
Setelah berbicara dari hati ke hati dengan Rangga tadi. Sekarang Pelangi sudah berada didalam ruangan Arya. Arya sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan kondisinya juga sudah mulai membaik, meski dia belum sadar karena pengaruh obat.
Wajah Arya pucat, dan wajah pucat ini yang selalu membuat Pelangi merasa sedih dan merasa bersalah. Meski awal mula kejadian ini juga karena Arya yang meninggalkan nya ditepi jalan. Mungkin jika Arya tidak meninggalkan Pelangi, lelaki berjaket hitam yang diduga sebagai teman Pelangi semasa SMA itu tidak akan datang dan mencelakai mereka.
Tapi mau bagaimana lagi. Cinta memang bodoh. Dan sekarang malah Pelangi yang merasa bersalah pada lelaki ini.
Pelangi menghela nafasnya dengan lelah. Tangan nya mengusap lengan Arya dengan lembut. Perasaan Pelangi benar benar tidak menentu saat ini. Antara sedih, kecewa dan bimbang. Semua bercampur menjadi satu.
Tidak sampai sepuluh hari lagi...
Dan semua akan berakhir.
Bisakah Arya menerima nya dan tidak menceraikan Pelangi seperti perjanjian di awal???
Rasanya benar benar takut. Bukan untuk dirinya sendiri. Tapi untuk anak yang sedang dikandung Pelangi sekarang. Bagaimana nasibnya nanti jika Arya tidak ingin menerima nya??? Dan apa yang harus Pelangi katakan pada ayah dan bunda nya jika Arya menceraikan nya dalam keadaan hamil???
Ahh... kenapa menyedihkan sekali. Apalagi jika mengingat tentang perkataan Nina pagi tadi. Sungguh, Pelangi benar benar sedih.
Lamunan Pelangi hancur saat melihat Arya mulai menggerakkan tangan nya. Pelangi mundur selangkah dan memandang Arya dengan senyum bahagia. Sudah hampir dua jam Arya tertidur dan kini baru terbangun lagi.
"Pak... bapak sudah bangun?" sapa Pelangi saat Arya sudah mulai membuka mata. Pandangan matanya masih sayu, namun dia langsung memandang Pelangi yang berada disebelahnya.
Tidak ada yang dikatakan oleh Arya. Dia masih diam dan sesekali menarik nafas perlahan seraya matanya yang mengedar memandangi ruangan dimana tempat dia berada.
Melihat Arya yang masih seperti orang bingung, Pelangi langsung memencet tombol pemanggil dokter. Dia duduk disamping Arya dan memandangi Arya yang kini menoleh kearahnya.
"Masih sakit banget ya pak? Maafin saya, karena saya bapak jadi terluka seperti ini" ucap Pelangi, wajahnya terlihat sedih. Dan entah kenapa wajah sedih itu membuat perasaan Arya menjadi tidak menentu.
Padahal Arya yang meninggalkan nya dijalan. Tapi malah dia yang meminta maaf sekarang.
"Kamu kenal orang itu?" tanya Arya. Suaranya masih terdengar serak dan berat.
Pelangi mengangguk pelan.
"Dia teman sekolah saya dulu. Ob yang ingin melecehkan saya diperusahaan bapak waktu itu" jawab Pelangi
Arya terdiam. Fikiran nya langsung melayang kebeberapa waktu lalu.
Ob yang melecehkan Pelangi???
Apa itu ob yang dia pecat tanpa pesangon itu???
Dan apa karena itu yang membuat dia dendam pada Arya dan Pelangi??
Ya bisa jadi!
Mereka terdiam, saat dokter masuk kedalam dan mulai memeriksakan keadaan Arya.
Pelangi hanya memandang Arya dengan wajah sedihnya. Dia takut Arya marah. Apalagi sebelum kejadian itu mereka bertengkar hingga membuat Arya marah dan menurunkan nya di tengah jalan.
Dan setelah dokter keluar. Arya kembali memandang Pelangi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa dia membenci kamu hingga mau mencelakai kamu?" tanya Arya. Seraya matanya yang memandang wajah dan tubuh Pelangi. Namun terhenti pada leher Pelangi yang diperban. Mungkin terluka karena todongan pisau oleh lelaki itu tadi.
"Saya juga tidak tahu, hanya saja sejak dulu kami memang tidak pernah akur. Dia begitu terobsesi pada kakak saya, dan entah kenapa saya yang menjadi imbas nya setelah kakak pergi" jawab Pelangi
Arya menghela nafas dan memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
"Setelah ini saya akan memenjarakan dia" gumam Arya
"Kak Rangga sudah melapor polisi pak. Mungkin sekarang mereka sedang mencari keberadaan Jojo" ungkap Pelangi.
Arya langsung menoleh pada Pelangi. Namun entah kenapa pandangan mata itu selalu saja terlihat kesal ketika Pelangi menyebutkan tentang Rangga.
"Maaf pak, tapi jika dibiarkan lama, takut Jojo kabur" ucap Pelangi dengan cepat.
ceklek
Pintu yang terbuka membuat Pelangi dan Arya menoleh. Pelangi langsung menjauh dari ranjang Arya saat melihat Nara dan Reynand yang masuk.
Wajah mereka terlihat panik dan cemas, hingga membuat Pelangi juga takut. Takut disalahkan!
"Pelangi, kenapa Arya bisa seperti ini? Siapa yang berbuat jahat pada kalian?" tanya Nara. Dia langsung berjalan mendekat kearah Arya dan memeriksa keadaan lelaki itu.
"Yo.. kamu gak apa apa kan?" tanya Nara pada Arya. Wajahnya benar benar panik.
"Aku tidak apa apa" jawab Arya
"Arya tidak pernah punya musuh sejak dulu. Tapi kenapa ada yang berbuat seperti ini?" tanya Reynand pula. Pandangan mata tajam tuan angkuh itu membuat Pelangi benar benar ketakutan. Dia selalu takut dengan suami Nara ini. Tatapan nya selalu saja mengintimidasi lawan bicaranya. Apalagi pada Pelangi.
"Hei... kenapa kau diam saja?" sentak Reynand. Membuat Pelangi yang terdiam langsung terlonjak kaget. Sementara Arya memandang Pelangi yang nampak ketakutan dengan tatapan Reynand.
"Ma.... maaf tuan. pak Arya seperti ini karena menolong saya" jawab Pelangi. Suara nya terdengar bergetar, karena dia benar benar takut sekarang.
"Menolong kamu?" tanya Nara pula
Pelangi mengangguk. Dia menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka selama beberapa hari terakhir ini. Tentang teror dari lelaki berjaket hitam dan juga kejadian sore tadi. Semua diceritakan Pelangi tanpa kurang sedikitpun.
"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak ada memberi tahu aku?" gerutu Reynand pada Arya.
"Saya kira hanya orang iseng saja tuan. Dan saya memang berniat untuk meminta bantuan anda malam ini. Tapi nyatanya dia bergerak lebih cepat" jawab Arya
"Kurang ajar. Berani berani nya. Apa dia mau mencari mati" geram Reynand
Pelangi semakin tertunduk
"Siapa orang itu? Apa kau memiliki petunjuk?" tanya Reynand pula
"Teman Pelangi, ob yang bekerja diperusahaan Polie" jawab Arya
"Teman mu?" kini Reynand beralih pada Pelangi
Pelangi langsung menelan salivanya dengan berat, dia mengangguk pelan.
"Ob yang saya pecat tanpa pesangon. Mungkin karena itu juga yang membuat dia dendam" sahut Arya
"Harus cepat lapor polisi, jangan sampai dia berbuat seperti ini lagi" ucap Nara
"Sudah nona. Teman saya sudah melapor, mungkin sekarang sedang mencari orang itu" jawab Pelangi
Nara mengangguk namun dia kini menoleh pada Reynand.
"Aku akan membantu mencari. Berharap pada orang lain, aku tidak akan percaya" ucap Reynand.
Pelangi tertegun mendengar itu
__ADS_1
"Apa kau punya bukti lain?" tanya Reynand pada Arya
"Kaca rumah yang pecah dan belum sempat saya perbaiki. Juga cctv rumah yang sengaja di sabotase" jawab Arya
Reynand mengangguk dan langsung menghubungi seseorang. Dia terlihat sigap dan tidak ingin sesuatu terjadi pada Arya.
Entah bagaimana kedekatan mereka dengan Arya hingga membuat mereka tidak bisa melihat Arya yang celaka seperti ini.
Dan itu semakin membuat Pelangi merasa tidak enak.
"Sekarang istirahatlah, jangan banyak bergerak sedikitpun" ujar Nara pada Arya
Arya mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan Zeze? Apa dia sudah sembuh?" tanya Arya
"Sudah mulai, sekarang dia bersama mama dirumah, mungkin besok mama akan menjenguk mu disini" jawab Nara.
"Aku sudah menghubungi orang orang Adidaksa, mereka sudah berpencar sekarang. Aku pastikan orang itu tidak akan bisa pergi jauh lagi. Apalagi cctv itu mudah saja untuk didapatkan kembali" ungkap Reynand pada Arya. Dia mendekat pada Arya hingga membuat Pelangi mundur perlahan.
"Saya juga punya bukti yang lain. Besok saya akan meminta Nina untuk membawakan nya" ucap Arya
"Ya, harus cepat. Mengandalkan polisi tidak akan ada guna nya. Apalagi itu hanya orang orang rendahan yang tidak sayang nyawa" remeh Reynand
Pelangi menghela nafas, dia terdiam dan hanya bisa memandang Arya dan kedua tuan dan nona itu tanpa berani ikut campur.
Dan mereka hanya berbicara bertiga saja tanpa ingin melihat Pelangi yang berada disana. Miris sekali. Rasanya benar benar terasingkan.
Apalagi Arya seperti ini juga karena Pelangi. Sudah pasti mereka pasti menyimpan perasaan kesal.
Tiba tiba Pelangi mengernyit, dia langsung meraba perut nya yang terasa nyeri dan kram.
Pelangi meringis, dia memandang Arya yang masih berbicara dengan Reynand tanpa ingin memandang nya.
Pelangi menggeleng. Rasa sakit ini semakin menjadi. Hingga Pelangi memutuskan untuk keluar saja.
"Kamu mau kemana Pel?" tanya Nara
Pelangi memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam dalam. Mencoba bersikap biasa dan membalikkan tubuhnya memandang Nara.
"Keluar sebentar nona, mencari air" jawab Pelangi
"Jangan kabur, kau harus tanggung jawab. Arya seperti ini juga karena mu" sahut Reynand begitu tajam
Pelangi tersenyum getir dan mengangguk. Dia memandang Arya yang hanya memandang nya dengan pandangan datar saja.
"Iya tuan, nanti saya kembali lagi. Maaf jika saya membuat pak Arya terluka" jawab Pelangi dengan pasrah. Dan tanpa menunggu apapun lagi, dia langsung keluar dari ruangan Arya.
Matanya berkaca kaca dan mulai berair. Bukan hanya menahan sakit. Tapi juga menahan hati yang perih!
Pelangi terduduk di atas kursi, tangan nya meremas perutnya yang semakin sakit. Air mata juga ikut jatuh menetes membasahi wajahnya.
Ada apa dengan anak nya?
Kenapa bisa sakit seperti ini???
"Pelangi, kamu kenapa???"
__ADS_1
Rangga yang baru datang langsung berlari kearah Pelangi yang kesakitan.