Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 37. Kilas Balik


__ADS_3

Pov Lily.


Dari kecil ayah selalu menjagaku seperti kapas, bahkan nyamuk pun takkan sempat hinggap di kulitku. Dia selalu mengawasiku, dia menyayangiku, dia mencintaiku, dia selalu memberikan apa yang kupinta, jika aku keluar rumah pun selalu ada pengawal bayangan di belakangku. Awalnya aku risih, namun lama kelamaan aku berusaha mengerti dengan perhatian ayah.


Begitu pula dengan Ibu yang selalu melimpahkan kasih sayang yang tak terhingga.


Mereka memperlakukanku bak putri di negeri dongeng, aku diajarkan harus menjadi wanita yang lembut, harus menjadi wanita yang memiliki etika yang baik dan tentu saja harus menjadi wanita yang cerdas.


Hingga suatu hari, aku menemukan satu kisah tentang ayahku yang tak ku ketahui, kisah masa lalunya sebelum bertemu ibu.


Saat itu aku hanyalah seorang gadis belia, yang berumur 10 tahun, aku dan keluargaku berlibur ke Kota New York, tempat kelahiran ayahku dan tentu saja tempat tinggal nenek ku. Kami berlibur kesana, ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di luar negeri.


Namun siapa sangka, ketika di perjalanan aku terpisah dengan keluargaku. Ku akui itu salahku karna aku tak mengindahkan perkataan Ayah, aku tak berhati-hati dan bertindak sesuka hati. Karena aku ingin bebas tanpa ada banyak mata yang memperhatikanku.


Aku berjalan sendiri sambil bersenandung kecil, menyusuri jembatan Brooklyn kala itu, menikmati pemandangan sore. Tanpa mengetahui bahwa Ayah dan Ibu sedang mengkhawatirkan diriku.


Tanpa terasa langit di sekitar jembatan mulai berubah menjadi warna jingga, aku menghentikan langkahku, bertengker di tepian jembatan sambil menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku.


Aku tersenyum sejenak melihat pemandangan di depan mata. Ku pejamkan mataku sambil mendengarkan musik melankolis di handphone miniku yang ku selipkan di sweater.


Suasana di jembatan membuatku lupa akan waktu yang terus berputar, perlahan kubuka kelopak mataku, aku tersenyum melihat pemandangan di depan sudah berubah menjadi lampu gemerlap Kota metropolitan ini. Segera kumatikan musik pada handphoneku itu.


Tiba-tiba terdengar suara derit ban mobil tepat di belakang tubuhku. Aku tak menghiraukan bunyi ban itu, namun dari arah belakang ada seseorang yang membekap mulutku hingga membuat diriku tak sadar diri.


Sayup-sayup terdengar suara seseorang, aku merasakan kepalaku sangat sakit seperti di tancap beribu paku. Kurasakan pergelangan tanganku seperti di ikat, aku mengira bahwa aku sedang bermimpi. Tapi entah mengapa ikatan di tanganku terasa amat sakit.


Perlahan aku membuka mata, di hadapanku seorang pria dewasa berdiri tegap dan menatap tajam ke arahku.


Aku mengedarkan pandangan pada tempat sekarang ku berada, seketika tubuhku gemetar. Aku takut, amat takut! Ruangan ini sangat pengap, dapat kurasakan bau darah begitu menyengat. Di dalam ruangan ada sekitar 7 orang pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam dan tato menghiasi wajah mereka.


"Kau sudah bangun?" tanyanya padaku dengan tatapan yang sangat tajam.


Aku tak menyahut, di dalam pikiran ku sekarang hanya satu mau apa mereka dariku. Apa mereka ingin membunuh lalu menjual organku, atau memperkosaku, pikirku waktu itu.


"Anak dari Jonathan Marques ternyata sangat cantik!" ucapnya lagi dengan seringai licik.


Perlahan dia mendekat ke arahku, aku sangat takut.


Kembali dia berucap, "Apa kau takut? Lucu sekali anak seorang pembunuh takut?"


Deg.


Jantungku berdetak cepat, "Apa maksudnya?" tanyaku dalam hati.

__ADS_1


Pria itu terkekeh keras membuat ku semakin takut saja.


"Rupanya kau tak tahu siapa dulu Ayahmu, Mau ku ceritakan?"


Aku hanya diam tak mengubris pertanyaannya.


"Sepertinya putri Jonathan bisu!" Kali ini dia tertawa mengejek.


"Baiklah, aku akan menceritakan Ayah mu. Dia itu adalah seorang pembunuh, kau harus tahu itu Lily Marques, dulu Ayahmu adalah seorang mafia komplotan perdagangan organ manusia. Tahukah kau Ayahmu, yang kau sayangi itu, adalah seorang pembunuh kejam."


Napasku tercekat saat mendengar perkataan pria itu, aku memberanikan diri membuka suara.


"Kau pembohong!" teriak ku dengan napas yang memburu, entah mengapa aku tak suka ketika dia menyebut ayahku pembunuh, tidak mungkin ayahku melakukan perbuatan keji itu.


Pria itu malah tertawa lepas, seketika dia menarik kasar rambut panjangku membuat kepalaku mendongak ke atas. Aku meringis kesakitan saat tarikan rambut itu sangat erat.


"Aku akan membuat kalian menderita. Tunggu waktunya tiba!" Seringai licik di wajahnya membuatku bergedik ngeri. Kemudian dia menghempas kepalaku dengan kasar.


"Lepaskan dia, bawa dia ke tempat bajingan itu!" sahutnya pada seseorang di ruangan.


Aku pun dilepaskan dan di bawa oleh mereka ke tempat ayahku berada. Bisa kulihat raut wajah ayahku yang sangat cemas kala itu. Sungguh aku sangat bersalah, karena membuat mereka kelimpungan mencariku. Mereka memelukku erat dan menghujani wajahku dengan ciuman kasih sayang.


Esok harinya aku bercerita kepada Ayah apa yang terjadi kemarin. Dengan suara yang gemetar ayah menjelaskan padaku. Dulu dia memang seorang pembunuh, bisnis gelapnya membuatnya lupa diri dengan duniawi. Pertemuannya dengan Ibu menjadi titik awalnya untuk berubah, dia berjanji akan menjaga kami dari musuhnya di luar sana.


Aku terisak saat mendengar penjelasan Ayah. Aku tak menyangka Ayah melakukan hal seperti itu dulu. Aku mencoba memahami keadaan Ayah kala itu. Dia hanyalah seorang pendosa yang ingin bertobat.


Ketika bersekolah pun tak ada orang yang tahu siapa diriku, aku menikmati masa remajaku dengan baik dan aku mendapatkan seorang sahabat yang bernama Rissa. Yang selalu bersamaku, kami bermain dan saling berbagi suka dan duka. Hingga aku pun beranjak dewasa, aku mulai jatuh cinta pada seorang pria, yang bernama Arnold.


Arnold adalah cinta pertama dan pacar pertamaku walaupun latar belakang kami sangatlah jauh berbeda. Ayah berusaha menerima Arnold, karna dia tahu kebahagianku adalah bersama Arnold kala itu. Kami menjalini kasih hingga melanjutkan ke jenjang pernikahan.


Namun siapa sangka dia hanya menginginkan hartaku saja dan berselingkuh dengan Rissa.


Iya, sahabat ku kala itu. Rasa sakit yang ku dapatkan di malam itu. Di mana Arnold melukai ku dan anakku, membuat ku sangat membencinya. Namun aku tidak ingin menyimpan rasa dendam padanya. Aku pun berlari dari kenyataan dan berusaha melupakan bayangan masa lalu.


Aku pergi ke kota Moskow, Rusia. Selama 3 tahun berada di sana banyak pelajaran yang ku dapatkan. Hingga aku pun memutuskan, untuk kembali ke Indonesia. Aku ingin memulai hidup baru tanpa ada yang mengganggu. Tapi sepertinya mereka tak kan berhenti menganggu! Bahkan mereka berkerjasama dengan orang masa lalu Daddy.


Baiklah, aku akan berperang dengan mereka walaupun harus menggunakan cara kasar!


Pov End


***


Masih di dalam mobil.

__ADS_1


"Honey!" panggil Leon membuyarkan lamunannya sambil mencubit gemas hidung Lily.


Sedari tadi Leon melihat Lily sedang termenung, tampak memikirkan sesuatu.


"Awh!" Ringis Lily sambil mengusap hidung.


"Honey, sakit!" Lily memanyunkan bibir.


Leon tertawa lepas, "Honey, jangan sering melamun. Apa yang kau pikirkan?"


Lily menghela napas dengan pelan.


"Apakah kau sudah tahu mengenai asal usul Ayahku Leon?"


"Tentu saja aku tahu Honey. Apa yang tidak ku ketahui!" ucap Leon dengan nada angkuh.


"Kau sombong sekali Tuan Andersean!" sahut Lily sambil memutar bola matanya.


Leon terkekeh pelan," Aku cuma bercanda, Honey. Siapa yang tak tahu Ayahmu dulu mafia kejam yang di buru di kota New York dan San Fransisco, tapi sudah 31 tahun yang lalu dia menghilang tiba-tiba. Siapa sangka aku bertemu dan jatuh cinta pada putrinya," ucap Leon dengan menatap dalam.


"Kau tak takut di dalam darahku ada mengalir darah seorang pembunuh?" tanya Lily.


Leon dengan sigap menggelengkan kepala.


"Apakah kau berani dengan Ayahku?"


"Tentu saja aku berani, lihatlah di belakang mobil kita ada pengawal Ayahmu yang mengikuti kita dari tadi!" ucap Leon dengan bangga.


Lily terkesiap, "Bagaimana kau bisa tahu Leon?" Lily mengerutkan dahi.


"Rahasia." ucapnya sambil mencium sekilas bibir Lily.


Blush.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2