Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Maafkan Saya Ayah


__ADS_3

Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan siang itu yang masih cukup padat. Tapi ketika sudah berada di jalan tol, Arya seperti sudah kesetanan dan tidak lagi memikirkan keselamatan nya. Yang ada difikiran nya hanya lah bagaimana cara agar dia cepat sampai dan bertemu dengan Pelangi.


Arya sudah benar benar merindukan gadis itu. Gadis muda yang berada jauh dibawah Arya. Tapi sudah mampu membuat hati Arya porak poranda.


Tidak ada hal apapun yang Arya inginkan, selain kembali bersama Pelangi dan meminta maaf pada istrinya. Mengulang kembali masa yang sudah terlewati dengan percuma. Mengulang kembali masa masa dimana Pelangi bisa menenangkan hatinya, dan mengulang kembali masa masa dimana Arya bisa tersenyum untuk pertama kali setelah kepergian Zelina. Dan semua adalah karena Pelangi.


Ya, Pelangi. Arya tidak ingin kehilangan lagi.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meliuk dan memotong pengendara lain tanpa takut apapun. Hingga waktu yang seharusnya dihabiskan lima jam perjalanan, dalam tiga jam setengah saja sudah bisa Arya tempuh.


Dan kini, Arya sudah tiba dikota tempat dimana dia dilahirkan.


Bahkan Arya tidak menyangka jika ternyata dia dan Pelangi satu kampung. Bahkan satu tempat yang sama.


Arya memelankan laju mobilnya, memandang nanar persawahan dan perkampungan yang dia lewati. Sudah sangat lama Arya tidak menginjakkan kakinya ditempat ini. Mungkin sudah beberapa tahun sejak dia mengenal dan dekat dengan keluarga Adiputra. Dan baru sekarang lagi Arya kembali kemari. Ketempat dimana dia besar dan belum merasakan sakitnya kehidupan yang begitu kejam ini.


Udara yang sejuk membuat Arya sedikit membuka kaca jendela mobil, hingga membuat udara dan hawa dingin perbukitan langsung menerpa wajahnya yang lelah.


Hari sedikit gerimis dan mendung sore itu, namun sama sekali tidak menyurutkan tekad Arya untuk mendatangi rumah Pelangi.


Rumah yang ternyata hanya berbeda satu desa dari tempat tinggal Arya dulunya.


Tempat tinggal sewaktu dia bersama dengan orang tuanya dan masih bersama dengan Nara saat mereka sama sama kecil.


Jejeran pohon kemuning dan persawahan langsung memanjakan mata Arya. Terasa sendu dan membuat hati terasa semakin tidak menentu.


Rasa rindu, rasa bersalah, rasa cinta dan rasa takut kehilangan semua bercampur menjadi satu.


Dan sekarang, bukan lagi tentang Pelangi saat melihat tempat ini. Melainkan Arya juga mengingat tentang orang tuanya yang sudah tiada. Perasaan nya semakin tidak menentu. Ditempat ini Arya kehilangan orang tuanya untuk selama lamanya. Dan jangan sampai ditempat ini juga dia kehilangan Pelangi.


Tidak...


Arya tidak akan sanggup!


Satu jam kemudian, disaat hari sudah senja dan hampir gelap, Arya tiba didepan sebuah rumah, rumah yang dia dapatkan alamatnya dari anak buah Reynand. Rumah yang terlihat sederhana namun nampak asri. Apalagi dengan pemandangan perbukitan dibelakang sana, membuat suasana disini terasa begitu tenang.


Hanya suasana, tapi tidak dengan hati Arya yang bergemuruh tidak menentu. Tiba tiba dia menjadi takut sekarang. Takut berhadapan dengan Pelangi dan orang tuanya.


Apa Arya akan diusir???


Ck... entahlah. Jangan fikirkan itu dulu. Yang terpenting Arya bisa bertemu dengan Pelangi.


Arya turun dari mobil, dia berjalan sedikit cepat masuk kedalam teras rumah karena gerimis juga sudah mulai turun dengan deras. Padahal tadi di Jakarta cuaca baik baik saja, tapi kenapa saat tiba disini cuaca berubah????


Arya menarik nafasnya dalam dalam, dia ingin mengetuk pintu rumah itu. Namun tiba tiba dia urungkan karena pintu yang langsung terbuka.

__ADS_1


deg


Arya langsung tertegun saat melihat siapa yang membuka pintu. Begitu pula dengan pemuda itu yang juga terkejut saat melihat Arya berdiri dihadapan nya sekarang.


"Pak Arya" gumam Rangga. Wajahnya berubah menjadi tidak menentu. Dan bukan hanya wajah Rangga saja, melainkan juga Arya.


Kenapa Rangga bisa ada disini???


Apa yang dia lakukan? Kenapa suka sekali dekat dekat Pelangi???


"Mau apa bapak kemari?" tanya Rangga akhirnya. Dan tentu saja itu membuat Arya menghela nafas. Seharusnya Arya yang bertanya kenapa dia ada disini. Tapi malah Rangga duluan yang bertanya.


"Dimana Pelangi?" tanya Arya tanpa ingin basa basi lagi. Dia melirik kedalam, namun tidak tampak karena Rangga yang tidak membuka pintu rumah itu sepenuhnya, bahkan dia juga menghalangi dengan tubuhnya.


"Untuk apa bapak mencari Pelangi. Bukankah selama ini tidak perduli?" tanya Rangga. Dia cukup terkejut sebenarnya dengan kedatangan Arya. Apalagi ketika melihat wajah lelah dan kusut Arya saat ini.


"Saya ingin bertemu dengan dia, tolong jangan halangi saya" pinta Arya. Dia sudah tidak memiliki nyawa untuk berdebat dengan Rangga saat ini.


"Pelangi tidak ada" jawab Rangga


"Rangga, saya masih suami nya" tegas Arya


Rangga langsung berdecih sinis mendengar itu. Ingin sekali rasanya dia menghajar wajah Arya ini. Apalagi ketika mengingat bagaimana Pelangi menangis dan memohon pada Rangga untuk dibawa pergi dari rumah Arya. Sudah jelas jika Arya pasti sudah melakukan sesuatu pada Pelangi hingga membuat Pelangi ingin pergi dari rumah Arya.


Arya tertunduk dengan helaan nafas yang cukup berat.


"Saya tahu saya salah, tapi biarkan saya bertemu dengan Pelangi terlebih dahulu" pinta Arya lagi.


Rangga tersenyum miring dan menggeleng pelan.


"Pelangi sudah tidak ingin bertemu dengan bapak lagi" ucap Rangga


Arya langsung tertegun mendengar itu.


"Ada siapa Rangga?"


Tiba tiba suara dari dalam rumah membuat Arya dan Rangga menoleh. Dan ternyata ayah Pelangi yang keluar. Hingga mau tidak mau membuat Rangga langsung membuka lebar lebar pintu rumah itu.


Ayah Pelangi terlihat terkejut dengan kedatangan Arya. Dia memandang Arya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Yang jelas, dia terlihat benar benar kecewa dengan Arya.


"Ayah... maaf" ucap Arya akhirnya. Tidak tahu harus mengucapkan apa pada ayah Pelangi. Arya tidak punya alasan dan perkataan lain selain kata maaf yang tersimpan dikepalanya.


Ayah Pelangi memandang Arya dengan lekat.


Marah, tentu saja.

__ADS_1


Pelangi pergi dengan membawa kehamilan nya. Meski dia juga tidak tahu hal apa yang membuat anaknya pergi dari Arya.


"Untuk apa datang kemari?" tanya ayah Pelangi. Nada suara nya terdengar datar dan dingin, membuat perasaan Arya semakin tidak menentu sekarang.


"Saya... saya datang untuk menjemput Pelangi ayah" jawab Arya


Rangga langsung tersenyum sinis mendengar itu.


Menjemput. Enak saja dia berkata seperti itu. Apa bisa semudah itu?? Tidak akan.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu pada putri saya Arya? Saya sudah pernah bilang kan, jika kamu tidak bisa membuat putri saya bahagia, tolong jangan sakiti dia. Pulangkan dia pada saya dalam keadaan baik. Bukan seperti ini" ucap Ayah Pelangi dengan segenap hatinya.


Arya semakin tertunduk dan merasa sangat bersalah. Dia tahu dia salah. Tapi, tidak bisakah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Pelangi.


"Saya minta maaf ayah. Saya tahu saya salah. Saya sudah banyak mengabaikan Pelangi, dan saya kemari untuk meminta maaf padanya. Saya ingin memperbaiki semuanya ayah" ucap Arya, terdengar begitu sendu.


Ayah Pelangi menghela nafas panjang. Dia memandang wajah Arya yang terlihat lelah dan begitu kusut. Ingin mengusir, tapi ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah.


Dan lebih baik jika mereka memang harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga. Bertahan atau tetap lanjut. Semua tergantung putrinya.


"Ayah... siapa yang datang. Bunda udah ngajak makan tuh"


Tiba tiba suara Pelangi membuat mereka semua langsung terdiam.


Bahkan Arya juga langsung mematung memandang Pelangi yang datang kedepan dengan perutnya yang sudah nampak karena dia hanya memakai daster pendek.


deg


deg


deg


Bukan hanya Arya, tapi Pelangi juga langsung terdiam dan memandang Arya dengan pandangan tidak menentu.


Terkejut


Rasa rindu


bahagia


kecewa


dan terluka


Semua bercampur menjadi satu saat melihat kedatangan Arya.

__ADS_1


__ADS_2