Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 82. King and Queen


__ADS_3

***


"Lex, suruh Montero untuk bersiap di posisi masing-masing. Kita bertemu di Saint Clara, tiga puluh menit lagi!" sahut Leon cepat. Dia mengemudikan mobil di atas kecepatan rata-rata, sebab mereka kembali diikuti kelompok Swedish yang lainnya.


"Sepertinya mereka tidak jera! Apakah kita harus mengeluarkan B agar mereka semua hancur!" ucap Lily dengan tak henti-hentinya menembakkan timah panas ke arah mobil musuh.


"Tunggu waktu yang tepat, Honey!" jawab Leon seraya fokus mengemudikan kendaraannya. Dia tidak mau bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Sebab senjata yang di sebutkan kekasihnya sangat lah berbahaya, dan bisa membahayakan keselamatan warga yang berada di jalan raya.


Lily tak menyahut perkataan Leon, dia tengah asik menarik pelatuk senapan berlaras panjangnya. Wanita itu sangat menikmati pertempurannya bersama Swedish.


Terdengar bunyi tembakan di sepanjang jalanan pusat Kota. Tampaknya aksi baku hantam itu menggundang kepolisian setempat untuk bertindak lebih lanjut.


Kini mobil polisi yang berjumlah dua buah, mengikuti Leon dan Swedish dari arah belakang. Mereka pun ikut berpartisipasi dalam pertikaian dua kelompok itu.


"Honey!! Cepat berikan pelurunya pada ku, punya ku sudah habis!" pinta Lily. Saat selongsong timahnya habis tak tersisa sebab dia telah berhasil menembak empat anak buah Pablo hingga tewas. Sekarang tersisa dua buah mobil musuh dan dua mobil buah polisi yang masih mengikuti mereka.


Leon segera memberikan apa yang di inginkan Lily. Wanita berambut panjang itu mengambil dan mengisi peluru berwarna emas itu dengan cepat.


Dor.. dor...dor..

__ADS_1


Tiga kali tembakan mengarah pada si pengemudi mobil berwarna putih.


Jackpot!


Kendaraan roda empat milik Swedish seketika oleng dan keluar dari ruas jalan tol.


Brak.


Mobil anak buah Pablo masuk ke salah satu cafe yang berada tak jauh dari jalanan.


Lily tersenyum sinis.


Pintar, cantik, keibuan, tangguh, dan keberanian kekasihnyayang selalu membuatnya berdecak kagum.


"Itulah aku Honey!" sahut Lily bangga dengan kemampuannya. Dia kembali menarik pelatuk dan melayangkan peluru ke arah musuh di belakang.


"Damn!" umpat Lily saat melihat polisi semakin bertambah banyak. "Leon, kita harus membunuh mereka semua! Polisi akan mengacaukan semua rencana kita!" seru Lily sebab petugas keamanan itu, ikut membidikan peluru pada kendaraan Leon.


"Tunggu aba-aba dari ku Honey!" Leon semakin meningkatkan kecepatan.

__ADS_1


Suara peringatan petugas polisi dari arah belakang terdengar nyaring di iringi dengan suara sirine.


Leon terkekeh pelan, saat mendengar polisi mengatakan akan meningkatkan keamanan level 1. "Kau dengar Honey, mereka akan mengirimkan helikopter!" serunya sambil tersenyum sinis.


Sedari dulu Leon tak menyukai aparat keamanan di seluruh penjuru dunia. Semenjak kejadian beberapa tahun yang silam, ketika tragedi kecelakaan Leticya dan Marvin. Leon enggan percaya para aparat keamanan. Sebab petugas kepolisian menutup rapat mata dan hati mereka, saat di beri sogokkan oleh Pablo.


Leon mendapatkan informasi dari orang kepercayaannya bahwa polisi ikut terlibat dalam insiden tragis mendiang kakak dan temannya. Pria itu tentu saja sangat marah dan menaruh dendam pada polisi.


"Sangat menarik, Honey! Jadi kapan aku bisa memakai B?!" Come on, Honey. Please!!" pinta Lily dengan memanyunkan bibir.


Leon tersenyum simpul sambil mengusap sekilas kepala Lily. "Sebentar lagi Honey, kita harus menjebak mereka di suatu tempat!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2