
***
Tiga hari kemudian.
Kicauan burung terdengar begitu syahdu ditelinga Lily, dia melenguh sejenak saat suara itu mengusik tidurnya. Perlahan dia membuka kelopak matanya. Lily memandang langit-langit kamarnya dan menghela napasnya perlahan. Kemudian, wanita berparas cantik itu, mengalihkan pandangannya pada jam weker diatas nakas, terlihat jam menunjukkan pukul enam pagi.
Saat ini, Lily berada di mansion utama milik ayahnya. Tadi malam, Anastasya memintanya untuk menginap saja, karena cucunya sudah tertidur pulas. Dia pun menuruti perintah wanita paruh baya, yang melahirkannya kedunia itu.
Semenjak insiden, Ardella yang menyamar di apartmentnya, ia enggan mencari pengasuh baru untuk anaknya. Karena Lily pikir, misinya menangkap pelaku di perusahaan sudah selesai. Dia pun merasa terbantu dengan kehadiran Leon yang sukarela menemani si Kembar, jika ia sibuk dengan perkerjaannya. Namun beberapa hari ini, kekasihnya itu sibuk dengan urusan kantornya.
Lily meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku, dia pun segera beranjak dari tempat tidurnya. Kedua tungkai kakinya berjalan pelan ke arah jendela kamarnya, dia membuka perlahan benda berbentuk kotak tersebut. Ia menghirup udara pagi ini, menikmati pemandangan yang terasa sangat indah didepan matanya.
Drttt.
Terdengar getaran smartphone mini, miliknya diatas meja rias. Lantas, Lily pun menoleh ke sumber suara. Dia berjalan cepat menuju meja rias. Satu notifikasi pesan masuk menghiasi layar handphonenya. Wanita bermanik mata biru itu, menyambar dengan cepat benda mini tersebut.
^^^[Honey, maafkan aku yang tidak bisa menjempat si Kembar di sekolah. I love you, selamat berkerja, Honey!]^^^
^^^Leon^^^
Seketika, mulutnya melengkung membentuk senyuman. Lily tersipu malu, saat membaca isi pesan tersebut. Pipinya berwarna merah muda. Leon selalu saja membuat jantungnya berdebar-debar, padahal dia dulu pernah merasakan jatuh cinta, pada mantan suaminya. Namun, mengapa dengan pria bule ini, rasanya berbeda. Perlakuan Leon membuat dirinya terbuai, ia berharap pria tersebut, tak hanya manis diawal saja.
Wanita berambut panjang itu, segera membalas pesan dari kekasihnya. Dia menaruh kembali benda kecil itu ke tempat semula. Lily bergegas kekamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, dia sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya.
Tiga puluh menit kemudian, Lily dan si Kembar berada didalam mobil mini berwarna putih. Mereka sedang bercengkrama ria di sepanjang perjalanan.
"Mom, Uncle ngak jemput Sam hari ini?" tanya Samuel, dia sudah merasa nyaman dengan pria bertubuh kekar tersebut.
Saat di sekolah, teman-temannya mengira bahwa Leon adalah ayahnya. Bocah bermanik mata biru itu. mengiyakan ucapan teman sekolahnya. Namun dalam beberapa hari ini, Leon tidak menjemput dirinya di sekolah. Tentu saja, ia merasa sangat sedih.
"Ngak sayang, Uncle sedang ada urusan dikantor," ucap Lily tanpa mengalihkan pandangan matanya. Ia sedang fokus mengemudikan kendaraan roda empat tersebut.
"Hmm, baiklah," tutur Samuel dengan lesu, raut wajah sedih terukir diwajahnya.
Lily melirik sekilas pada anak bungsunya, yang berada di samping kursi kemudinya. Dia menghela napas sejenak, ibu beranak tiga itu tersenyum simpul.
"Besok, mungkin Uncle akan menjemput, tapi Mom tidak janji ya," ucapnya sambil melirik sekilas.
__ADS_1
"Benarkah, Mom?" tanya Samuel, wajahnya terlihat berseri-seri.
Lily membalas perkataan bocah itu, dengan menganggukkan sedikit kepalanya.
"Yes!" seru Samuel tanpa sadar, sambil mengangkat satu tangannya yang terkepal ke udara.
Lily terkekeh pelan, saat ekor matanya melihat tingkah putra bungsunya itu.
"Kak Nick, kita bisa mengerjai Lunna!" Celetuk Samuel, dia melihat kebelakang kursi sejenak.
"Ya, kau benar. Darla berada di Australia, jadi sekarang kita susah mencari mangsa," Nickolas berkata sambil sudut mulutnya terangkat.
Sementara, Kendrick yang mendengarkan obrolan adiknya. Hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Bocah kecil yang berpenampilan dingin itu, membalik halaman kertas bukunya, sedari tadi dia sedang membaca buku pemberian kekasih ibunya itu. Tak disangka, hobi keduanya sama. Selain bermain piano, ternyata Leon juga menyukai buku.
Lily yang berada di kursi depan, menghela napasnya. Ketika mendengar perbincangan anaknya. Kapankah mereka berhenti menjahili anak kecil? Ia sudah berulang kali menasehati keduanya. Namun mereka tak mengindahkan perkataannya.
***
Perusahaan Co. Marq.
Tampak seorang pria berkulit sawo matang, sedang duduk dikursi kerjanya. Ia mengerucutkan dengan tajam bibirnya, sembari memegang kaca kecil, yang berbentuk love. Pria berambut cepak itu, mulai memoles bibir tebalnya menggunakan lipbalm berwarna dustypink.
Alhasil, pergerakan tangannya melewati bibir tebalnya itu. Sekarang yang terpoles bukan hanya bibirnya, namun pipi sebelah kirinya juga ikut terukir.
"Oh my God!" serunya sambil beranjak dari tempat duduknya, dan memutar cepat tubuhnya ke belakang. "Lilyyyyy!" pekik Marimar dengan nyaring.
Seketika, Lily tertawa terbahak-bahak, saat melihat hasil karya diwajah pria bermanik mata hitam itu, yang tampak berantakan.
"Puas, you puassssss!" Marimar berdecak kesal sambil melototkan matanya dengan tajam.
"Maaf, Mar!" ucap Lily, ia menutup mulutnya agar tak kembali tertawa. Wanita bertubuh molek itu ingin nakal sejenak, sebelum ia resign dari perusahaan ayahnya tersebut.
"Untung hari ini hati eyke, lagi berbunga-bunga. Jadi you dimaafkan." Marimar melipat kedua tangannya didada.
"Memangnya ada hal yang istimewa hari ini, Mar." Lily berjalan cepat menuju meja kerjanya, dia meletakan tas berwarna hitam, di atas benda bercorak kayu itu.
"Tentu saja, ada," Marimar tersenyum sumringah.
__ADS_1
Hari ini, adalah kemenangan baginya. Karena wanita medusa yang sering menjadikannya kacung di kantor, telah angkat kaki dari tempat ia berkerja.
Kemarin dia belum seratus percaya, dengan gosip yang didengarnya. Tapi sekarang, melihat meja kerja Melisa yang terlihat kosong. Ia bersorak gembira didalam hatinya. Tidak tahu pasti apa penyebab, Milano dan Melisa dipecat. Namun desas-desus yang beredar, mengatakan bahwa sepasang kekasih itu, melakukan kesalahan fatal di perusahaan.
Dahi Lily berkerut, melihat tingkah rekannya, sembari bokong sintalnya duduk di kursi. "Apa yang membuatmu senang, Mar?" tanyanya penasaran.
"Two M didepak dari kantor!" seru Marimar sambil mengikuti pergerakan Lily.
"Two M?"
Marimar membuang napasnya dengan kasar. "Milano, Melisa!" ucapnya cepat.
Lily mangut-mangut, tampak memahami isi pikiran tetangga apartmentnya itu.
"You tahu Lily, rasanya eyke bebassss dari si ular itu!" ucapnya dengan menggebu-gebu. "Hari ini you akan ku traktir ayam geprek."
"Benarkah? Aku mau level 100, kalau begitu," kelakar Lily sambil menoleh kesamping. Dia merasa lega karena misinya dalam membantu ayahnya berhasil, kini perusahaan tempat ia berkerja sudah mulai stabil.
Begitulah, perbincangan absurd sepasang wanita tulen dan wanita setengah lelaki itu. Mereka segera berkutat dengan perkerjaannya. Tanpa terasa sudah terlihat siang. Lily dan Marimar berjalan menuju kantin perusahaan.
Setelah selesai memesan makanan dan menemukan meja kosong, yang terdapat di sudut kantin. Lily dan Marimar mengambil posisinya masing-masing.
"Mar, ada yang mau kubicarakan," ucap Lily dengan raut wajah serius. Lebih baik dia memberitahu sekarang, mengenai identitasnya. Janda itu, sangat yakin Marimar bisa menjaga rahasianya. Perihal dia marah karena merasa dibohongi, Lily tidak perduli.
"Ada apa, bicara aja cyin. Serius amat," sahut Marimar dengan mengangkat sedikit alis matanya.
Lily menghela napasnya, dia menatap lekat manik mata Marimar. "Aku adalah anak pertama, pemilik perusahaan Co. Marq," tutur Lily dengan cepat namun pelan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.