Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 81. Pablo Ketar Ketir


__ADS_3

***


Bledar.


Suara ledakan kembali terdengar di jalanan pusat Kota.


"Honey, kau benar-benar pintar dalam melempar granat!" puji Loen seraya mengulum senyum, sebab mobil di belakang sudah tak tersisa lagi termasuk satu mobil polisi hancur lebur.


"Tentu saja! Aku kan anaknya Jonathan Marques!" seru Lily merasa bangga dengan tindakan ekstrimnya. Dia teringat mendiang ayahnya. Rasa rindu tiba-tiba menjalar di relung hatinya.


"Dia pasti bangga pada mu!" Leon berusaha menghibur, ketika melihat perubahan raut wajah kekasihnya yang sendu. "Aku akan selalu bersama mu Honey!" ucapnya lagi membuat Lily tersenyum simpul.


"Terimakasih, Honey!" seru Lily dengan melirik tambatan hatinya. Merasa di perhatikan Leon menoleh ke samping dan menatap Lily begitu intens. Kini mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku mencintai mu, sangat mencintai mu! Kau milik ku!" ucap Leon tegas kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.


"Aku lebih mencintai mu, jangan pernah pergi dari sisi ku Leon!" balas Lily cepat.


"Never!" pungkas Leon. Kemudian dia menekan benda kecil yang berada di telinganya. "Lex, bagaimana situasi di sana?"


......................


Club Paradise.


Lantai 40.


Tampak kepulan asap memenuhi ruangan VIP Luxury. Di dalam bilik luas nan mewah terdapat empat manusia sedang menikmati pemandangan menarik di depan mata mereka. Seorang wanita malam berpakaian sangat terbuka melenggakan lengokkan tubuhnya mengikuti irama musik. Dia hanya mengenakan penutup kain berbentuk segitiga di bawah pusatnya, selebihnya tidak ada.


Dia menari-nari di tiang pole dancer dengan begitu luwes, sambil melemparkan senyuman nakal pada salah satu pria tua, yang memiliki tato laba-laba di wajahnya.

__ADS_1


"Kemarilah!" seru Pablo seraya tersenyum penuh arti.


Wanita malam itu menurut dan menghampiri Pablo.


"Puaskan aku!" Pablo mere_mas bu_kit wanita itu dengan kuat membuat dia mend_e_sah pelan.


"Sesuai permintaan mu Mister!" jawabnya sambil berjongkok dan membuka cepat retsleting celana Pablo. Kemudian dia memasukkan buy_ung milik pria itu ke dalam mulutnya dan memijat cepat dengan lidahnya.


"Don't stop!" pinta Pablo seraya mencengkram rambut wanita malam itu.


Suara ketukan pintu mengusik kegiatan Pablo, namun dia enggan memberikan perintah untuk berhenti.


"Uncle!" seloroh Arnold yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Sorot matanya gelisah dan panik.


"Ada apa?" tanya Pablo tanpa menatap lawan bicaranya.


"Ckkk, Leon mengambil semua narkoba di ruang bawah tanah Victoria!" seru Arnold cepat.


"Apa kata mu?! Bedebah itu membawa narkoba ku ha?!!!" tanya Pablo pada Arnold setelah melihat semua orang telah keluar dari dalam ruangan.


"Iya, semuanya di ambil tanpa tersisa! Club juga di datangi polisi. Mereka sebentar lagi akan tahu siapa pemilik tempat club!! Swedish tengah mengejar Leon!"


"Bedebahhhhhh! Akan ku bunuh kau Leon!" Pablo melempar gelas kaca ke sembrang arah. Sorot matanya tajam dan menyala. "Aku akan mengambil semua milik mu!" ucap Pablo dengan seringai licik.


Suara getaran ponsel terdengar, secepat kilat Pablo mengangkat benda pipih, tertera nama anak buahnya di layar itu.


"Hallo!"


Bagaimana Pablo? Barang haram mu di dalam genggaman tangan ku! sahut Leon di sebrang sana.

__ADS_1


Pablo semakin mengetatkan rahangnya. "Apa mau kau, bedebahhh?!"


"Bebaskan Darla dan Lunna sekarang! Jangan kau ulur waktu terus! Jika kau berbohong, maka narkoba mu akan ku bakar!"


"Kauuuuuuuuu! Jangan mengatur ku bajingan!"


Sayangnya aku yang di sini menjadi pemimpin di dalam permainan mu!!


"Bedebah!!!!!" Pablo mendorong meja di depannya.


Leon terkekeh pelan di ujung sana mendengar kemarahan Pablo. 'Kita bertemu di Saint Clara!' pungkas Leon memutus panggilan sepihak.


"Bajingannnnnnnn!!!!!!!" teriak Pablo sambil melempar ponselnya ke lantai hingga retak.


"Uncl-"


"Diam kauuuu!" Pablo memutus ucapan Arnold. Napasnya memburu, menahan gejolak amarah di dalam hatinya. Detik kemudian sudut bibirnya naik sedikit. Dia menyeringai licik. Sorot matanya tajam dan dingin.


"Haha!!!"


Seketika Pablo tertawa keras memenuhi seisi penjuru ruangan.


Arnold bergedik ngeri mendengar suara tawa pamannya seperti iblis yang akan menjemput seseorang.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2