Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 114. Pillow Talk


__ADS_3

Warning 18+++++++


Jangan mendekat!!!!


Bocil di bawah umur minggir sana!!! Hush hushh wkwk emoticon kepala miring.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Leonnnnnnnn!! please stop! Oh my....!!" Suara mendayu Lily memenuhi ruangan.


Entah sudah berapa kali Leon meng*****nya. Pengantin baru itu, sampai lupa waktu. Leon sudah berapa kali berganti posisi.


Lily sampai kewalahan mengimbangi suaminya yang tak terlihat kelelahan sama sekali. Sedari tadi, Lily meminta Leon untuk berhenti, namun seakan tuli. Leon tak mengindahkan perkataannya. Pria bule itu malah semakin menaikkan te**o perm***annya.


"Honey, bersabarlah sedikit ya," ucap Leon hendak berganti posisi lagi.


"****.....Honey aku tak mam-," ucap Lily tanpa membuka matanya.


Leon menyambar b**ir Lily dengan rakus. Ia men***ap, meli**t, dan bertukar sal**a dengan istrinya.


Nafas Lily terengah-engah. Setelah Leon melepaskan li**tan lidahnya. Tiba-tiba Lily merasa tubuhnya di angkat.


Leon berbaring lalu menuntun pinggang Lily agar duduk diatasnya.


Lily tersentak kaget, saat benda itu kembali menghuj**nya dari bawah. Rambut panjangnya yang menjuntai ke belakang terlihat tidak beraturan. Lily tidak bergerak. Kedua tangannya menekan dada Leon. Kedua matanya menutup sembari kepalanya mendongak ke atas.


Leon lah yang ber**in. Dia memegang p**ggul Lily. Leon dapat melihat dua b**ki t besar, seputih salju bergerak naik turun. Dan mendengar suara mendayu Lily yang membuatnya bergelora dan semakin bersemangat.


Hent**an kuat dari bawah, sangat dalam dan ni**at.


"****Leonnnnn!!"


Tubuh Lily bergetar hebat, diikuti suara erangan Leon.


Lily terkulai lemas, ia menjatuhkan tubuhnya di dada Leon. Lalu memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu, Honey. Aku harap ke**bong ku akan tumbuh menjadi janin di dalam sana." Leon mengecup kening Lily sembari mengusap punggungnya perlahan.


Mendengar perkataan Leon, Lily terkekeh pelan tanpa membuka kelopak matanya. Dia sangat kelelahan. Tubuhnya terasa remuk.


.


.


.


Suara deburan ombak terdengar di telinga Leon. Ia memeluk erat wanita yang berada di sisi kirinya. Saat ini, posisi keduanya menyamping.


Kelopak mata Leon membuka perlahan. Sinar matahari yang menembus gorden putih membuat matanya menyipit. Punggung mulus Lily yang menjadi objek pertama kali yang dilihatnya. Ia tersenyum simpul saat mengingat percint**nnya semalam.


Untuk pertama kalinya Leon merasa kepalanya akan meledak. Tubuh istrinya benar-benar candu, ia tidak dapat mengontrol tubuhnya untuk berhenti.


Rasa sayang dan cinta Leon kepada Lily semakin bertambah, sungguh ia tak akan bisa membayangkan hidupnya tanpa Lily.


Leon menyibak rambut panjang Lily ke atas, lalu menyusuri punggung Lily, dan mengecupnya berkali-kali.


"Honey,' ucap Lily pelan saat merasa Leon mulai beraksi.


Sedari tadi, Lily sudah terbangun namun masih enggan membuka matanya. Ia benar-benar keletihan, rasanya hari ini, ia ingin di dalam kamar saja atau bila perlu pijat sejenak agar dapat merileksasikan otot-otot badannya yang terasa amat sakit.


"Good morning, istri ku." Leon melabuhkan ke**pan pelan di pipi Lily.


"Hmm, good morning," sahut Lily malas.


"Capek?" tanya Leon melihat Lily masih menutup matanya.


Lily mengangguk kecil, membuat Leon tersenyum simpul. "Kita hari ini di kamar saja ya, selesai mandi kita sarapan di sini," ucap Leon.


Lagi, dan lagi Lily membalas perkataan Leon dengan menganggukkan kepala dengan lemah.

__ADS_1


Lalu keduanya kembali melanjutkan tidurnya.


.


.


Tepat pukul delapan pagi, Lily membuka kelopak mata. Netranya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Bola mata itu langsung melihat langit yang cerah di luar sana, melalui jendela kamarnya. Ia tersenyum dengan kegiatan semalam.


Kemudian Lily membalikkan badan dengan pelan. Lily melihat Leon masih tertidur pulas. Cukup lama Lily menatap wajah Leon yang semakin nampak menawan.


Hidung, alis mata, rahangnya, bibirnya, semua miliknya sekarang.


Semalam adalah malam yang tidak akan pernah Lily lupakan seumur hidupnya. Ia terkikik sendiri teringat dengan suaranya yang melengking nyaring.


"Sudah selesai, melihat-lihatnya?" tanya Leon sambil membuka perlahan matanya.


"Sudah," ucap Lily senyam-senyum. Ia seperti dejavu.


"Mau aku makan lagi?


"Jangan aku capek!" Lily memanyunkan bibir. "Honey, aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Lily tiba-tiba.


"Boleh, bertanya lah," ucap Leon sambil memposisikan badan menghadap Lily.


"Hmm, benarkah aku wanita pertama bagimu?"


"Iya, kau yang pertama dan terakhir."


"Mantan pacar mu?" tanya Lily lagi, ia amat penasaran. Pasalnya Leon sangat lah tampan, ketampanannya di atas rata-rata. Setara dengan model atau lebih dari artis, entahlah. Kalau dia aktif di dunia maya, maka Leon akan di elu-elukan oleh kaum hawa.


"Aku tidak ada pacar."


Lily menautkan alis mata. "Kenapa tidak ada?"


"Iya, memang tidak ada. Karena mereka hanya mau kekayaanku, dan tidak ada yang menarik perhatian ku. Semuanya palsu."


"Jawaban mu tidak memuaskan Honey! Tidak mungkin kau tidak ada teman wanita sewaktu bersekolah atau pun kuliah!"


"Ckckk, kau mulai sombong! Teman wanita tidak punya satu pun???" Lily memicingkan mata.


Leon menarik nafas panjang, detik kemudian ia mengulum. "Honey, jangan cemburu." Leon menggoda Lily sambil menatap lekat.


"Aku tidak cemburu!" Kilah Lily. "Aku hanya merasa aneh saja, mengapa kau tidak punya pacar atau pun teman wanita, di Jakarta atau pun di Los Angeles kan banyak wanita s**si dan cantik!" sahut Lily mengebu-gebu.


Leon malah tertawa pelan mendengar penuturan Lily. "Honey, kemarilah," ucapnya pelan.


"Tidak mau!" ketus Lily sambil memutar bola mata dengan malas.


Leon menarik tubuh Lily. Keduanya saling berhadapan. Mata mereka saling bertemu, hanya menyisakan ruang di antara hidung mancung mereka.


"Dengarkan aku, wanita di luar sana memang lah banyak. Tapi tidak ada sedikitpun yang membuat ku tertarik, teman wanita hanyalah mendiang kakak ku, dia juga overprotektif dengan ku Honey. Dia mengatakan wanita di luar sana sangat lah berbahaya, mereka akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terlebih lagi dengan kekayaan yang dimiliki Daddy dan diri ku." Leon menarik nafas pelan.


"Dahulu mantan istri ku, salah satu wanita yang melakukan perbuatan menjijikkan, dia meminta kepada kedua orangtuanya untuk menjodohkannya padaku, tapi Leticya menemukan bukti bahwa dia sering berh**ungan ba**n dengan bergonta-ganti pasangan. Saat malam pertama, aku sedikit pun tidak pernah menyentuhnya, walaupun waktu itu dia memancing ku memakai busana minim, tapi hal itu tidak membuatku tera**sang sama sekali, " jelas Leon panjang lebar.


Lily mendengarkan dengan seksama. Dia tak menyela. Lily merasa aneh dengan dirinya mengapa bertanya sesuatu yang tidak penting.


Apakah dia terlalu takut kehilangan Leon?


Entahlah..


Atau sekarang dia memang sedang cemburu buta.


"Honey, percaya lah, hanya kau wanita pertama yang membuat ku bisa menggila, kau sangat berbeda, biasanya wanita yang lain menatap kagum pada ku, tapi kau malah menendang ku," ucap Leon saat melihat Lily hanya terdiam.


Lily terkekeh pelan saat teringat pertama kalinya berjumpa dengan Leon. "Kau ini!" Lily mencubit gemas hidung Leon.


"Aw* Sakit!" Leon merengkuh Lily. "Kau itu wanita yang aneh,"ucapnya sambil punggung Lily lalu melabuhkan kecupan di puncak kepala Lily.


"Aneh kenapa?"

__ADS_1


"Aku mengajak menikah, tapi menolak ku."


"Wanita itu harus jual mahal! Masak langsung aku terima. Terlebih lagi perjumpaan pertama kita kau itu sangat menyebalkan dan dingin, lalu menyuruh ku mencuci jas mu."


Keduanya terkekeh pelan mengingat masa-masa awal pertemuan mereka.


"Honey, bolehkah bertanya juga?" Kali ini Leon yang membuka suara.


"Iya."


"Mengapa nama si Kembar berbeda, lalu di Moskow apa kau mempunyai teman laki-laki?" tanya Leon.


"Kalau untuk nama si Kembar, sengaja aku berikan nama berbeda agar lebih mudah memanggilnya. Lihatlah Nickolas dan Samuel mereka sangat lah mirip susah untuk dibedakan, untung saja aku tahu apa yang membedakan mereka. Lalu kalau teman laki-laki tidak ada, Honey. Karena ada bodyguard Daddy di sana, jadi mereka tidak berani mendekat, terlebih lagi si kembar juga overprotektif."


"Benarkah?"


Lily mengangguk. "Jika ada yang mengajak ku berkencan, Kendrick lah yang maju paling depan, lucu sekali mereka."


Leon melengkungkan bibirnya membentuk senyuman saat mendengar penuturan Lily. "Apa aku boleh mengubah nama belakang mereka, menjadi nama keluarga ku Honey?"


"Maksud mu menjadi Kendrick Andersean, atau Nickolas Andersean?"


Leon mengangguk.


"Hmm, boleh Honey tapi kita tanyakan dulu pendapat mereka nanti," ucap Lily pelan. Sebenarnya ia sudah tak mau berurusan dengan masa lalunya lagi, mengingat nama belakang mantan suaminya terpatri di nama ketiga anaknya. Bagaimana pun Arnold tetaplah ayah biologis si kembar. Ia tak mau mengambil keputusan sepihak.


"Terimakasih Honey!" Leon menyusuri leher jenjang istrinya.


"I- ya, geli Honey!"


Leon terkikik tiba-tiba mengangkat satu kaki Lily.


Lalu..


"Leon, apa yang kau *****!"


Leon menya**kan tubuh mereka kembali dengan posisi saling berhadapan.


Entah gaya apa lagi ini.


Lily memanggil nama suaminya berkali-kali. Hingga mereka sampai lupa telah melewatkan sarapan.


.


.


.


"Tubuh ku semuanya sakit!" gerutu Lily sambil mengayunkan kaki dengan sangat pelan. Sebab inti tubuhnya masih terasa perih, bagaimana tidak. Leon melanjutkan sesi ber**nta sampai ke kamar mandi, saat mereka sedang membersihkan diri. Lily yang tidak ada tenaga untuk melawan akhirnya pasrah. Leon yang kasihan pada Lily mengajaknya untuk pijat refleksi.


Kini keduanya tengah pergi ke tempat tujuan.


"Maafkan aku, Honey, mau ku gendong?" tanya Leon melihat Lily berjalan lambat seperti siput.


Lily menggeleng. "Tidak mau!"


Namun Leon tidak mengindahkan perkataan Lily, ia segera mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


"Leon!" Lily reflek mengalungkan tangan di leher Leon sambil melototkan mata.


Leon men**cup sekilas bibir Lily lalu tersenyum simpul.


Sedangkan Lily mendengus kesal sembari mengerucutkan bibir dengan tajam.


"Leon! Kau kah itu?" panggil seseorang dari belakang.


Lantas Leon membalikkan tubuhnya tanpa menurunkan Lily.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2