Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Kemana Pelangi?


__ADS_3

Pelangi meringis sembari menggigit bibirnya dengan kuat. Wajahnya mulai pucat bahkan keringat dingin juga sudah membasahi wajahnya. Perutnya benar benar sakit, seperti tertekan sesuatu yang membuat Pelangi tidak bisa menahan nya lebih lama.


"Pelangi, hei. Kenapa?" tanya Rangga


"Kak.. tolong bawa aku pergi, perutku sakit" ucap Pelangi dengan suara yang tertahan.


Rangga mengangguk, dan tanpa mengatakan apapun lagi dia langsung memapah Pelangi dan membawa Pelangi kelantai bawah. Meninggalkan ruangan Arya yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada Pelangi.


"Pelangi, kamu bisa tahan?" tanya Rangga. Dia panik melihat Pelangi yang kesakitan seperti ini. Bahkan bisa dia lihat jika tangan Pelangi kini mencengkram jaket nya dengan kuat.


"Sakit kak" lirih Pelangi


"Tahan ya, sebentar lagi. Kita periksa" ujar Rangga


"Ke dokter kandungan" sahut Pelangi


deg


Rangga langsung mematung memandang Pelangi.


Dokter kandungan??


"Pelangi, kamu... kamu hamil?" tanya Rangga,  suaranya bahkan terdengar begitu berat dan serasa susah untuk mencerna perkataan Pelangi.


Bahkan bukan hanya suaranya yang terasa berat, melainkan juga jantung Rangga yang serasa berdenyut begitu ngilu.


"Pelangi... jawab aku!" seru Rangga yang langsung meraih kedua bahu Pelangi dan memandang wajah Pelangi dengan lekat.


"Kak... sakit, aku,,, aku udah gak tahan" gumam Pelangi. Bahkan sebelum dia menjawab pertanyaan Rangga, Pelangi langsung terkulai lemah dan jatuh dalam dekapan Rangga.


"Pelangi"


Rangga semakin panik, dia langsung mengangkat tubuh Pelangi dan membawanya keluar dari lift karena lift yang memang sudah terbuka.


Langkah kaki Rangga berjalan dengan cepat menuju tempat dokter kandungan berada.


Langkah nya berat, jantung nya bergemuruh.


Benarkah Pelangi hamil??


Kenapa harus secepat ini???


Apa ini yang membuat Pelangi mempertahankan rumah tangga nya meski Arya yang tidak mencintai dia???


Benarkah begitu???


Sungguh, otak Rangga benar benar tidak bisa menerima kenyataan ini jika semua nya memang benar.


Setelah berbagai prosedur dilakukan, akhirnya Pelangi sudah diperiksa oleh dokter kandungan yang beruntungnya masih berjaga dimalam itu. Rangga tidak keluar dari ruangan itu. Kakinya benar benar tidak ingin meninggalkan Pelangi. Rangga masih ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Apakah Pelangi memang benar hamil?


Detak jantung Rangga tidak bisa berdetak dengan tenang sejak tadi. Apalagi ketika melihat dokter itu yang memeriksa Pelangi. Rangga hanya tertunduk saat dokter wanita itu memeriksa perut Pelangi yang memang sudah berbentuk dan nampak bulat.


Ya tuhan...


Lemas sekali melihatnya.


"Kandungan istri anda baik baik saja mas"


deg

__ADS_1


Ucapan dokter itu membuat jantung Rangga serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat.


"Kandungan" gumam Rangga. Wajahnya bahkan sudah memucat. Membuat dokter wanita itu nampak bingung melihat ekspresi Rangga yang seperti ini.


"Apa mas tidak tahu jika istri mas hamil?" tanya dokter itu


Rangga menggeleng pelan


"Dia ... dia bukan istri saya dokter" jawab Rangga dengan suara yang tercekat ditenggorokan. Dan kini dokter itu yang nampak bingung.


Bukan istri, lalu kenapa Rangga begitu cemas dan terus berada didalam sini, fikirnya.


"Usia kandungan nona ini sudah memasuki minggu ke sebelas." ungkap dokter itu


Rangga masih terdiam. Hanya detak jantungnya yang serasa ingin meledak sekarang.


"Perutnya kram karena tekanan batin dan mental yang membuat dia stress. Jika ini terus berlanjut, akan sangat berbahaya untuk kandungan nya" tambah dokter itu lagi.


"Lalu... lalu saya harus apa sekarang dokter? Suaminya juga sedang sakit" ucap Rangga akhirnya.


Dokter itu nampak menghela nafas pelan dan memandang Pelangi yang baru saja dia suntikan sesuatu.


"Biarkan dia beristirahat dulu disini. Sepertinya dia kelelahan. Dia butuh istirahat sejenak untuk memulihkan keadaan nya" ujar dokter itu.


Rangga hanya mengangguk pelan.


"Segera beri tahu suaminya mas. Saya permisi dulu. Ada perawat yang akan mengontrol kondisi nona nanti" kata dokter itu kembali.


"Terimakasih dokter" ucap Rangga


Dokter wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Dan setelah memastikan Pelangi baik baik saja, dia langsung keluar dari ruangan Pelangi. Meninggalkan Rangga yang kini jatuh terduduk dengan lemas diatas kursi. Memandang Pelangi dengan pandangan nanarnya.


Pelangi hamil.


Tidak cukupkah hati Rangga yang hancur saat mendengar Pelangi sudah menikah?


Apa sekarang harapan nya juga harus hancur kembali dengan kehadiran anak yang dikandung Pelangi ini???


Oh Tuhan kenapa menyedihkan sekali.


Tapi bukan hanya dia yang menyedihkan, namun Pelangi juga.


Apakah Arya sudah tahu jika Pelangi sedang mengandung anaknya?


Tapi mustahil kan jika dia tidak tahu??


Apalagi Arya juga sudah mengakui Pelangi sebagai istrinya. Mungkin karena itu yang membuat Arya menerima Pelangi sekarang.


Rangga menghela nafas dengan berat.


Dia tertunduk dengan perasaan yang sedih dan hancur.


Harapan dan impian nya untuk menunggu Pelangi berpisah dari Arya kini sirna. Tidak mungkin dia mencoba merebut jika sudah ada anak yang dikandung Pelangi.


....


Sementara didalam ruangan Arya...


Hari sudah mulai larut. Nara dan Reynand sudah mulai gelisah menantikan kehadiran Pelangi yang tidak kunjung muncul.


Bahkan sejak tadi gerutuan Reynand sudah selalu terdengar. Membuat Arya semakin tidak menentu perasaan nya.

__ADS_1


"Kemana gadis itu?" tanya Reynand yang entah sudah keberapa kalinya.


"Mungkin dia pulang untuk mengambil pakaian" kata Nara yang mencoba menenangkan hati Reynand


"Pulang" gumam Arya. Hatinya menjadi cemas. Apalagi saat tahu jika sampai sekarang OB yang mereka cari belum berhasil ditemukan.


Jika pulang, apa Pelangi tidak akan diganggu oleh lelaki gila itu lagi???


"Ck... sudah lah. Kau tidak apa kami tinggal sendirian disini kan. Zeze masih belum enak badan. Dia sudah mencari mommy nya sejak tadi" ujar Reynand pada Arya


"Ya, tidak apa apa tuan" jawab Arya


"Aku akan menempatkan orang orang ku disini untuk menjaga mu" ucap Reynand


"Tidak perlu, saya pasti baik baik saja" sahut Arya


"Jangan sepele Yo, lelaki itu belum tertangkap" ucap Nara


Reynand mengangguk pelan.


Arya menghela nafas dan mengangguk pasrah.


"Tapi bisakah minta seseorang untuk mencari Pelangi?" pinta Arya


Reynand langsung mendengus senyum miring mendengar itu.


"Kau mengkhawatirkan dia hmm?" tanya Reynand


"Dia masih tanggung jawab saya tuan" jawab Arya


Reynand tertawa kecil dan mengangguk


"Baiklah baiklah, aku tahu. Aku akan meminta orang untuk mencari nya nanti. Kau tenang saja. Jika kau khawatir sebaiknya buang sikap gengsi mu itu" ujar Reynand yang langsung meraih tangan Nara


"Kami pergi dulu. Istirahatlah. Pelangi pasti baik baik saja" kata Nara


Arya hanya mengangguk pelan. Dia hanya memandang kepergian Reynand dan Nara dengan pandangan nanar.


Khawatir???


Ya, mungkin bisa dibilang begitu.


Arya memang khawatir dengan Pelangi.


Dia takut, bahkan ngerih saat melihat Pelangi dalam bahaya seperti sore tadi.


Dan sekarang, kekhawatiran nya bertambah dengan kepergian Pelangi yang tidak kunjung kembali.


Kemana gadis itu???


Kemana dia pergi???


Kenapa tidak kembali sampai sekarang???


...


'Ini sudah hari keberapa sejak pernikahan kami, aku lupa.


Tapi inilah pertama kalinya aku sadar,


aku belum mencintainya tapi aku takut kehilangan nya'

__ADS_1


`Arya`


__ADS_2