Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 48. Penemuan Mayat


__ADS_3

***


Fabio tak menyahut perkataan Maximus, dia masih berdiri di hadapan anaknya itu sembari menjewer telinganya dengan kuat.


"Dad sakit," ucap Maximus dengan pelan sembari menunjukkan raut wajah memelasnya itu.


Melihat raut wajah Maximus, Fabio segera melepaskan tangannya dengan cepat. Dia mendengus kesal dan segera duduk di bangku berhadapan dengan Maximus.


Maximus mengusap dengan pelan telinganya, yang sudah tampak memerah. Dia memanyunkan bibir dengan sangat tajam.


"Dad, kau sungguh kejam kepada anakmu yang tampan ini." Maximus mengangkat dagunya sedikit.


Fabio menggelengkan kepala dengan pelan. "Ck, kau!" Dia mengangkat satu tangan ingin menoyor kening Maximus. Namun Maximus dengan sigap menghindari serangan mendadak dari ayahnya tersebut.


"Ampun Dad, aku cuma bercanda."


Fabio mengatur ritme pernapasan berusaha menenangkan kekesalan di dalam hatinya. Jika berhadapan dengan Maximus selalu saja membuat dirinya naik darah.


"Ada apa Dad, menyuruhku datang kemari?" tanya Maximus secara tiba-tiba.


"Bagaimana perkembangan Arnold?" Fabio sudah terlihat tenang, seraya menatap kedua mata Maximus.


"Dia masih di dalam mansion Dad, tidak ada pergerakan darinya sama sekali. Pengawal yang di perkerjakan oleh Arnold, sepertinya bukan orang sembarangan Dad," jelas Maximus dengan raut wajah serius.


Fabio membuang napas dengan pelan. "Pantau terus pergerakan Arnold, sebentar lagi perusahaan akan melakukan audit. Jangan sampai lengah," tutur Fabio berusaha memperingati Maximus untuk tidak gagal dalam menjalankan tugas.


Maximus menganggukkan kepala dengan pelan.


***


Tempat Pembuangan Sampah Bantar.


Tampak seorang pemuda bertubuh jangkung, sedang mengais rezeki dengan memisahkan sampah yang menumpuk di depan matanya. Terlihat peluh keringat sudah membasahi tubuh kurusnya itu, namun tetap tak membuat dia menghentikan aktivitasnya. Pemuda itu sedang bernyanyi ria sembari mengambil sampah. Kedua tangannya tak berhenti memilah-milah sampah tersebut.


Pacar ku memang dekat


Lima langkah dari rumah


Tak perlu kirim surat


Sms juga gak usah


Kalau rindu bertemu


Tinggal nongol depan pintu


Tangan tinggal melambai


Sambil bilang halo sayang


"Sayang!" Sentak seseorang dari belakang tubuh pemuda itu.

__ADS_1


"Eh, sayang, sayang, sayang, sa_." Pemuda bertubuh jangkung itu latah.


"Kau mengejutkan ku!" serunya sambil memutar tubuhnya ke belakang.


Pemuda bertubuh tambun itu, malah tertawa dengan keras.


"Ck, ada apa?" tanya pemuda bertubuh jangkung.


"Aku mau mengajakmu sebentar, membersihkan sampah di sana." Tunjuknya ke arah area yang lumayan jauh dari tempat mereka berada sekarang.


Pemuda bertubuh jangkung itu pun, mengiyakan ajakan temannya. Mereka segera bergegas ke tempat tujuan. Sesampainya di sana, mereka bergerak dengan cepat memilah-milah sampah yang sudah terlihat menggunung di depan mata.


"Bro, kau mencium sesuatu ngak?" tanya pemuda bertubuh jangkung, dia sangat asing dengan bau yang menyengat di indera penciumannya seraya menutup hidung.


"Iya, bro. Bau sampah kok nyengat banget. Ya udah yuk, kita gerak cepat. Biar cepat selesai," ajak pemuda bertubuh tambun.


Kedua pemuda itu pun melanjutkan aktivitas mereka.


"Apaan ini?" tanya pemuda tubuh jangkung saat membuka tumpukan kardus yang di dalamnya berisi sebuah kantong yang sangat besar. Dia menutup mulutnya dengan erat.


"Hoek!" Pemuda bertubuh tambun, mengeluarkan makanan yang berada di lambungnya secara tiba-tiba. Bau itu sangat menusuk indera penciumannya.


"Aku tak sanggup bro, kau saja yang membersihkan," pinta pemuda bertubuh tambun itu.


Pemuda bertubuh jangkung dengan cepat membuka kantong plastik. Seketika kedua matanya terbelalak."Haaaaaaaaaaaa!" teriak pemuda itu sembari berlari dengan lincah, menjauh dari tempat tersebut.


Mendengar teriakan temannya, pemuda bertubuh tambun sontak terkejut dan kebingungan saat melihat temannya yang sedang memeriksa isi di dalam kantong, sudah berlari dengan sangat cepat meninggalkannya seorang diri.


Kedua matanya juga berekspresi sama, saat melihat sesuatu yang mengerikan di dalam kantong, dia segera berlari mengikuti temannya dari belakang seraya memanggil nama ibunya.


"Ambuuuuuuuuu! Ada mayattttttt!" teriaknya dengan sangat nyaring.


**


Sementara itu, Leon dan Lily beserta keempat buah hatinya sudah pulang dari taman kota. Saat ini, mereka sedang bercengkrama di taman mansion milik Leon.


"Honey kau lihat mereka lucu sekali," ucap Lily seraya tersenyum ke depan melihat keempat bocah kecil sedang berlari-larian di sekitar taman.


"Iya Honey, nanti kita harus membuat anak banyak-banyak ya," tutur Leon tersenyum kepada Lily.


"Kau ini, empat sudah cukup Leon," protes Lily dengan matanya melebar.


Leon terkekeh pelan melihat raut wajah kekasihnya itu. "Kenapa? Banyak anak kan, banyak rezeki."


Lily tak membalas perkataan Leon, dia memanyunkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya di dada. Bukannya dia tidak mau memiliki anak, namun kehadiran si Kembar dan Lunna sudah lengkap menurutnya.


Dia tidak tahu saja bagaimana rasanya mengasuh dan membesarkan anak. Pasalnya, dulu Arnold tak pernah membantunya untuk mengasuh si Kembar.


"Honey, kau marah padaku?" tanya Leon saat melihat kekesalan tambatan hatinya.


Lily tak menyahut, dia diam dan masih tak bergeming dari posisi semula. Melihat tingkah Lily, Leon menaikkan sudut bibirnya sedikit.

__ADS_1


"Wow, kau semakin cantik saja Honey." Goda Leon sembari menoel pipi Lily.


Lily memalingkan wajahnya, dia kembali tak merespon perkataan Leon.


Leon secara tiba-tiba bangkit berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan cepat meninggalkan Lily.


Sedangkan Lily terkejut dengan pergerakan Leon yang pergi entah kemana. "Dasar tidak peka!" Lily mendengus kesal sembari menatap ke depan, melihat interaksi keempat bocah kecil yang sedang asik dengan dunia mereka.


Kurang lebih dua menit lamanya, tiba-tiba Leon menghampiri Lily. Lily berpura-pura tak menyadari kedatangan kekasihnya itu.


"Honey," panggil Leon dengan pelan seraya tersenyum simpul. "Untukmu." Leon memberikan setangkai bunga tulip berwarna merah kepada Lily.


"Untukku?" Lily seketika tersenyum simpul, sembari mengambil dengan cepat bunga yang berada di hadapannya.


Leon dengan tiba-tiba berlutut di depan Lily. Lily mengerutkan dahi. "Apa yang kau lakukan Leon?"


"Menurutmu apa yang aku lakukan?" Leon malah bertanya balik.


"Jangan sekarang, aku belum siap untuk di lamar," ucap Lily dengan cepat sembari rona merah terkuras dari wajahnya.


"Siapa juga yang mau melamarmu, aku sedang mengikat tali sepatumu yang lepas Honey," tutur Leon sembari menahan senyum.


"Kau!" Lily tersipu malu. Dia bangkit berdiri sambil memukul lengan Leon.


Leon terkekeh pelan, dia beranjak dari posisinya. Dia segera menangkis pergerakan tangan Lily dengan pelan sembari merengkuh tubuh Lily, dan mendekapnya dengan begitu erat.


"Honey, jangan marah," bisik Leon di daun telinga. Leon melonggarkan pelukannya.


"Aku cuma bercanda Honey, keputusan berada di tanganmu. Asalkan kau bahagia, akupun bahagia. Tidak salahkan aku menginginkan seorang anak dari calon istriku nantinya," tutur Leon pelan dengan menatap lekat Lily.


"Maafkan aku Leon, aku egois. Seharusnya aku juga memikirkan perasaanmu." Lily menatap dalam, rona merah di wajahnya masih terlihat jelas.


Leon tersenyum mendengar perkataan Lily. "Kau tahu Honey, jika kita mempunyai anak nanti. Mari kita lakukan bersama-sama untuk mengasuh dan membesarkannya. Jangan kau risaukan ketakutan di dalam hatimu. Aku tidak akan menyerahkan semua tanggung jawab kepada dirimu." Leon mengelus pelan pipi Lily. Dia mengecup sekilas bibir ranum kekasihnya itu.


"Leon! Kenapa kau menciumku di sini, lihatlah ada Lexi di belakang kita!" seru Lily dengan melototkan kedua mata.


Lexi sedari tadi berada di belakang mereka, hanya terdiam seperti patung dengan kedua matanya menatap lurus ke depan. Entah apa yang sedang di pikirkannya.


Leon tak menyahut, dia melabuhkan kembali kecupan di kening Lily dengan cukup lama. Lily memejamkan kedua matanya merasakan sesuatu yang hangat menjalar di relung hatinya.


"Cie, cieee Mommy sama Daddy melca melcaan!" Celetuk Lunna dengan tiba-tiba menganggu interaksi Leon dan Lily.


Leon melepaskan pelukkannya dan tersenyum simpul ke arah Lunna berada. Dia segera mengalihkan pandangan kepada Lily. "Kalau kau sudah menjadi milikku, akan ku kurung kau di dalam kamar Honey," ucap Leon pelan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2