
***
"Ken, Mommy harus pergi, membebaskan Lunna dan Darla. Kalian di hotel saja ya bersama Marco," ucap Lily kepada putra sulungnya.
Kendrick mengangguk paham. "Berhati-hatilah, Mom!" ucapnya sembari mencium sekilas pipi Lily.
Lily tersenyum simpul dan mengusap pelan kepala Kendrick.
"Tapi, Mom! Sam mau ikut," ucap Samuel menimpali pembicaraan Kendrick dan Mommynya.
Samuel ingin sekali membantu Mommynya untuk membebaskan sepupu dan calon adiknya. Sebenarnya, Samuel sangat mengkhawatirkan keadaan Darla dan Lunna. Walaupun dia sering mengganggu keduanya. Ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan melalui kata-kata.
Sesuatu yang hilang.
Belum lagi dengan kepergian orang yang di sayanginya, mendiang Jonathan, Opanya.
Semakin terasa sepi dan hampa.
Samuel ingin segera bertemu Darla dan Lunna.
"Sam, Darla dan Lunna dalam bahaya, mengerti lah nak." Lily menatap lekat putra bungsunya, berusaha memberikannya pengertian.
Samuel menghela napas sembari tertunduk lesu. "Baiklah." Dia mengalah dan pasrah, mau bagaimana lagi.
Setelah memberikan pengertian kepada tiga anaknya. Lily bergegas keluar dari kamar hotel. Dia meminta Marimar dan Maximus untuk menjaga si Kembar.
Tidak lupa pula Leon menyuruh Montero untuk mengawasi si Kembar.
Sebab Leon dan Lily harus pergi ke suatu tempat. Karena malam ini sepertinya akan menjadi, malam yang sangat panjang.
Beberapa jam yang lalu, Pablo menghubungi mereka untuk bertemu di salah satu club ternama di Los Angeles pukul delapan malam nanti.
Leon pun mengiyakan permintaan musuh bebuyutannya yang licik itu. Namun sebelum Leon berhadapan dengan Pablo. Dia harus mempersiapkan strategi yang matang sehingga proses penyelamatan Darla dan Lunna berhasil.
****
Dua buah mobil berwarna hitam pekat berhenti tepat di kawasan yang terlihat kumuh dan sepi.
Empat orang pria dan satu wanita menyembul keluar dari dalam mobil.
Leon, Lily, Lexi, Breslin, dan Rey berjalan cepat menuju bangunan kuno dan tua. Cahaya lampu temaram menghiasi sudut-sudut rumah itu.
Di sisi kanan dan kiri bangunan tidak ada terdengar aktivitas manusia.
Hanya terdengar suara serangga kecil yang bersenandung dan longlongan anjing saling bersahut-sahutan, menemani derap langkah kaki mereka.
Tok... Tok...
Dua kali ketukan yang berirama.
Di luar pintu ada lubang kecil berbentuk persegi panjang.
Srep..
"Password!" seru seorang pria dari dalam ruangan.
"Montero!" Leon menyahut dengan menatap tajam kedua mata pria dari balik pintu.
Seketika kedua mata pria itu terbelalak. "King!!!"
Dengan cepat dia membuka pintu.
"Is that you?" Pria bertubuh gempal dan tinggi besar itu menatap tidak percaya Leon, sang pemimpin Montero telah kembali.
__ADS_1
"Bisakah kau minggir!" Rey melototkan kedua mata pada kawan kelompoknya.
Pria itu terkekeh pelan sambil mempersilahkan pemimpin Montero yaitu King Leon, Lily, Lexi dan Breslin masuk ke dalam ruangan.
Kumpulan anak buah terlonjak kaget saat melihat kedatangan Leon secara tiba-tiba ke markas.
"King is back!!" seru pria bertubuh gempal dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Ho ho ho ho ho ho!" Suara kumpulan anak buah Leon menggema di dalam ruangan. Mereka gembira sebab sang pemimpin sudah kembali ke sarangnya.
Leon mengangkat satu tangannya ke udara menandakan untuk berhenti bersuara.
Hening!
"Malam ini bantu lah aku membebaskan dua bocah kecil yang di sekap Swedish! Kalian akan bermain dengan mereka! Tunggu komando dari ku. Paham!" seru Leon dengan raut wajah yang dingin.
Montero tersenyum licik satu sama lainnya, akhirnya setelah kurang lebih tiga tahun lamanya. Mereka akan bermain kembali dengan musuhnya.
"Baiklah, persiapkan diri kalian!" seru Leon tegas. Kemudian Leon melirik sekilas pada Rey. "Rey jelaskan pada mereka strategi yang telah kita susun!"
Rey mengangguk.
Leon mengalihkan pandangan pada Lexi. "Dan kau Lexi, keluarkan senjata yang kita punya di dalam gudang!" perintah Leon datar.
Lexi pun mengangguk paham, dia segera bergegas bersama Montero yang lainnya.
"Breslin, jangan kau ingkari janji mu! Kau sudah masuk ke dalam lingkaran Montero. Mengerti!" seru Leon dengan tegas.
Breslin mengangguk cepat. Sekarang pria itu sudah menjadi anak buah Leon. Perkelahian yang terjadi tadi siang antara Lexi dan Breslin sebagai syaratnya untuk masuk ke dalam kelompok Montero. Breslin pun akhirnya lulus walaupun harus menahan rasa sakit di tubuh dan wajahnya.
"Dan kau Honey," ucap Leon pelan sambil menarik pinggang Lily.
"Apa Leon?" tanya Lily menatap lekat sang kekasih.
"Tidak aku tidak takut, jadi di mana ruangan yang kau cerita kan pada ku Honey, cepatlah. Aku ingin melihatnya," pinta Lily cepat. Wanita berambut panjang itu tidak sabar dengan ruangan rahasia Leon yang berada di dalam bangunan. Pasalnya sebelum mereka sampai ke markas Leon menceritakan pada Lily satu buah bilik khususnya. Dia amat penasaran apa isi di dalamnya.
"Ada syaratnya?" Leon berbisik di daun telinga Lily sembari tersenyum simpul.
Aroma napas Leon menyeruak ke hidung Lily. Wangi mint yang sangat di sukainya. "Apa syaratnya?" tanya Lily menahan senyum. Sebab dia tahu apa yang akan di minta oleh tambatan hatinya.
Leon membisikkan sesuatu di telinga Lily. "Cium bibir ku sekarang Honey," ucap Leon pelan sambil tersenyum smirk.
Lily memutar bola matanya dengan malas. "Nanti saja ya, selesai kita membebaskan Darla dan Lunna."
"Sekarang!" perintah Leon.
"Tapi Leon-"
"Tidak ada tapi-tapi!" potongnya cepat sembari menempelkan tubuh Lily padanya.
Lily menghela napas dengan pelan, kalau sudah begini. Dia harus menuruti kemauan Leon.
Cup.
Lily mengecup sekilas bibir Leon.
"Lagi!"
Cup.
Leon dengan sigap menahan tengkuk Lily dan ******* bibir ranum kekasihnya. Ingin sekali dia rasanya membawa Lily ke dalam kamar lalu mengurungnya. Sebab sedari tadi beberapa pasang mata anak buahnya mencuri pandang kepada Lily.
Tatapan memuja dari buaya lapar, yang Leon tidak suka!
__ADS_1
"Leon!" pekik Lily setelah Leon melepaskan tautan bibirnya.
"Yes, my queen," ucap Leon dengan mengelus pipi Lily. Membuat Lily semakin bertambah kesal saja.
"Kau benar-benar mesum!" Lily mengerucutkan bibir dengan tajam.
"Hanya pada mu aku mesum!" protes Leon.
"Ah sudahlah, ayo cepat Leon! Waktu kita tidak lah banyak!" seru Lily sembari mengerlingkan mata.
Leon memegang tangan kekasihnya dan menuntunnya ke ruangan rahasia. "Baiklah, ayo!" Leon melirik sekilas pada Breslin.
Sedari tadi Breslin hanya terdiam memalingkan wajahnya, karena dia tidak mau menjadi obat nyamuk bagi sepasang kekasih itu.
Chamber Leon.
"Wow, ini sangat keren Honey!"
Kedua mata Lily seketika berbinar melihat ruangan rahasia Leon yang sangat memukau dan mewah. Bagaimana bisa di dalam bangunan tua terdapat bilik yang di penuhi senjata api dan beberapa alat elektronik mahal.
Ruangan yang di dominasi warna hitam dan merah menyala, di lengkapi dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya.
Meja billyard yang terdapat tengah menghiasi ruangan. Di setiap sisi tembok terdapat beberapa senjata berlaras panjang dan pendek terpajang dengan rapi.
Menakjubkan.
"Ini belum semuanya," ucap Leon sambil menekan tombol di tembok.
Dinding yang berada di sebelah kanan seketika terbuka otomatis.
Bola mata Lily melebar dengan sempurna.
"Honey, aku mau itu!" Tunjuk Lily pada salah satu objek.
"Jangan, itu terlalu berbahaya," ucap Leon pelan sambil mengelus pipi Lily.
"Oh come on, Honey. Please!" Lily menunjukkan wajah puppy eyesnya. Benda tersebut sangat menarik perhatiannya.
"Oh my God, seharusnya aku tidak membukanya tadi." Leon mengusap wajahnya dengan kasar.
"Please Honey, i love you!" Lily mengecup sekilas bibir pink Leon.
Leon tersenyum simpul.
"Sudah pandai merayu ya ternyata. I love you more Honey!"
***
Jam menunjukkan pukul 7.20 malam.
Leon dan Lily sudah keluar dari markas Montero. Saat ini pasangan yang sedang di mabuk asmara itu berjalan cepat menuju mobil. Montero mengikuti pergerakkan langkah kaki sang pemimpin.
Dorrrr.
Suara tembakan terdengar nyaring.
"Leon!!!" jerit Lily histeris.
.
.
.
__ADS_1
.