
Hari sudah sore dan lagi lagi mendung sudah datang. Rumah terasa begitu sepi, sesepi hati Pelangi saat ini. Dia berdiri didepan kompor dan sedang memasak sup yang sudah mulai mengepul asapnya. Pandangan matanya terlihat sedih dan tidak bersemangat. Rasanya benar benar lesu sekali.
Apalagi jika mengingat Arya yang marah karena dia menyelipkan setangkai mawar merah kesukaan nya diantara rimpun tulip yang selalu ada menghiasi rumah ini, rasanya benar benar sedih. Bahkan Arya sampai tidak mau menegur nya pagi tadi. Tidak... bukan lagi menegur, karena itu memang tidak pernah dia lakukan. Tapi Arya yang tidak ingin mendatanginya kedapur untuk sarapan seperti biasa. Bahkan saat turun dari kamar Arya langsung melengos pergi keluar.
Ah.... sedih sekali rasanya...
Hanya untuk sekedar bunga pun Arya tidak ingin berbagi. Apalagi dengan hati. Padahal sudah lima tahun lebih, tapi cinta Arya masih begitu kuat.
Pelangi benar benar penasaran seperti apa sosok mendiang Zelina itu.
Tidak bisakah Arya melihatnya sedikit saja?
Tidak bisakah Pelangi mengambil hatinya walau hanya sedikit. Ya... sedikit saja.
Pelangi menghela nafas berat dan memandang supnya yang sudah hampir matang. Meski Arya tidak ingin makan masakan nya, Pelangi tetap memasak seperti biasa. Berharap suami nya itu mau memakan walau hanya sedikit.
Tiga bulan...
Ya, dalam waktu tiga bulan ini, Pelangi akan mencoba menjadi istri yang baik untuk Arya walau bagaimana pun sikap pria itu padanya.
Pelangi ingin Arya melihat sedikit kearah nya.
brak
Tiba tiba pintu yang terbuka membuat Pelangi terkesiap. Dia langsung mematikan kompor dengan cepat dan berlari kedepan. Siapa yang datang, kenapa membuka pintu dengan kasar seperti itu???
Mata Pelangi terbuka lebar saat melihat ternyata Arya yang sudah pulang. Padahal hari masih jam setengah enam sore dan suaminya ini sudah pulang.
Tapi.... kenapa wajah Arya begitu pucat???
"Pak... wajah bapak pucat sekali?" tanya Pelangi seraya berjalan kearah Arya.
Arya hanya diam seraya memegangi kepala nya. Dia memandang Pelangi sekilas dan memandang bergantian kearah vas bunga tulip yang ada diruang tamu itu.
Tidak ada lagi yang berubah. Jika ada, mungkin Arya akan mengamuk sekarang. Apalagi kepala nya yang benar benar terasa ingin pecah sekarang.
Arya berjalan melewati Pelangi namun tiba tiba kaki nya malah tersandung karpet dilantai karena sungguh kepala Arya benar benar berat. Hingga membuat tubuhnya oleng dan akan membentur sudut meja.
Tapi tidak sampai karena Pelangi dengan sigap menahan dada Arya dan membuat Arya menabrak tubuh kecilnya, hingga akhirnya pinggang Pelangi lah yang membentur sudut meja yang ada disana.
__ADS_1
Pelangi langsung meringis dan memejamkan matanya dengan kuat seraya menahan dada Arya. Rasanya benar benar sakit...
Arya terkesiap dan langsung menjauh dari atas tubuh Pelangi. Dia memandang wajah Pelangi yang terlihat memucat dan menahan sakit.
"Jangan sok baik padaku." ucap Arya dengan nada yang begitu ketus.
Pelangi menghela nafasnya dan menggeleng pelan. Dia tersenyum memandang Arya dan mengabaikan rasa sakitnya.
"Saya reflek pak" jawab nya dengan tangan yang bertumpu pada meja. Karena rasanya benar benar berdenyut.
Arya hanya melengos dan langsung pergi berjalan menuju tangga meninggalkan Pelangi. Meninggalkan Pelangi yang hanya bisa memandangi kepergian nya dengan sedih.
Dia bahkan langsung jatuh terduduk di atas lantai dan meraba pinggang nya yang terasa remuk. Mungkin sudah membiru dan bengkak sekarang.
Ah... Arya ... kamu memang dingin sekali.
Cukup lama Pelangi duduk disana untuk meredakan rasa sakitnya. Hingga disaat dia merasa lebih baik, barulah dia beranjak dan masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.
....
Malam harinya....
Pelangi sudah duduk di meja makan. Sesekali matanya melirik keatas menantikan Arya untuk turun dan makan bersamanya. Ya, hanya makan bersama, karena Pelangi sudah cukup senang jika Arya mau memakan masakan nya.
Pelangi jadi cemas, apalagi saat melihat wajah Arya yang pucat tadi. Dia memang sudah tidak baik baik saja sejak semalam.
"Lihat sajalah" gumam Pelangi. Dia langsung beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju kamar Arya. Menapaki anak tangga dengan langkah yang ragu. Pelangi benar benar takut jika Arya marah. Karena melihat wajah dinginnya saja sudah membuat Pelangi bergetar.
Pelangi menarik nafasnya dalam dalam saat sudah berada didepan kamar Arya, dia langsung mengetuk pintu Arya dengan pelan. Namun tidak ada juga jawaban dari dalam. Bahkan sudah beberapa kalipun tidak ada juga sahutan dari Arya.
Apa dia tidak ingin diganggu?
Atau karena sedang tidur???
Dan akhirnya Pelangi memberanikan diri untuk membuka pintu itu.
Ceklek..
Tidak dikunci..
__ADS_1
Jantung Pelangi langsung berdebar tidak menentu saat membuka pintu kamar Arya. Apa dia akan langsung diceraikan karena sudah begitu lancang masuk kedalam kamar Arya??
Kamar Arya sangat gelap. Lampunya belum dihidupkan oleh lelaki itu. Dimana dia? Pelangi hanya bisa memandang samar samar kedalam karena pantulan dari lampu luar.
Namun matanya langsung memicing saat melihat diatas tempat tidur ada seseorang yang bergelung didalam selimut dengan tubuh yang menggigil.
'pak Arya' gumam Pelangi.
Dia langsung meraba saklar lampu dan menghidupkan nya, hingga seluruh kamar Arya langsung nampak jelas dipandangan matanya.
deg
Jantung Pelangi yang tadinya berdebar tidak menentu kini terasa dihantam sesuatu. Saat melihat kamar Arya yang dihias dengan bunga tulip segar dan juga..... beberapa foto seorang gadis cantik. Bahkan ada sebuah figura besar yang terpajang didinding, dan itu adalah foto seorang gadis dengan gaun pengantin nya. Sangat cantik dan begitu anggun.
Diakah Zelina???
Pelangi langsung tersenyum getir memandang itu. Rasanya sakit sekali. Tapi mau bagaimana lagi, dia adalah cinta Arya. Dan Pelangi hanya orang baru yang mencoba masuk kedalam kehidupan Arya yang masih tenggelam dalam cinta masa lalunya.
Sudahlah...
Abaikan perasaan itu, sekarang lebih baik melihat Arya.
Pelangi langsung berjalan mendekat kearah tempat tidur Arya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Arya yang menggigil kedinginan dengan gumaman gumaman yang tidak jelas. Pelangi langsung meraba kepala Arya.
"Astaga... panas sekali" gumam Pelangi begitu terkejut. Wajah Arya sangat pucat, bahkan keringat dingin sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Bahkan bisa Pelangi lihat jika Arya belum mengganti pakaian nya, dia masih memakai kemeja kerja nya tadi.
Dengan cepat Pelangi langsung berlari kedalam kamar mandi Arya, mengambil air dingin dan juga handuk kecilnya. Dia duduk disamping Arya dan mengompres dahi pria itu. Melepaskan ikatan rambut Arya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Sedih sekali melihat Arya yang seperti ini. Meskipun dia dingin dan sama sekali tidak melihat kehadiran nya, tapi dia tetaplah suami Pelangi.
Mata Pelangi memandang wajah Arya dengan lekat, wajah tampan yang terkesan manis hingga tidak bosan bosan untuk dipandang.
Namun wajah ini bukan untuk dia melainkan untuk.....
"Zelina"
deg
"Ze.."
__ADS_1
Pelangi langsung tersenyum getir saat mendengar gumaman gumaman Arya yang terus memanggil nama Zelina.
Ya Tuhan.... sekuat itukah cinta nya. Hingga semua hanya tentang Zelina.