
Lily menghela napas. Manik mata berwarna biru laut itu menatap lekat pada lelaki yang baru saja dua hari ini menjadi kekasihnya. Lily menuntun Leon untuk duduk di kursi panjang yang berada di dalam ruangan VIP tersebut. Mereka duduk saling berhadapan.
"Dalam beberapa bulan ini perusahaan ayah sedang mengalami kekacauan. Ayah memintaku untuk menemukan dalang di balik kekacauan itu," tutur Lily.
Leon yang mendengarkan penjelasan, reflek memegang tangan Lily yang berada di atas meja.
"Apakah kau sudah menemukan dalangnya honey,?" tanya Leon dengan raut wajah serius.
"Sudah tapi aku harus menemukan bukti yang jelas atas kecurigaanku," jelasnya lagi.
"Apakah pelakunya orang yang kau kenal,?" tanya Leon.
"Iya sangat ku kenal. Bahkan dia yang telah mengoreskan luka di hatiku," ucap Lily dengan raut wajah sedih.
"Arnold"
Leon menatap dalam, dia berakting saja. Tentu saja Leon sudah tahu.
Lily menganggukkan kepala.
Leon menarik Lily ke dalam pelukannya. Dia mengusap perlahan punggung Lily berusaha memberikan kekuatan.
"Selama aku berada di sisimu. Sebisa mungkin aku akan melindungimu. Aku akan menjadi tameng saat orang-orang ingin menyakitimu," ucap Leon pelan.
Lily tersenyum mendengar perkatan Leon. Dia memeluk erat Leon. Dia bersyukur Tuhan mempertemukannya pada Leon walaupun dengan cara yang unik.
Leon melonggarkan sedikit pelukan.
"Honey jika kau perlu bantuan katakan saja pada ku. Aku akan siap membantu."
"Terimakasih Leon, tapi aku ingin berusaha sendiri dulu untuk berhadapan dengan masa laluku," tutur Lily memberi pengertian.
Lily tak ingin merepotkan kekasihnya. Dia tak enak hati baru saja berpacaran dua hari. Sudah ingin meminta bantuan pada Leon. Itu bukanlah tipikal Lily. Dia tak mau terlalu bergantung pada Leon kelak.
Leon memahami maksud perkataan Lily. Dia mengecup perlahan keningnya. Bermaksud menyampaikan perasaannya saat ini melalui sebuah ciuman dikening. Perasaan yang ingin selalu melindungi Lily.
Lily terkesiap mendapatkan perlakuan dari Leon. Entah mengapa rasanya teramat berbeda ketika Leon memberikan perhatian padanya.
Perlahan Leon melepaskan pelukan. Dia menatap serius Lily.
"Honey satu minggu lagi akan ada acara pernikahan mantan suamimu. Aku di undang olehnya, bolehkah aku mengajak mu untuk menjadi pendampingku,?" jelas Leon pelan.
Lily menganggukkan kepala.
Tiba-tiba.
Krucukkkk
Sepasang kekasih itu terkekeh bersama. Lily menundukkan kepala berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Leon mengulum senyum. Dia mengangkat perlahan dagu Lily. Mereka saling pandang satu sama lain.
"Sepertinya dari tadi ada yang menahan lapar," ledek Leon.
Lily tak menyahut. Dia segera memalingkan wajahnya. Dia sangat malu!
Leon segera menekan tombol khusus di ruangan itu. Dia meminta untuk di buatkan segera makanan jepang.
15 menit kemudian
Makanan jepang seperti sushi, sashimi, udon dan lain-lainnya sudah tersedia di meja makan. Leon memperhatikan dengan seksama makanan yang berada di depan. Dia tak terlalu suka dengan makanan negeri sakura ini tapi demi Lily, dia akan berusaha untuk memakannya.
Lily yang melihat tingkah Leon mengerutkan dahi. Dia mengusap pelan pundak Leon.
"Apakah kau tak suka,?" tanya Lily.
"Suka honey,!" ucap Leon dengan pelan.
Lily mengangguk kecil.
Sedari tadi perut Lily sudah meronta-ronta untuk di beri makan. Dia segera mengambil sumpit, makanan pertama yang ingin di cicipi adalah sushi. Leon pun melakukan hal yang serupa, dia mengikuti apa yang di lakukan Lily.
Keduanya pun menikmati makanan itu dengan begitu lahap dan tenang. Terlihat Leon sedang mengecap potongan sushi yang terlihat aneh di matanya.
Lily terkekeh pelan saat melihat raut wajah Leon.
Selesai makan siang bersama. Mereka segera kembali menuju ke kantor perusahaan. Namun Leon terlebih dahulu mengantarkan Lily ke perusahaan tempatnya berkerja.
Sesampainya di kantor Lily langsung di cecar Marimar dengan banyak pertanyaan.
"Hei you. Enak ya jelong-jelong! eyke di tinggalin. You udah mendua," ucap Marimar dengan raut wajah pura-pura sedih.
"Jadi siapa namanya? Apa perkerjaannya,?" tanya Marimar seraya mengerakan tubuh dengan gemulai.
Lily menggelengkan kepala.
"Satu persatu Mar,!" Lily menepuk keningnya.
"Ih eyke kan penasaran tahu,!" sungut Marimar.
Brak...
Melisa baru saja datang dari balik pintu. Dia langsung menghempaskan map dokumen besar di atas meja Marimar. Melisa melotot tajam pada Marimar.
Lily dan Marimar tampak terkejut mendengar hentakan map di atas meja. Terlebih lagi dengan kedatangan Melisa dengan raut wajahnya yang tak enak di lihat.
"Kenapa you melemparkan map di atas meja eyke,?" kesal Marimar menatap tajam.
"Kerjakan tugas ini sekarang dan jangan ikut campur urusanku,!" ucap Melisa tersenyum sinis.
__ADS_1
Marimar tampak mengernyitkan dahi. Kalimat terakhir Melisa membuatnya terheran.
"Apa maksud you mengatakan jangan ikut campur eyke ngak pernah ikut campur tuh!"
"Tak pernah ikut campur tapi kenapa kau mengatakan pada istri pak Milano jika aku main belakang dengan suaminya.!" Mata Melisa melotot dengan sangat tajam.
Marimar terkekeh pelan seraya tersenyum sinis.
"You pikir di kantor cuma eyke aja yang tahu kalau you pelakor.!" ucap Marimar sambil mengedarkan pandangan ke rekan kerja yang berada di kantor.
Sedari tadi mereka mendengar pembicaraan Marimar dan Melisa. Namun mereka seakan tutup telinga, mereka tak ingin berurusan dengan Melisa. Melisa selalu saja bersikap seperti bos di kantor. Jika salah satu karyawan berbuat kesalahan kecil pasti Melisa langsung melapor kepada pak Milano. Contohnya saja, kejadian 1 bulan yang lalu ada seorang karyawan yang tak sengaja menumpahkan kopi di pakaiannya langsung diberikan SP 1 oleh pak Milano.
Lain halnya dengan Marimar hanya dialah yang berani dengan Melisa. Sebenarnya Marimar adalah senior di kantor, dia sudah hampir 3 tahun mendedikasikan diri di perusahaan.
Beberapa rekan kerja terlihat berbisik-bisik. Tatapan mencemooh tertuju pada Melisa.
Melisa tampak menahan kepalan tangannya. Nafasnya memburu.
Lily yang melihat situasi tak kondusif berusaha menenangkan Marimar dengan menepuk perlahan pundaknya. Namun Marimar memberikan kode untuk membiarkan dia meluapkan kekesalannya pada Melisa.
Lily pasrah dengan kemauan Marimar. Dia menghela napas.
"Kenapa you baru sadar ya,!" Marimar melipat tangan di dada.
"Dasar bencong.!" teriak Melisa dengan lantang.
"Dasar pelakor,!" seru Marimar tak mau kalah. Marimar sengaja menyiram bensin di atas api.
"Apa kau bilang,?" tanyanya dengan raut wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.
"You tuli ya. Pelakor! Perebut laki orang,!" ucap Marimar dengan raut wajah seperti meledek.
"Kauuuuu,!" tunjuk Melisa ke arah Marimar.
Melisa segera mendekat ke arah Marimar dan langsung menarik rambut Marimar. Marimar pun tak mau kalah. Dia juga menarik rambut musuh bebuyutannya itu. Alhasil perkelahian pun terjadi tak ada yang mau mengalah.
Rekan kerja yang semula tak peduli malah mendekat ke arah mereka. Mereka tak melerai atau apa, malah memberikan sorakan pada Marimar.
"Ayo Marimar. Hajar,!" seru rekan kerja pria yang bertubuh jangkung memberikan semangat.
"Jangan mau kalah cyin,!" seru rekan kerja wanita yang juga membenci Melisa.
.
.
.
.
__ADS_1
...Hai kakak². Please bacanya jangan diam-diam ya. Tekan like, favorit, dan tinggalkan komentar walaupun hanya satu kata. Karena itu lonceng penyemangat untuk author....