
Keesokan harinya. Matahari mulai nampak malu-malu muncul di ufuk timur.
"Guk...guk!!" Suara Hiro menyalak sangat nyaring, ia tengah membangunkan kumpulan manusia yang masih belum beranjak dari mimpinya. Tampaknya anjing itu terlalu bersemangat memulai aktivitas di pagi hari.
Ia mengibas-ngibaskan ekor munggilnya, dan berjalan ke sana kemari seperti kerasukan reog.
Tiba-tiba ayunan kakinya terhenti.
Ia terlihat kelelahan.
Hiro menjulurkan lidahnya. Kemudian berjalan menghampiri Darla yang masih tertidur pulas. Ia mendengus pelan, lalu mencari celah di antara Darla dan Lunna.
Akan tetapi tidak ada ruang sedikit pun untuk dirinya.
Akhirnya Hiro pun menyerah.
Kemudian seringai licik muncul di raut wajah munggilnya.
Ia berjalan mendekati Leon dan Lily yang berada di sisi kanan Lunna.
Hiro berlari ke arah tungkai kaki Lily. Kemudian men_ji_lat telapak kaki sebelah kanannya.
Lily yang merasakan geli di bagian kakinya, segera mendorong kakinya. Sehingga Hiro terpental ke pasir, dan memekik kesakitan.
Lily tersentak kaget. Kedua matanya terbuka, dan mengerjap-ngerjap beberapa kali.
Dia pun bangkit duduk, langsung menatap Hiro yang tertatih berjalan ke arahnya. "Hiroooooo!"
"Kau ini! Itu lah akibatnya suka menjahili orang!" seru Lily memarahi Hiro, sembari mengelus bulu lebat hewan munggil itu.
Seakan mengerti, Hiro melebarkan kedua matanya, ia menunjukkan wajah puppy eyes, memohon ampun, dengan menggerakkan ekornya ke segala arah.
Lily pun menghela nafas, menyerah dengan tingkah Hiro yang menggemaskan. "Jangan nakal lagi, oke?"
"Guk..guk!" Hiro membalas perkataan wanita cantik itu dengan dua kali gonggongan, seperti mengerti dengan apa yang dikatakan Lily.
"Astaga, pintar sekali anjing ini, pantas saja Darla sangat menginginkannya," desisnya.
"Honey!" panggil Leon, saat tak merasakan kehangatan dari tubuh kekasihnya. Ia mulai membuka mata, melihat sejenak interaksi Lily dan Hiro.
Lily menoleh. "Iya, maaf menganggu tidur mu," ucapnya pelan, merasa bersalah sebab mengusik tidur kekasihnya.
Leon mengulum senyum. "Kemari lah, masih pagi. Ayo tidur lagi." Satu tangannya menepuk-nepuk daun di sisi kirinya.
Lily menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi mengelus tubuh Hiro. Ia pun memberikan kode pada Hiro untuk bermain sendiri.
An_jing itu mengerti.
Hiro menjauhi kumpulan manusia, ia bermain pasir seorang diri.
Guling-guling, lalu berlari kemudian berputar-putar.
Lily menuruti permintaan sang kekasih, kemudian merebahkan kepalanya di dada Leon.
"Hangat." Lily dapat mendengar bunyi jantung Leon.
Leon memeluknya dengan begitu erat seraya mengusap pelan punggung Lily. Ia melirik ke sebelah kanannya, melihat empat orang pria dewasa masih tertidur pulas. Lalu beralih pada kelima bocah kecil yang berada di samping tubuh Lily, mereka pun tengah terlelap dalam ruang mimpi.
Pria itu menghela nafas. "Tidurlah," ucap Leon pelan.
Lily mengangguk kecil, saat merasakan sentuhan hangat di punggungnya menenangkan jiwanya. Ia memejamkan matanya kembali.
.
.
__ADS_1
.
"Aduh, kaki akika sakit!" Marimar mengaduh kesakitan. Ia terpleset saat menuruni jalan setapak menuju air terjun, sebab flatshoes yang ia kenakan mempersulit langkah kakinya.
"Makanya jalan itu pakai kaki dan mata!" sahut Maximus di belakang tubuh Marimar. Kedua matanya mendelik.
Marimar menghentikan langkah, seraya memutar badannya. Ia menatap tajam Maximus. "Ckkk!" Kemudian memposisikan kembali tubuhnya ke depan dan mulai berjalan lagi.
"Ribet sekali, alien ini!" Batin Maximus, menatap jengah punggung Marimar.
Beberapa menit yang lalu, Leon, dan Lily berserta serdadunya sudah bangun pagi, mereka hendak membersihkan diri di air terjun. Saat ini, rombongan tersebut, memasuki pelataran air terjun.
Leon dan Lily berada di depan, kelima bocah kecil mengekorinya, sementara ke empat pria dewasa berada paling belakang.
Tak butuh waktu yang lama. Rombongan telah tiba.
"Wow, keren!" seru Nickolas dan Samuel seraya mengedarkan pandangan ke segala arah.
Kedua bocah itu enggan mengedipkan mata.
Darla dan Lunna juga begitu, mengangumi mahakarya Sang Pencipta.
"Ini keren banget sih, berasa eyke lagi di My Trip, My Adventure!"
"Iya!" Maximus menanggapi perkataan Marimar. Ia tertegun dengan pemandangan di depan matanya.
Yang sangat indah dan menakjubkan.
"Kalian sudah ke sini, Lex?" tanya Leon sembari duduk di atas batu besar. Ia mengerutkan dahi sebab Lexi dan Breslin bersikap biasa saja, seperti sudah ke sini sebelumnya.
"Sudah, King, aku dan Breslin kemarin membersihkan burung yang kami tangkap di sini!" jawab Lexi cepat.
"Hmm." Leon berdeham. "Baiklah, kalian mandi lah dulu, jangan lama-lama!" perintahnya seraya melirik sekilas pada Lexi, Breslin, Marimar dan Maximus.
Lily menoleh. "Iya!"
"Kemari lah!"
Wanita itu mengernyitkan dahi. "Honey, aku harus memandikan anak-anak dulu."
"Biarkan Marimar yang mengurusi mereka! Tugasnya kan sebagai baby sitter di sini!" Leon menatap dingin pada Marimar, yang di tatap malah memutar bola matanya.
Lily menghela nafas. Ia malas berdebat di pagi hari, sebab ia sudah memahami sifat dan watak Leon yang keras kepala itu.
"Nak, kalian di mandikan sama Marimar ya!" ucap Lily seraya menatap si kembar, Lunna dan Darla secara bergantian.
"Okey!" jawab kelima bocah itu serempak.
Lily mengulum senyumnya ketika anak dan keponakannya menurut dan tidak banyak drama di hari ini.
Lalu wanita itu berjalan, hendak menghampiri Leon yang sedang tersenyum penuh arti padanya. "Kenapa sih?" Lily melipat tangan di dada.
"Tidak ada, ayo ke sini, jangan melihat mereka bertelanjang dada!" Leon melirik sekilas pada empat pria yang mulai membuka pakaiannya.
Lily terperangah, dengan sikap posesif Leon. "Aish, aku pikir apa!" Kedua mata Lily memutar bola matanya.
"Tutup, mata mu!" Leon menutup kedua mata Lily seraya memposisikan Lily menghadap padanya, dan menariknya ke dalam pelukkan.
"Honey, singkirkan tangan mu, aku tidak bisa melihat." Lily berusaha mengibas tangan Leon namun ia tak bisa sebab Leon merengkuhnya dengan erat.
"Jadi kau ingin melihat tubuh mereka?! Tidak boleh, mata mu hanya boleh melihat tubuh ku!"
"Astaga, Leon. Kenapa kau sangat posesif, memangnya aku salah melihat tubuh mereka?" tanyanya kebingungan.
"Pokoknya tidak boleh!" Leon melihat ke depan sana, saat empat pria dewasa masih berendam di air bersama kelima bocah.
__ADS_1
"Honey, tubuh mu lebih hot dan bagus dari mereka, jadi aku hanya terpesona dengan lekukan tubuh mu saja!" jawab Lily spontan tanpa sadar, lalu ia menutup mulut dengan cepat.
"Astaga, kenapa aku memujinya terang-terangan sih, pasti dia besar kepala."
Leon tersenyum kecil, saat mendengar pujian dari Lily. Kemudian ia menyeringai jahil. "Ha? Honey coba ulangi perkataan mu?" Ia menurunkan tangannya.
Lily memalingkan wajah."Tid-ak ada, ta-di ak-u," jawabnya terbata-bata.
"Mengapa kalau bersama dia, mulut ku selalu saja tidak bisa terkontrol!"
Leon segera menyentuh dagu Lily, menuntun kekasihnya untuk menghadap padanya. "Yakin?" Ia mengangkat sudut bibit sedikit, seraya menatap dalam.
Kedua mata sepasang kekasih itu saling bersitatap.
Deg....deg..deg..
Lagi dan lagi.
Suara detak jantung mereka memacu sangat cepat.
Tanpa aba-aba, Leon melabuhkan ci_uman di bibir Lily, membuat wanita itu terkejut, ia meronta-ronta minta di lepaskan.
Akan tetapi tenaga Leon lebih kuat darinya.
Baiklah, Lily menyerah.
Di ujung sana.
Keempat pria menatap satu sama lain, saat melihat keuwuan pasangan di hadapan mereka.
"Bisa tidak? Sehari saja mereka tidak romantis. Mata ku sangat lah sakit!" ucap Maximus sembari mengosok dadanya.
"Ada yang mau pesan tiket ke planet Mars?" Lexi mengedarkan pandangan pada Maximus, Marimar dan Breslin.
"Boleh!" jawab ketiga pria itu lalu terkekeh pelan.
"Boleh," desis seseorang juga, dengan pelan berasal dari balik air terjun, sekitar empat meter dari kumpulan manusia dan kelima bocah itu.
Satu di antara kelima bocah itu, menoleh sejenak ke arah gua di dekat air terjun. Saat mendengar samar-samar mendengar suara. Ia menautkan alisnya, kemudian lanjut dengan aktivitas mandinya.
Tiba-tiba Marimar membuka suara lagi. "Akika mau bernyanyi!" Ia meliukkan tubuhnya dengan gemulai.
"Tidak usah, telinga ku pasti sakit mendengarkannya!" seloroh Maximus hendak menutup telinga.
"Ishh, you tidak tahu ya, eyke pernah ikut kontestan Indonesian Top Model!!"
Maximus mendengus kesal mendengar penuturan Marimar yang ngawur ngidul, dan tidak nyambung. Pasalnya ajang yang dia katakan tentang dunia modelling, lalu apa hubungannya dengan bernyanyi, markonah?
"Heh, yang benar itu Indonesia Idol!" protes Maximus cepat.
"Cih, cuma salah nama pun! Yang penting itu kontestan!" Marimar berkilah sembari mendekat ke Maximus hendak melayangkan pukulan gemulainya.
Membuat Maximus pun melototkan mata dan siap meninju Marimar.
"Ayo kelahi, kelahi!!!" seloroh Lexi dan kelima bocah yang sedari tadi berenang-renang kecil di sebelah mereka. Mereka memanasi, selayaknya penonton gala tinju.
Sementara itu, Breslin hanya menghela nafas melihat aksi Maximus dan Marimar.
.
.
.
.
__ADS_1