
Setelah perdebatan Arya dan Rangga siang tadi, malam ini Arya dibuat pusing dengan permintaan Pelangi yang ingin makan martabak, namun harus makan di tempatnya.
Hari sudah hampir larut, bahkan sudah mendekati jam sepuluh malam, tapi Pelangi malah meminta hal yang sedang sangat ingin Arya hindari. Pergi keluar rumah.
"Gak bisa besok ya? Sudah malam sekali Pel" rayu Arya untuk yang kesekian kali nya.
Pelangi mendengus, dia memalingkan wajahnya yang benar benar kesal. Dia juga tahu ini sudah malam, tapi entah kenapa Pelangi sangat ingin makan martabak.
Tidak bisa di bantah, bahkan dia sudah membayangkan rasa manis dan hangat yang menyatu ketika martabak itu masih selesai di racik. Ah... Pasti enak sekali.
"Kalau gak mau antar Pelangi yasudah. Pelangi bisa minta jemput kak Rangga. Cuma martabak doang, dari dulu pelit banget" ancam Pelangi.
Dan tentu aja ketika mendengar nama Rangga disebut, Arya tidak bisa berkata apapun. Dengan helaan nafas yang berat dia langsung beranjak dan berlutut dihadapan Pelangi yang duduk di kursi riasnya.
"Iya, yasudah. Aku temani. Bukannya pelit, aku cuma takut ada yang menganggu kita. Kan kamu tahu sendiri kalau Jojo masih berkeliaran disekitar kita" ucap Arya sembari tangan nya yang mengusap perut Pelangi dengan lembut.
Pelangi menoleh kearah Arya. Mendengar perkataan Arya dia jadi ingat tentang semua teror yang sudah di lakukan oleh Jojo.
"Tapi Pelangi pengen makan itu" jawab Pelangi, bahkan matanya langsung berkaca kaca. Bukan keinginan nya, melainkan keinginan anak yang ada di dalam kandungan nya sekarang.
Dan Arya juga tahu itu.
"Iya... yasudah, kita cari. Jangan nangis. Nanti anak kita juga sedih. Kamu siap siap ya. Aku pamit sama bunda dulu" ujar Arya seraya kembali beranjak dan berdiri didepan Pelangi.
"Beneran mas?" tanya Pelangi. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Dan bagaimana mungkin Arya akan menolak, karena sudah terlalu sering nya dia yang mengabaikan Pelangi dulunya.
"Iya, nanti kita ajak semua orang orang itu untuk ikut supaya aman" jawab Arya. Tangan nya terjulur dan mengusap lembut wajah pucat Pelangi.
Pelangi tersenyum dan langsung memeluk Arya dengan begitu bahagia.
"Terimakasih.... Pelangi janji gak akan lama lama disana" ucap Pelangi
"Iya, yang terpenting jangan sebut nama dia lagi ya" pinta Arya.
Pelangi terkekeh kecil dan mengangguk pelan. Arya memang aneh, sejak dulu selalu saja cemburu pada Rangga. Padahal dia tahu kalau Pelangi hanya mencintai nya, bukan Rangga. Dan akan selalu begitu sampai kapanpun.
Dan akhirnya, setelah berpamitan pada bunda dan ayah, malam itu juga mereka pergi keluar untuk mencari martabak yang biasa Pelangi beli. Cukup jauh, tapi mau bagaimana lagi, ini keinginan anak mereka. Dan memang harus dituruti. Jika tidak, mungkin Pelangi tidak akan tidur sampai besok pagi.
Dan semoga saja martabak itu masih buka.
Disepanjang perjalanan, Pelangi hanya tersandar di bahu Arya. Menikmati perjalanan malam yang terasa menenangkan. Meski hati mereka yang terasa tidak tenang. Karena bagaimanapun teror ancaman Jojo masih terus selalu menghantui.
Tidak tahu kenapa lelaki itu masih saja membenci Pelangi dan Arya. Entah karena kesalahan yang mereka perbuat. Tapi.... Itu kan sudah lama. Lagi pula Arya yang memecatnya juga karena kesalahan dia. Bukan mereka yang jahat.
Dan yang paling anehnya, kenapa hanya dengan menangkap Jojo saja orang orang Reynand dan polisi begitu sulit?
__ADS_1
Sebenarnya seberapa licik dan cerdik lelaki itu???
Ah... Sampai sekarang itu yang membuat Arya benar benar bingung.
Padahal dulu, dulu sekali. Arya ingat ketika Reynand membantu Reyza untuk mencari pelaku yang sudah menyebabkan Bima kritis, orang orang nya dengan cepat bisa mendapatkan lelaki itu. Padahal lelaki itu adalah orang yang hebat. Pemilik kekuasaan yang bisa melakukan apapun.
Tapi kenapa sekarang hanya soal Jojo yang anak bawang dan tidak memiliki apapun mereka begitu sulit???
Arya menghela nafas panjang dan kembali menoleh pada Pelangi. Istrinya ini masih asik bersandar dengan memeluk lengan nya sejak tadi.
Kapan mereka bisa tenang jika begini? Dan kapan Arya bisa membawa Pelangi pulang dan memulai hidup yang baru jika mereka terus saja terancam???
Jika di ingat ingat itu memang membuat kesal. Tapi sudah lah, setidaknya dengan kejadian ini, Arya juga bisa menyiapkan sesuatu yang besar untuk Pelangi.
Sesuatu yang semoga saja akan bisa membuat Pelangi bahagia. Dan mereka mulai semua nya dari awal lagi.
Arya tersenyum tipis dan mencium pucuk kepala Pelangi dengan lembut. Hingga membuat Pelangi mendongak dan menoleh pada Arya.
"Lama lagi ya, Pelangi takut martabaknya tutup" tanya Pelangi
"Sebentar lagi kok. Nanti kalau tutup kita datangi kerumahnya" jawab Arya
"Beneran ya" pinta Pelangi, sedikit mengancam.
Arya terkekeh dan mengangguk pelan, sembari merangkul pinggang Pelangi dan mendekapnya dengan hangat. Cuaca malam ini cukup dingin. Sepertinya akan hujan, karena langit benar benar gelap tanpa bintang.
Tapi mereka cukup terkejut saat melihat ternyata di tempat itu begitu ramai orang orang yang masih berkumpul.
"Kenapa ramai sekali?" gumam Pelangi.
"Ini malam Minggu nona. Sudah pasti ramai, apalagi ada bazar dan karnaval pesta lampion yang baru di mulai malam ini" ungkap Ferdi dari depan. Matanya sibuk mencari tempat parkir untuk mobil mereka, diikuti oleh dua mobil orang orang Reynand di belakang.
"Kamu tahu saja Fer. Update sekali" sahut Arya sembari dia yang membenarkan jaket Pelangi.
Ferdi tertawa kecil dan mengangguk pelan.
"Tahu dong pak. Sebagai anak buah yang baik saya kan memang harus tahu segalanya" jawab Ferdi dengan begitu bangga.
Arya mendengus kesal, namun Pelangi malah tertawa kecil mendengar perkataan Ferdi.
"Jika kamu tahu kenapa kamu tidak bilang dari tadi, kalau sudah pasti martabak itu tidak akan tutup lebih awal" gerutu Arya
"Ya kan supaya bapak dan nona bisa mendapat kejutan setelah sampai disini" jawab Ferdi.
"Banyak sekali ceritamu." dengus Arya
__ADS_1
"Sudah lah, ayo kita turun. Lumayan ini bisa untuk cuci mata. Udah lama gak lihat orang ramai dan karnaval begini" ajak Pelangi.
Arya mengangguk, dan mereka langsung turun dari mobil. Mata Pelangi benar benar berbinar memandangi begitu ramai nya orang orang yang ada di sini. Apalagi dengan lampion yang mulai berterbangan di atas langit.
Cantik sekali.
Arya meraih tangan Pelangi dan menggenggamnya dengan lembut.
"Jangan jauh jauh dari aku. Dan jangan sampai lepas" ujar Arya.
Pelangi tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya, gak suka jauh jauh kok" jawab Pelangi. Bahkan dengan cepat dia langsung memeluk lengan Arya dengan erat.
Mereka berjalan menuju ke tempat martabak manis yang di inginkan Pelangi. Karena tujuan mereka memang kesana terlebih dahulu.
Pelangi sudah lapar, karena memang dia yang belum ada makan malam.
Ferdi dan orang orang Reynand berjalan menyebar mengikuti mereka. Namun Arya tetap siaga, karena entah kenapa dia merasa tidak enak dengan keramaian ini.
Disaat Pelangi sibuk memesan martabaknya, disaat itu pula Arya sibuk dengan ponselnya. Dia mengirim pesan pada beberapa orang. Entah pada siapa, nanti pasti akan tahu.
Sepertinya Arya memiliki rencana untuk malam ini.
Setelah selesai dengan ponsel nya, mata Arya kembali mengedar mencari dimana keberadaan Ferdi dan orang orang yang lain. Sedangkan Pelangi, dia malah begitu antusias memandangi penjual martabak yang tengah membuatkan pesanannya.
Harus manis dan lembut nya aroma martabak itu terasa benar benar membuat air liurnya ingin menetes. Apalagi saat taburan keju dan juga jagung yang bercampur menjadi satu, membuat Pelangi sudah tidak sabar ingin mencicipi nya.
"Ah pak, minta tolong potongkan sedikit. Saya ingin makan langsung"
Suara Pelangi langsung membuat Arya yang sedang mengedarkan pandangan matanya sedikit terkesiap.
Dia menoleh pada Pelangi dan langsung mendengus senyum saat melihat istrinya ini memakan martabak yang masih panas itu. Bahkan wajahnya sampai memerah karena kepanasan.
"Pelan pelan Pelangi. Masih panas" ujar Arya seraya dia yang membayar dan mengambil kotak martabak dari tangan penjual.
"Emmmhh enak banget mas. Kalah restoran bintang lima" jawab Pelangi yang masih kepanasan.
Arya terkekeh lucu dan menarik tangan Pelangi untuk duduk disebuah kursi yang tersedia. Hanya Pelangi yang duduk karena kursi kursi disana semua penuh dengan pengunjung.
"Makanlah sepuasnya, supaya bisa tidur nyenyak lagi malam ini" ujar Arya seraya mengusap pucuk kepala Pelangi dengan lembut.
Tidak perduli dengan orang orang ramai yang ada disana. Arya bahkan tidak malu mengusap mulut Pelangi yang sedikit belepotan. Membuat orang orang memandang mereka dengan pandangan yang kagum.
Melihat betapa beruntungnya Pelangi diperlakukan seperti itu oleh Arya. Dan jika seperti itu, rasanya semua orang tahu kalau Arya adalah lelaki yang begitu mencintai wanitanya.
__ADS_1
Pelangi benar benar beruntung.
Yah beruntung, setelah semua perjuangan yang dia lakukan.