Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 113. Leon is a Lion


__ADS_3

Warning! Peringatan 21++++


Jangan sampai basah


Kak Nana sudah mengingatkan ya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Istri ku," panggil Leon dengan suara beratnya.


Membuyarkan lamunan Lily yang sedari tadi memikirkan sesuatu.


"Iy- a,' jawab Lily terbata-bata menatap ke depan. Ia berusaha menetralisir rasa takut yang tiba-tiba menjalar.


Tatapan Leon seperti seekor singa yang siap menerkam dan menyantapnya.


Seketika nyali Lily menciut. Ia membuang wajahnya ke samping dan menunduk. Jari-jemari mempererat lilitan handuknya.


"Jangan menghukum ku seperti ini," ucap Leon memohon.


Deg.


Suara Leon terdengar bergetar. Hati Lily terasa nyilu.


"Apakah aku terlalu berlebihan?" Lily bertanya pada dirinya sendiri.


"Honey, lihat mataku."


Lily mengangkat kepalanya. Wanita itu menatap lekat Leon yang berada beberapa langkah darinya.


"Aku minta maaf karena terlalu sering menjahilimu, kau tahu aku ini pria normal. Naluri ku sebagai seorang lelaki terkadang tidak bisa aku kendalikan. Terlebih lagi, jika aku berdekatan denganmu, hanya denganmu." Leon menatap sendu.


Lagi, lagi Lily tercekat mendengar penuturan Leon. Ia dapat melihat pancaran mata Leon yang sedang menahan sabar.


Iya, Leon menghormatinya sebagai seorang wanita, ia tidak pernah memaksanya walaupun Lily tahu banyak kesempatan bagi Leon, jika ia ingin menyentuhnya.


Tapi Leon tak melakukannya.


Bolehkah Lily membandingkan perlakuan Arnold dan Leon?


Dahulu, dengan mantan suaminya, di malam pertama Lily diperlakukan dengan amat kasar dan brutal.


Lily tentu saja syok.


Tapi, sekarang ada seorang pria, yang sudah menjadi suaminya. Menghargai dirinya dengan meminta izin darinya dahulu.


Baiklah, sudah cukup bermainnya!


"Maaf, aku terlalu berlebihan. Bagaimana kau tahu, kalau aku berbohong datang bulan?"


"Tadi malam, aku tidak sengaja menemukan obat merah di dalam laci meja rias mu, lalu aku juga mendengarkan ucapan mu yang mengatakan hukuman, semalam aku belum sepenuhnya tertidur."


Lily mematung. Ia merasa bersalah. Padahal tadi malam Leon sudah tahu, tapi mengapa ia tidak langsung menjamah Lily. Rasa bersalah semakin membuncah di relung hatinya.


"Jadi?" Leon melangkah lagi, sambil melepas pakaian atasnya. Lalu melempar asal.


Lily tak menyahut, dia pun ikut memundurkan langkah kakinya.


Sorot mata Leon yang semula sendu berubah menjadi lebih liar, dan siap membidik mangsanya.


Leon membuka celana jeansnya. Kini yang tersisa hanya kain bawah yang berbentuk segitiga.


Di bawah cahaya lampu, Lily dapat melihat setiap inchi tubuh suaminya. Yang langsung mengaktifkan pikiran-pikiran nakalnya. Ia memang pernah melihat Leon bertelanjang dada. Namun entah mengapa, sekarang rasa gugup tiba-tiba mendera.


Lily tengah membayangkan, suaminya berbagi peluh dengannya.

__ADS_1


Semburat merah tampak jelas di kedua pipinya, ia kembali memalingkan wajah. Menundukkan kepalanya lagi.


"Honey." Leon berjalan cepat mendekatinya.


Lily linglung, saraf-sarafnya seketika lumpuh. Bibirnya kelu, tangan dan kakinya tak mampu bergerak sama sekali.


Langkah kaki Leon membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Istri ku," panggil Leon sambil mengangkat dagu Lily. Kedua mata mereka bertemu.


Lily dapat merasakan nafas Leon memburu, dan melihat jakunnya naik turun.


"Akan ku lakukan dengan pelan," ucap Leon sambil menarik handuk Lily dengan cepat. Ia segera merengkuh tubuh Lily dan melabuhkan ciu-man di bibirnya.


Pelan dan menuntun.


Kedua mata Lily menutup, menikmati apa yang dilakukan suaminya.


Seketika Leon mengangkat badan Lily tanpa melepaskan tautan bibirnya. Leon tengah mengikuti instingnya.


Lily reflek mengalungkan tangan di leher Leon.


Pria itu merebahkan perlahan tubuh Lily di atas kasur, lalu membuka cepat paha istrinya. Dan jari-jemarinya bermain lincah di bawah sana, memainkan klit Lily.


Lily menarik kepala, melepaskan lil itan li dahnya. "Leon, stop!" pekiknya dilanda nikmat sambil melengkungkan punggungnya.


Leon tak menghiraukan permintaannya. Tangan kirinya kembali menahan tengkuk Lily dan mema gutnya lagi.


Lebih dalam dan kasar.


Sementara itu, tangan kanan Leon, masih menari-nari di sana.


Satu detik.


Dua detik.


Empat detik.


dan......


Tiga puluh detik.


"Leonn, please! Aku mau pipisss.... A..h h h!" Sesuatu dari bawah sana keluar, seakan mengobrak-abrik otaknya.


Lily terkulai lemas.


Ia lemah.


Nafasnya terengah-engah. Inti tubuhnya berke dut.


Leon berdiri di tepi bed, dan membuka cepat kain terakhirnya. Benda padat itu menyembul keluar.


Lily tersentak, melihat ukurannya. Ia hendak memundurkan badannya.


Namun, Leon menarik kaki Lily dengan gesit. Ia mengurung Lily di bawah tubuhnya dan menge cup rakus bibir ranum Lily.


Lily pasrah. Tak mampu bergerak akibat org a sme pertamanya tadi.


Nafas Leon memburu, ia mengigit daun telinga Lily. Lalu melabuhkan kecupan di leher jenjangnya. Kemudian turun ke bawah, bermain di dua aset penting Lily, dan menyambarnya dengan rakus.


Terdengar suara mendayu dari bibir Lily, ia menggeliat sambil mencengkram rambut Leon.


Leon mengangkat wajahnya, menatap penuh damba. "Honey, aku masukan ya," ucapnya dengan melebarkan paha Lily.


Lily tak menyahut. Dadanya naik-turun.

__ADS_1


Leon hendak menyatukan tubuhnya. Ia menautkan alis matanya. "Istri ku, mengapa terasa sempit?"


Lily terdiam, ia masih menarik udara disekitarnya.


"Ketika aku berada di Moskow, aku sering melakukan senam kegel, suami ku," Lily hanya mampu berucap di dalam hati.


Semenjak, berpisah dengan mantan suaminya Lily lebih sering merawat tubuhnya. Dari luar hingga ke dalam, terlebih lagi mendengar nasihat dari mendiang adiknya, yang mengatakan dia harus mencari pendamping hidup.


Lily pun berinisiatif melakukan perawatan agar aset bawahnya lebih kencang. Ia pun melakukan senam kegel, salah satu senam yang berfungsi untuk mengencangkan dan merapatkan otot-otot mis s. v.


Leon kembali mendorong tubuhnya. Ini pertama kali baginya, sesuatu yang asing namun dapat membuatnya di mabuk kepayang.


Sedangkan Lily memekik, saat merasakan sesuatu yang besar melesak masuk.


"Istri ku, kau seperti masih perawan," desis Leon pelan. Ia mulai menggerakkan tubuhnya.


Lily mencengkram sprei kasurnya. "Suami k..." Ia tak mampu berkata lagi.


"Leo- hmmff!"


Leon membungkam bibir Lily, sambil menyatukan jemari lentik Lily pada jarinya.


Semula suara henta kan terdengar pelan namun lama kelamaan, semakin bertambah kuat dan nyaring. Kulit keduanya saling bergesekan dan bersentuhan. Rintihan kenikmatan terdengar syahdu.


Malam ini adalah malam dimana pasangan itu, saling menyatukan cinta mereka.


Sebuah rasa cinta sejak pandangan pertama, cinta yang turun dari mata ke hati.


Cinta penuh makna, cinta yang menuntun, cinta yang tak memaksa, cinta yang melebur menjadi satu.


Dan cinta yang bisa membuat siapa saja bisa menggila.


Kini, keduanya sedang berada di atas surga.


Ya surga, surga dunia.


Surga yang sudah sah secara a ga ma.


Mereka pula tengah menikmatinya di salah satu tempat yang dijuluki surga dunia, Hawai.


"Ah h h!"


Tubuh keduanya bergetar hebat.


Tampak peluh keringat membasahi tubuh pasangan suami istri itu. Nafasnya keduanya beradu dengan udara di dalam ruangan.


Leon menjatuhkan tubuhnya tepat di dada Lily.


"Terimakasih, istri ku," desisnya dengan nafas yang terengah-engah. Dapat ia dengar degup jantung istrinya berdetak cepat.


"Hmm, iya suami ku," ucap Lily mendayu.


Lalu..


Detik kemudian tanpa ancang-ancang Leon kembali menggerakkan tubuhnya walaupun di bawah sana benih sudah ditaburkan.


Ternyata Leon belum puas. Tubuh istrinya bagaikan candu baginya.


"Leonnnn!" pekik Lily lagi dan lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2