
Hembusan angin di siang itu terasa begitu menenangkan hati yang gundah gulana. Aroma jutaan tulip yang tersusun dengan rapi dan indah juga terasa begitu menyegarkan hingga bisa sedikit merilekskan sistem saraf yang sempat menegang beberapa waktu lalu.
Tidak ada tempat yang lebih menenangkan selain berada ditempat ini.
Taman bunga tulip..
Taman bunga yang menjadi sebuah mahar cinta dari seorang pria untuk kekasih hatinya. Romantis sekali bukan. Bahkan tiada kisah cinta didunia ini yang semanis dan se agung ini, hingga tiada siapapun bisa untuk mengalahkan pesona gadis yang begitu beruntung itu.
Dicintai dengan begitu besar oleh seorang pria. Bahkan meski sudah pergi sekalipun, cinta itu masih tertinggal dan tumbuh semakin besar. Sama seperti bunga bunga tulip ini. Semakin lama bukan semakin layu, melainkan semakin bermekaran dan tumbuh subur karena terus dirawat dengan penuh cinta dan kasih.
Tentu untuk menggantinya dengan bunga yang lain tidak akan mungkin bisa, setelah semua yang tumbuh sudah begitu banyak dan luas, seluas mata memandang.
Tidak lagi bisa diganti, melainkan tumbuh tersempil diantara bunga bunga nan indah ini. Itupun sangat susah untuk terlihat. Rimbun bunga yang begitu subur, dengan setangkai mawar berduri, tentu bukan hal yang bisa disandingkan.
Pelangi langsung tersenyum getir dan menggeleng. Sayang nya ini bukan hanya tentang bunga. Ini tentang kehidupan dan hati seseorang.
Helaan nafas yang cukup panjang untuk yang kesekian kali. Memandang nanar lautan bunga tulip yang terbentang begitu luas. Siang ini, Pelangi menghabiskan waktu di taman bunga tulip. Taman bunga yang ternyata adalah bukti cinta Arya untuk kekasih nya.
Semalam, sejak Arya memarahi nya karena kedatangan Nara, mereka tidak ada lagi bertemu. Arya pulang sudah larut malam, bahkan ketika Pelangi sudah ketiduran di sofa untuk menunggu nya. Dan pagi tadi dia juga pergi bekerja saat hari masih begitu pagi, bahkan lagi lagi Pelangi belum sempat keluar dari kamar.
Sepertinya pria itu begitu marah padanya. Dan jika sudah begini, Pelangi tidak tahu bagaimana cara untuk merayu nya. Pelangi takut melihat wajah marah Arya.
"Pelangi"
Suara seseorang mengejutkan lamunan Pelangi. Dia yang sedang duduk diatas rumput langsung menoleh kebelakang. Namun matanya langsung memicing melihat siapa yang memanggil nya. Seorang lelaki muda dengan setelan kemeja hitam yang dibagian lengan dia gulung sedikit.
Pelangi langsung berdiri dan memandangi lelaki ini dari atas kebawah. Seperti mengenal, tapi dimana ya????
Lelaki itu nampak tertawa saat melihat wajah bingung Pelangi.
"Kamu pasti lupa ya. Aku Rangga, kakak kelas kamu kemarin, yang kamu tolak cinta nya untuk yang ke sekian kali" ungkap lelaki itu.
Pelangi langsung melebarkan matanya mendengar itu. Dia bahkan langsung mendekat ke arah Rangga dan memandang wajahnya dengan lekat. Bukan hanya wajahnya, tapi juga penampilan Rangga.
"Beneran kak Rangga???? Kenapa beda banget?" tanya Pelangi.
Namun Rangga malah tertawa lucu melihat keterkejutan Pelangi.
"Beda dong, dulu aku belum kenal perawatan. Sekarang kan udah" jawab Rangga dengan santainya. Membuat Pelangi langsung mendengus senyum.
"Gimana kabar kamu. Udah lama banget kita gak ketemu. Sudah hampir lima tahun kan?" tanya Rangga seraya menjulurkan tangan nya pada Pelangi.
Pelangi langsung menyambutnya dengan ramah.
"Masih ingat aja kak" jawab Pelangi dengan tawa kecilnya.
"Ingat dong, aku gak pernah lupa apapun tentang kamu. Gadis berkepang dua yang bar bar banget" ucap Rangga, membuat Pelangi kembali tertawa.
__ADS_1
"Bukan nya kakak kuliah di Jogja ya, kok udah disini aja?" tanya Pelangi. Kini mereka duduk kembali diatas rumput yang tumbuh dengan rapi dan bersih.
"Kan udah selesai. Jadi pulang kampung lah" jawab Rangga.
"Cinta banget sama ibu kota" sindir Pelangi
"Bukan cinta sama tempat nya, tapi cinta sama orang nya" jawab Rangga.
Pelangi terbahak sekilas dan menggeleng pelan.
"Terus ngapain disini? Gak kerja?" tanya Pelangi lagi.
"Ya ini lagi kerja" jawab Rangga.
Pelangi langsung menoleh padanya dengan pandangan bingung.
"Kerja apa, duduk disini sambil ngobrol. Orang serius juga" sewot Pelangi. Dan kali ini gantian Rangga yang terbahak.
"Gak percaya ya. Aku kerja disini sekarang. Baru sebulan sih" jawab Rangga
"Kerja disini?" gumam Pelangi
Rangga mengangguk
"Kerja apa disini?" tanya Pelangi dengan wajah heran nya. Kenapa otak nya jadi lemot begini coba?
Plak
Satu tamparan langsung mendarat dibahunya membuat Rangga tertawa seraya mengusap bahunya dengan pelan.
"Kakak, orang serius juga" gerutu Pelangi
"Masih aja bar bar ih. Gak berubah juga" ucap Rangga dengan tawa lucunya.
"Dari dulu emang suka nya buat orang kesel aja nih" jawab Pelangi
Rangga terkekeh geli dan menggeleng pelan.
"Aku memang kerja disini. Sebagai pengurus taman aja sih. Berhubung taman ini buka lahan lagi, jadi mereka cari pengurus tambahan" ungkap Rangga.
"Emang kakak kuliah jurusan apa?" tanya Pelangi
"Pertanian" jawab Rangga
"Oooohh pantesan aja. Coba ngomong begitu dari tadi, gak kenak tabok kan" jawab Pelangi
"Gak papa, emang cari marah kamu kok. Udah lama soalnya." jawab Rangga.
__ADS_1
Pelangi langsung mendengus gerah mendengar itu. Rangga adalah kakak kelas nya sewaktu mereka SMA dulu. Mereka cukup dekat, bahkan beberapa kali Rangga sempat meminta Pelangi menjadi pacarnya, tapi Pelangi tidak pernah mau. Karena dia belum mengenal cinta saat itu.
Dan mereka berpisah saat Rangga tamat sekolah dan melanjutkan kuliah di luar kota.
"Waktu itu aku kerumah kamu" ucap Rangga
Pelangi langsung terkesiap, dia bahkan memandang Rangga dengan pandangan getir. Apa Rangga tahu jika dia sudah menikah?
"Tapi gak ada orang" ucap Rangga lagi. Membuat Pelangi langsung menghela nafas lega.
"Kenapa kayak lega begitu?" tanya Rangga
Pelangi menggeleng pelan.
"Enggak, emang ayah gak dirumah ya?" tanya Pelangi
"Enggak, kata tetangga mereka lagi pulang kampung. Nenek kamu sakit katanya" ungkap Rangga
Pelangi langsung tertegun mendengar nya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan orang tua nya. Bahkan mereka juga tidak pernah datang mengunjungi Pelangi. Bukan tidak ingin, tapi karena Pelangi yang tidak mengizinkan mereka untuk datang.
Pelangi takut orang tua nya bersedih jika mereka tahu bagaimana sikap Arya yang sesungguhnya.
"Oh iya, kamu kok bisa ada disini? Sendirian lagi?" tanya Rangga
"Main aja kak. Jenuh gak ada kerjaan" jawab Pelangi
"Gak kuliah?" tanya Rangga
Pelangi menggeleng.
"Enggak, kan kakak tahu sendiri kalau dari dulu aku gak suka belajar" jawab Pelangi.
Rangga langsung mengangguk dan tertawa mendengarnya.
"Masih suka melukis?" tanya Rangga
"Suka, itu aja yang dikerjain sekarang" jawab Pelangi
"Kamu mau kerjaan gak?" tanya Rangga
"Kerjaan apa?" tanya Pelangi
"Melukis lah, kamu kan hobi disitu. Biar hobi kamu jadi uang, siapa tahu kamu dikenal banyak orang. Kebetulan aku punya kenalan pemilik galeri besar. Dia selalu nampung orang yang mau jual lukisan. Ya memang selalu dipilih dulu sih, tapi siapa tahu dia cocok sama kamu" ujar Rangga.
Pelangi nampak terdiam. Boleh juga, dari pada menganggur. Kerjanya juga dirumah, jadi dia bisa tetap melayani Arya kan.
"Boleh deh" jawab Pelangi akhirnya.
__ADS_1
"Oke, sini nomor kamu" ucap Rangga seraya mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku.