Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 76. Ratu Singa


__ADS_3

Warning!


21+++


***


"Apa yang kau lakukan Lexi?!" Kedua matanya Lily menyala, melihat Lexi sang tangan kanan Leon menembakkan peluru tepat di tubuh Leon. "Honey, kau tidak apa-apa?" Lily menelisik tubuh kekasihnya dari atas sampai bawah, dari wajah, dada, lengan, kaki bahkan area terlarang yang seharusnya tidak boleh di lihatnya.


Leon terkekeh pelan. "Honey, kenapa kau jadi mesum dari tadi melihat burungku, apakah kau sudah tidak sabar?" Leon menggoda kekasihnya yang masih melihat bagian tubuhnya.


"Oh my God, aku tidak mesum!" protes Lily sambil memalingkan wajahnya.


"Yakin? Dari tadi kau melihat ke arah situ?" Leon tersenyum penuh arti. Pria itu sangat suka menggoda kekasihnya. Apalagi melihat rona di pipi Lily yang semakin bersemu merah menyala.


Lily tak membalas sahutan Leon. Dia mengerucutkan bibir dengan sangat tajam, membuat Leon semakin bertambah gemas saja.


"Kau tidak lihat Lexi menembak mu tiba-tiba?! Untung saja kau menggunakan baju anti peluru!?" Kesal Lily sambil mengalihkan pandangan pada Lexi yang sibuk memegang pistol berwarna emasnya.


"Kau ingin ku bunuh Lex!" Lily menatap tajam dan dingin.


"Kalian benar-benar pasangan kejam dan serasi!" celetuk Lexi tanpa sadar kemudian dia menutup mulutnya dengan cepat.


Lily semakin melototkan matanya seakan ingin menelan Lexi hidup-hidup. Dia sangat syok dengan kejadian beberapa detik tadi. Detak jantungnya memacu dengan sangat cepat seperti lomba pacuan kuda saja. Lily tak mau orang yang di sayanginya kembali terluka.


Melihat kekesalan kekasihnya. Leon terkekeh pelan sambil membelai pipi Lily dan menghadapkan pandangan mata Lily beralih padanya.


"Itu hanya mengetes Honey, apakah pakaian ini berfungsi atau tidak?" Leon memberikan pengertian, menatapnya dalam. Pria itu benar-benar terharu dengan reaksi Lily yang seakan takut kehilangannya. "Kau semakin cantik saja, Honey!" Leon mengecup singkat bibir sang kekasih.


Lily menghela napasnya. "Walaupun cuma mengetes tapi beritahu aku dulu Leon, kau mau melihat ku mati di tempat karena jantungan." Lily mendengus kesal dengan menyelami pancaran mata tambatan hatinya itu.


"Lain kali jangan seperti itu, Leon! Ingat!" hardik Lily sambil melipat tangan di dada.


"Baiklah, ratu singa ku." Leon mengecup sekilas pipi Lily.


"Sudahlah, ayo cepat Honey!" Lily tanpa sadar menggengam tangan Leon dan segera masuk ke dalam mobil.


Leon, Lily, Lexi dan Breslin satu mobil. Breslin sebagai pemandu jalan, melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan kawasan tersebut.

__ADS_1


"Apa kau sudah mempunyai rencana cadangan Honey?" tanya Lily tiba-tiba. Lily menebak jika Pablo tidak akan mudah membebaskan Darla dan Lunna. Mengingat sifat picik dan licik sang musuh.


"Sudah Honey, kau tenang saja ya." Leon menuntun kepala Lily untuk menyender di bahunya. "Aku sudah mempersiapkan semuanya, jangan kau risaukan ya. Justru aku yang takut membawa mu ke sana!"


Lily mengerutkan dahinya. Wanita berparas rupawan itu melirik sekilas. "Kenapa kau takut? Kau belum tahu siapa aku Leon? Aku bukanlah wanita lemah, aku bisa membunuhnya, jika dia sampai melukai Lunna dan Darla!"


"Aku tahu kau bukan wanita lemah, Honey. Aku hanya takut kau melihat wajah jelek Pablo itu!"


Keduanya pun terkekeh pelan secara bersamaan.


"Honey, aku mau menelpon teman ku sebentar. Bolehkah aku menyiapkan rencana cadangan yang lain?" tanya Lily sambil melihat reaksi kekasihnya.


"Teman? Laki-laki atau wanita?" Leon malah balik bertanya. Dia ingin memastikan.


"Tentu saja, wanita, dia lah yang mengajari ku bertarung dan menembak Honey, ketika aku tinggal di Moskow. Namanya Yellow, dia adalah anggota mafia kelompok Draglife, dan sekarang dia berada di LA, Honey. Tadi aku sudah mengirim pesan kepadanya. Kalau aku akan merepotkannya malam ini." Lily menjelaskan singkat. Wanita berparas rupawan itu tentu saja tahu jika Leon mudah cemburu padanya, justru hal itu lah membuatnya merasa disayangi dan dicintai.


"Hmm baiklah, tapi di loudspeaker. Aku ingin mendengar apa yang wanita ku bicarakan," ucap Leon sambil mencubit gemes hidung Lily.


"Iya, my king. Sesuai keinginan mu." Lily mengambil gawainya yang berada di saku jaket kulitnya. Lily segera mencari nomor temannya, dan menekan layar ponselnya. Tidak lupa ia memperbesar suara agar dapat di dengar oleh tambatan hatinya.


Hallo Yellow. Kau di mana?


Terdengar suara de**han mengalun-alun di sebrang sana. Lily merutuki temannya yang womanizer dan gila itu. Lily menghela napasnya sejenak. Saat suara temannya semakin nyaring. Lily jadi malu sendiri. Dia pun melirik ke arah Leon melihat reaksi kekasihnya. Namun Leon berekspresi biasa saja.


A**h, *** Oh my God. Lily aku...


Yellow, aku akan mengirimkan mu pesan nanti. Jangan lupa kau harus siap jika aku membutuhkan mu!" pungkas Lily tanpa mendengar jawaban dari temannya. Tanpa sengaja kedua mata Lily menatap daerah terlarang Leon. Lily mengerutkan dahi.


'Kenapa tidak te**k?' Batin Lily.


"Wah, kau sudah nakal ya!" sahut Leon sambil mengulum senyum sebab sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Lily.


"Aku tidak nakal, aku hanya ingin memastikan saja. Kenapa punya mu tidak tegak?" celetuk Lily tanpa sadar. Dia segera memalingkan mukanya. "Oh my God, kenapa aku tidak bisa menjaga mulut ku ini!"


Leon terkekeh melihat reaksi tambatan hatinya. Kemudian dia mengangkat tubuh ramping Lily secara cepat dan mendudukkan kekasihnya di pangkuannya.


Lily terlonjak kaget dengan tindakan Leon. "Leon apa yang kau lakukan?!"

__ADS_1


Leon tak membalas ucapan Lily. Dengan cepat ia menyatukan bibirnya dengan sang kekasihnya, dia me**mat, men**sap dan meng**it pelan bibir bawah Lily. Leon mengeksplor rongga mulut kekasihnya, hingga mereka bertukar saliva.


Lily pun terbuai dengan perlakuan Leon terhadapnya. Napasnya keduanya mengebu-gebu setelah Leon melepaskan tautan bibirnya. Leon menyatukan keningnya pada Lily. "Kau tahu, Honey, yang mampu menegakkan burungku hanya diri mu!" cerocos Leon membuat Lily tersenyum simpul.


Keduanya kembali ber**u bibir di dalam mobil. Suara ke**pan-k**apan terdengar nyaring mengiringi suara deruan mobil. Sepasang kekasih itu tak peduli jika saat ini di depan kursi mobil, ada dua orang manusia sedang menahan birahinya.


"Lex." Breslin menoleh ke samping sejenak, sembari melirik sekilas ke bawah milik Lexi yang berada di balik celananya, yang sudah tegak sempurna. Saat mendengar suara ******* seorang wanita di balik telepon.


"Hmmm, fokus saja." Lexi menghembuskan napasnya dengan berat menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubunnya.


"Damn, kenapa aku mudah terpancing!" Batin Breslin seraya fokus menyetir mobilnya.


****


"Honey, jangan jauh-jauh dari ku!" sahut Leon setelah menutup pintu mobil.


"Iya Honey!" Lily merapikan jas Leon yang tampak kusut karena permainan mereka tadi. Keempat orang tersebut sudah berganti pakaian sesuai dengan rencananya. Mereka sedang melakukan penyamaran agar tidak ketahuan musuh.


"Breslin kau yang memandu jalan kami!" sahut Leon memberikan perintah.


Breslin mengangguk paham.


Suara derap langkah kaki terdengar di lorong sempit. Setelah beberapa puluh langkah, ayunan kakinya mereka terhenti di salah satu pintu besar yang terlihat kumuh dan tua.


"Hasta la victoria siempre!" ucap Breslin di gagang pintu.


Seketika pintu terbuka otomatis.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ket :


Hasta la victoria siempre artinya selalu maju menuju kemenangan


__ADS_2