Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 59. Simfoni Hitam


__ADS_3

***


Napas pria bermanik mata legam itu tersengal-sengal tubuhnya gemetar. Kedua matanya menatap kosong lurus ke depan.


Mommyyyy!" teriak anak perempuan berpipi bulat itu. Dia berada di dalam dekapan pria tersebut. Bercak darah terpampang jelas di seluruh tubuhnya. Berulang kali ia memanggil ibunya, dengan deraian air mata yang tak berhenti mengalir di kedua pipi.


Suara derap langkah kaki mendekat. Lima orang pria bersetelan jas berwarna hitam, menodongkan pistol berlaras pendek pada pria tersebut.


"Jangan bergerak!" sahut pria bertubuh tinggi besar, sebagai pemimpin, dia membidik tepat di kepala pria di hadapannya.


"Daddyyyyyy!" teriak seorang pria tiba-tiba, yang baru saja memasuki taman mansion.


Fabio sedari tadi menatap dingin pada pria yang menggendong anak perempuan, segera mengalihkan indera penglihatannya pada sumber suara.


Deg.


"Ada apa Max?" tanya Fabio dengan suara gemetar, dia terkejut melihat penampilan Maximus di sekujur tubuhnya berlumuran darah, dan pelipis anaknya seperti terbentur.


Maximus menghampiri ayahnya.


"Daddyy..." ucapnya lirih, air mata mengenang di sudut netranya.


"Ada apa, cepat jawab!?'" tanya Fabio nyaring, sambil mengguncang tubuh anaknya. Bukankah tadi Maximus ditugaskan mengikuti Jonathan untuk menjemput Belle dan Benjamin.


"Tuan Joooo.. Dad, Nyonya muda... merekaa..." ucap Maximus lirih. Kedua maniknya memerah, terdapat bercak darah yang masuk ke dalam bola matanya. Dia menatap sendu pada Fabio. Dia tak mampu melanjutkan perkataannya lagi.


Lily yang berada di ujung sana tertegun sejenak, kemudian dia berlari cepat ke arah Maximus. Leon pun dengan sigap mengikuti pergerakan Lily, dia mengekori dari belakang.


"Max, ada apa? Daddy, Belle sama Benjamin di mana? Kenapa Darla berdarah?" tanya Lily beruntun, dia sangat cemas, sembari mengguncang tubuh Maximus.


Maximus tak membalas perkataan Lily, dia menurunkan tubuhnya perlahan ke bawah dan menumpu kedua lututnya di atas rumput.


"Maafkan aku Nyonya!" raung Maximus dengan histeris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Warning!


Jangan di tiru!


Flashback.


"Lihat bannya sudah selesai ku ganti," ucap Benjamin pada Belle. Wanita berparas menawan itu menyeka keringat di dahi suaminya.


"Iya, aku tahu sayang. Kau yang terbaik!" seru Belle sambil mengecup singkat pipi suaminya.


"Jangan menggodaku sayang, ayo cepat. Lily pasti sudah panik karena kita belum juga sampai." Benjamin terkekeh pelan sambil menuntun istrinya untuk masuk ke dalam mobil.


"Mommy, Dala lagi buatin kado untuk Onty Lily," ucap Darla saat melihat ibu dan ayahnya.


"Benarkah?" tanya Belle sambil mendudukkan perlahan Darla di pangkuannya.


Darla menyodorkan sebuket bunga kertas yang baru saja dia buat, saat menunggu kedua orang tuanya mengganti ban di belakang.


"Wow, bagus sekali." Puji Belle.


"Baguskan Daddy?" tanya Darla sambil menoleh ke samping.


"Iya, baby. Bagus sekali, sepertinya Daddy akan menjadi pelanggan pertama Darla nanti," kelakar Benjamin sambil mengelus pipi bulat anaknya. Ketiganya terkekeh sejenak.


Benjamin segera mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan. Sebab baginya keselamatan yang paling terpenting, terlebih lagi kehadiran istri dan anaknya, bersama dengan dirinya sekarang.


Titt... titt... titttt. tittt... titttt.


Terdengar suara klakson di belakang mobil mereka. Benjamin memberikan kode untuk menyuruh si pengemudi agar mendahului mobilnya. Ia mengernyitkan dahi, saat mobil itu seperti ingin mendekati kendaraannya.


"Ada apa?" tanya Belle, yang mendengar juga suara klakson tersebut.


"Tidak tahu sayang, padahal sudah ku suruh untuk ke depan." Benjamin melirik sekilas.


BRAK.


Tiba-tiba terdengar hantaman keras di belakang mobil Benjamin.


"Apakah orang itu gila?!" pekik Benjamin, dia mulai tersulut emosi.


Belle mulai cemas dan mendekap erat putrinya.


BRAK.


Sekali lagi, hantaman terdengar.


"Mom, ada apa?" tanya Darla bingung tubuh kecilnya terguncang.


"Ben cepat lajukan mobilmu!" pinta Belle nyaring, dia tak membalas perkataan putrinya.


Benjamin menuruti perintah istrinya, dia mengemudikan mobil di atas kecepatan rata-rata. Kendaraan di belakang juga ikut melajukan mobilnya.


Suara deruan mobil, terdengar di jalan raya. Suasana di jalanan tidak ramai ataupun tidak sepi. Benjamin tampak heran dengan si pengemudi di belakang, apa motifnya.


"Crazy!" teriak Benjamin sambil memukul setir mobil. Saat mobil di belakang mengikuti pergerakan kendaraannya.


"Ben, belok kiri!" teriak Belle sambil menepuk cepat pundak Ben.


Benjamin menurut, dia memutar setir ke kiri. Jalanan yang mereka lalui sekarang hanya satu ruas saja dan sempit, di sisi kanan dan kiri terdapat rumput ilalang yang memanjang. Kedua suami istri tersebut sangat asing dengan jalan yang mereka lalui sekarang.


Mobil di belakang masih mengikuti mereka, kaca kendaraan tersebut sangat gelap, sehingga menyulitkan Benjamin untuk menelisik si pengemudi gila itu.

__ADS_1


Belle panik, dia mengambil cepat ponsel di dalam tas. Dia menelpon Lily tapi anehnya tidak ada jaringan sama sekali. Wanita bermanik mata coklat itu tampak heran padahal beberapa menit yang lalu jaringan masih ada. Dia pun mencoba menghubungi keluarganya yang lain, namun sia-sia karena memang tidak bisa tersambung.


"Nyonya!" teriak seorang pria dari samping mobil, dia menggunakan motor besar.


"Max! Ada orang gila di belakang!" teriak Belle sambil membuka kaca mobil.


"Mom!" teriak Darla lagi, dia benar-benar bingung dengan situasi saat ini.


"Aku tahu Nyonya, tenanglah Tuan Jo akan..."


Dor.


Suara tembakan mengarah tepat pada kendaraan roda dua milik Maximus, menyebabkan dia jatuh tersungkur di jalanan aspal tersebut.


"Max!! Oh My God!" pekik Belle, saat melihat Maximus terjatuh dan tertinggal di belakangnya. Dia segera menutup kembali kaca mobil.


Benjamin pun terkejut dengan serangan tersebut, dia meningkatkan kembali batas kecepatan dari sebelumnya. Mobil tersebut sangat laju membelah jalanan kecil tersebut. Alhasil mobil di belakang pun tertinggal.


Benjamin dan Belle bernapas sedikit lega. Pria berparas lokal tersebut berusaha menghentikan mobilnya sejenak. Namun dia kebingungan, kenapa pedal rem tidak berfungsi sama sekali. Berkali-kali dia menekan pedal tersebut.


"Ada apa?" tanya Belle melihat gelagat suaminya.


"Remnya blong!" teriak Benjamin frustasi, dia menghela napas dengan berat.


Belle membelalakan kedua matanya, mendengar penuturan Benjamin.


"Kita loncat saja sayang," tutur Benjamin sebab itu jalan satu-satunya, walaupun akan terluka pula.


Belle mengangguk setuju. Dengan cepat dia membuka pintu mobil, namun pintu tersebut tak dapat di buka sama sekali. Kaca mobil pun tak dapat di buka. Keduanya tampak mengerutkan dahi.


Mata elang Belle menangkap cahaya lampu kendaraan roda empat dari depan.


"Ben, ada mobil di depan! Berhenti!"


"Tidak bisa!" Benjamin mengklakson berkali-kali, memberikan kode pada si pengemudi untuk berhenti. Namun mobil di depan tak mengindahkan suara tersebut.


"Belok ke samping Ben!" Air mata menggenang di kedua pipinya.


Benjamin memutar setir ke samping namun anehnya mobil tak dapat dikendalikan.


"Ben, cepat berhenti!" teriak Belle, matanya basah. "Ben!!!" Dia menatap suaminya lekat. Benjamin melakukan hal yang serupa, dia tak tega melihat pujaan hatinya itu, yang terlihat menangis tersedu-sedu. Mereka saling pandang satu sama lain.


"Mommy, Daallla takut!!" jerit Darla, sebab dia dapat merasakan kecepatan mobil melebihi ambang batas. Belle memindahkan anaknya dengan cepat di kursi tengah.


Terlihat Benjamin mengambil cepat tangannya istrinya, dan menautkan tangan mereka.


"Aku mencintaimu Belle," ucap Benjamin pelan namun dapat di dengar Belle. Dia mengecup singkat kening istrinya.


"Aku juga mencintai..."


Kendaraan yang di tumpangi Belle dan Benjamin hancur seketika pada bagian depan mobil.


"Mommyyy!" teriak Darla di kursi tengah mobi. Ternyata bocah tersebut, tak terluka sedikitpun. Dia menyusup masuk pada bagian tengah kursi depan, untuk menelisik keberadaan kedua orangtuanya.


"Mommy!" panggilnya sambil menepuk pipi Belle yang tampak bersimbah darah.


Dengan sisa tenaganya, Belle membuka perlahan kedua matanya. "Darla, jadi an....akkk ba... ikkk ya. Mo.. mmy sa...ma... Dad...dy m...au ke s... ur... g....... a..." ucapnya terbata-bata sambil darah menyembur dari mulutnya.


"Sulga? Dalla ikut ya Mom."


Belle menggeleng perlahan dan menghembuskan napas terakhirnya, sembari kedua matanya menutup.


"Mommy bangun! Bangun Dalla pengen ikut ke sulga! Mommyyyyyy!" jeritnya, dia tak mengerti.


"Mommmyyyy! Dallaaaa mau ikut!" pekiknya lagi sambil menangis. Karena tidak di ajak ke surga, pikirnya.


Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekat.


"Darla!" panggil seseorang.


Lantas bocah itu menoleh ke sumber suara.


"Opa!" pekiknya. "Opa, Mommy dan Daddy ke sulga!"


Jonathan menatap sendu pada cucunya, dia menangis dalam diam. Beberapa menit sebelumnya dia di ancam Pablo, bahwa teman lamanya itu akan melenyapkan salah satu putrinya. Dengan sigap ia melacak keberadaan anaknya, namun ternyata sudah terlambat.


"Darla, ayo cepat keluar!" perintah Jonathan dengan suara yang gemetar. Ekor matanya melihat bahan bakar menetes dari mobil tersebut.


"Ayo!" ajak Jonathan sambil mengambil Darla melalui kaca mobil yang sudah retak, dia mendekap cucunya erat.


Jleb, dari arah belakang seseorang menancapkan benda tajam pada punggungnya.


Jonathan membelalakan kedua matanya dan meringis kesakitan. Sembari melepaskan pelan tubuh Darla dari dekapannya. "Darla, lari!" perintah Jonathan.


Bocah tersebut menurut dan belari menjauh dari kakeknya.


Dengan cepat Jonathan, memutar tubuh.


Jleb....


Sekali lagi tancapan tepat di perut sebelah kanannya.


"Arnold!!" teriak Jonathan saat melihat siapa yang menusuknya.


"Hahaha, bagaimana rasanya, sakit tidak?" tanya Arnold sambil melototkan kedua matanya dan menatap tajam. Kembali dia menghujam kembali.


Jonathan merosot ke bawah, dia terbatuk-batuk sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Apa mau mu Arnold?" tanya Jonathan dengan darah menyembur keluar.


"Membayar apa yang telah kau perbuat dahulu!" teriak Arnold dengan aura yang menakutkan. Dia menendang tubuh Jonathan, hingga pria paruh baya itu terlentang di jalan raya. Arnold menekan perut Jonathan dengan kuat.


"Apa maksud mu?" Jonathan menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


"Hahahahahaaaa, kau lupaaaaaaa ha! Kau tak ingat dengan perbuatan mu dulu!"


Jonathan tak menjawab, seingatnya Arnold anak yatim piatu, dia tampak heran dengan perkataan mantan menantunya itu.


"Baiklah, biar lah ku perjelas. Kateryn!" teriaknya dengan napas memburu.


Deg.


"Dia ibuku!" teriak Arnold dengan sangat nyaring.


Jonathan tampak kebingungan.


"Cih, kau memang biadab! Benar kata pamanku! Kau memang bajingan yang menyakiti ibuku!"


Jonathan baru menyadari sesuatu. "Kau salah paham," ucapnya pelan.


"Salah paham kau bilang!!!" raungnya dengan nyaring. Napasnya memburu dia menyeret paksa tubuh Jonathan menuju mobilnya. Dia mengambil rantai di belakang mobil dan mengikat cepat kaki Jonathan. Kemudian ia mengaitkan rantai tersebut di belakang mobilnya.


Pria bertubuh kekar itu masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobil dengan pelan.


Sementara itu, Jonathan yang berada di belakang sudah pasrah. Dia menatap ke atas langit-langit, bulan malam ini sangat terang di penglihatannya.


"Maaf...kan ham...ba..mu..han... ya..se..orang... pendo...sa... ya...ng... ing...in bertob..at...Tuh... an..." lirihnya tak mampu.


Memori bersama keluarganya terlintas di benaknya, awal pertemuannya pada Anastasya. Kelahiran pertama putri sulungnya dan kelahiran putri bungsunya. Suara tawa istrinya tercintanya, suara tawa putrinya. Ingatan kebersamaan dengan keluarganya terekam sangat jelas. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Dia mengabaikan rasa sakit yang mengikis kulit belakangnya.


"Istrii....k...u a... na..k.... ku, ak..u m..encin.. tai.... ka... li.. an.." ucapnya lirih sambil menutup mata perlahan.


Darah segar terukir di tengah jalanan, rumput-rumput ilalang bergoyang pelan seirama dengan kejadian yang terpampang di jalanan sepi tersebut. Suara jangkrik di sisi kanan dan kiri bersahut-sahut, seperti sedang berbicara satu sama lain. Tak ada lagi, suara rintihan keluar dari bibir paruh baya itu.


Arnold yang berada di dalam mobil tertawa nyaring.


"Hahahahha, mati kau matiii!" Arnold tertawa puas, dia sangat menikmati apa yang di lakukannya.


***


Di ujung sana Darla kecil tampak kebingungan gelapnya malam membuatnya ketakutan.


BOMMMMM.


Terdengar bunyi ledakan.


Lantas Darla terkejut sehingga menyebabkan ia jatuh terduduk di jalanan.


"Mommy!!!" teriak Darla saat melihat kepulan api dan besar menyambar habis kendaraan milik kedua orangtuanya. Tanpa terasa buliran air mata mengalir di pipinya. Dia tidak mengerti dengan dirinya, yang tiba-tiba menangis kembali.


Darla bangkit berdiri dengan tergopoh-gopoh. Dia ingin berlari menuju mobil tersebut. Namun pergerakannya di tahan, oleh seorang pria yang muncul tiba-tiba di balik rumput ilalang.


"Siapa?" tanya Darla kebingungan sambil mendongakkan wajah ke atas.


"Ayo, ikut Om ya," ucapnya dengan menggendong Darla.


"Ngak mau, Dalla mau ikut Mommy ke sulga."


"Iya nanti kita ketemu Mommy ya," ucap nya lagi memberikan pengertian.


****


"Hahaha!" Arnold masih tertawa nyaring, namun tiba-tiba ekornya mata melihat cahaya lampu mobil yang berada di rumput ilalang, melaju kencang ke samping mobilnya.


BRAKKKK.


"Damn!" umpat Arnold. Terlihat pintu mobilnya penyok ke dalam membuat tubuhnya terkena hantaman. Dia pun membuka paksa pintu dengan menendang kuat.


"Keluar kau!" jerit Arnold saat sudah berada di luar.


Orang yang berada di dalam mobil menyembul keluar.


"Breslinnnnnnnnnnn!" raung Arnold saat melihat si pelaku, dia mengetatkan rahangnya. "Kau ingin mati ha!"


Breslin tak menyahut dengan cepat ia berjalan dan menghantam tubuh Arnold dengan kayu secara kuat. Membuat Arnold mengaduh kesakitan, ia tersungkur di jalan.


"Om jangan pukul kata Mommy! Ngak boyeh!" sela Darla, dia keluar dengan lincah dari dalam mobil.


Breslin menghentikan pergerakan, namun tak membalas perkataan bocah tersebut. Pria bermanik warna hitam iu melempar asal kayu yang di pegangnya. Dia tersadar dengan tujuannya ingin membantu Jonathan. Kedua tungkai kakinya berlari cepat mendekati pria paruh yang telah bersimbah darah tersebut.


"Tuan, Tuan!" panggil Breslin sambil duduk berjongkok, dia mengguncang tubuh Jonathan. Dia melepaskan dengan cepat ikatan rantai di kaki pria tersebut. Breslin memeriksa denyut nadi Jonathan yang terasa melemah.


Sedangkan Arnold menatap sinis pergerakan Breslin, dia menggunakan kesempatannya untuk masuk kembali ke dalam mobil. Dia melesat laju meninggalkan ketiga manusia itu.


Breslin tak mau ambil pusing, fokus utamanya adalah membawa Jonathan dan Darla ke rumah sakit. Dia sudah muak dengan tingkah atasannya yang gila dan seperti iblis. Sisi kemanusiaannya tak dapat mentolerir perbuatan Arnold. Breslin memapah perlahan Jonathan masuk ke dalam kendaraannya. Dia menyuruh Darla untuk masuk juga.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2