Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 115. Harleys in Hawai


__ADS_3

Lily menautkan alis mata saat melihat Leon hanya menatap datar sosok wanita dihadapan mereka. Lily memandangi wanita yang tampak asing dimatanya. Wanita itu memiliki postur tubuh kurang lebih sama seperti Yellow temannya, namun yang membedakan adalah dia mengenakan pakaian yang terlihat lusuh dan kurus. Wanita itu tampak salah tingkah.


"Leon, aku tidak menyangka, kalau kita akan bertemu di sini?"


Leon enggan menyahut, dia melirik sekilas pada Lily yang terlihat kebingungan dengan sosok di depan. "Rihana, mantan istri." Bisik Leon di daun telinga Lily, agar istrinya tidak salah paham.


Lily mangut-mangut mengerti.


"Leon, aku minta maaf karena kesalahan yang aku lakukan dahulu," ucap Rihana memohon. Netranya terlihat pilu.


Leon tak mengubris perkataan Rihana akan tetapi Leon malah melihat Lily, yang sedang menatap Rihanna. Merasa diperhatikan Lily pun menoleh. Leon memberikan kode morse, yang hanya diketahui oleh keduanya. Lily tersenyum kecil setelah mengerti bahasa isyarat dari suaminya.


Kemudian Lily mengalihkan pandangan ke depan. "Leon, sudah memaafkan mu," ucap Lily pelan seraya tersenyum.


"Benarkah?" Rihana ingin memastikan. Sebab, setelah ia bercerai dengan Leon. Dia merenungkan perbuatannya, yang berjiwa liar itu. Sekarang Rihana telah menuai apa yang telah dilakukannya dulu.


Beberapa tahun yang lalu, Rihana mengidap penyakit HIV/ AIDS. Dia diasingkan dan di usir oleh kedua orangtuanya. Anak yang dilahirkannya pun terkena dampak atas perbuatan yang tidak terpujinya itu. Sehingga satu tahun lalu darah dagingnya meninggal dunia. Kini, Rihana hanya seorang diri. Dia merantau ke sana kemari, dan berkerja serabutan untuk tetap bertahan hidup. Dia hanya menunggu ajal menjemputnya.


Lily mengangguk sedikit.


"Terimakasih..." ucap Rihana lirih. "Kau pasti istrinya Leon, kau wanita tercantik yang pernah aku lihat!" Rihana menatap lekat Lily.


"Cantik sekali warna matanya." Rihana terhipnotis dengan warna mata Lily yang menyerupai warna hamparan lautan di ujung sana.


"Pakaiannya sangat elegan dan modis." Rihana melihat dress panjang yang melekat di tubuh Lily. Walau pun terlihat sederhana dan tertutup namun mahal dan berkelas.


Lily mengulas senyum. "Terimakasih, kau juga cantik," ucapnya sembari menggerakkan tubuh perlahan memberikan kode pada Leon untuk menurunkan tubuhnya.


Namun, Leon tak mau menuruti permintaan Lily. Pria bule itu malah semakin mengeratkan pegangan kedua tangannya.


Rihana tersenyum simpul melihat gelagat Leon dan Lily. "Kalau begitu aku permisi dulu," pungkasnya hendak memutarkan badan ke belakang.


"Tunggu!" sergah Lily cepat.


Rihana reflek menghentikan pergerakkan anggota tubuh sembari mengerutkan dahi. "Iya."


"Suami ku, turunkan aku dulu!" seru Lily melebarkan mata kepada Leon.


Membuat Leon tertawa kecil. Lalu menurunkan tubuh Lily dengan pelan.


Lily mendengus kesal kemudian mengayunkan kaki ke depan, menghampiri Rihana yang sedari tadi tak mengedipkan mata.


"Tinggi sekali dia, apakah istri Leon seorang model?" Rihana tertegun sejenak melihat postur badan Lily yang lebih tinggi darinya.


Lily membuka shoulder bag kecil yang bertengker ditubuhnya dan menyambar cepat beberapa lembaran dollar. "Untuk mu," ucap Lily sambil mengambil tangan Rihana.


Rihana terkejut, saat melihat uang yang sangat banyak berada di tangan kanannya. Tampak netra Rihana mulai berkaca-kaca. "Aku...." ucapnya lirih sembari menutup mulut menahan air mata agar tak meluruh. Mengapa istri Leon seakan mengetahui bahwa dia belum makan sama sekali dari kemarin, sebab hasil kerja paruh waktu yang dia peroleh, habis untuk membayar sewa apartment.


"Hei, jangan menangis, pergunakan ini untuk membeli baju dan makanan," ucap Lily tersenyum simpul. Saat melihat buliran bening mengalir di pipi Rihana.

__ADS_1


Seketika Rihana memeluk Lily dengan erat. "Terimakasih, terimakasih...." Rihana memejamkan mata. Tubuh Rihana terlihat bergetar. Kedua matanya sudah menganak sungai, ia tak mampu membendung lagi. Ia amat terharu, sebab masih ada orang baik di dunia ini yang mau berbaik hati memberikannya uang.


Lily tersentak kaget. Namun ia segera membalas pelukkan Rihana sembari mengusap perlahan punggungnya. Lily dapat merasakan dada Rihana naik turun. Hati kecilnya tak mampu melihat keadaan Rihana, yang sangat kurus dan pucat. "Sudah lah, jangan menangis."


Sementara itu, Leon tertegun perlakuan Lily kepada Rihana. Ia amat beruntung memiliki istri seperti Lily yang berhati mulia. Leon semakin mencintai dan mengagumi istrinya. Seulas senyum terbit diwajah Leon.


.


.


.


"Honey, masih sakit?" tanya Leon senyam-senyum setelah melihat Lily baru saja keluar dari tempat khusus pijat refleksi.


"Tidak lagi!" ketus Lily memutar bola mata dengan malas. Lily mencium bau-bau modus suaminya.


"Yakin? Atau mau ku pijat lagi di kamar?" Leon mengoda Lily. Ia mendekatkan tubuh pada Lily. Keduanya saling berhadapan.


Lily melototkan mata. "Leon! Itu sih pijat plus plus, aku tidak mau!" serunya sambil melipat kedua tangan di dada.


Leon terkekeh pelan.


"Tidak lucu tahu!" Lily mengerucutkan bibir dengan sangat tajam.


Melihat tingkah Lily yang menggemaskan. Leon melabuhkan kecupan sekilas dengan cepat.


Cup.


Leon meletakkan jari telunjuk di ujung bibir Lily. "Shftt, jangan marah-marah. Hari ini kita akan berjalan-jalan sepuasnya," ucap Leon sembari menarik pinggang Lily.


Kedua mata Lily seketika berbinar. "Jalan ke mana?"


"Rahasia, ayo!" Leon menyambar tangan Lily.


Keduanya saling berpegangan tangan.


.


.


"Wow, jadi kita naik moge?" Lily terpana dengan motor gede merk Triumph Scrambel 1200, yang terparkir di area parkiran resort.


Leon mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Honey, ini sangat lah keren!" seru Lily dengan mengelus-elus body motor besar tersebut.


Leon tak menyahut, ia menghampiri istrinya. "Sekarang pakai ini!" Leon hendak memakaikan helm khusus di kepala Lily.


Lily mangut-mangut saja. Dia menurut seperti anak kucing.

__ADS_1


Setelah memasangkan helm pada Lily. Leon segera menaiki motor lalu mengambil helm yang berada di atas kaca spion, kemudian menaruh helm di atas kepalanya.


"Naik lah!" seru Leon sembari menghidupkan kendaraan roda dua berukuran besar yang berwarna hitam pekat itu.


Lily menurut, segera menaiki motor.


"Sudah siap?" tanya Leon melirik ke samping kanan.


"Ready!" tutur Lily semangat empat lima sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang Leon dan menaruh dagunya di pundak suaminya.


.


.


"Honey, mau kemana?" tanya Leon dengan membelokkan kendaraan memasuki jalan raya.


"Terserah, Honey!"


"Yakin? Berarti kalau ke laut, mau juga?"


"Ada-ada saja, memangnya motor ini bisa digunakan di laut?" tanya Lily penasaran.


Mendengar pertanyaan konyol dari istrinya, Leon tertawa keras.


"Leonnn! Kenapa kau malah tertawa!?" gerutu Lily mendengus kesal.


"Tentu saja tidak bisa!" seru Leon menahan tawanya. Ia suka sekali menjahili Lily yang sekarang akan menjadi hobi barunya.


"Kau ini!" Kedua tangan Lily memukul-mukul kecil punggung Leon.


"Stop, stop Honey. I'm just kidding!" Leon masih menahan tawa, sambil fokus mengendarai motornya.


Sedangkan Lily membuang nafas kasar mendengar perkataan Leon.


**


"Honey, kita mau ke mana?" tanya Lily penasaran sebab sekarang mereka berada jauh dari pusat Kota.


Kini, kendaraan melaju dengan kecepatan sedang di jalanan lurus yang besar di depan. Di sepanjang jalan terdapat pohon tertata rapi di sisi kanan dan ke kiri. Udara di sekitar amat menyejukkan. Tak nampak adanya kendaraan yang lalu lalang hanya motor Leon saja.


"Ke tempat yang indah, Honey. Kau pasti akan suka!" sahut Leon cepat sambil menggengam erat tangan kiri Lily.


"Okey, Honey. Aku sangat tidak sabar!" cicit Lily mengembangkan senyuman.


Leon melirik ke samping sambil mengulum senyum.


"Honey, awas!!!!!" jerit Lily nyaring.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2