
Saat ini Pelangi masih berada ditaman bunga kecil milik bunda nya yang ada dibelakang rumah. Dia duduk diatas sebuah batu besar di pinggir sungai kecil. Sejak tadi tangan nya tidak berhenti bermain diatas kanvas untuk melukiskan sesuatu yang ada didalam fikiran nya.
Lukisan bunga mawar yang hampir layu. Bunga mawar di ujung senja dimana cahaya Pelangi yang masih menerangi langit disore hari. Tidak tahu kenapa dia bisa melukis itu. Yang ada didalam fikiran nya hanya tentang bunga dan Arya. Tulip dan mawar. Pelangi dan senja. Tiada yang lain.
Cat cat warna sudah tercecer disekitar batu besar itu, bahkan tangan Pelangi juga sudah dipenuhi oleh berbagai ragam warna yang dia pakai. Sudah sejak dua jam yang lalu Pelangi ada ditempat ini. Dan sampai saat ini dia masih betah untuk menyelesaikan lukisan nya yang tinggal sedikit lagi.
Sudah tiga hari Pelangi berada dirumah orang tua nya. Dan selama tiga hari itu tiada yang Pelangi kerjakan selain mengistirahatkan tubuh dan hati nya. Namun tetap saja, bayangan Arya selalu menghantui fikiran nya. Apalagi feeling tentang kehamilan yang sempat terbesit di otak nya, membuat Pelangi benar benar tidak tenang.
Sampai saat ini Pelangi belum berani untuk melakukan cek kehamilan. Dia takut jika dia benar benar hamil pasti akan membuat bunda dan ayahnya akan merasa sedih. Apalagi bunda nya yang sudah tahu bagaimana kehidupan Pelangi selama bersama Arya.
Untuk sekarang, dia akan menutupi nya dulu jika dia memang hamil. Tapi semoga saja tidak.
Besok Pelangi sudah akan kembali ke rumah Arya. Pelangi tidak bisa berlama lama berada dirumah orang tuanya seperti ini. Ada atau tidak ada Arya, rasanya sama saja. Apapun yang dia lakukan, yang dia ingat hanya lelaki itu.
Pelangi juga sudah ingin kerumah sakit untuk melakukan tes kehamilan. Karena dia juga sudah begitu penasaran dengan hasil nya. Sebab banyak sekali keanehan yang dia rasakan akhir akhir ini.
Tapi... bagaimana jika Pelangi benar benar hamil?
Apa Arya akan menerima anak nya, atau bahkan sama sekali tidak ingin mengakui nya.
Ah... jika membayangkan hal itu Pelangi benar benar takut.
Semoga semua akan baik baik saja.
...
Sementara diperusahaan Polie....
Arya baru saja selesai memeriksa berkas berkas hari ini. Lagi lagi sore ini hujan mengguyur ibu kota. Membuat dia menjadi malas untuk pulang. Karena sudah pasti dijalan pun percuma karena hujan sederas ini. Tapi perutnya lapar, dia belum ada makan dari siang.
Arya menghela nafas dan bersandar lelah dikursi nya. Memandang kearah luar jendela dengan pandangan tanpa arti. Kenapa selalu hujan, rasanya Arya benar benar tidak suka hujan. Hujan itu selalu membuat dia merindu, merindukan seseorang yang sudah tiada dan tidak akan pernah lagi bisa dia temui.
Kapan hari cerah itu akan datang? Kapan Pelangi itu datang dan menghiasi langit kelam ini??
Arya langsung tersenyum miris.
Pelangi....
Sial, kenapa jadi mengingat gadis itu? Bukan mengingat apa apa, hanya saja Arya masih tidak menyangka jika Pelangi bisa masuk kedalam kehidupan nya yang rumit dan pilu ini.
__ADS_1
Gadis malang, yang sangat di sayang orang tuanya, namun Arya malah menghancurkan mental nya setiap hari. Semoga saja setelah dua bulan ini Pelangi bisa pergi dan tidak lagi bertemu dengan nya. Dia gadis yang baik, dan tidak pantas untuk terus bersama Arya yang seperti ini.
Ceklek
Pintu yang terbuka membuat lamunan Arya menjadi buyar. Dia langsung menoleh kearah pintu dan melihat ternyata Nina yang masuk kedalam dengan segelas kopi di tangan nya.
"Sore pak, waktu nya minum kopi" ujar Nina seraya berjalan mendekat kearah Arya dan meletakkan kopi Arya di atas meja.
Arya memandang kopi itu dan juga Nina bergantian.
"Jangan memandang seperti itu pak. Kopi ini aman kok" ucap Nina langsung dengan senyum cerah nya. Padahal hari diluar sedang hujan, namun Nina malah tersenyum begitu lebar.
"Kopi dan hujan. Saya masih trauma karena itu" ucap Arya. Membuat Nina langsung tertawa sembari dia yang membereskan meja Arya yang berantakan.
"Enggak lagi pak. Saya juga trauma. Kalau sempat ada obat lagi, saya yang makan hati lihat istri bapak banyak" ucap Nina dengan lucu. Dia melirik Arya yang nampak mendengus kesal.
"Satu saja sudah membuat saya pusing, bagaimana mau banyak. Mungkin umur saya yang tidak panjang setelah ini" jawab Arya
"Jangan dong pak. Kalau umur bapak gak panjang saya kerja sama siapa dong" sahut Nina
"Sama Nara lagi lah" jawab Arya.
Nina langsung berdecak kesal.
Arya hanya mendengus memandang Nina dan meraih kopinya yang masih cukup hangat. Mencium aroma kopi yang begitu nikmat dan menenangkan fikiran nya.
"Jadi gimana dengan istri bapak itu? Kapan bapak mau pisah?" tanya Nina, terdengar begitu bersemangat.
Arya melirik Nina sekilas dan kembali menyesap kopinya sedikit demi sedikit.
"Nanti" jawab Arya, cukup singkat.
"Nanti kapan. Bapak bilang bapak pusing punya istri. Jadi dari pada tersakiti, dia juga tersakiti, lebih baik pisah saja kan" ujar Nina lagi.
Arya menghela nafas berat dan mengangguk.
"Kurang dua bulan lagi" jawab nya
"Kok lama?" tanya Nina tanpa sadar
__ADS_1
"Kamu ini kenapa malah mau tahu urusan pribadi saya ha?" tanya Arya. Nina langsung terkesiap dan tersenyum canggung. Dia mengusap rambutnya sekilas dan menggeleng pelan
"Maaf pak. Tapi saya kan asisten bapak. Wajar dong kalau saya mau tahu" jawab Nina
"Wajar dari mana. Sudah lah, pulang sana kamu. Saya sebentar lagi juga mau pulang. Perut saya lapar" ujar Arya.
Nina mengerucutkan bibirnya sekilas dan memandang Arya dengan kesal. Tapi mana mungkin dia bisa protes, bisa dipecat nanti.
"Bapak sih tidak mau makan siang tadi. Malah sibuk kerja terus, padahal sudah kaya" ucap Nina
Dan kali ini Arya benar benar memandang Nina dengan kesal.
"Hehe, jangan marah pak. Saya bercanda." jawab Nina dengan tawa kecilnya. Arya mendengus kesal dan kembali meminum kopinya.
"Oh iya pak, saya lupa bilang. Kalau petugas PPL di kebun bunga bapak mengirimkan email dan ingin bertemu bapak secara langsung" ungkap Nina yang tidak jadi keluar dari ruangan Arya.
"PPL, mau apa lagi?" tanya Arya
"Entah lah pak. Tapi katanya banyak yang ingin dia laporkan, terutama mengenai lahan yang ingin diperluas lagi. Ada sedikit masalah dengan lahan baru yang akan dibeli ini, dan juga bibit bunga yang masih sulit untuk dicari lagi" ungkap Nina
"Besok saya ada kunjungan proyek di Bandung kan?" tanya Arya.
Nina mengangguk dengan cepat.
"Suruh saja dia datang kerumah malam ini" ujar Arya.
"Lah... jika dia tahu ada istri bapak bagaimana?" tanya Nina.
"Tidak akan, Pelangi juga sedang tidak dirumah" jawab Arya
"Hoh... saya perlu ikut tidak pak?" tanya Nina dengan cepat.
"Untuk apa?" tanya Arya dengan bingung.
"Ya supaya saya bisa menyiapkan minum atau makanan begitu" jawab Nina
"Kamu kira saya anak kecil yang tidak bisa menyiapkan itu sendiri." dengus Arya yang langsung beranjak dari kursi nya seraya mengambil jas dan ponsel nya diatas meja.
"Loh, bapak mau kemana?" tanya Nina yang memandang Arya dengan bingung.
__ADS_1
"Pulang lah, kamu tidak mau pulang. Maka saya yang pulang" jawab Arya yang langsung menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Nina yang nampak terperangah sekejap, namun sedetik kemudian dia langsung menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Dasar bos gondrong nyebelin." gerutunya seorang diri.