Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 85. Duel - Lily vs Arnold


__ADS_3

***


Arnold mengusap rahangnya sejenak, dan mengelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, meregangkan otot-otot lehernya.


Ia menyeringai.


"Wow, kau sangat kuat ternyata!" ucap Arnold terkikik melihat, sorot mata mantan istrinya sangat tajam dan dingin.


Lily enggan menanggapi perkataan Arnold.


Ia tampak tenang.


Setenang riak air di sungai.


"Di mana Darla dan Lunna?" tanyanya dengan intonasi yang datar namun tegas.


"Kau tanyakan saja pada Pablo!" seru Arnold menatap lapar mangsa di hadapannya.


Entah mengapa Lily bertambah cantik dan mempesona. Leher jenjangnya yang mulus bak kapas putih mengundang hasrat Arnold.


"Aku mau menyicipinya dahulu, lumayan."


"Enyahkan pikiran kotor mu itu Arnold!" hardik Lily.


Ia sudah hapal dengan tatapan lapar dari para lelaki.


Namun untuk Leon, pengecualian.


Ia teringat dengan kekasihnya yang terperangkap di dalam bilik.


"Aku merindukan mu, aku harap kau baik-baik saja, Honey."


"Haha, bukankah dulu kau sangat menikmatinya?"


Lidah Arnold berulang kali membasahi bibirnya, seakan menahan lapar.


Lily berdecih.


"Itu dulu, tapi sekarang. Walaupun kau laki-laki terakhir di dunia ini. Aku tidak akan sudi di sentuh oleh tubuh kotor mu itu!"


Arnold mulai tersulut emosi sebab Lily menatapnya jijik, seakan dia seonggok daging busuk.


Ia mengetatkan rahang dan menahan geram.


"Kau!!!!"


Secepat kilat Arnold menarik tangan Lily, namun wanita bernetra warna biru laut itu memelintir tangan Arnold dengan gesit.


"Arggh!" jerit Arnold, ia mundur dua langkah.


Ia terperangah dengan serangan Lily.


"Apa yang aku lewatkan?"


Arnold bertanya di dalam hati.


Lily menjauhi Arnold mencari teritori yang aman baginya.


"Kalau kau ingin bertarung, ayo?"ajak Lily memasang kuda-kuda. Ia ingin membalas sakit hatinya atas perbuatan Arnold kepada mendiang ayahnya.


Akan tetapi, ia akan bermain cantik.


Mengatakan bahwa aku bukan lah wanita lemah!


Arnold menyeringai, menatap remeh.


"Baiklah, jika kau kalah, puaskan aku!"


"Bermimpilah!" Lily mencibir.


Arnold mendekat hendak menyentuh pundak Lily.


Secepat kilat Lily mengarahkan sikunya pada pipi Arnold dengan amat kuat.


Arnold mengaduh kesakitan, rahangnya terasa bergeser sedikit.


"Damn!" umpatnya terlihat kesal.


"Sorot mata itu, dingin, dan tajam!


"Kemana tatapan teduhnya itu?"


"Siapa dia?"


"Kenapa berbeda?"


Arnold menerka-nerka menyelami isi pikirannya yang berkecamuk di dalam otak.


Wanita di hadapannya seperti ratu singa, mengintai dan menerkam lawan dari jarak dekat.


Pria itu tertegun sejenak.


Lily menyeringai.


"Kenapa kau terkejut?" Ia menaikan sebelah alis mata.

__ADS_1


Arnold tak membalas ucapan wanita itu.


Dia hendak menendang lawannya namun Lily menangkis serangan Arnold dengan mudah.


"Aku tidak boleh kalah! Dia cepat! Sangat cepat."


"Aku harus lebih berhati-hati."


"Iya, ini gerakan taekwondo!"


Batin Arnold memperhatikan gerakan Lily.


Lily tersenyum sinis.


"Ini baru permulaan Arnold, aku ingin membunuh mu sekarang juga. Tapi aku tidak boleh gegabah!"


"Dia licik! Akan ku tunjukkan siapa aku sebenarnya!"


Kini, Lily dan Arnold saling bertatapan satu sama lain.


Keduanya mencoba mengatur strategi masing-masing.


Tanpa aba-aba mereka mengangkat dan mengepalkan tangan, selayaknya petarung yang berada di dalam ring tinju.


Arnold mencoba melayangkan pukulan di pipi Lily dengan sikut.


Pukulan ke perut Arnold sangat kencang.


Mereka saling menjauh.


"Hampir saja!"


"Sial, awas kau Lily!'


Detik kemudian,


Arnold dan Lily saling menyerang satu sama lain. Tak ada kata menyerah di antara keduanya.


BUGHHHHHH.


Lily menyundul wajah Arnold dengan kepalanya hingga ia terhuyung ke belakang.


Nampak darah segar mengalir di hidung mancung Arnold.


"Ini bukan taekwondo!"


Arnold merasa Lily menguasai bela diri lain.


Selain taekwondo.


Nampak pria itu tersengal-sengal mengatur ritme pernapasan.


Napasnya memburu, dia harus mengakhirinya.


Sekarang.


Arnold berlari menuju Lily.


Mata elang Lily membaca gerakan.


"Bodoh!"


Ia mengulum senyum.


Lily tak bergerak hanya menunggu aba-aba dari otaknya.


BUGH.


Wanita itu mengarahkan lututnya dengan keras ke burung Arnold sambil memegang leher lawan.


"Argghhhhhhhhh!" jerit Arnold frustrasi.


Seakan ada sengatan di bawah sana.


Sengatan listrik yang melumpuhkan syaraf-syaraf birahi.


Apakah telurnya pecah, entahlah.


Sepertinya, iya.


Bye bye burung.


"Haha, kau bodoh!"


Lily melompat tinggi dan menghantam kepala Arnold hingga ia terjatuh ke lantai.


"Argh!!!"


Suara teriakan Arnold menggelegar di dalam gedung.


Dia mengaduh kesakitan karena telurnya pecah sembari menutup adik kecilnya yang terlihat mengeluarkan darah.


"Segini saja, kau jangan bercanda! Come on, berdiri lah!"


Ia terkekeh saat Arnold masih terbaring terlentang di bawah dengan ekspresi yang sangat di sukai Lily.

__ADS_1


"Rasa sakit ini belum seberapa Arnold! Daddy lebih menderita karena ulah mu!" seru Lily, matanya menyala.


Mengingat memori kondisi mendiang ayahnya waktu itu.


"Bangun!!!"


Lily kembali menekan si Joni dengan sepatu bootsnya.


"Argghhhh!"


Hanya suara itu yang dapat diucapkan Arnold.


Sungguh ia lumpuh total.


Kepalanya pusing.


Gagal maning.


Ia butuh pertolongan segera.


"Haha!" Tawa Lily, namun kurang puas.


Sekali lagi dia menekan burung milik mantan suaminya dengan sangat kuat.


Arnold menjerit di bawah sana.


Selanjutnya sunyi, sepertinya ia pingsan.


Lily membuang napas.


"Cih, kau benar-benar lemah!" seru Lily sambil menendang kaki sebelah kanan Arnold.


Dorrrrrrr.


Suara tembakan terdengar.


Bruk.


"Bawa Arnold ke rumah sakit!" perintah Pablo kepada Swedish, saat melihat anaknya sudah tak berdaya.


Dia yakin Arnold belum meregang nyawa. Hal itu terlihat dari dada Arnold yang naik turun.


Akan tetapi, bagian bawahnya telah mati.


Dia mendengus kesal dengan sikap Arnold, yang bertindak sesuka hati. Sedari tadi pria tua itu berada di atas gedung menunggu kedatangan Arnold. Namun tak jua tiba. Akhirnya ia pun menyusul ke bawah.


Dan ia melihat dengan mata kepala sendiri.


Lily menekan adik kecil Arnold.


"Bawa wanita ini, ke ruangan!" titah Pablo sembari menunjuk Lily yang tergeletak di lantai.


Lily belum meninggal sebab ia mengenakan baju anti peluru.


Pria itu memperhatikan lekukan tubuh Lily yang sangat pas. Leher jenjang, hidung mancung, bibir sensualnya dan bulu mata yang tebal.


Body gitar spanyol, sementara bu_kit Lily yang pria itu tebak kurang lebih 36 B.


Pikirannya melanglang buana entah kemana.


"Kalian cepat angkat dia!" titah Pablo tak sabaran.


Swedish pun segera menjalankan perintah. Mereka memapah Lily dengan sangat hati-hati.


Satu di antaranya, mencuri pandang ke bagian tubuh Lily yang membuat matanya melotot.


Gleg!


"Ahhh! Aku mau menyentuhnya!"


"Hei kau cepat ambil tali, dudukkan dia di situ, sekarang!"


Pablo menatap tajam anak buahnya yang tampak menahan birahi juga.


'Baik, Mis-ter,' ucap dia tergagap.


"Cih!" Pablo berdecih kesal sembari mendudukkan bokong di kursi.


"Rodrigo!" panggil Pablo sambil melirik.


"Yes, Mister!" Rodrigo mendekat.


"Jaga terus ruangan Leon, agar ia tidak dapat keluar!"


"Siap Mister!"


.


.


.


Tekan like, vote dan sesajen.


Maafkan kak nana yang update babnya tidak bisa banyak, akan tetapi saya usahakan untuk update 1 bab sehari.

__ADS_1


Mohon kerjasama dengan memberikan dukungannya.


__ADS_2