
Hari sudah gelap saat Rangga mengantar Pelangi pulang. Bahkan hujan juga sudah mengguyur kota Jakarta malam itu. Petir yang menyambar juga sangat menyilaukan mata, apalagi sesekali guntur juga terdengar bergemuruh. Meski belum terlalu kuat. Namun tetap saja sudah membuat Pelangi takut.
"Kenapa harus ada petir sih, bikin takut aja" gumam Pelangi seraya mengunyah martabak yang dibelikan Rangga tadi.
"Kalau gak ada petir, gak akan ada Pelangi" jawab Rangga.
Pelangi langsung menoleh pada Rangga yang nampak tersenyum dan fokus memandang kedepan.
"Kenapa ngelihat aku begitu?" tanya Rangga
"Itu kalimat menghibur atau gimana sih, aku salfok" tanya Pelangi.
Ranggah tertawa kecil dan menggeleng pelan.
"Itu fakta kehidupan kan. Harus ada badai dulu sebelum munculnya Pelangi. Coba tanya bunda, kenapa dia ngasih nama kamu Pelangi. Pasti juga karena alasan itu" ucap Rangga.
Pelangi menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Ya, kata bunda dulu dia susah dapet anak. Lama banget, hampir lima tahun nikah baru kami ada. Bahkan dulu ayah bunda sempat mau pisah hanya karena kedua kakek dan nenek udah nuntut pengen punya cucu. Dan akhirnya setelah nunggu lama, aku sama kak Mentari hadir dirahim bunda" ungkap Pelangi.
"Nah... berarti kamu itu memang Pelangi dan Mentari untuk ayah dan bunda kamu" sahut Rangga
Pelangi mengangguk pelan.
"Sayang nya kak Mentari udah pergi duluan. Dan sekarang, rasanya benar benar berbeda sejak kepergian dia" ucap Pelangi terdengar begitu sedih.
Rangga tersenyum dan memandang Pelangi sekilas.
"Percayalah, kehidupan disana dan disini itu lebih indah disana, lebih bahagia disana. Apalagi untuk orang orang baik seperti Mentari" ungkap Rangga terdengar begitu lembut. Hingga membuat Pelangi terdiam dan memandangi jalanan didepan mereka dimana hujan masih terus mengguyur.
"Kenapa gak aku duluan ya yang pergi" gumam Pelangi
"Kalau kamu duluan, aku sama siapa sekarang?" tanya Rangga
"Ya sama ....."
Pelangi terdiam, dia mau berkata bersama Mentari. Berarti begitu pula dengan Arya??? Tidak tidak, Mentari orang baik, dia tidak boleh merasakan apa yang Pelangi rasakan sekarang. Dan memang Tuhan itu adil, dia mengambil Mentari lebih dulu, karena Dia tidak mau Mentari merasakan apa yang terjadi pada Pelangi sekarang.
"Pelangi" panggil Rangga. Membuat Pelangi langsung menoleh kearah nya.
"Semua orang itu sudah ada takdirnya masing masing. Meski kita terus berandai andai, tapi jika Tuhan sudah berkehendak, maka kita hanya bisa menerima kan." ucap Rangga
Pelangi tertunduk dan mengangguk pelan.
"Seperti kamu saat ini, kamu diberi ujian dengan sebuah pernikahan yang mungkin saja terlihat begitu berat. Tapi sebenarnya Tuhan tahu, jika kamu itu kuat untuk memikul semuanya" ucap Rangga
Pelangi kembali memandang Rangga dengan pandangan sendu.
"Percayalah, apa yang terjadi. Mungkin itu ujian untuk kamu sebelum mendapatkan sebuah kebahagiaan" tambah Rangga lagi.
Bahkan Pelangi sampai memandang Rangga dengan lekat.
"Kenapa malah mandang aku begitu sih" tanya Rangga seraya mengusap wajah Pelangi sekilas.
Pelangi tersenyum dan menggeleng
"Dalem banget kata kata nya. Aku kepengen nangis lagi denger kata kata kakak itu" jawab Pelangi dengan tawa kecil. Membuat Rangga juga ikut tertawa.
"Sebenarnya itu kata kata buat aku juga sih" ucap Rangga
"Buat kakak?" tanya Pelangi dengan alisnya yang terangkat tinggi
__ADS_1
"Hmmm... supaya aku bisa nerima kenyataan kalau perempuan yang aku suka dari dulu ternyata udah punya suami" jawab Rangga
plak
Pelangi langsung menampar lengan Rangga dengan kesal, membuat Rangga langsung tertawa geli memandang wajah kesal Pelangi.
"Move on, udah bertahun tahun juga. Masih aja begitu" gerutu Pelangi
Rangga hanya tersenyum dan mengendikkan bahunya saja. Mobil yang dia kendarai kini sudah tiba didepan rumah Arya.
Ya ampun, Rangga benar benar masih tidak menyangka jika dia tengah mengantarkan istri orang pulang kerumah suami nya sekarang. Dan perempuan itu adalah orang yang dia sukai.
Menyedihkan sekali.
"Gila ya, kalau pak Arya tahu, apa gak langsung bisa dipecat aku" gumam Rangga yang merasa ngerih sekarang.
Pelangi tertawa dan menggeleng.
"Yaudah, kakak langsung pulang aja deh. Makasih banyak ya udah nganterin aku pulang. Hati hati dijalan, hujan nya makin deras ini" ujar Pelangi seraya memakai kembali tas nya dan membawa martabak yang dia beli tadi.
"Iya, kamu juga hati hati sama bapak bapak itu." balas Rangga pula.
"Sembarangan aja" dengus Pelangi dengan kesal. Namun Rangga hanya tertawa saja.
"Aku gak punya payung, pakai jaket aku mau?" tawar Rangga.
Pelangi menggeleng dengan cepat.
"Jangan dong, kalau pak Arya tahu, kakak beneran dipecat nanti. Yaudah aku turun dulu, bye" ucap Pelangi yang langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju rumah nya. Meninggalkan Rangga yang hanya bisa menghela nafas berat dan begitu sesak.
Merelakan???
Setelah memastikan Pelangi tiba didepan rumah, Rangga langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Arya.
Sedangkan Pelangi juga langsung mengusap tubuhnya yang basah, karena berlari cukup jauh dari depan pagar hingga keteras, apalagi dengan hujan yang sudah turun begitu deras.
Pelangi mendekat kearah pintu, namun ketika akan mengetuk pintu, pintu rumah itu sudah terbuka lebih dulu. Membuat tangan Pelangi langsung mematung dan memandang Arya yang berdiri dengan wajah datarnya seperti biasa. Tapi.... kenapa masih saja terlihat kesal.
"Pak Arya, maaf saya terlambat pulang" ucap Pelangi
"Enak bersenang senang diluar?" tanya Arya, nada suara nya terdengar begitu dingin.
Pelangi mengerjapkan matanya dan memadang Arya dengan bingung. Apa maksud Arya berkata seperti itu?
"Kenapa kamu tidak pergi bersama lelaki itu saja?" tanya Arya
deg
Pelangi langsung mematung mendengar perkataan itu.
Apa Arya melihat Pelangi bersama Rangga????
"Kenapa malah pulang lagi kesini?" tanya Arya lagi. Dan kini nada bicaranya terdengar menggeram. Tidak tahu kenapa dia begitu kesal melihat Pelangi di antar oleh seorang lelaki. Arya tidak tahu siapa, wajah lelaki itu tidak kelihatan karena cukup jauh. Tapi dia tahu jika yang mengantar Pelangi adalah seorang lelaki.
Dia tidak cemburu. Tidak mungkin ...
Arya hanya merasa kesal, karena seperti nya Pelangi sehabis bersenang senang dengan lelaki itu hingga dia bisa tiba dirumah sampai malam seperti ini.
"Pak maaf, itu tadi teman saya. Karena hujan dia yang mengantar saya pulang" jawab Pelangi. Namun Arya hanya tersenyum sinis dan mengeleng pelan.
"Kalau begitu pergilah ikut dia malam ini" kata Arya lagi seraya ingin menutup pintu, namun segera ditahan oleh Pelangi.
__ADS_1
"Pak... saya mohon jangan seperti itu. Saya minta maaf. Saya tidak akan mengulangi nya lagi. Maaf pak" ucap Pelangi begitu memelas. Sesekali dia meringis saat suara petir mulai menggelegar diatas sana.
"Saya tidak perduli. Mau dengan siapapun kamu berhubungan silahkan, tapi jangan pulang kerumah saya" ucap Arya
"Pak.. tolong. Biarkan saya masuk. Saya mau pulang kemana jika tidak disini. Jangan usir saya pak" pinta Pelangi yang sudah ingin menangis
Duar
Suara petir kembali bergemuruh membuat Pelangi terkesiap dan ingin menerobos masuk, namun langsung ditahan oleh Arya.
"Tidur diluar jika kamu tidak ingin pergi" ucap Arya dengan begitu tega
"Pak... saya takut!!" seru Pelangi. Namun Arya sudah langsung menutup pintu nya dengan rapat. Bahkan mengunci nya hingga Pelangi tidak bisa masuk.
"Pak!!!! Tolong biarkan saya masuk pak. Saya takut" teriak Pelangi seraya menggedor gedor pintu rumah itu.
"Pak Arya!!!!" teriak Pelangi lagi
Duar!!!
"Aaaarggghh" Pelangi berteriak kuat dan langsung menutup telinga nya dengan cepat. Hingga membuat martabak yang sejak tadi dia pegang jatuh keatas lantai.
Tubuhnya bergetar ketakutan, karena hujan badai dan juga petir yang semakin kuat diatas sana.
"Pak Arya.... saya takut pak" lirih Pelangi yang langsung merosot dan meringkuk didepan pintu.
"Pak buka pintunya pak. Pak Arya" panggil Pelangi terus menerus dengan tangan yang masih menutup telinga. Matanya terpejam rapat, dia benar benar ketakutan, bahkan sama sekali tidak ingin membuka mata.
Berada diluar disaat hujan badai seperti ini begitu mengerihkan. Kenangan dan bayangan kecelakaan itu langsung terlintas dikepala Pelangi.
Jeritan..
Tangisan..
darah yang bercampur air hujan yang mengalir begitu banyak
serta gemuruh petir yang menyertai kejadian kelam itu membuat Pelangi selalu tidak berdaya.
Tubuhnya semakin basah terkena air hujan yang masuk kedalam teras terbawa angin yang cukup kencang. Bahkan wajah Pelangi sudah pucat pasih seperti tidak lagi dialiri darah.
Nafasnya mulai sesak, kepalanya berdenyut begitu sakit seakan ingin pecah. Bahkan jantung nya sudah terasa berdenyut begitu ngilu.
"Bunda..." lirih Pelangi yang langsung tersandar lemas didinding rumah Arya, bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"Cepatlah masuk" ucap Arya sedikit berseru karena suara hujan yang begitu kuat, namun Pelangi sudah benar benar lemas. Hanya matanya yang terbuka, itupun dengan dada yang bergemuruh dan juga menahan nafasnya yang terasa sesak.
"Pelangi!!!" seru Arya lagi
Pelangi kembali terpejam dan tersandar lemas didinding
"Jika kamu tidak mau masuk, saya tutup lagi pintu nya" ancam Arya. Namun dia mengernyit, saat melihat Pelangi yang hanya diam dengan wajahnya yang benar benar pucat. Wajahnya yang berkilat karena pantulan kilat yang terus menyambar sejak tadi. Arya berlari mendekat kearah Pelangi, seraya wajah nya yang meringis diterpa angin dan hujan yang cukup kuat.
"Pelangi" panggil Arya seraya dia yang berlutut dihadapan Pelangi. Namun Pelangi hanya terdiam
"Pelangi, hei" Arya mengguncang bahu Pelangi, hingga membuat gadis itu langsung terkulai lemas, dan dengan sigap Arya menahan kepalanya.
"Pelangi, jangan bercanda" ucap Arya lagi. Namun Pelangi hanya diam, dia masih sadar, tapi entah kenapa rasa sakit dikepanya benar benar membuat Pelangi tidak lagi berdaya. Matanya terbuka perlahan memandang Arya yang entah kenapa terlihat cemas.
Pelangi tersenyum tipis dan kembali memejamkan mata seiring dengan darah kental yang keluar dari hidung nya.
"Astaga Pelangi!!!"
__ADS_1