
~
Aku iri pada mereka, dimana di pagi hari mata sayu mereka disambut, sebuah senyum lembut Ayah.
Aku iri pada mereka, tak ada suara halus namun tegas menembus kalbu.
Aku iri pada mereka, tak ada hangat sayang, setelah hari itu.
~
****
Di ufuk barat, matahari sudah tenggelam dengan perlahan. Ia pamit undur diri kepada manusia, esok pasti ia akan datang kembali menyapa semesta. Langit yang semula berwarna biru cerah telah berubah menjadi warna jingga kemerahan. Suasana nan indah pun tercipta dari secercah cahaya matahari yang mulai meredup.
Kepakan sayap-sayap burung mungil terdengar merdu di atas pencakar langit, mereka sedang mencari tempat peristirahatan. Namun lain halnya dengan manusia yang berada di bawah senja, mereka masih asik melakukan aktvitasnya masing-masing.
Tampak salah satu mansion mewah bergaya eropa dengan pagar berlapis emas, sudah mulai dihiasi dengan cahaya lampu. Pelayan dan penjaga menyibukkan diri dengan tugasnya masing-masing, salah satu pelayan tua sedang bersenandung kecil, dia mengulum senyum saat mendengar suara musik yang berasal dari salah satu ruangan, yang menenangkan jiwanya.
Di ruangan besar, yang di dominasi dengan warna putih, terdengar alunan musik yang mengema dari dalam kotak piano. Seorang anak lelaki sedang menekan tuts berwarna putih dan hitam dengan begitu lincah.
Dia memejamkan kedua matanya, menikmati permainan jari jemarinya. Dawai-dawai yang berada di dalam kotak itu menghantarkan instrumen musik dengan begitu indah, bagi setiap telinga yang mendengarkannya. Dia menghembuskan napas dengan pelan.
La campanella - seniman Paganini/Franz Lizt adalah musik yang sedang dia mainkan sekarang. Paganini merupakan seniman musik komponis yang berasal dari Italia.
Dia sangat terkenal dengan kepiawaiannya, dalam memadukan intonasi musik dan teknik permainan yang begitu sempurna. Bocah lelaki itu amat mengidolakan seniman tersebut, dia sangat menyukai musik klasik.
"Prok... prok.. prok!" Suara tepukan terdengar begitu nyaring di dalam ruangan, ketika anak lelaki itu menyudahi permainannya.
"Wow, kau keren Ken!" Puji Leon sembari berjalan pelan ke arah Kendrick. Dia tak menyangka, hobinya sama dengan anak lelaki itu.
"Terimakasih." Kendrick menatap datar pada sosok pria yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. Dia membuang napas dengan pelan.
"Keren kan, Uncle!" Samuel mengacungi satu jempolnya.
Leon pun menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Samuel. Dia mengusap pelan kepala Samuel.
Samuel tersenyum simpul, saat merasakan sentuhan di kepalanya. Seketika rasa yang begitu hangat menjalar ke dalam hatinya.
Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan Kendrick, dia menatap lekat Samuel.
"Hei, kalian melupakan ku!" cetus Nickolas sembari berlari ke arah saudara kembarnya berada.
Lunna pun mengekori dari belakang Nickolas, dia senang dengan kehadiran si Kembar di dalam mansion, pasalnya Leon selalu menjaga ketat dirinya, sehingga dia pun tidak punya teman bermain.
Leon terkekeh pelan melihat tingkah Nickolas dan Lunna yang sedang berlari kecil ke arah mereka.
"Daddy!" Lunna merentangkan kedua tangan mungilnya.
Leon pun dengan sigap menangkap tubuh kecil Lunna dan membawanya ke dalam gendongan. Dia memeluk erat tubuh kekar ayahnya, dia mengelitik tubuh Leon.
Samuel melihat dengan intens interaksi keduanya. Dia juga ingin di peluk seperti itu oleh ayahnya. Namun ternyata itu hanyalah angan saja, yang tak akan bisa tercapai. Dia rindu sekali dengan Arnold, walaupun ayahnya sudah berlaku kasar tadi.
__ADS_1
Sementara itu, Kendrick dan Nickolas terdiam membisu, menyaksikan pemandangan di depan mata. Kedua mata mereka menatap sendu, entah apa yang sedang mereka pikirkan.
20 menit kemudian.
Leon mengajak keempat bocah kecil itu, untuk makan malam. 2 menit yang lalu, dia mendapatkan pesan singkat dari Lily bahwa kekasihnya itu akan pulang larut malam.
Saat ini mereka sedang menyantap makanan yang tersedia di ruang makan dengan begitu lahap.
*****
Perusahaan Co. Marq.
Sebagian karyawan perusahaan tampaknya sudah pulang ke rumah, mereka bersenang ria karena tugas mengais rezeki telah selesai. Namun di sudut ruangan atas bagian Finance, ada dua orang manusia yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Marimar membuka mulutnya dengan lebar, kedua matanya sudah terlihat sayup. Dia menguap mungkin sudah 4 kali atau lebih.
"Oh God!" jerit Marimar.
"Kapankah ini akan berakhir! Awas you nenek lampir gara-gara you, eyke harus mengerjakan kerjaan ini!" seru Marimar dengan mengepalkan satu tangan ke atas.
Dia tak peduli, sungguh tak peduli dengan penghuni kasat mata yang berada di dalam kantor. Biarlah suaranya terdengar nyaring hingga keluar gedung, bila perlu menembus dinding rumah Melisa disana.
Lily yang berada di sebelah Marimar, terkekeh pelan melihat kekesalannya.
"Apa you ketawa-ketiwi!" Marimar melototkan mata, dia sangat kesal mengapa temannya itu tak terlihat kelelahan.
"Jangan marah-marah nanti tampannya hilang." Goda Lily sambil menoel lengan Marimar.
"Apa sih?!" Marimar kesal sembari memanyunkan bibirnya.
"Mar," panggil Lily.
"Hmm." Marimar hanya berdehem, kedua matanya sibuk memperhatikan layar berbentuk persegi panjang itu.
"Marcoooooo!"
"MARIMAR! bukan Marco," sela Marimar sambil menoleh ke arah Lily.
Lily tak menyahut, dia sengaja mengerjai rekan kerjanya itu. Dia menahan senyumnya.
"Ada apa sih cyinnnn?" Marimar memutar malas, kedua bola matanya.
"Mar, kita ke depan yuk. Beli kopi sebentar," ajak Lily.
"Tapi perkerjaanku masih banyak, cyin." Marimar menggerakan badannya dengan gestur gemulai.
"Nanti aku bantu deh."
"Tapi....... "
"Nanti aku traktir," potong Lily dengan cepat.
__ADS_1
"Benarkah?" Kedua mata Marimar seketika berbinar mendengar perkataan Lily.
"Kalau gratis sih akika yes!" Marimar bangkit berdiri.
"Giliran gratis mau aja, uhhh." Omel Lily sambil mengambil tas kesayangannya.
"Kan eyke kaum gratis." Marimar tertawa keras.
Lily menggelengkan kepala, mereka pun segera keluar dari ruangan menuju lift. Sesampainya dilantai paling bawah, mereka berjalan pelan ke arah pintu utama. Cafe yang ingin mereka datangi berada didepan perusahaan, hanya berjarak beberapa meter saja. Mereka pun menyebrangi jalan raya dengan berhati-hati.
"Eh bok, katanya waiters di sini tampan loh." Marimar melirik sekilas ke arah Lily.
Lily tak menyahut, dia sudah mulai terbiasa mendengar ocehan Marimar.
Sesampainya di dalam cafe, mereka segera memesan kopi.
"Hai, tampan. Akika pesan coffee latte 2 cups, no sugar ya. Sugarnya dari you." Marimar mengedipkan satu matanya seraya menggerakan tubuhnya seperti ulat keket.
Pelayan itu, tersenyum mendengar permintaan salah satu pembeli tersebut.
"Mar, jangan membuatku malu." Lily menyentuh lengan Marimar. Pasalnya beberapa orang yang menunggu antrian, memperhatikan tingkah Marimar.
•
10 menit kemudian, pesanan mereka pun telah selesai, tak lupa mereka mengucapkan terimakasih. Mereka segera berjalan keluar, menuju perusahaan. Dengan pelan mereka kembali menyebrangi jalan.
Cittttt.
Namun dari arah depan mereka, tiba-tiba ada satu mobil yang melaju dengan sangat cepat. Marimar hampir saja diserempet oleh mobil tersebut.
"Ya ampun, hei you punya mata ngak!" teriak Marimar dengan sangat nyaring. Mobil itu tak berhenti, malah semakin mempercepat kendaraan tersebut.
"Kau tak apa-apa kan Mar?" tanya Lily menelisik tubuhnya.
"Eyke ngak apa-apa. Dasar orang zaman sekarang tidak berprikemanusiaan sekali!" sungut Marimar.
Sepersekian detik, ekor mata Marimar tak sengaja menangkap sesuatu yang aneh berada di jalan raya.
"Eh bok, itu bukannya darah ya." Marimar menepuk cepat pundak Lily.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tekan like, favorit dan votenya ya!