Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Mencari Ketenangan


__ADS_3

Hari sudah mulai senja. Angin dingin juga sudah mulai menyapa tubuh. Bahkan gerimis juga sudah merinyai sejak tadi. Namun Arya, lelaki itu masih betah duduk disamping pusara Zelina.


Matanya memandang nanar batu nisan Zelina, pandangan nya sedih dan kosong. Ada luka dan kehancuran didalam sana. Rasa sesal, luka dan kehilangan harus kembali dia rasakan. Rasanya tidak sanggup, tapi Tuhan masih tetap menyuruhnya untuk berdiri dengan tegak.


Luka karena kehilangan Zelina saja rasanya masih membayangi fikiran nya. Kenapa sekarang ditambah dengan kepergian Pelangi lagi?


Kenapa Tuhan mengirimkan Pelangi jika Arya harus merasakan kehilangan lagi. Tidak bisakah dia saja yang pergi? Rasanya lelah sekali.


Trauma kehilangan Zelina membuat dia kehilangan separuh nyawanya. Dan sekarang dengan kepergian Pelangi serasa membuat Arya ingin mati. Benar benar sudah tidak mempunyai nyawa lagi. Apalagi ditambah dengan rasa bersalah nya karena telah menyia nyiakan Pelangi yang ternyata sedang mengandung anaknya.


"Ze... sudah lima tahun. Sejak kepergian mu aku baru menyadari, aku bisa melihat dunia lagi ketika Pelangi datang. Dia bisa mengusir kesakitan ku saat kamu pergi. Tapi sekarang dia pergi juga Ze. Lalu aku harus bagaimana lagi???" gumam Arya terdengar begitu putus asa.


Mungkin untuk sebagian orang akan beranggapan jika ini karma karena dia yang sudah menyia nyiakan Pelangi. Dan Arya akui dia memang bersalah. Tapi tidak kah mereka berfikir, jika kehilangan seseorang yang dicintai itu begitu berat dan sangat sulit untuk diterima. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyembuhkan luka hati yang tak ada obat nya. Menerima orang baru tentu sulit. Tapi ketika sudah menyadari kehadiran orang itu, tentu rasa takut kehilangan itu ada. Dan sekarang, Arya merasakan kehilangan lagi.


Bisakah kalian merasakan bagaimana sakitnya?


Arya tahu dia salah, tapi dia juga tidak ingin hal ini terjadi.


'Raih bahagiamu kak Aryo, Ze akan bahagia kalau kakak bahagia. Pelangi adalah bagian dari kebahagiaan kakak. Terimalah kehadiran nya. Ze tidak apa apa kak, Ze pasti akan bahagia melihat kalian bahagia. Dia memang diciptakan untuk kak Aryo. Ze hanya sebatas menemani dan menjadi kenangan untuk kak Aryo, namun yang akan bersama kakak, adalah Pelangi'


Ucapan Zelina saat Arya bermimpi tentang gadis itu kembali terngiang dikepala nya. Dia langsung memandang batu nisan Zelina dengan pandangan sedih. Tangan nya terjulur mengusap batu nisan itu.


"Terimakasih sudah menjadi kenangan terindah dalam hidupku Ze. Cukup aku kehilangan mu, dan aku benar benar tidak sanggup jika harus kehilangan lagi. Aku pergi, dan.... maafkan aku" ucap Arya. Terdengar bergetar, namun dia memang harus kuat.


Arya beranjak, memandang sekali lagi makam Zelina. Dia tersenyum tipis namun terlihat getir. Berbalik arah dengan angin dingin yang lagi lagi terasa memeluk tubuhnya.


Kembali kemobil untuk pulang kerumah. Berusaha untuk tetap berdiri. Karena ada hari esok untuk mencari keberadaan Pelangi. Mungkin Arya akan meminta bantuan orang orang Reynand untuk mencari keberadaan gadis itu. Gadis yang sekarang telah mampu membuat remuk redam hati Arya.


....


Sedangkan ditempat lain beberapa hari kemudian....


Pelangi duduk melamun disebuah pondok kecil dibelakang rumah. Tangan nya mengusap perut yang terlihat sudah membesar. Entah kenapa sekarang perutnya sudah terlihat. Apalagi sejak kedua orang tuanya tahu. Mungkin karena tidak lagi disembunyikan.


Pandangan mata Pelangi memandang jauh area perbukitan yang nampak menghijau didepan sana. Suasana yang benar benar terasa tenang. Namun tidak dengan hatinya.


Sudah hampir seminggu Pelangi pergi dari rumah Arya. Meninggalkan lelaki yang dia cintai dengan segela kenangan nya. Namun tetap saja, sejauh apapun Pelangi pergi, dia tidak akan pernah bisa lepas dari bayang bayang Arya. Apalagi sudah ada anak yang sedang dia kandung sekarang.


Sedih??

__ADS_1


Tentu saja.


Terluka, jangan ditanya seberapa besarnya. Pergi meninggalkan orang yang dicintai dan diharapkan bukan hal yang mudah. Apalagi pergi dengan keadaan seperti ini. Rasanya benar benar tidak bisa dijelaskan.


Apalagi ketika melihat kesedihan orang tua Pelangi saat tahu Pelangi pergi dari rumah Arya dengan membawa kehamilan ini. Mereka benar benar terpukul. Bahkan ayah ingin mendatangi Arya agar lelaki itu bisa bertanggung jawab atas kehamilan ini.


Namun Pelangi melarang, Pelangi berkata dia pergi tanpa Arya tahu. Pelangi ingin menenangkan diri sejenak dan jauh dari Arya.


Dan beruntungnya kedua orang tua Pelangi memahami kesedihan dan keinginan Pelangi, meskipun dengan drama panjang yang terjadi dikeluarga mereka.


Pelangi menarik nafas nya dalam dalam, menghirup banyak banyak udara segar namun terasa begitu menyesakkan ini.


Apa kabar Arya sekarang???


Apa dia kehilangan Pelangi???


Apa dia mencari Pelangi???


Ah rasanya tidak mungkin kan. Didalam kepala Arya kan hanya ada Zelina saja.


"Pelangi"


"Nih kelapa kamu" ucap Rangga yang langsung duduk disamping Pelangi dan menyerahkan air kelapa itu padanya.


"Terimakasih kak, mau nunggu ayah pulang, kelamaan. Aku udah pengen sekarang" jawab Pelangi yang langsung meminum air kelapa itu dengan cepat.


"Kan udah ada aku. Jangan ngerepotin ayah lah. Kasihan dia capek" ujar Rangga


"Ya gak enak juga ngerepotin kakak terus" sahut Pelangi


"Tinggal hari ini, besok kan aku udah balik ke Jakarta. Gak bisa nemani kamu lagi. Jadi selagi aku ada disini, kamu bebas mau minta apapun" jawab Rangga


Pelangi mengangguk dan tersenyum memandang Rangga.


Lelaki baik yang sudah banyak menolong Pelangi. Bahkan Pelangi pergi dari rumah juga karena dibantu Rangga. Dan Rangga juga yang mengurus kepindahan mereka kembali ke kampung halaman Pelangi.


Orang tua Pelangi tidak ingin nama Pelangi buruk di mata orang orang disana. Hamil, tapi tanpa suami.


Menyedihkan bukan?

__ADS_1


"Terimakasih untuk semuanya ya kak. Kakak udah banyak banget bantuin aku" ucap Pelangi, matanya terlihat berkaca kaca sekarang.


"Jangan begitulah, kamu seperti sama siapa saja. Aku juga gak akan biarin kamu sedih sendirian. Mungkin di Jakarta cuma seminggu, nanti aku bawa Mia kemari. Dia udah sibuk banget mau ketemu kamu" ujar Rangga seraya mengusap kepala Pelangi penuh sayang.


Pelangi mengangguk cepat.


"Iya, biar kita reunian disini ya" ucap Pelangi


Rangga langsung tertawa mendengar nya.


"Iya, udah lama banget kan. Nanti kita jalan ke SMA kita yang dulu. Sekarang kamu sehatkan badan dulu. Udah gak mual lagi kan?" tanya Rangga


Pelangi menghela nafas pelan dan menggeleng lemah.


"Mual nya kalau pagi aja, tapi kadang kadang kalau lagi cium bau masakan bunda, suka mual juga" jawab Pelangi


"Pantesan gak pernah kedapur lagi. Anak kamu manja banget deh kayaknya" ucap Rangga


"Iya nih, tahu aja kalau lagi dirumah neneknya" jawab Pelangi


"Kenapa ceritain bunda hmm?"


Tiba tiba suara bunda membuat Pelangi dan Rangga terkesiap. Mereka langsung menoleh pada bunda yang datang dengan sepiring puding ditangannya.


Dengan cepat Rangga beranjak dan membiarkan bunda duduk disamping Pelangi.


"Ceritai keponakan Rangga bun. Manja banget, buat ibunya gak mau kedapur lagi. Padahal Rangga pengen dimasakin lagi sama Pelangi" adu Rangga


Bunda dan Pelangi langsung tertawa kecil mendengar itu.


"Gak apa apa, kan sudah ada bunda yang masakin kalian. Sekarang cucu bunda biar istirahat dulu. Nanti juga kalau udah besar gak mual lagi" jawab bunda.


"Kayaknya bukan anak nya aja yang manja deh bun, ibunya juga nih. Biasanya juga enggak. Udah sama bunda langsung males malesan. Sengaja ya" goda Rangga


"Sembarangan, mana ada begitu, memang bawaan bayi kok" dengus Pelangi, membuat Rangga dan bunda langsung tertawa lucu.


Mereka cukup sedih melihat Pelangi yang seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Pelangi pergi tanpa Arya tahu. Dan Rangga, tidak akan membiarkan Pelangi sendirian dalam masa masa terberatnya ini.


Meski hatinya sakit dan hancur, tapi rasa cintanya cukup besar. Sejak dulu hingga sekarang.

__ADS_1


__ADS_2