Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 84. Saint Clara


__ADS_3

***


"Honey!" panggil Lily, sebab dia menunggu aba-aba dari sang kekasih.


Untuk mengunakan senjata B, agar musuh dan polisi tak dapat mengikuti mereka.


Leon tak langsung menjawab. Dia tengah melihat keadaan di sekitarnya. Pria berparas rupawan itu tampak sedang berpikir. "Honey, situasi tidak memungkinkan!" sahutnya cepat, membuat Lily menghembuskan napas dengan kasar.


"Lalu bagaimana caranya menghentikan mereka. Swedish semakin bertambah banyak, Honey!"


Dor.


Lily berucap sambil membidik kendaraan musuh.


"Tunggu sebentar!"


Leon membelokkan mobil ke sisi kanan. Terlihat lalu lalang kendaraan memenuhi ruas jalan.


"Damn!!" umpat Leon mendengus kesal, sembari memukul setir kemudi.


Sekelabat ide muncul di pikiran Leon.


"Honey, lebih baik kita lempar granat saja. Kemungkinan hanya mengenai Swedish dan polisi!" saran Leon.


Lily menimbang-nimbang keputusan yang di ambil Leon.


Wanita itu menghirup udara sedalam-dalamnya kemudian membuang napas pelan.


"Baiklah!" ucap Lily sembari mengambil granat yang berada di dalam dashboard.


"Tunggu aba-aba dari ku!" perintah Leon.


Kedua matanya tengah memperhatikan situasi di luar kendaraan melalui kaca spion.


Secepat kilat Leon membanting setirnya ke kiri, kini suasana jalanan tampak rengang.


"Honeyyyyy!" panggil Lily sebab mobil musuh semakin mendekat.


Lily menembakkan timah panas ke arah Swedish, menghalau mereka agar tak menghantam body belakang mobil Leon.


Dor.. dor..


"Now, Honey!!!!!" perintah Leon cepat.


Sembari memperlambat laju kendaraan agar Lily dapat melontarkan peledak kecil berbentuk nanas itu dengan mudah.


Lily merespon perkataan Leon dan segera melemparkan granat ke belakang.


BOOM.


Suara ledakan terdengar nyaring di ruas jalan. Meluluh lantahkan kendaraan Swedish dan polisi.


Hingga habis tak tersisa.


Secepat kilat Leon meningkatkan kecepatan di atas rata-rata.


Meninggalkan musuh dan para aparat keamanan yang telah meregang nyawa di tempat.


Saint Clara.


"Lex, bagaimana keadaan di dermaga?" tanya Leon menutup pintu mobil.


"Semua aman, Montero menjaganya dengan baik. Tidak ada yang mencurigakan," jawab Lexi cepat sembari menelisik keadaan di sekitar.


"Good, jangan sampai rencana kita gagal!" ucap Leon sembari melihat jam yang bertengker di pergelangan tangannya.


"Sekarang kita ke atas, Breslin kau satu tim dengan Rey dan pimpin Montero untuk masuk ke gedung A!" perintah Leon.


"Yes, King!"


Breslin dan Rey menjawab serempak dengan menganggukkan kepala.


"Lex, ikuti aku dan Lily. Jika melihat Swedish enyahkan langsung. Paham?" Leon mengedarkan pandangan pada ketiga anak buahnya yang mengangguk mengerti.


"Pasang mata kalian! Bisa saja ada sniper!" Leon memperingati.

__ADS_1


"Honey, jangan jauh-jauh dari ku." Leon menarik pinggang Lily dan mencium sekilas bibir ranumnya.


"Yes, my love," ucap Lily mengulas senyum.


"Ini senjata untuk mu." Leon mengeluarkan senjata berwarna emas mengkilap dan memberikan kepada Lily.


"Untukku?" Seketika kedua mata Lily berbinar ria. Ia segera mengambil pistol berlaras panjang itu.


"Hadiah untuk my Queen, karena berhasil membunuh musuh," ucap Leon pelan sambil mengelus pipi Lily yang tampak menggemaskan.


"Terimakasih, Honey. You're the best!" pujinya dengan menatap lekat mata sang pemilik hatinya.


Leon mengangguk dan kembali melabuhkan kecupan di kening wanita itu.


"Ayo, kita ke atas!" ajak Leon dengan memegang tangan Lily sembari melangkahkan kaki memasuki gedung Saint Clara.


***


"Breslin, sepuluh meter darimu ada Swedish,' sahut Leon tersenyum sinis sembari menekan benda kecil di telinga.


Benar dugaan pria itu bahwa anak buah Pablo sudah berada di tempat pertemuan, walaupun hanya sedikit yang terlihat. Akan tetapi mereka harus tetap waspada.


Dari kejauhan Breslin menggangguk dengan mengangkat senjata hitam.


Bersiap sedia membidik musuh.


Saat ini Leon, Lily dan Lexi bersembunyi di balik pilar memantau situasi dan kondisi.


Cahaya lampu di sekitaran gedung tampak redup. Entah sengaja atau tidak, sebab gedung Saint Clara lumayan besar dan megah.


Namun, tak terawat.


Kotor dan kumuh.


Selebihnya fasilitas di dalam gedung seperti lift masih bisa beroperasi.


Sepertinya.


"Honey, Lexi begitu Breslin menembak Swedish kita harus masuk ke dalam," perintah Leon pelan.


Dor.


Terdengar suara tembakan.


Mereka segera mengayunkan kaki dengan cepat memasuki gedung.


Leon menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri mencari lift agar dapat tiba di lantai atas dengan cepat, yang menjadi titik temu Montero dan Swedish.


Ketiganya menelisik keadaan sekitar.


"Honey, liftnya rusak," ucap Lily sembari menekan tombol yang terpampang di benda persegi panjang itu.


"Kita lewat, tangga saja." Leon memberikan saran.


Lily dan Lexi mengangguk paham sembari mengayunkan kaki menuju tangga darurat.


"Oh my God! Bau sekali," cetus Lily.


Aroma busuk menyeruak ke dalam indera penciuman wanita berambut panjang itu. Kedua matanya menoleh ke bawah dan ke atas melihat kondisi tangga darurat.


"Sepertinya bau mayat!"


Leon menebak sebab dia sudah tidak asing aroma menyengat yang menusuk hidungnya.


"Iya, King." Lexi menyetujui perkataan Leon.


"Ayo kita ke atas!" ajak Leon sambil menapaki tangga satu-persatu. Lily dan Lexi mengekori dengan bersikap waspada sembari memegang pistol.


Lantai Dua.


"Lex, kau ke sana," perintah Leon dengan menggunakan bahasa isyarat.


Lexi memeriksa ruangan yang di maksud Leon. Ia menajamkan penglihatan.


Cahaya lampu di dalam bilik sangat minim.

__ADS_1


"Lex, bagaimana?" Leon menepuk pundak tangan kanannya dari belakang.


Lexi tak langsung menjawab, ada sesuatu yang aneh mengusik pikiran dan pendengarannya.


"Sial! King lari!" seru Lexi dengan membalikkan badan.


Leon terkesiap, hendak melangkahkan kaki keluar ruangan.


"Honeyyyyy!!!" teriak Lily dari luar bilik.


Seketika pintu tertutup otomatis.


"Bedebah!!!!"


Kedua mata Leon berkilat, dia mengedor dan menendang pintu dengan sangat kuat, namun usaha yang dilakukan percuma.


Sebab pintu dilapisi baja yang kuat dan kokoh.


"Damn!!!" umpat Leon. Ia mengetatkan rahang, napasnya memburu menandakan gejolak amarah di dalam hati.


"Breslin kalian di mana?" Lexi menekan earpiece. Namun tak ada jawaban.


Di luar pintu.


"Leonnnn!!!" Lily memukul pintu dari luar begitu kuat hingga melukai tangan cantiknya.


Lily tak peduli.


Sungguh tak peduli.


Pikiran wanita itu bercabang-cabang.


Lily meninju habis pintu berlapis baja itu menggunakan tangan kosongnya.


Tampak darah segar mengalir di punggung tangan.


Begitulah cinta, tak peduli jika ia sedang terluka.


Ia amat takut.


Takut terjadi sesuatu pada kekasihnya di sana.


Di balik pintu.


Indera pendengaran Lily menangkap derap langkah kaki yang mendekati dari arah belakang.


Secepat kilat Lily menggerakkan kepala ke kanan, sehingga bogeman itu melayang tepat di pintu.


BUGH.


Lily membalikkan badan dengan cepat. Kedua mata menyala dan rahangnya mengeras.


"Arnolddddddd!!!!!!" jerit Lily sambil menatap tajam dan dingin. "Di mana Darla dan Lunna?!!!!"


"Haha. Cari sendiri!" seru Arnold hendak menarik pinggang Lily.


"Bajingan! Di mana mereka?!!"


Lily memberontak dan melayangkan pukulan tepat di rahang Arnold.


Bugh.


"Kau semakin cantik kalau berteriak-teriak dan marah-marah!"


Pria itu tersenyum penuh arti.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2