Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 26. November Rain


__ADS_3

+++++ Rate 21


WARNING!!!!! Jangan di tiru!!


~


Saat kutatap mata mu


Bisa kulihat cinta yang kau tahan


Namun saat kudekap dirimu, sayang


Tahukah bahwa kurasakan hal yang sama


Karna tak ada yang abadi


Dan kita berdua tahu hati bisa berubah


Dan sulit menjaga lilin tetap menyala


Di musim hujan bulan november yang dingin


~


Flashback


3 tahun yang lalu


Pertengahan bulan november


••••••


Kala itu rintik hujan membasahi jalanan perkotaan. Tetesan air hujan semakin malam, semakin bertambah deras. Suara guntur bersahut-sahut mencoba menyapa manusia.


Namun tetap tak menghentikan kedua insan yang tak terikat sedang menyampaikan perasaan cinta melalui gerakan liar.


Sayup-sayup terdengar suara de**han kenikmatan di ruang kamar yang minim cahaya itu. Erangan serta decitan kasur empuk semakin membuat mereka bersemangat.


Arnold me**mpa dengan sangat cepat. Dia membawa Rissa sampai ke puncak nirwana surga.


Tampaknya suara guntur tak membuat mereka menyudahi aktivitas p**as di dalam kamar.


"Sayang, sebentar lagi aku akan sampai" Rissa menikmati gerakan li*r yang di berikan oleh suami sahabatnya itu.


"Bersama-sama sayang," ucap Arnold sembari mengecup kening Rissa.


Akhirnya mereka bersamaan mencapai titik ******* percintaan.


Arnold menjatuhkan tubuhnya ke samping kekasih rahasianya itu. Peluh keringat Arnold memenuhi tubuh atletisnya. Rissa mendekat ke arah Arnold. Dia menatap dalam.


"Sayang, kapan kau menceraikan Lily?" tanya Rissa sambil mengedipkan sebelah mata.


"Sabar sayang, sebentar lagi. Kau tahu sendiri kan jika ayahnya berbahaya. Kita harus berhati-hati jangan sampai lengah!" ucap Arnold sambil mengelus pelan pipi Rissa.


"Baiklah sayang." Rissa men**cup sekilas bibir Arnold.


"Jangan menggoda ku sayang."


Rissa terkekeh pelan.


Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dari luar kamar.


Rissa langsung menatap ke arah Arnold. Mereka saling pandang. Bukannya di rumah hanya mereka berdua saja. Lily dan si kembar sedang ada kegiatan di luar rumah.


"Sayang, kau mendengar tidak barusan?" Rissa berbicara dengan suara kecil.


Arnold mengganguk. Dia mengintruksi Rissa untuk tidak bersuara.


Arnold melirik jam di atas dinding masih pukul 8 malam. Dia ingat betul, Lily mengatakan bahwa kegiatan si kembar berakhir pada pukul 8.30. Lantas siapakah yang berada di luar?


Arnold melangkahkan kakinya dengan pelan ke ambang pintu.


Ceklek.


Arnold terkesiap seketika dia mematung. Dia melihat Lily berada tepat di hadapannya.


Lily menatap tajam pada Arnold. Napasnya memburu menahan gejolak amarah di hatinya. Tak terasa air mata berderai di kedua pipi.

__ADS_1


Lily segera masuk ke dalam kamar dan menyalakan saklar lampu. Dia melihat sekeliling kamar pakaian berserakan. Bagai di tikam beling, air mata Lily semakin meluruh. Rissa berdiri di samping kasur sambil menutup tubuh bulatnya itu dengan selimut Lily.


Lily menatap Rissa dengan sejuta kekecewaan mendalam. Namun berbeda dengan Rissa, dia terlihat santai. Seakan tak terjadi apa-apa. Rissa acuh tak acuh dengan tatapan yang di berikan padanya. Lantas Lily segera beralih memandang Arnold.


"Sudah berapa lama kalian di belakangku seperti ini,?" tanya Lily dengan suara yang gemetar.


Arnold terdiam.


"Apa kurangnya aku Arnold?" tanyanya lagi dengan deraian air mata yang semakin deras.


"Kau tak bisa memuaskan Arnold!" seru Rissa tersenyum sinis.


"Aku tak bertanya pada mu Rissa!"


Rissa berdecak kesal di dalam hatinya.


"Arnold cepat katakan pada ku. Apa kurangnya aku?"


Hati Lily sangat hancur, dia tak menyangka suami yang di cintainya selama ini menusuknya dari belakang. Dia sudah berusaha menjadi Ibu rumah tangga yang baik untuk Arnold dan si kembar.


Isakan tangis terdengar lirih dari bibir Lily. Dia menatap sendu Arnold. Dia menunggu jawaban dari sang suami. Namun Arnold diam seribu bahasa, tatapannya datar.


"Cepat jawab Arnold!" teriak Lily karena dia sudah tak tahan lagi. Hatinya seperti di hantam batu yang sangat besar.


Arnold menarik napas dengan kasar.


"Iya. Kau tak bisa memuaskan ku di atas ranjang!!" Bentak Arnold sambil tersenyum sinis.


Deg.


Lily terdiam selama menikah dengan Arnold. Suaminya tak pernah membentak. Dia dihujani ucapan cinta dan kasih sayang dari Arnold. Malam ini sisi Arnold yang lain muncul.


"Aku mengurusi anak-anak kita Arnold. Tentu saja aku tak bisa memuaskan mu di atas ranjang. Aku ini bukan j***ng!" teriak Lily sambil mengalihkan pandangan ke arah Rissa.


Sepersekian detik, suara langkah kaki menuju ke arah Lily dengan sangat cepat.


Plakkkkkkk.


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Lily. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan Arnold.


Lily tersenyum getir dia tak bersuara, hanya isakan tangis yang terdengar. Anggap saja dia bodoh mencintai seseorang yang tidak pantas di cintai. Kurang baik apa dia menerima Arnold apa adanya. Dia tak memandang harta ataupun kedudukan Arnold begitu pula dengan keluarga Lily. Tetapi malam ini Arnold malah membela Rissa daripada dirinya. Lily menatap sendu Arnold. Dialah pacar dan cinta pertamanya.


"Lalu aku harus bilang dia apa. Seorang sahabat yang meniduri suami sahabatnya. Bukan kah pantas jika dia di sebut j***ng!" ucap Lily dengan pelan, menahan cengkraman tangan Arnold.


Plakkkkk Plakkkk.


Dua kali tamparan mendarat di kedua pipi Lily hingga dia jatuh tersungkur di lantai. Darah segar mengalir di sudut bibirnya.


"Mommy!" teriak Kendrick berlari ke arah ibunya berada.


Sedari tadi Kendrick kecil bersembunyi di balik pintu. Lily menyuruhnya untuk bersembunyi dan tidak bersuara. Kendricklah yang pertama kali mendengar sayup-sayup suara di balik pintu kamar. Derap suara langkah kaki pun berasal dari Kendrick.


Lily bermaksud kembali ke rumah sebentar untuk mengambil buku catatan Kendrick yang tertinggal. Sesampainya di halaman rumah Kendrick bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu ibunya. Lantas di mana Nickolas dan Samuel. Mereka sudah tertidur di kursi tengah mobil. Cuaca dingin di malam hari membuat mereka tergolek tak berdaya.


Namun seakan skenario yang sudah di susun begitu apik oleh Sang Pencipta. Takbir rahasia Arnold dan Rissa pun terungkap.


Lily masih tetap pada posisi semula. Kendrick kecil mencoba untuk memapahnya, dia tak mengerti dengan situasi saat ini. Namun naluri sebagai seorang anak lelaki ingin melindungi ibunya. Perasaannya sakit saat melihat ayah tercinta menampar ibunya. Tak terasa Kendrick meneteskan air mata. Dia menggapai pipi Lily, di elusnya perlahan pipi tersebut.


"Momm, ale you okay?" tanya Kendrick sambil bercucuran air mata.


Lily tersenyum getir, dia hanya bisa menganggukkan kepala. Saat ini sakit pada kedua pipinya tak sebanding dengan rasa sakit hatinya.


Seketika Kendrick berdiri dan menatap tajam mata Arnold.


"Daddy jahat!" teriak Kendrick sambil menarik-narik kaki Arnold.


"Daddyyy kenapa tampall mommy?" Racau Kendrick yang tak tahu apa-apa. Dia hanya ingin meminta penjelasan dari ayahnya.


Arnold tak bersuara. Hanya tatapan dingin yang diberikan kepada Kendrick.


"Berisik!" Bentak Arnold sambil meng***tak Kendrick sehingga dia jatuh tersungkur ke samping meja. Membuat kepala Kendrick mengenai sudut meja. Alhasil pelipis Kendrick pun ber**rah.


Lily terlihat shock dia segera mendekat ke arah Kendrick berada. Lily memeluk dan mengelus pelan punggung Kendrick mencoba menenangkan. Kendrick menangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Kedua mata Lily beralih memandang Arnold dengan tatapan tajam.


"Ternyata kau tak lebih dari binatang Arnold!" seru Lily dengan air mata yang terus menetes.


Mendengar perkataan Lily, Arnold pun tersulut emosi. Dia menarik paksa tangan Lily. Di tamparnya berkali-kali wajah istrinya itu. Lily berusaha memberontak namun tetap saja tenaganya kalah dari Arnold. Puas menampar, seketika Arnold menghentikan tamparan dia bergegas menuju ke arah lemari mencari sesuatu.

__ADS_1


Rissa tersenyum sinis melihat pemandangan di depan matanya, tak ada rasa iba sama sekali.


Sementara Kendrick menangis sejadi-jadinya melihat Lily di perlakukan seperti itu.


Tiba-tiba.


Pranggg.


Lily melemparkan vas bunga yang berada di dekatnya kepada Arnold. Namun ternyata dapat di tangkis oleh Arnold.


"Kau berani dengan ku!" Arnold naik pitam, dia menarik paksa rambut Lily. Cengkraman yang sangat kuat membuat rambut Lily berguguran di lantai.


Arnold mem***turkan kepala Lily ke tembok dan me**kul keras tepat di belakang punggungnya. Terlihat darah segar mengalir di pelipis Lily. Suara rintihan menggema di dalam kamar. Tak ada rasa kasihan dari Arnold yang di peruntukkan untuk Lily.


Tubuh lemah Lily tak berdaya untuk melawan lagi. Dia sudah pasrah dengan keadaan saat ini. Lily tersadar bahwa Kendrick masih berada di sini.


Lily menelisik keberadaan Kendrick yang tak jauh darinya. Dia melihat Kendrick duduk di lantai memeluk kedua kakinya, dia menangis tersedu-sedu sambil menutup kedua telinga dan memanggil ibunya.


Tak sampai di situ ternyata Arnold belum juga puas menyiksa Lily. Dia menyeret paksa Lily dengan menarik rambutnya secara kasar. Lily meronta-ronta meminta untuk di lepaskan. Namun seakan tuli Arnold tak mendengar jeritannya.


Arnold mendorong kasar Lily ke dalam lemari dan sepersekian detik Kendrick pun di paksa masuk untuk masuk ke dalam.


Arnold mengunci rapat lemari itu, terdengar suara langkah kaki keluar kamar di iringi suara saklar lampu di matikan.


Suara tangisan Kendrick masih terdengar, dia masih tetap menutup kedua telinganya. Hanya kegelapan yang dapat di lihat Lily dan Kendrick.


Lily mencoba membuka paksa pintu lemari dengan tenaganya yang tersisa. Namun tetap saja tak bisa terbuka.


Lily memikirkan kedua anaknya di ruang tamu. Apakah mereka baik-baik saja. Saat ini pikirannya terbagi menjadi dua. Deraian air mata masih saja terus menetes, rasa sakit di tubuhnya tak di hiraukan lagi. Dia memeluk erat Kendrick.


"Tuhan, tolonglah aku dan anak-anakku." pinta Lily di dalam hati.


Derasnya hujan menjadi saksi bisu atas kejadian yang menimpa Lily dan Kendrick malam ini.


••


Tepat pukul 10 malam suasana di rumah kediaman Lily tampak sepi. Hanya suara dentingan jarum jam yang berdetak.


Nickolas dan Samuel masih tergolek pulas di sofa empuk, suara guntur menggelegar. Namun tetap tak membuat mereka bergeming dari posisi semula. Terdengar suara dengkuran halus dari keduanya.


Lain halnya dengan situasi di dalam kamar. Lily dan Kendrick masih berada di dalam lemari. Tak terdengar lagi suara tangisan Kendrick sepertinya dia sudah tenang. Kendrick masih berada di dalam dekapan Lily.


Tiba-tiba....


Brakkkk...


"Max....." lirih Lily dengan pelan, sembari kedua matanya menutup.





Kembali ke masa sekarang.


Marimar tampak heran dengan pria yang baru saja pergi. Dia mantan suami Lily atau bukan. Tapi mengapa Nickolas memanggilnya "Daddy". Marimar hanya bisa menerka-nerka. Dia tak enak hati menanyakan sesuatu hal yang pribadi. Apalagi dia baru saja mengenal Lily.


"Kak Ken!" panggil Samuel saat melihat Kendrick tiba-tiba meneteskan air mata, di tambah lagi tangannya terlihat gemetar.


Lantas Marimar menoleh ke arah Kendrick, dia terkejut.


"Ada apa dengan raja singaku." Gumam Marimar.


Marimar mendekat ke arah Kendrick dan mensejajarkan tubuhnya. Dia memeluk dan mengelus perlahan punggung Kendrick.


Pemandangan ini tak luput dari penglihatan pengunjung di Mall, mereka tampak heran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2