Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 24. Bunga lagi!


__ADS_3

"Nama mu sudah terpatri di hatiku"


N


Lily menggelengkan perlahan kepala saat membaca kertas kecil yang terselip di dalam buket bunga. Sudah 7 hari berturut-turut si pemuja rahasianya mengirimkan bunga.


Setiap hari bunga yang di kirim pun berbeda. Ada bunga Lily, bunga Krisan dan bunga lainnya. Hari ini bunga Anyelir berwarna merah. Lily sedikit mengetahui makna dari setiap bunga yang di kirim kepadanya. Bunga anyelir berwarna merah melambangkan tanda cinta dan kekaguman.


Tidak lupa juga kata-kata puitis yang selalu di sisipkan pada setiap bunga. Namun kali ini di akhir kalimat di bubuhi inisial huruf "N". Kemarin jika tak salah huruf "O".


Lily menghembuskan napas dengan pelan, dia pun segera menaruh kertas yang berbentuk hati itu ke dalam laci. Dia melirik bunga Anyelir yang berada di depannya. Lily reflek mengambil dan mencium bunga itu. Dia mengendus-ngendus aroma bunga yang begitu menenangkan jiwa. Tanpa sadar Lily tersenyum simpul.


Lily tersadar dengan tingkahknya, secepat kilat dia meletakkan kembali.


"Astaga, apa yang kau lakukan Lily. Sadarlah!" Lily menepuk perlahan kedua pipi.


Ceklek


Suara pintu terbuka


"Mommm!" Samuel menyelonong masuk ke dalam kamar Lily.


Lantas Lily memutar kepala saat mendengar suara anaknya.


Samuel mendekat ke arah Lily berada.


"Ada apa sayang,?" tanya Lily.


"Mom, Sam ingin donat. Tolong buatkan Sam!" Samuel menunjukkan muka memelas.


Lily tersenyum pada anak bungsunya.


"Tentu saja sayang!"


Lily keluar dari dalam kamarnya sambil menggandeng tangan Samuel.


Dia pun segera membuatkan cemilan donat untuk anaknya.


Sementara si Kembar menonton tayangan kesukaan mereka di ruang keluarga.


Jam menunjukkan pukul 7.30 malam, cemilan donat kesukaan anaknya sudah matang. Harum donat menyeruak ke indera penciuman si Kembar, mereka pun segera berjalan cepat ke arah dapur. Si Kembar mencicipi cemilan buatan Lily dengan lahap.


Ting Tong Ting Tong


Suara bell


Ketiga anaknya saling pandang, siapakah yang bertamu malam-malam. Lily tersenyum melihat gelagat si Kembar. Dia sudah tahu siapa yang datang. Lily pun pamit sebentar pada ketiga anaknya, dia berjalan cepat ke arah pintu.


"Tadaaaaa,!" seru Marimar sembari masuk ke dalam.


"Cepat sekali kau datang Mar,?" tanya Lily.


Marimar tersenyum lebar.


"Tentu saja. Karna eyke mencium bau donat."


Lily terkekeh pelan.


***


Sesampainya di dapur.


"Yuhuuuuu hai anak mami!" celoteh Marimar kepada si Kembar seraya memeluk.


Nickolas dan Samuel menerima pelukan dari Marimar. 7?Mereka merasa nyaman dengan Marimar. Sejak beberapa hari yang lalu Marimar berkunjung ke apartment, mereka terlihat akrab satu sama lain. Kelucuan Marimar menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.


Lain halnya dengan Kendrick, dia memasang wajah singa. Memberikan kode untuk jangan menyentuh. Namun Marimar tak peduli, dia tetap memeluk erat Kendrick. Walaupun Kendrick memberontak, tapi Marimar tak peduli dengan sikap Kendrick.


Nickolas dan Samuel melihat kekesalan Kendrick seketika mengacungi jempol pada Marimar. Mereka terkekeh pelan. Hingga saat ini baru Marimar lah yang tak menghiraukan sikap Kendrick yang dingin itu.


Kendrick mencebikkan bibir. Ketika Marimar mengelus punggungnya, dia tampak pasrah. Marimar mengulum senyum melihat tingkah "Raja Singa". Dia memberikan julukan itu kepada Kendrick.


Lily tersenyum melihat interaksi keempat orang tersebut.


Dia bersyukur dengan kehadiran Marimar, memberikan angin segar baginya. Kehadiran Marimar menjadi hiburan tersendiri. Marimar apa adanya tak pernah di buat-buat. Lily tak perduli dengan tingkah gemulainya.


"Cyinn." Marimar menyadarkan Lily.


"You jangan sering ngelamun ih!" seru Marimar sembari mengambil donat di atas meja.


Lily terkekeh pelan.

__ADS_1


"Eh, pengasuh anak you. Gak ada di sini kan?" tanya Marimar seraya matanya melihat ke kanan dan ke kiri.


"Ngak, Mar. Dia pulang jika aku sudah berada di rumah," jelas Lily.


"Baguslah, eyke ngak syuka sama dia cyin!" ucap Marimar dengan mimik muka masam.


Reflek Nickolas dan Samuel menganggukkan kepala seperti menyetujui perkataan Marimar.


Lily berekspresi datar.


"Memang kenapa Mar?"tanya Lily sembari melihat Marimar yang masih memakan donat.


Marimar mengunyah cepat donat tersebut. Tak lupa satu tangan kirinya memberikan kode untuk menunggunya menghabiskan donat.


"Feeling Lily! eyke punya feeling yang kuat. You hati-hati sama Gissel."


"Terimakasih sudah mengingatkan Mar," ucap Lily.


"Okay, you udah siap-siap gih. Keburu malam, jadikan?"


Lily menganggukan kepala.


"Mom mau kemana?" tanya Kendrick.


"Astaga maafkan Mommy nak lupa memberitahu kalian. Kita malam ini akan di ajak Marimar pergi ke Mall. Marimar ingin mentraktir kita," jelas Lily sembari mengedipkan pelan mata sebelah kiri.


"What eyke ngak bilang traktir yeeii, dasar deh Lily!" ucap Marimar memanyunkan bibir.


Si Kembar terkekeh melihat kekesalan Marimar.


"Aku cuma bercanda Mar!"


Lily menoleh kepada anaknya, dia menyuruh si Kembar untuk segera bersiap-siap. Lily pamit sebentar pada untuk bersiap juga. Dia berjalan cepat memasuki kamar. Lily membuka lemari dan memakai pakaian yang nyaman di tubuhnya.


Sebelum keluar kamar mata Lily tak sengaja melihat bunga yang di kirim oleh pemuja rahasia. Dia pun mengambil bunga untuk di bawa keluar. Walaupun dia tak mengenal siapa pengirimnya. Lily tetap menaruh semua bunga yang telah di kirim ke dalam pot khusus.


Lily pun keluar sembari membawa bunga. Marimar mengerutkan dahi saat melihat Lily membawa sebuket bunga. Dia menghampiri Lily.


"Lily, itu bunga yang baru di kirim hari ini?" tanya Marimar.


"Iya, Mar."


"Lily you ngak curiga dengan satu orangpun di kantor. Siapa tahu aja pemuja rahasia you rekan kerja kita."


"Eh, kalau eyke boleh tahu. Surat yang di kirim hari ini apa isinya?" tanya Marimar penasaran.


"Sebentar." Lily berjalan menuju kamar.


Lily membawa beberapa surat kecil yang di kumpulkan menjadi satu. Dia memberikan surat itu kepada Marimar.


Marimar segera membaca isi surat satu-persatu. Dia semakin penasaran dengan inisial di bawah surat. Marimar mengerutkan dahi.


"Lily coba urutin deh surat yang you terima. Inisial yang ada di bawah," ucap Marimar dengan mimik wajah serius.


Lily segera mengurutkan surat tersebut.


Marimar terlihat sedang berpikir.


"Astaga!" Pekik Marimar secara tiba-tiba.


Si Kembar yang baru saja selesai berganti pakaian terkejut dengan suara teriakan Marimar.


"Ada apa Mar,?" tanya Lily.


"Coba you baca sesuai urutan Ly!" ucap Marimar dengan mimik wajah senang.


Lily segera membaca inisial surat itu sesuai urutan.


"L-E-O-N. Leon"


Deg.


Seketika jantung Lily berdetak kencang, entah mengapa jika mengingat pertemuan dengan Leon hatinya bergetar.


"Ha, Leon. Bukankah itu nama ayahnya Lunna. Eh, tapi tidak mungkin. Bisa saja namanya sama." Batin Lily bermonolog.


"You pasti tahu ya orangnya. Ihh so sweet banget sihh. Siapa sih cyin. Cerita dunk ke eyke." Marimar tampak menggoda Lily.


"Ngak tahu Mar!" Lily menggelengkan kepala perlahan.


Marimar terkekeh pelan sembari menggoda Lily.

__ADS_1


"Ah, sudahlah. Ayo keburu malam. Yuk berangkat!"


Lily mengajak Marimar dan ketiga anaknya untuk segera pergi ke Mall.




Sesampainya di Mall


Kelima orang tersebut memasuki Mall yang terdekat dari apartment. Mereka bercengkrama menikmati suasana di dalam Mall. Jangan lupakan tingkah lucu nan ajaib Marimar yang mengundang gelak tawa.


Niat hati ingin bercanda, Marimar benar-benar mentraktir Lily dan si Kembar. Selesai dengan aktivitas di Mall, mereka bersantai sejenak di kursi yang berada di tengah Mall sembari menikmati lalu lalang pengunjung.


Si Kembar tampaknya tak kehabisan energi. Mereka bersenda gurau dengan Marimar. Seketika Lily merasa tenggorokannya kering. Dia pun izin sebentar pada si Kembar dan Marimar untuk membeli minuman di stand terdekat.




Lily memesan 5 minuman jus alpukat di kasir. Dia segera membayar pesanan tersebut. Sembari menunggu pesanan, Lily berdiri memainkan handphone.


"Ternyata dunia sangat sempit ya," ucap seseorang di samping tubuh Lily dengan suara berat.


Deg.


Lily menolehkan matanya ke samping. Secepat kilat dia memalingkan wajah. Dia acuh tak acuh. Tak merespon sama sekali. Dulu suara itu dia rindukan. Tapi sekarang suara itu adalah salah satu suara yang tak ingin di dengarnya. Dia amat benci mendengar suara itu.


Lily harus menyembuhkan luka masa lalunya dengan mengikuti terapi bersama anak tertuanya "Kendrick". Masa lalu yang di ukir oleh Arnold. Masa lalu kelam yang tak ingin di ingatnya sama sekali.


"Kau berubah Lily." Arnold tersenyum sinis.


Lily tetap tak meladeni perkataan Arnold. Kedua matanya lurus ke depan sedang melihat pergerakan karyawan yang membuat pesanan. Dia ingin segera cepat berlalu pergi.


"Cepatlah!" Batin Lily berusaha ingin mengatakan pada karyawan untuk cepat membuatkan pesanan.


"Apakah kau tuli?" Arnold bertanya lagi dengan intonasi yang agak tinggi.


Lily tetap tak mengubris. Akhirnya pesanan sudah selesai. Dia segera mengambil 5 buah jus dan berlalu pergi. Namun tangannya di tahan oleh Arnold.


"Tunggu!" Arnold mencengkram tangan Lily.


Beberapa pengunjung melihat gelagat yang aneh dari kedua orang tersebut.


"Lepaskan aku!" Lily memberontak.


Arnold semakin mencengkram erat pergelangan tangan Lily. Lantas dia menyeret Lily pergi entah kemana.


Lily semakin memberontak namun tenaganya kalah dari Arnold.


"Lepaskan Arnold! Ku mohon!" Lily memelas.


Arnold membawa Lily ke tempat yang sepi. Lily segera mengibaskan kasar tangan Arnold.


"Apa mau mu,?" tanya Lily dengan napas yang terengah-engah karna mengikuti langkah kaki Arnold.


"Kau masih mencintaiku kan." ucap Arnold tersenyum sinis.


"Tidak. Nama mu sudah hilang di hatiku. Jangan mengganggu hidupku lagi!" Lily menatap tajam.


"Jangan munafik! Kau ingin di bayar berapa?"


"Ba***gan!" Mata Lily tampak memerah. Tangannya terkepal dan melayangkan tinju ke wajah Arnold. Namun pukulan tersebut dapat di tangkis oleh Arnold.


Arnold pun reflek mengangkat satu tangan. Seketika Lily menutup kedua mata. Kedua tangannya Lily gemetar.


"Tunggu dulu, kenapa tak terasa!" Batin Lily.


Perlahan Lily membuka mata.


"Kau!" ucap Arnold pada sosok pria yang menangkis gerakan tangannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like, Vote, Comments


__ADS_2