Pelangi Untuk Arya

Pelangi Untuk Arya
Ancaman Pelangi


__ADS_3

Pelangi mengetuk ngetuk tangan nya di meja kerja Arya. Memandangi Arya yang sedang menerima telpon di dekat dinding kaca ruangan itu. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Arya menerima panggilan itu. Namun belum juga selesai.


Pelangi benar benar bosan menunggu nya. Sejak tadi Arya belum memperbolehkan Pelangi untuk keluar dari ruangan ini. Dan tentu saja, itu membuat Pelangi bosan dan jenuh.


Untuk yang kesekian kali Pelangi menghela nafas panjang. Memandang Arya tanpa ingin berpaling sedikitpun. Meski menunggu nya bosan, namun memandangi wajah Arya Pelangi tidak pernah bosan.


Walau kini dia hanya bisa memandang Arya dari belakang tubuhnya saja karena suami gondrong nya itu berbicara menghadap ke luar gedung.


Pelangi tersenyum tipis, rasanya jika di ingat ingat dia masih tidak menyangka bisa ada di titik ini. Titik dimana dia bisa menjadi pemilik Arya seutuhnya, menjadi pemilik hati dan raga Arya.


Benar benar bahagia.


Meski tidak di pungkiri jika Zelina tidak akan terlupakan, tapi Pelangi sudah sangat senang, karena sekarang Arya sudah bisa membuat Pelangi merasa di hargai dan di cintai. Rasanya benar benar bersyukur.


Sekarang, Pelangi hanya memikirkan cara untuk membahagiakan suaminya ini. Memikirkan bagaimana agar Arya bisa jatuh cinta setiap hari padanya. Dan memikirkan bagaimana membuat Arya tidak akan pernah bosan berada terus bersama Pelangi.


Rindu bila jauh, dan mencinta bila dekat.


Ya... Apalagi yang harus dia lakukan? Selama ini, setelah Arya mengungkapkan perasaannya, selalu saja lelaki ini yang terus membuat Pelangi merasa bahagia dan semakin jatuh cinta. Dan sekarang, Pelangi ingin membuat sesuatu hal yang membuat Arya senang.


Tapi apa ya....


Pelangi memicingkan matanya sedikit. Tangan nya terus mengetuk ngetuk meja sembari memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Hingga beberapa detik kemudian Pelangi baru mengingat sesuatu.


Pluk


Pelangi memukul dahinya sekilas.


'Dasar bodoh, kan lusa ulang tahun mas Arya. Kenapa gak rencana buat kejutan aja ya' batin Pelangi dalam hati.


Dia langsung tersenyum senang dan mengangguk cepat. Ya, Pelangi baru mengingat jika Lusa adalah hari ulang tahun Arya. Dan dia, akan membuat satu kejutan untuk suaminya ini.


Apa itu???


Nanti akan dia fikirkan.


Pelangi beranjak dari kursi kerja Arya. Dia berjalan perlahan kearah Arya yang sepertinya masih sibuk sekali dengan ponselnya. Hingga dia tidak menyadari kedatangan Pelangi.


Pelangi tersenyum tipis, dan dia langsung memeluk Arya dari belakang hingga membuat Arya sedikit terkesiap dan langsung tersenyum lebar sembari terus berbicara bersama rekan bisnisnya di ponsel itu.


Tangan Arya mengusap lengan Pelangi dengan lembut. Pelukan hangat ini membuat Arya tidak lagi fokus pada obrolan nya. Hingga akhirnya dia mengakhiri pembicaraan itu.


"Kenapa udahan?" tanya Pelangi yang masih asik memeluk Arya, meski perut nya sudah sedikit mengganggu.


"Sepertinya istri aku mulai bosan" ucap Arya seraya dia yang melepaskan pelukan Pelangi dan menarik Pelangi kearah nya. Bergantian Arya yang memeluk Pelangi dari belakang. Hingga kini posisi mereka sama sama memandang ke arah luar gedung yang hari ini terlihat begitu cerah.


"Iya... Lama banget telponan nya" jawab Pelangi seraya tangan nya yang mengusap lengan Arya yang kini bermain di perutnya.


"Klien aku dari Malaysia. Lusa mau kemari, jadi harus di obrolin dulu poin pentingnya" ungkap Arya.


Pelangi mengangguk pelan dan sedikit menggeliat saat Arya malah mencium tengkuk nya dari belakang.


"Indah banget pemandangan dari sini" ucap Pelangi


"Lebih indah kamu" jawab Arya


"Iyalah, Pelangi kan gak ada dua" sahut Pelangi dengan bangga nya. Membuat Arya tertawa kecil dan kembali mencium bahu Pelangi.


"Makanya jangan pergi pergi. Karena kalau kamu pergi, aku gak punya lagi Pelangi yang seperti ini" pinta Arya.


"Takut Pelangi pergi?" tanya Pelangi


"Takut lah, takut sekali." jawab Arya.


Pelangi tersenyum dan mengusap wajah Arya yang kini bersandar di bahunya.


"Pelangi gak akan pergi sebelum mas yang pergi duluan" ucap Pelangi


"Janji" pinta Arya


"Janji dong" jawab Pelangi.

__ADS_1


"Tapi aku mau kita pergi bareng bareng. Biar gak ada yang merasa kehilangan satu sama lain. Supaya kita bisa berkumpul sama sama di atas sana nanti" ungkap Arya.


Pelangi tersenyum dan mengangguk pelan.


"Aamiin.." jawab Pelangi


Ceklek


Pintu yang terbuka secara tiba tiba membuat Pelangi dan Arya sedikit terkesiap. Arya melepaskan pelukan nya dari Pelangi dengan pelan dan langsung menoleh ke arah pintu. Begitu pula dengan Pelangi.


Mereka mengernyit heran saat melihat Nina yang masuk ke dalam dengan wajah yang tak bisa di artikan.


"Kenapa masuk tidak ketuk pintu dulu Nina" tanya Arya, seraya dia yang menarik Pelangi dan berjalan menuju kursi nya. Dia mendudukkan Pelangi di sana dan kemudian meraih berkas yang Nina bawa.


Pandangan mata Nina memandang Pelangi dengan penuh cemburu dan rasa perih.


"Maaf pak, saya lupa kalau ada istri bapak disini" jawab Nina


"Berarti udah kebiasaan ya Bu, kalau masuk gak ketuk pintu dulu." sindir Pelangi


Nina hanya memalingkan wajahnya dan mengabaikan Pelangi. Dan dengan beraninya dia malah memandang Arya yang terlihat sedang menandatangani bekas yang dia bawa tadi.


Tentu saja itu membuat Pelangi menjadi kesal.


"Maaas..." panggil Pelangi, nadanya terdengar begitu manja. Membuat Nina langsung memicingkan matanya memandang Pelangi.


"Kenapa sayang?" tanya Arya, namun tanpa ingin memandang wajah Pelangi. Dia masih sibuk dengan berkas itu.


"Pelangi mau ketemu Mia" pinta Pelangi


Dan kini, barulah Arya menoleh. Memandang Pelangi dengan lekat, tanpa memperdulikan Nina.


"Iya, boleh. Aku juga mau rapat sebentar lagi. Kamu mau Mia yang disini atau gimana?" tanya Arya.


"Pelangi aja yang keruangan Mia ya. Sekalian mau ajak Mia ke kantin. Pengen makan disana" jawab Pelangi.


"Kan belum jam istirahat, karyawan di larang keluar dari ruangannya" sahut Nina


"Boleh..." jawab Arya.


Nina langsung memicingkan matanya.


"Pelangi pergi sekarang boleh sayang?" tanya Pelangi


"Oh ya sudah. Aku antar?" tawar Arya. Namun Pelangi menggeleng dengan cepat.


"Sama Bu Nina aja" jawab Pelangi.


"Lah kenapa sama saya?" tanya Nina pula


"Ya supaya tidak akan ada yang marah kalau saya bawa Mia pergi" jawab Pelangi dengan santai nya. Bahkan dia langsung beranjak dari kursi Arya.


"Tapi saya juga mau ikut rapat sama pak Arya. Masak kamu gak tahu kalau saya sek...."


"Nina... Antar Pelangi dulu" sahut Arya dengan cepat, bahkan belum lagi Nina menyelesaikan perkataan nya.


"Tapi pak" bantah Nina. Dia benar benar terlihat keberatan.


"Terimakasih sayang nya Pelangi. Jangan lama lama rapatnya. Tapi kalau udah selesai Pelangi belum kembali, mas susul Pelangi ke kantin ya" pinta Pelangi.


"Iya sayang. Jangan pergi jauh jauh dan harus hati hati" ujar Arya. Mereka benar benar mengabaikan Nina yang kini benar benar kesal. Dia sudah menjadi obat nyamuk sekarang.


"Oke bos" sahut Pelangi, dan Nina langsung terperangah saat tanpa malunya Pelangi malah mencium bibir Arya di depannya.


Astaga...


Dan Arya...


Dia hanya tersenyum saja. Karena dia tahu Pelangi seperti ini pasti karena cemburu. Jika tidak, Pelangi pasti malu malu melakukan hal ini.


"Pelangi pergi dulu ya" pamit Pelangi


"Iya" jawab Arya.

__ADS_1


"Ayo Bu" ajak Pelangi yang langsung menarik tangan Nina tanpa ragu.


"Tolong jaga istri dan calon anak saya Nina!" pinta Arya.


Nina berdecak kesal, menjaga Pelangi? Memang nya dia baby sitter apa??


Benar benar menjengkelkan orang orang ini. Apa Arya tidak berfikir bagaimana perasaan Nina?


Kenapa dengan seenaknya saja meminta Nina menjaga Pelangi. Dan malah seenaknya saja bermesraan di depan matanya.


Sialan sekali.


"Jangan cemberut begitu wajahnya Bu. Nanti cantik yang ibu perjuangkan selama ini jadi hilang" ujar Pelangi saat mereka sudah berada di dalam lift.


Nina mendengus. Dia mendekap tangan nya di depan dada dan memandang Pelangi dengan kesal.


"Apa yang sudah kamu lakukan hingga pak Arya mau menikahi mu?" tanya Nina


Pelangi mengernyit.


"Apa memang nya? Ya karena dia cinta sama saya lah" jawab Pelangi dengan bangganya. Namun Nina, dia malah mendengus senyum sinis.


"Percaya diri sekali. Saya yakin tidak semudah itu. Dia pasti mau menikahi mu hanya karena anak yang sedang kamu kandung itu kan" tuding Nina


Dan kali ini Pelangi yang tersenyum sinis. Wanita siluman ini benar benar menyebalkan. Tahu apa dia tentang Arya!


"Tahu apa ibu tentang perasaan pak Arya. Gak lihat bagaimana sikap pak Arya sama saya? Masih kurang jelas kalau dia cinta sama saya?" tanya Pelangi


"Heh... Dia begitu karena menghargai kamu aja. Apalagi kamu yang sedang hamil. Acara pesta pernikahan itu juga pasti karena kamu yang merengek minta kan. Gak yakin saya kalau semua murni keinginan dia" sahut Nina


Pelangi kembali tersenyum sinis.


"Gak usah pakai merengek Bu, Pak Arya sama nona Nara sendiri yang mau ngadain pesta mewah untuk saya. Ibu yang paling tahu kan bagaimana sikap Pak Arya selama lima tahun ini, dan coba ibu bandingkan dengan saat setelah bertemu dengan saya. Perubahan nya begitu besar kan" ungkap Pelangi.


Nina langsung memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Harus terima kenyataan dong Bu kalau pak Arya sekarang udah punya istri. Dan istrinya itu saya. Dia cinta sama saya. Kenapa juga ibu sewot banget. Apa ibu juga cinta sama dia?" tanya Pelangi


"Kalau iya kenapa?" jawab Nina langsung. Bahkan dia terlihat jujur sekali.


Pelangi tidak marah, dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk saja. Meski sebenarnya dia juga kesal, tapi sudah lama dia tahu jika Nina memang menyukai Arya, suaminya.


"Berarti ibu kurang usaha tuh" sahut Pelangi dengan cepat.


"Apa maksud kamu?" tanya Nina begitu tidak suka.


"Ya ibu kurang usaha untuk dekati pak Arya. Perlu usaha yang keras Bu, bukan cuma hanya sekedar jual tampang sama penampilan yang kayak ibu ini. Pak Arya gak butuh itu" ucap Pelangi seraya dia yang menunjuk penampilan Nina. Yang memang terlihat begitu seksi.


Mata Nina semakin memicing memandang Pelangi.


"Ibu memang udah lama kenal pak Arya. Bertahun tahun, tapi waktu yang lama itu gak bisa menjamin kalau dia bakal tersentuh sama ibu. Dan sekarang, ibu udah harus menjauh dari suami saya" ujar Pelangi.


"Kenapa jadi kamu yang mengatur saya?" tanya Nina.


"Ya karena saya istrinya lah. Saya gak suka ya suami saya di dekati perempuan yang gak tahu diri kayak ibu" ucap Pelangi.


"Mulut kamu jangan kurang ajar ya sama saya" sahut Nina semakin kesal.


"Wajar dong mulut saya kurang ajar, apalagi ibu yang memang kurang di ajar." jawab Pelangi begitu berani.


"Kamu" Nina terlihat benar benar menggeram. Namun Pelangi hanya tersenyum miring saja.


"Kenapa??? Mau marah?? Mau mukul saya??? Silahkan. Banyak cctv tuh." tantang Pelangi


Nina menarik nafasnya dalam dalam dan membuang nya dengan kesal.


"Saya peringatkan sekali lagi ya Bu. Saya gak marah karena ibu yang cinta sama suami saya, tapi mulai dari sekarang, tolong buang perasaan ibu itu. Karena pak Arya, sudah milik saya. Jangan buat rasa cinta ibu sama pak Arya jadi obsesi yang akan membuat ibu hancur sendiri. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik dari pak Arya. Tuhan juga udah siapkan jodoh untuk ibu diluar sana. Jadi tolong.... Tolong sekali jangan dekati lagi suami saya! Atau...." Pelangi menghentikan perkataan nya dan memandang Nina dengan tajam.


Ting


Pintu lift terbuka


"Atau saya akan meminta pak Arya untuk memecat ibu dari sini" kata Pelangi terdengar begitu tegas dan mengancam. Dan setelah mengatakan hal itu dia langsung keluar, meninggalkan Nina yang nampak terperangah mendengar ucapan Pelangi yang terakhir.

__ADS_1


__ADS_2