
Arya duduk mematung memandangi bunga tulip diatas meja makan. Ditangan nya menggenggam segelas kopi hangat yang baru saja dia seduh. Satu hari ini Arya hanya bekerja dirumah. Dia tidak pergi keperusahaan Polie, karena Arya benar benar ragu untuk meninggalkan Pelangi sendiri.
Berkaca dari Reynand dan Nara dulu, Arya tidak ingin berbuat jahat dengan membiarkan Pelangi sendirian dirumah dalam keadaan sakit. Apalagi dengan suhu tubuhnya yang benar benar meningkat. Jika terjadi sesuatu, pasti tanggung jawab Arya akan lebih besar lagi nanti.
Hingga dia memilih untuk bekerja dari rumah dan sesekali melihat keadaan Pelangi.
Satu bulan lebih dia bersama Pelangi. Dan selama satu bulan ini Pelangi tidak pernah bosan untuk melayani segala keperluan nya. Bahkan meskipun Arya terkadang tidak ingin menyentuhnya sedikit pun. Bukan hanya menyentuh tubuhnya, melainkan juga masakan yang sudah disiapkan oleh Pelangi.
Terdengar kejam, Arya akui itu. Tapi.... Pelangi masih saja terus berbuat begitu. Bahkan senyum itu juga tidak pernah pudar meski hampir setiap hari Arya memarahi nya. Heran sekali.
Arya menghela nafas dan membenarkan posisi bunga tulip yang ada didepan nya. Bunga yang baru saja dia ganti hari ini. Bunga tulip favorite Zelina nya. Putih, bersih dan membuat ketenangan ketika dia memandang. Berbeda dengan mawar milik Pelangi. Cantik, segar dan harum, yang terasa memanjakan mata, tapi berduri dan itu akan membuat luka jika digenggam terlalu kuat.
Tiba tiba Arya langsung terkesiap...
Kenapa malah jadi mengingat bunga mawar Pelangi?
Astaga...
"Pak Arya..."
Lagi.... suara Pelangi kembali membuat Arya terkesiap. Dia langsung menoleh kebelakang dan ternyata Pelangi yang sudah ada diruang makan itu. Dia terlihat sudah berganti pakaian dan sudah lebih baik, bahkan sudah bisa tersenyum lagi meski wajah itu masih terlihat pucat.
"Ada apa? Kenapa kau malah keluar?" tanya Arya
"Saya mau minum, saya haus. Mau cari makanan juga" jawab Pelangi. Dia langsung berjalan kearah lemari penyimpanan dan mengambil dua bungkus roti dari dalam sana. Juga segelas air hangat di dispenser.
Arya hanya memperhatikan nya saja. Pelangi masih terlihat lemah. Dan Arya lupa untuk memberinya makan siang tadi. Astaga... benar benar kejam. Apalagi hari sudah sore seperti ini. Pantas saja Pelangi kelaparan.
"Bapak sudah makan?" tanya Pelangi seraya duduk dihadapan Arya dan meminum air hangat nya.
"Sudah" jawab Arya begitu singkat.
"Makan mie instan lagi" sahut Pelangi
Arya mendengus dan menikmati kopinya.
"Maaf ya pak, saya belum bisa memasak untuk bapak" ucap Pelangi dengan rasa bersalah nya. Apalagi ketika melihat dua mangkuk mie instan yang ada didalam wastafel yang belum di cuci. Pasti Arya hanya makan mie dari pagi tadi.
"Makan mie juga kenyang" jawab Arya
Pelangi hanya tersenyum kecut dan mengangguk. Dia memakan roti yang dia ambil dengan tidak berselera. Namun dia harus tetap mengisi perutnya yang kosong. Pelangi tidak boleh sakit, karena jika dia sakit, bagaimana dia akan menjadi istri yang baik untuk Arya nantinya.
"Emmm pak" panggil Pelangi saat beberapa saat mereka terdiam.
Arya yang sedang menikmati kopinya langsung menoleh pada Pelangi.
"Besok saya boleh pulang kerumah orang tua saya? Saya mau melihat ayah dan bunda. Sudah rindu" tanya Pelangi, dengan wajah sedih yang seperti menahan tangis.
Ya di saat saat seperti ini Pelangi memang membutuhkan bunda nya. Dia juga rindu mendiang kakak nya. Pelangi ingin pulang, setidaknya untuk melepaskan rindu dan juga menenangkan dulu hatinya. Agar dia bisa berjuang lagi untuk bertahan sampai dua bulan kedepan.
"Pulang lah, siapa yang melarang mu. Sudah aku bilang kan, kau bebas melakukan apapun. Untuk apa lagi bertanya" jawab Arya.
Lagi lagi Pelangi tersenyum getir dan mengangguk.
"Walau bagaimanapun bapak kan su....."
Perkataan Pelangi langsung terhenti saat melihat Arya yang memandang nya dengan lekat.
"Saya hanya takut bapak kecarian karena tidak ada yang membereskan rumah ini" ralat Pelangi dengan kepala yang langsung tertunduk getir. Bahkan dia langsung menggigit rotinya untuk menahan rasa perih dihati.
__ADS_1
Dia lupa, dia lupa jika Arya tidak suka jika Pelangi menganggap nya sebagai suami. Ya tuhan... sesakit ini menjadi istri Arya.
Arya menghela nafas dan meletakkan gelas kopi yang dia pegang keatas meja. Dia memandang Pelangi dengan pandangan yang tidak bisa di artikan. Ada rasa iba namun ada juga perasaan yang harus membuat dia menahan untuk tidak merasa simpati pada gadis ini.
Arya langsung mengernyit, saat melihat Pelangi yang beranjak dan membawa gelas dan roti yang baru dia makan beberapa gigitan kewestafel.
"Berhenti lah mencuci itu. Kau bisa pingsan lagi nanti" ujar Arya.
Namun Pelangi langsung menggeleng dan mulai mencuci mangkuk nya.
"Biar cucian mangkuk nya tidak banyak pak. Takut ada lalat" jawab Pelangi.
"Kau memang keras kepala" gerutu Arya yang langsung pergi dari ruang makan itu. Meninggalkan Pelangi yang kini menoleh ke arahnya dengan linangan air mata yang membasahi wajah pucatnya. Namun dengan cepat Pelangi usap dan dia ganti dengan senyum yang terasa berat.
Tidak boleh menangis Pelangi.
Harus kuat.
Bukankah hari ini sudah mendapatkan sedikit perhatian dari Arya?
Bukan kah hari ini Arya tidak bekeja karena terus menjaganya?
Meski bersikap ketus dan dingin, setidak nya Arya tidak sekejam itu untuk membiarkan Pelangi sakit bukan?
Ya, Arya masih mempunyai sisi baik untuk tidak membiarkan Pelangi sendirian disaat sakit. Bahkan Arya juga yang mengompres dahi nya sejak pagi tadi.
Manis sekali kan?
"Aunty!!!!"
Teriakan seorang anak kecil membuat Pelangi terkesiap. Dengan cepat dia membilas cucian mangkuk dan membasuh tangan nya.
Sepertinya itu anak anak Nara. Tapi... kenapa mereka kemari.
"Aunty Pel!!!" teriakan itu kembali terdengar membuat Pelangi langsung berjalan keruang depan. Dan ternyata benar, anak lelaki Nara yang memanggil nya dan membawa sebuah kotak ditangan nya.
"Aunty Pel, sini dulu deh" panggil nya seraya mengajak Pelangi untuk duduk disofa. Nara masuk kedalam bersama Arya yang menggendong Zeze.
"Nona" sapa Pelangi seraya membungkukkan sedikit tubuhnya kearah Nara.
"Kamu pucat, kamu sakit?" tanya Nara yang langsung berjalan mendekat kearah Pelangi dan menyentuh lengan nya.
"Hangat, kamu demam ya?" tanya Nara lagi.
Pelangi tersenyum tipis dan menggeleng pelan seraya dia yang memandang kearah Arya nampak tidak perduli dan asik bermain dengan Zeze yang membawa sebuah boneka pinokio.
"Hanya tidak enak badan nona" jawab Pelangi
"Kenapa tidak kamu bawa kerumah sakit Yo?" tanya Nara
Arya hanya diam dan memandang Pelangi dengan wajah datarnya.
"Tidak nona, hanya demam biasa. Ini juga sudah mulai berkurang. Pak Arya sudah memberi saya obat tadi" jawab Pelangi dengan cepat.
"Benar?" tanya Nara, seraya dia yang memandang Pelangi dan Arya bergantian.
"Apa kamu fikir aku akan membiarkan dia mati?" tanya Arya dengan ketus.
Nara langsung mendengus dan memandang kesal pada Arya. Entah kenapa Arya jadi jahat seperti ini. Nara jadi ingat tentang sikap Reynand dulu pada nya. Dan sekarang, dia jadi iba melihat Pelangi. Pasti tidak mudah menjadi dia.
__ADS_1
"Ayo duduk" ajak Nara
"Saya masuk saja nona" tolak Pelangi. Dia masih takut jika teringat kemarahan Arya tempo lalu.
"Sebentar saja, setelah itu baru beristirahat lagi" ujar Nara yang menahan lengan Pelangi. Membuat Pelangi jadi tidak enak untuk pergi. Dia kembali memandang kearah Arya. Lelaki itu hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Aunty... " panggilan Zevanno membuat Pelangi langsung menoleh kearah nya yang sudah duduk diatas karpet.
"Kata mommy aunty suka melukis. Aunty bisa ajarin Vanno kan" pinta Zevanno
Pelangi langsung tersenyum getir mendengar itu.
"Vanno ingin sekali belajar melukis. Hanya saja, kegiatan dia setiap hari sudah full untuk mengambil kelas melukis. Jadi dari pada mencari guru lukis yang lumayan susah, bagaimana jika kamu saja. Kamu juga tidak punya kegiatan kan?" tawar Nara
"Saya?" tanya Pelangi dengan wajah terkejutnya. Begitu pula dengan Arya.
"Iya, kamu" jawab Nara
"Tapi nona.. Saya melukis hanya karena hobi. Sangat tidak cocok untuk mengajari Vanno" ungkap Pelangi dengan begitu ragu.
"Vanno juga hanya hobi. Dia hanya difokuskan untuk sekolah saja. Melukis juga hanya diperbolehkan untuk mengisi waktu senggang oleh daddy nya. Jadi kamu bisa mengajari dia kan. Ya anggap saja untuk menemani Vanno" ujar Nara
"Benar aunty, bunda sering malas menemani kakak. Daddy juga galak kalau mengajari. Jadi aunty saja" rayu Zeze juga
"Mau ya aunty. Lihat, Vanno sudah membawa cat lukis yang bagus untuk aunty" Zevanno bahkan menunjukkan kotak cat lukis yang dia pegang. Membuat Pelangi semakin merasa tidak tega untuk menolak. Tapi untuk menerima, bagaimana mungkin bisa. Arya pasti akan marah kan.
"Kamu tidak melarang kan Yo?" kini Nara langsung menoleh pada Arya. Karena dia tahu jika Pelangi pasti takut pada Arya.
Arya menghela nafas gerah dan mengendikkan bahunya.
"Terserah, bukan urusan ku juga" jawab nya begitu acuh. Membuat Nara dan Pelangi langsung saling pandang getir.
"Mau ya aunty" pinta Zevanno dengan wajah memelasnya.
Pelangi tersenyum tipis dan langsung mengangguk
"Yeay... terimakasih aunty. Jadi kita mulai melukis sekarang ya" ajak Zevanno yang begitu bersemangat. Membuat Pelangi kembali tersenyum melihat wajah menggemaskan nya itu.
"Jangan dong nak. Aunty saat ini masih sakit. Lihat wajah aunty pucat begitu. Nanti kalau aunty sembuh, baru melukis bareng aunty ya" ujar Nara
Zevanno langsung menghela nafas sedih, dia memandang Pelangi dengan lekat dan akhirnya mengangguk setuju.
"Iya sudah lah. Aunty harus cepat sembuh agar kita bisa melukis" ujar Zevanno pada Pelangi.
"Iya... tapi tidak dalam minggu ini ya. Karena aunty harus pulang dulu. Nanti setelah dari rumah aunty, aunty janji akan menemani Vanno melukis" jawab Pelangi
"Kamu mau pulang Pelangi" tanya Nara dengan cepat.
"Iya nona, rencananya besok. Saya sudah rindu bunda dan ayah. Sudah sebulan lebih tidak bertemu dengan mereka" jawab Pelangi
Nara langsung menoleh pada Arya
"Kamu antar besok Yo" ujar Nara. Membuat Arya langsung terkesiap, begitu juga dengan Pelangi.
"Tidak perlu nona, pak Arya pasti sibuk. Saya bisa naik travel saja" sahut Pelangi dengan cepat tapi Nara pun menggeleng dengan cepat.
"Tidak, biar kamu di antar Arya saja besok" jawab Nara
"Tapi Nara, aku ada meeting penting bersama tuan Renggono besok" sahut Arya begitu keberatan. Namun pandangan mata Nara yang mengancam membuat Arya tidak bisa berkata apa apa.
__ADS_1
"Tidak ada membantah Yo. Pelangi sedang sakit dan jika terjadi sesuatu padanya dijalan bagaimana? Biar aku yang akan menggantikan mu meeting besok" jawab Nara dengan tegas.
Arya hanya menghela nafas kesal dan memalingkan wajah nya dengan cepat. Kenapa Nara sudah seperti ibunya sekarang? Malah mengatur rencana Arya. Dan bodohnya dia yang tidak bisa menolak. Sial sekali!