
Wajah Pelangi benar benar berbinar saat dia memandangi ratusan lampion yang dilepaskan dan menghiasi langit malam itu. Sangat indah untuk langit malam yang terasa begitu gelap.
Berbagai bentuk dan dan rupa dari lampion lampion yang ada disana benar benar sangat cantik. Sejak tadi senyum Pelangi bahkan tidak pernah lepas.
Arya bahkan bukan lagi terpesona dengan keindahan lampion yang tercipta. Melainkan terpana dengan senyum dan wajah Pelangi yang berbinar indah terkena cahaya dari ratusan lampion yang ada disana.
Ya, dia baru sadar jika ternyata Pelangi lebih indah dari segala keindahan yang ada di dunia ini.
Wajahnya yang cantik natural dan alami khas orang Indonesia membuat Arya menyadari, jika ternyata dia memang sudah jatuh cinta pada gadis ini. Gadis muda yang tanpa sengaja masuk kedalam kehidupan nya yang kelam.
Dan Arya benar benar beruntung.
Karena tanpa Pelangi, Arya tidak akan pernah bisa merasakan keindahan lain, selain bunga yang telah pergi.
Tulip dan mawar...
Mereka memang tidak sama.
Tapi mereka mempunyai keindahan masing masing yang mampu membuat Arya bahagia.
"Mas"
Suara Pelangi membuat Arya sedikit terkesiap. Dia mengerjapkan matanya dan memandang Pelangi dengan lekat.
"Ayo kita ikut terbangin lampion" ajak Pelangi.
Arya menoleh sejenak kearah muda mudi yang memang sedang asik menerbangkan lampion bersama pasangan mereka masing masing.
Terlihat manis, tapi...
Apa cocok dengan Arya yang sudah tua ini???
Ah sial...
Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Arya menyesali umurnya yang sudah matang.
Hampir tiga puluh empat tahun. Mengerihkan... Sangat berbeda jauh dengan Pelangi yang baru menginjak dua puluh satu.
Ya ampun...
"Mas..."
Panggil Pelangi kembali.
"Kok malah melamun. Ayo" ajak Pelangi lagi. Bahkan dia langsung menarik tangan Arya dan menyempil di antara orang orang yang lain. Berjalan mendekat kearah lampion yang memang di jual untuk orang orang yang ingin memeriahkan malam itu.
"Bang mau satu ya" pinta Pelangi.
"Oke nona. Ini yang besar. Lampion terbaik dan tercantik disini. Kalian bisa tuliskan harapan kalian disini terlebih dahulu. Siapa tahu bisa terkabul dengan tingginya lampion ini terbang ke atas sana" ujar lelaki itu yang langsung meletakkan lampion nya diatas meja. Dihadapan Pelangi dan Arya.
Arya mengernyitkan alis nya.
"Apa itu mitos?" tanya Arya
Lelaki itu tertawa kecil dan menggaruk kepalanya sejenak.
Dia tertawa hingga membuat matanya berbentuk seperti sebuah garis saja. Karena dia yang memang orang China.
"Menurut kepercayaan sejak zaman dinasti Han, pelepasan lampion itu sebagai lambang pengharapan bagi seluruh umat manusia. Berharap segala harapan dan impian akan cepat dan mudah terwujud tuan. Apalagi jika lampion ini terbang begitu tinggi menuju ke langit." ungkap lelaki itu.
Arya mengangguk angguk pelan.
"Apa ini sebagai perayaan untuk hari raya umat Budha?" tanya Pelangi pula
"Benar nona, tapi untuk orang Indonesia dan agama lain, perayaan ini hanya untuk sekedar merayakan festival lampion saja. Tidak ada unsur lain. Sesuai kepercayaan sendiri. Sama dengan kalian yang pergi ke Paris. Mempercayai meletakkan gembok cinta dan melemparkan kunci nya kedalam sungai. Kalian bisa menganggap hal ini seperti itu" ungkap Lelaki itu.
Arya dan Pelangi kembali mengangguk setuju.
"Nah ini kuas nya" ujar lelaki itu sembari menyerahkan dua kuas pada Pelangi dan Arya beserta sebuah tinta kehadapan mereka.
"Terimakasih" ucap Pelangi begitu antusias.
__ADS_1
Dan kali ini mereka saling berhadapan satu sama lain.
Pelangi memiringkan wajahnya sedikit, mengintip Arya yang masih mematung dengan kuas di tangan nya.
"Kenapa diam saja?" tanya Pelangi
"Masih bingung apa yang mau di tulis" jawab Arya.
Pelangi langsung tertawa mendengar perkataan Arya.
"Tulis saja apa yang mas inginkan. Anak lelaki atau anak perempuan misalnya" jawab Pelangi dengan enteng.
Arya langsung mendengus senyum dan mengangguk pelan.
Hingga mereka mulai memainkan kuas kecil itu dan menulis sesuatu yang selalu mereka harapkan saat ini, hingga nanti.
Wajah Arya dan Pelangi nampak begitu serius. Bahkan mereka tidak menoleh kesana dan kemari lagi karena begitu seriusnya mereka menuliskan sesuatu di atas lampion besar itu. Mungkin jika mengangkatnya sendiri, Pelangi tidak akan sanggup. Lampion ini sungguh besar, tapi dengan bentuk yang indah. Apalagi dengan lampu didalam nya yang membuat benda ini semakin berkilauan.
Menulis dengan kuas di sebuah benda seperti ini cukup sulit untuk Pelangi dan Arya. Tapi sudah cukup baik karena masih bisa dibaca.
Pelangi benar benar antusias, bahkan sejak tadi sembari menulis, senyum nya tidak pernah pudar. Begitu pula dengan Arya.
Hingga tidak berapa lama kemudian, mereka telah selesai satu sama lain.
"Selesai" ucap Pelangi.
"Mas sudah?" dia menoleh pada Arya yang juga sudah selesai.
"Nah... Jika sudah, nona dan tuan bisa melepaskan nya keatas" ujar lelaki itu sembari melepaskan sesuatu yang ada dibawah lampionnya.
Pelangi dan Arya langsung mengangkat lampion itu bersama sama.
Pandangan mata mereka saling pandang sejenak. Penuh makna, dan tentunya penuh dengan perasaan yang sama.
Pandangan mata yang saling mencintai dan menyayangi.
Pelangi tersenyum memandang Arya, berharap apa yang diharapkan nya terkabul. Bukan percaya begitu saja pada mitos ini, hanya saja, ini adalah harapan yang memang sejak dulu selalu Pelangi panjatkan dalam setiap doanya.
"Siap?" tanya Arya.
Pelangi mengangguk pelan. Hingga saat hitungan ketiga mereka bersama sama mengangkat tangan mereka dan melepaskan lampion itu untuk diterbangkan ke atas langit. Berharap harapan dan impian yang mereka tuliskan bisa sampai ke langit dan dikabulkan oleh sang pemilik takdir.
Ya... Harapan tentang kebahagiaan.
Mata Pelangi dan Arya memandang keatas. Dimana lampion mereka terbang dan bergabung bersama dengan ratusan harapan milik orang lain.
Aku tidak ingin kehilangan lagi, sudah cukup satu kali kehilangan yang membuatku hampir mati. Kali ini, aku berharap jika Pelangiku bisa menjadi sinar keabadian yang akan menemani sisa hidupku - Arya
Aku ingin menjadi Pelangi untuk orang yang aku cintai. Menjadi warna didalam kehidupannya yang kelam. Menjadi sumber kekuatan untuk dia tetap hidup dan berjuang. Tuhan... Biarkan kami hidup dalam kebahagiaan tanpa tangisan - Pelangi
Arya dan Pelangi saling menoleh, dan mereka langsung tersenyum satu sama lain ketika melihat lampion mereka terbang begitu tinggi.
Arya langsung mendekat kearah Pelangi dan merangkul pinggang Pelangi dengan lembut. Memandang kembali keatas dimana langit malam yang begitu gelap kini sudah seperti di taburi oleh ratusan bintang yang bersinar.
Ya, seperti hati Arya yang gelap namun berhasil di hidupkan kembali oleh Pelangi yang mempunyai banyak warna dalam hidupnya.
"Terimakasih sudah hadir dihidupku. Aku mencintaimu" bisik Arya
Pelangi langsung tersenyum dengan wajah yang merona.
Dia tidak menjawab. Hanya pelukan di tubuh Arya yang sudah menjawab tentang semua perasaan Pelangi pada lelaki itu.
Lelaki pertama yang berhasil mencuri perhatian dan hati Pelangi.
Meski jalan nya berat, namun hasil yang di dapat, sungguh begitu indah.
Siapa yang menyangka, jika awalnya hanya ingin makan martabak. Namun mereka malah mendapatkan hal yang manis seperti ini. Berdiri dan menikmati ratusan lampion yang dilepaskan bersamaan. Benar benar indah.
Dan sepertinya ini adalah kencan pertama mereka.
"Kencan pertama" ucapan Pelangi membuat Arya langsung menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Kencan pertama?" gumam Arya kembali
Pelangi mengangguk pelan.
"Iya... Ini pertama kalinya kita jalan berdua kan" jawab Pelangi.
Arya tertegun sejenak, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum dan mengangguk pelan.
"Nanti kita akan bulan madu setelah resmi menikah" ucap Arya.
"Beneran?" hanya Pelangi
Arya mengangguk dengan cepat. Seraya mereka yang berjalan mengitari festival itu kembali.
"Bukan bulan madu namanya kalau sekarang mas" kata Pelangi
"Lalu apa?" tanya Arya
"Baby moon, kan perut Pelangi udah besar" jawab Pelangi seraya tangan nya yang mengusap perutnya yang membuncit.
Arya langsung terkekeh dan mengangguk
"Iya ya, yasudah tidak apa apa. Kan sama saja. Kita liburan berdua juga" jawab Arya.
"Mau bawa Pelangi kemana?" tanya Pelangi.
Arya terdiam sejenak. Matanya mengedar memandang kesekitar nya dimana semakin malam, orang orang malah semakin ramai.
"Kamu mau kemana?" tanya Arya pula
"Kemana aja yang mas bawa. Pelangi ikut" jawab Pelangi
"Kalau begitu, ke tempat tidur saja ya" bisik Arya.
Pelangi langsung melebarkan matanya mendengar itu. Bahkan dia langsung menampar lengan Arya hingga membuat lelaki itu terbahak melihat wajah kesal Pelangi.
"Otak nya mesum deh. Ditanya serius juga" gerutu Pelangi.
Arya terkekeh dan mengusap gemas pucuk kepala Pelangi.
"Iya iya.. nanti aku bawa kamu ke tempat yang indah. Kamu pasti senang. Yang terpenting harus sehat terus" ujar Arya.
"Iya, Pelangi pasti sehat. Yang penting mas juga sehat dan bahagia terus" jawab Pelangi
Arya merangkul pinggang Pelangi dengan erat.
"Bahagia ku karena kamu" sahut Arya.
Pelangi tertawa dan memeluk Arya dengan gemas. Tidak pernah bisa berlama lama dia marah dan kesal pada lelaki ini. Selalu ada saja yang membuat hati Pelangi luluh. Entah itu dari perkataan nya, atau pun dari perlakuan Arya.
Hingga tiba tiba, disaat mereka saling tertawa dan menggoda, ada sebuah suara yang membuat semua orang disana panik dan terkejut.
"Ada bom!!!!"
Teriakan yang begitu kuat itu, sudah jelas membuat semua orang panik.
"Lari semua lari!!!!" seru beberapa orang yang entah dari mana datang nya.
Pelangi dan Arya juga ikut panik. Bukan panik karena seruan orang orang itu. Tapi panik karena ratusan orang berlari kesana kemari hingga membuat mereka terhempas kesana kemari.
"Aaahh mas Arya!!" seru Pelangi
"Pelangi!" seru Arya pula saat tangan Pelangi malah terlepas dari genggaman nya.
Arya kebingungan, dia berusaha meraih tangan Pelangi namun sialnya puluhan orang berlarian tidak tentu arah membuat Arya langsung kehilangan Pelangi nya.
Arya berlari dan menerobos lautan manusia disana, mencari dimana Pelangi dan juga orang orang nya.
Namun nihil, keadaan yang kacau dan seruan ada bom itu membuat situasi tidak terkendali.
"Pelangi!!!!" teriak Arya begitu kuat ditengah tengah hiruk pikuk manusia yang berteriak ketakutan.
__ADS_1