mau lahiran ini." Ujar bunda.


"Ayah bantu Arya. Bunda mau ambil tas Pelangi." Seru bunda pada ayah.


Ayah mengangguk dengan cepat. Namun dia kembali memandang ke arah Arya yang hanya diam dengan wajah panik dan pucat.

__ADS_1


"Yo, ayo cepat. Kok malah melamun." Sentak ayah.


Arya terkesiap, dia mengangguk cepat dan langsung meraih tangan Pelangi untuk dia papah keluar.


"Pelangi, kamu baik baik aja kan sayang?" Tanya Arya. Nada suaranya terdengar bergetar. Dan Pelangi tahu jika suaminya ini pasti ketakutan.


"Pelangi baik baik aja mas. Cuma sakit sedikit. Enggak apa apa." Jawab Pelangi. Dia memaksakan senyum untuk Arya. Meski dia sendiri rasanya sudah tidak sanggup untuk menahan rasa sakit akibat kontraksi yang sudah kesekian kali.


Padahal perkiraan operasi adalah seminggu lagi, namun sepertinya anak anak mereka sudah ingin melihat dunia sekarang.


"Uuhh." Lenguhan Pelangi membuat langkah Arya terhenti, hingga ayah dan Pelangi juga berhenti dan memandang ke arahnya.


"Ayo nak, kita bawa ke mobil." Ujar ayah.


Arya mengangguk, entah kenapa rumah sakit dan operasi lagi lagi membuat hatinya tidak tenang.


"Ferdi!!!" Teriak ayah begitu kuat. Jika biasanya Arya yang suka berteriak, namun sepertinya Arya benar benar sedang berkutat dengan ketakutannya sendiri sekarang.


"Iya pak, iya. Saya disini!" Sahut Ferdi yang langsung berlari menuju mobil.


"Cepetan kita kerumah sakit. Pelangi mau lahiran ini!!" Seru ayah kembali.


"Oh ... Oke oke!" Ferdi dengan sigap mengeluarkan mobil dari garasi. Sedangkan Arya dan ayah masih memapah Pelangi yang semakin pucat dan terus meringis.


"Sabar nak, harus kuat ya. Bentar lagi anak kamu mau lahir." Ujar ayah. Dia mencoba memberikan semangat untuk putri semata wayangnya itu.


"Iya ayah, Pelangi kuat." Jawab Pelangi.


"Tapi saya yang takut ayah." Sahut Arya pula.


"Enggak apa apa. Ini biasa. Setiap perempuan pasti seperti ini. Bunda juga dulu begitu." Jawab ayah.


"Beneran enggak apa apa ayah?" Tanya Arya.


"Iya, kamu tenang. Jangan bikin Pelangi tambah panik. Harus banyak berdoa supaya anak dan istri kamu selamat." Ujar ayah.


Arya mengangguk, dia menoleh pada Pelangi dan mengusap keringat di dahi istrinya.


"Kamu harus baik baik saja ya sayang. Harus kuat." Pinta Arya.


Pelangi tersenyum dan mengangguk di tengah kesakitan yang dia rasakan.

__ADS_1


"Pelangi kuat mas." Jawab Pelangi.


__ADS_2