Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 101. Dewa Zeus - Dewa Hades


__ADS_3

***


Tampak sekumpulan orang berada di ruang tunggu, sejenak mereka saling berbincang-bincang, menyapa dan berkeluh kesah.


"Apakah kalian tidak mengantuk?" tanya Elizabet, pada kelima bocah yang duduk di sampingnya. Ia melirik arloji yang bertengker di pergelangan tangan.


"Tidak Grandma!" sahut Lunna, Darla, Nickolas dan Samuel bersamaan tanpa sadar. Mereka segera menatap satu sama lain.


Kemudian terkikik, dengan gelagatnya.


Sementara, Kendrick hanya terdiam. Ia melirik daun pintu ruang VIP Leon. Sedari tadi, dia menunggu Mommynya untuk keluar dari dalam kamar. Namun sudah kurang lebih lima belas menitnya, yang di tunggu tak muncul jua.


Elizabet menaikkan sudut bibirnya, melihat tingkah keempat bocah kecil itu. Namun ekor matanya melihat Kendrick di ujung kursi, tengah menatap ke arah lain. Ia pun mengikuti arah mata bocah laki-laki itu.


"Manisnya, dingin tapi perduli, sama seperti Leon dulu."


Wanita paruh baya itu, mempunyai intuisi yang kuat mengenai perasaan seseorang. Ya, Elizabet tengah memindai masing-masing, sifat dan karakter calon cucunya. Ia bersyukur Leon memilih wanita sesuai dengan idamannya. Walaupun dia seorang janda.


Elizabet tak peduli, yang terpenting Leon bahagia. Ia tak ingin egois lagi.


"Ken," panggil Elizabet, mengusik aktivitas Kendrick.


Yang di panggil pun menoleh."Iya," sahutnya.


"Bersabarlah, sebentar lagi akan keluar," ucap Anastasya menenangkan.


Kendrick mengangguk.


"Sabarlah Ken, calon Daddy mu itu kuat seperti Dewa Hades!" seru Marimar menimpali. Sedari tadi, dia sibuk celingak-celinguk melihat sekitaran rumah sakit, yang menurutnya sangat besar dan bersih. Di tambah lagi banyak perawat tampan lalu lalang, seketika kedua matanya ngejreng.


"Hehhhh, itu Dewa jahat bodohhh! Yang benar itu Dewa Zeus!" protes Maximus cepat, sebab ia teringat dengan film yang ia tonton di laptop tempo lalu. Film dewa yunani bertempur satu sama lain.


"Ishhhh, biasa aja kali! Ngak usah ngegas!" Marimar memutar bola mata malasnya.


Maximus melebarkan mata. Hendak menerkam mangsa di hadapannya.


"Sudah, sudah. Bisa kah kalian diam. Di sini rumah sakit!" Lerai Samuel melihat perdebatan Marimar dan Maximus akan berkepanjangan seperti rel kereta api.


Keduanya memalingkan wajah dan berdecak kesal di dalam hati.


"Maafkan mereka Grandma," ucap Nickolas, saat tak sengaja bersitatap dengan Elizabet.


Elizabet terkekeh pelan. "Tidak apa-apa, dear."


"Grandma, Mommy kok lama di dalam ya?" Lunna beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Elizabet.


"Bentar lagi keluar, dear." Ia mengangkat tubuh tembam Lunna sembari mendudukkan di pangkuannya. "Duhh, cucu Grandma tambah embem ya." Ia mengajak Lunna bercanda, agar cucunya tidak bosan.


"Hihi, Lunna endut," ucap Darla menimpali obrolan, ia tengah menikmati es krim kesayangannya.


"Ishhh, Dalaaa! Lunna tidak endut tau, Grandma Lunna tidak endut!!!" Lunna mengerucutkan bibir seraya melipat tangan dada. Ia bersungut-sungut kecil.


"Grandma, bercanda dear. Jangan cemberut, nanti cantiknya hilang!" Elizabet menghibur cucu, ia mengelus rambut panjang Lunna.


.


.


Nampak dua orang pria bertubuh kekar masuk ke dalam lorong VIP rumah sakit. Satu orang pria membawa anjing mini pom yang telah di perban di sebagian tubuhnya.


Ia mengelus bulu hewan mungil berkaki empat itu. Anjing berwarna kuning redup itu, tengah meringkuk di lengannya.


"Enak sekali dia tidur!" seru Lexi, ia melirik sekilas.


Darla merengek meminta pada Lily, ia mau membawa Hiro pulang ke Indonesia nantinya, agar ia tak merasa kesepian. Lily pun menuruti permintaan keponakanya itu.


Kedua pria tinggi itu di tugaskan Lily untuk mengambil Hiro yang berada di rumah sakit hewan dan meminta paksa kepada Mozzy, si Tuan Hiro, untuk menjual Hiro kepada mereka.


Setelah mendengar alasan dari Breslin dan Lexi, Mozzy dengan berat hati melepaskan Hiro, anjing kesayangannya tanpa iming-iming dollar.


Dia ikhlas asalkan, Hiro diberikan kasih sayang. Pria itu berharap Darla tak akan kesepian dengan kehadiran Hiro.

__ADS_1


Breslin mengulum senyum. "Kau benar, sementara kita!" ucapannya menggantung.


Keduanya terkekeh pelan. Mengingat kejadian yang berlangsung beberapa jam lalu.


Terdengar suara getaran gawai milik Lexi di saku celananya. Ayunan kakinya terhenti, ia mengambil benda pipih itu dan menepikan tubuhnya agar tak menghalangi jalan.


Breslin pun melakukan hal yang serupa.


"Hallo, Rey. Ada apa?" tanya Lexi tanpa basa-basi.


...........


"Damn!" umpatnya. Tangannya mengepal sempurna, menahan geram.


Breslin mengerutkan dahi.


.


.


.


"Hiroo!" seru Darla sembari beranjak dari tempat duduk melihat anjing itu berada di tangan Breslin. Ia melompat kegirangan.


"Dia masih tidur, Darla," ucap Breslin pelan.


Darla mengangguk. "Aku juga ingin di gendong, Eslin!"


"Eslin?" Breslin mengerutkan dahi. Kenapa nama panggilan Darla padanya berubah, semula 'Om Lilin" sekarang Eslin.


Ah dia tak mau ambil pusing....


"Aku panggil Eslin, tidak apa-apa kan. Lebih bagus?" tanya Darla di iringi kekehannya.


Breslin mengangguk paham, ia segera menggendong Darla di tangan kirinya.


"Modusss! batin Lunna geli melihat pemandangan di depan. Sebab ia tahu Darla menyukai Breslin, membayangkan saja membuatnya mual.


Lain halnya dengan orang dewasa yang berada di situ dan si Kembar malah terkikik melihat tingkah Darla seperti ulat bulu tak bisa diam.


.


.


.


"Leon, kenapa kau keluar?!" Elizabet membelalakan mata melihat Leon di papah Lily. Ia sangat terkejut mengapa putranya, tak beristirahat dahulu. Walaupun luka yang di dapatkan Leon tak cukup parah.


Leon tak membalas pertanyaan Mommynya, ia malah menatap Lexi dan Breslin bergantian. Seakan berbicara melalui kontak batin.


"Mom, ada yang mau ku bicarakan," ucap Lily pelan menatap dalam.


Elizabet tertegun.


Menatap lekat bola mata calon menantunya, tengah menyembunyikan kecemasan.


Ia menghela nafas.


.


.


.


"Mom, Pablo melarikan diri. Saat ini polisi tengah mengejarnya, dia berniat pergi ke suatu tempat menggunakan pesawar. Leon bersikeras untuk...."


"Cukup!" sela Elizabet, ia mengerti dengan jalan pikiran anaknya. "Kalian cepatlah pergi, selesaikan semua masalah ini. Aku tidak mau masalah ini, berimbas pada cucu-cucu kelak!" Elizabet tersulut emosi, mengingat cerita dari Leon ketika mereka di gedung Ninety Tower. Pablo lah di balik dalang kematian putri kandungnya.


"Titipkan saja Darla, Lunna, dan si Kembar pada ku," ucapnya sembari mengelus pelan pipi.


Lily mengulas senyum. "Thank's Mom." Memeluk sejenak wanita paruh baya itu.

__ADS_1


.


.


.


"Yellowww, kau dari mana saja?!" bentak Lily di telepon, saat ini ia berada di dalam mobil bersama Leon, Lexi dan Breslin.


"Sorry Lily, aku harus kabur. FBI melihat pesawat ilegal ku. Aku takut mereka akan mengambil paksa," ucap Yellow cemas, di sebrang sana.


Lily menghela nafas pelan, mengerti dengan tindakan temannya.


"Ah sudahlah, apakah kau mempunyai pesawat tempur yang legal. Kau sudah melihat berita kan?"


"Hmmm, sudah. Jangan bilang kau ingin mengejarnya." Tebak Yellow.


"Tepat sasaran! Boleh kan aku meminjam?" Lily terkekeh.


"Cihhh, tidak gratis. Itu pesawat kesayangan ku. Sewa satu ja-"


"Iya, iya aku mengerti nominalnya! Cepat siapkan. Dasar teman lucknut!" Lily memutar bola matanya.


**


"Darla, Lunna!!!!!" teriak Elizabet, di depan toko es krim. Ia celingak-celinguk mencari kendaraannya.


Nihil.


"Kemanaaa mobil ku?!" sungutnya sembari memegang paperbag belanjannya.


"Ya ampun ke mana mereka, tunggu dulu." Ia merogoh tas dan menyambar ponselnya.


"Mengapa nomor supir ku tidak aktif." Dahinya berkerut.


Rasa cemas menjalar di benaknya.


Gundah gulana.


Kemudian dia mengusap layar lcd lagi, mencari kontak seseorang. Ia teringat sesuatu.


"Oh My God, aku lupa meminta nomor handphone Marimar atau Maximus," desisnya frustrasi.


"Si_al!" sungutnya dengan menghentak-hentakkan kaki.


"Ke mana si mereka, aduhhh. Jangan-jangan!" Kedua matanya terbelalak menebak jika kelima bocah dan dua pria dewasa itu menguntit Leon dan Lily.


Jangan lupakan Hiro jua berada di dalam mobilnya.


Pembicaraan terakhir mereka sebelum, Lunna merengek padanya minta di belikan es krim.


Adalah..


Seputar breaking news di saluran televisi yang terpampang di sepanjang perjalanan.


Berita hangat Pablo melarikan diri dari penjara. Mereka berdebat sangat panjang, hingga telinga Elizabet terasa panas.


Ia tertegun, dan bergedik ngeri mendengarkan obrolan si Kembar, yang mengatakan Pablo seperti Dewa Hades, Dewa Yunani Kuno.


Dewa yang paling jahat dan berjiwa seperti iblis.


Jadi, seharusnya iblis harus di musnahkan.


Begitulah, perbincangan mereka tadi.


Entah, ia harus merasa senang karena calon cucunya ber IQ tinggi, atau harus takut sebab pola pikir mereka seperti seorang psikopat.


Seketika bulu kuduknya berdiri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2