Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 100. Wonder Woman


__ADS_3

Suara sirine aparat keamanan memekakkan telinga di ruas jalan, hendak memasuki kawasan Blok Q.


Tampak kendaraan Chevrolet Suburban beriringan mendekat ke arena tempur.


Pemerintah memutuskan untuk menengahi aksi pertikaian di blok tersebut. Dengan mengirimkan badan keamanan tingkat tinggi.


Sebab kebisingan dan kerusakan sangat mengganggu warga setempat


Situasi semakin tidak terkendali.


FBI pun langsung turun tangan.


(FBI : Federal Bureau of Investigation, Biro Investigasi Federal, yang merupakan departemen keadilan Amerika Serikat. Salah satu badan penegak hukum tertinggi yang berwenang untuk menyelidiki dan menginvestigasi kasus kriminalitas yang merugikan negara. Biasanya kasus yang di tangani bermacam-macam.)


Saat ini, mereka mendapat laporan dari salah satu polisi bahwa ada salah satu buronan yang mereka cari, sedari dulu.


Siapa lagi kalau bukan Pablo Piccaso. Pemasok gembong narkoba terbesar, yang susah untuk mereka temukan, namun malam ini kelompok mafia Montero yang mereka kenal, selalu bermain aman, menyerahkan bukti narkoba pada aparat keamanan.


Dan satu laporan dari masyarakat di Blok Q, melihat helikopter berwarna hitam buatan Rusia.


Yang ilegal.


Menarik perhatian mereka.


Di sinilah mereka hendak menangkap si pelaku setelah selesai memeriksa semua narkoba yang berjumlah banyak tadi. Dan ingin melihat secara langsung pesawat amphibi tersebut.


Beberapa mobil mewah berwarna hitam berhenti di blok Q.


.


.


.


Di lain tempat.


"Kakk, itu Samuelllllll!" pekik Nickolas saat melihat adiknya di angkat seperti karung beras oleh seorang pria berkulit hitam.


"Damnn!" umpat Kendrick sambil berlari kencang, menghampiri adiknya.


Speed.


Seperti superhero Flash.


Bughhhhhh


Kendrick menyundul tepat di area kelamin pria itu.


"Arghhhhhhhh!" Pria itu mengaduh kesakitan sembari menutup buyungnya. Sehingga tubuh Samuel pun terjatuh ke bawah.


"Awwhhhhhhhhh!!!"


"Sammmmmmmmmmm!!!" teriak Nickolas, Darla dan Lunna nyaring.


"Gukk..gukk..gukk!" Hiro menahan kepala Samuel agar tak terbentur aspal. Namun sepertinya anjing itu kesakitan. Sebab tubuhnya sangat lah munggil.


Ia mengaduh.


"Hiroooooooo!" Darla mendekat, mengambil perlahan anjing itu dan mendekapnya.


Lunna dan Nickolas berusaha memapah Samuel yang tengah menangis karena sekujur tubuhnya sangat sakit.


"Sial_an! bocah nakal!!" Rodrigo menatap tajam hendak menampar Kendrick.


Namun,..


Bughh..


Bugh...


Lily datang tiba-tiba.


Menendang Rodrigo dengan kuat dan cepat


Hingga pria itu terjungkal ke belakang dan terlentang di jalanan.


Rasa sakitnya masih menjalar di sekujur kulit tipis adiknya.


Seperti sengatan listrik.


Mata elang Lily menangkap Pablo yang tengah bersembunyi di balik pilar.


Ia berlari cepat.


Dan melayangkan tendangan ke ulu hati Pablo dan tulang rusuk pria tua itu. Kemudian membenturkan kepalanya pada lawan sebanyak tiga kali.


Rasa sakit yang menjalar di kepalanya sudah tak terasa lagi.


"Wow, my mom is Wonder woman!" desis Kendrick dan Samuel melihat aksi Mommynya.

__ADS_1


"Kemari, kau brengsek!!!!" seru Lily melototkan mata.


Ia memelintir tangan Pablo ke belakang.


Pablo terbatuk-batuk mengeluarkan darah dan menahan rasa sakitnya.


Dia membalas serangan Lily.


Dengan membenturkan kepalanya.


"Arghhh!" Lily menyeka hidungnya.


Dan menendang tempurung lutut Pablo.


Pablo tersentak, merosot ke bawah.


Lily segera melompat tinggi dan menghantam kepala Pablo hingga tersungkur ke jalan.


"Rasakan ini, bedebahhhhhhh!!" Lily menekan pipi sebelah kiri Pablo dengan kakinya.


Matanya berkilat menyala.


"Arghhhhhhhhh!!!!" Nafas Pablo memburu, ia hendak menggapai kaki Lily, sebelah kanan. Namun wanita itu dapat membaca gerakan tangannya dan malah menekan tangan kirinya.


"Arghhhhhhhhhhhhh! Si-all sia_llll! Lepaskan aku bang_sat!!"


Dorr... Dor..dorr..


Suara tembakan menggema di ujung sana.


"Hentikan perkelahian atau kami akan menembakkan gas air mata!" Pria tinggi dan besar melontarkan timah ke atas sana. Memberikan peringatan.


Seketika hening.


Ia menurunkan senjata.


"Di mana Pablo Piccaso?!" tanyanya menggunakan speaker TOA.


"Over hereeeeee!!" teriak Lily melirik sejenak pada anggota FBI di ujung sana.


Anggota FBI berjalan menghampiri Lily.


"Honey!!" panggil Leon, dia baru saja tiba sembari memegang perutnya yang tampak berdarah.


"Leonn! Dadddyy!!" Lily, si Kembar, dan Lunna sontak terkejut melihat keadaan Leon yang miris.


Darah bersimbah.


Wajahnya pucat pasi.


Bibirnya ketara tak berwarna pink lagi.


Ia merosot ke bawah, menahan beban tubuhnya dengan lutut.


"Kinggggg, Leon!" sahut Lexi, Breslin, dan Maximus yang berada di sekitarnya hendak mendekat.


Begitu pula dengan Montero.


"Jangan ada yang bergerak!!" Titah petugas badan intelgen itu.


Mereka menghentikan gerakan.


Tertegun.


Petugas itu menekan earpiece.


"Kirimkan ambulance segera ke sini!" perintahnya cepat.


"Misss, biar aku yang mengambil alih!" seru pria itu sambil mengeluarkan borgol. Dan menyuruh Lily untuk mengangkat kakinya dari wajah Pablo.


Lily mengangguk. Kemudian menghampiri Leon.


"Honey, are you okay?" Kedua matanya berkaca-kaca. Ia menyentuh luka kekasihnya. "Oh my God, siapa yang melakukan ini pada mu?" Ia berlutut di hadapan Leon dan menangkup pipinya. Mencium sekilas bibir kekasihnya. Ia cemas amat cemas dengan keadaan Leon.


Yang tak berdaya.


Lagi dan lagi.


Orang yang dia sayangi, terluka.


Buliran air mata berderai di kedua pipinya.


"Jangan sedih, ini hanya lah luka kecil!" Leon tersenyum simpul sembari menyeka air bening di pelupuk matanya.


Lily tak membalas, ia menatap lekat.


Menahan rindu, menahan rasa khawatir yang menjalar di sanubarinya.


Leon merasa kepalanya sangat berat dan pusing.

__ADS_1


Tiba-tiba penglihatannya.


Gelap..


.


.


.


Rumah sakit Martin Luther.


Ruang Tunggu.


"Bagaimana keadaan Leon, dear?" tanya Elizabet yang baru saja tiba. Wanita paruh baya itu menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu di samping Lily.


Ia baru saja mendapatkan informasi mengenai anaknya telah masuk rumah sakit, akibat perbuatan Pablo.


Lily menghela nafas. "Leon di dalam, Mom. Dia belum siuman," ucap Lily tertunduk lesu.


"Tenanglah. Putra ku sangat lah kuat. Jangan bersedih," sahut Elizabet sembari menyampirkan rambut Lily ke belakang.


Ia mengelus pelan puncak kepalanya.


Elizabet berusaha menenangkan walaupun ia juga gelisah.


Lily mengangguk pelan.


Elizabet menuntun Lily untuk merebahkan kepalanya di pundak ringkih itu.


"Grandma!!" seru Lunna berlari menghampiri kedua wanita itu.


Elizabet mengalihkan pandangan. Kedua matanya berbinar. "Come here, my angel. Cucu Grandma sudah besar!" Elizabet mengusap pelan dagu Lunna.


"Lunnnaaa!" panggil si Kembar Triplet dan Darla. Mereka baru saja tiba bersama Breslin, Lexi, Marimar dan Maximus.


Kedua mata Elizabet terbelalak.


"Lily!' Elizabet melirik. Meminta penjelasan siapa saja yang baru datang. Ia mengetahui jika Lily memang seorang janda, dia tak mempermasalahknnya. Namun dia tidak tahu siapa anak Lily. Mengingat keterbatasan waktu yang mereka miliki tadi.


Lily menengakkan kepalanya.


"Mom, ini anak-anaku si Kembar triplet dan itu keponakkan ku !"


Lily memperkenalkan satu-persatu ketiga putranya dan keponakannya Darla.


Tidak lupa juga.


Keempat pria yang datang bersama mereka.


**


"Permisi!" sahut suara tenaga kesehatan mengenakan jas putih dan memakai kaca mata beningnya.


Ia mendekat.


"Tuan Leon Andersean sudah sadar, dia meminta istrinya bernama Lily ke dalam menemuinya," tuturnya cepat.


Lily bangkit berdiri.


"Istri?" desis Elizabet sembari menggelengkan kepala.


"Nikah aja belum, lebay deh!" celetuk Marimar tiba-tiba.


Semua mata tertuju padanya.


Marimar terkekeh.


.


.


.


Di lain tempat.


BOOM.


Suara ledakan terdengar di kantor aparat keamanan.


"Hahaha!"


Pablo tertawa keras.


Terdengar suara derap langkah kaki keluar dari ruangan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2