
Tak terasa sudah 1 minggu Lily berkerja di cabang perusahaan Co. Marq. Lily melakukan perkerjaan dengan profesional. Walaupun begitu dia tak melupakan tugasnya sebagai seorang Ibu, beruntung ketiga anaknya memahami keadaan.
Kemarin keluarga Lily baru saja berkunjung ke apartment, sekedar melepaskan rindu kepada cucunya. Tak lupa Darla juga ikut mengunjungi. Drama cucu Jonathan meriuhkan apartment itu.
Sekarang hari minggu. Yang pastinya adalah hari libur untuk Lily, waktunya untuk bersantai sejenak, melepaskan kepenatan. Walaupun hari libur, dia tetap melakukan aktivitasnya dengan rutin. Terlihat Lily sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
Sementara itu, si Kembar sedang berenang sambil bercengkrama ria.
Kendrick sebagai kakak tertua merasa heran dengan kedua adiknya. Selalu saja ada drama, kapankah mereka tidak membuat drama.
"Huff." Kendrick berdecak kesal. Saat Nickolas tak sengaja menyenggol tubuhnya ketika dia menaiki tangga kolam renang alhasil Kendrick pun kembali tercebur ke dalam kolam.
Nickolas dengan raut wajah polos, tersenyum paksa sembari menampakkan gigi putih.
"Upss, maaf kak Ken." Nickolas berenang menjauh agar tak terkena amukkan Kendrick.
Samuel tertawa terbahak-bahak. Saat melihat kekesalan Kendrick pada saudaranya.
"Puas kau, Sam?" Nickolas melototkan mata ke arah Samuel yang tak berhenti menertawainya.
Lantas Samuel menaiki tangan kolam dengan sangat cepat. Sesampainya di atas dia menjulurkan lidah kepada Nickolas. Dia sengaja mengejek kakaknya.
Nickolas terlihat kesal dengan tingkah Samuel, dia pun segera naik dari dalam kolam berniat mengejarnya.
Namun Samuel tak kehabisan akal, dia berlari memutari kolam renang yang berbentuk bulat itu.
Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
Lily melihat interaksi ketiga anaknya melalui kaca bening apartmentnya. Dia tampak mengulum senyum melihat interaksi si Kembar.
15 menit kemudian
Lily telah berkumpul bersama si Kembar di ruang makan. Di meja makan sudah tersedia sarapan simple yang mengunggah selera."Scrambled egg dan mashed potato" menjadi pilihan menu sarapan yang Lily hidangkan. Kedua mata Samuel berbinar saat melihat salah satu menu kesukaannya tersedia di meja makan.
"Thank's mom," ucap Samuel seraya mengambil sendok yang berada di samping piring.
Lily pun tersenyum. "U'r welcome sayang."
Ting Tong Ting Tong.
Suara bell rumah berbunyi.
Lily mengernyitkan dahi. Hari minggu Gissel memang tidak berkerja. Lalu siapakah yang bertamu?
Lily menghentikan sarapan, dia berjalan cepat ke arah pintu.
Ceklek
"Cyinnnnnnn!" seru Marimar sambil mengerakkan tubuh kesana kemari dengan gemulai.
Lily terkejut dengan panggilan Marimar yang begitu nyaring, dia menggelengkan kepala.
"Astaga Marimar aku pikir siapa. Kau membuatku jantungan!"
Marimar terkekeh pelan.
"Maaf cyinnnn, eyke lagi semangat 45!"
"Kau ini. Kenapa kau baru muncul sekarang Marimar. Kau tidak apa-apa kan?" Lily sangat mengkhawatirkan Marimar karena dia sudah 5 hari izin untuk tidak berkerja.
"Tidak apa-apa cyinnnn." Raut wajah Marimar tampak sedih.
__ADS_1
Seperti bisa membaca pikiran teman barunya. Lily mengajak Marimar untuk masuk ke apartment.
"Akika ngak apa-apa kok cyinnnn." Raut wajah Marimar tampak menahan tangis.
"Kau ikutlah dulu dengan kami sarapan," ajak Lily sambil memegang tangan Marimar.
Seketika raut wajah Marimar berubah. Dia mengiyakan ajakan Lily.
"Eh, ya ampun cyin. Akika lupa."
Marimar menyodorkan buket bunga mawar berwarna merah kepada Lily. Sedari tadi Marimar menyembunyikan bunga itu di belakang tubuh.
Lily mengerutkan dahi.
"Untuk ku?"
"Yes, cyinnnnn. Tapi jangan salah paham duyu cyin. Tadi ada pria tampan titipin ke eyke. Eyke baru aja pulang dari rumah papi ngelihat ada pria keren pakai helm di depan gedung apartment," jelas Marimar dengan panjang lebar.
"Pria tampan, pake helm?" Lily semakin binggung.
Marimar terkekeh pelan.
"Eyke ngak lihat sihh wajahnya cyinn. Tapi cyinnn postur badannya Oh My God. Suaranya sexy bokkk membuat hati eyke deg-deg ser," jelas Marimar sambil menggerakan dada ke depan dan ke belakang.
Lily kembali terkekeh.
"Ayo, cyinnn cepat di buka itu kayaknya ada surat deh."
Lily pun segera membuka surat yang terselip di antara buket bunga. Surat kecil berbentuk hati.
Kenapa kau membuatku merasa resah
Kapankah kita kan bertemu lagi?
Salam rindu dari seorang pemuja mu
From Secret Admirer.
"Ya ampun cyin. OMG." teriak Marimar di telinga kiri Lily.
Ternyata sedari tadi kedua mata Marimar mengintip tulisan di dalam surat yang di baca oleh Lily, dia amat penasaran.
Reflek Lily menutup kedua telinga, alhasil bunga itu pun terjatuh.
Marimar secepat kilat mengambil bunga yang berada di lantai.
"Ihh, kenapa di buang sihh cyinn."
"Marimarrr, kau membuat telinga ku sakit!" Lily berdecak kesal.
Marimar tertawa terbahak-bahak.
Lily tampak heran dengan si pengirim bunga, siapakah gerangan. Yang dia tahu selama seminggu ini, dia tak pernah bertemu dengan seorang pria selain beberapa rekan kerjanya. Membuat Lily semakin penasaran saja, bagaimana pemuja rahasia tersebut bisa mengetahui alamat apartmentnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, masih di kota yang sama.
Dua manusia berbeda generasi sedang bercengkrama di taman mansion. Mereka menikmati waktu bersamanya di pagi hari. Sesekali sepasang kaki kecil mungil itu mencoba mengejar ayahnya. Senyuman terukir di sudut bibir Leon melihat Lunna terlihat senang.
Tampak pengawal berjejer rapi di setiap sudut ruangan. Sedang memantau pergerakan dari dalam maupun dari luar mansion.
__ADS_1
Lexi tersenyum simpul melihat interaksi antara Leon dan Lunna dari kejauhan.
"Semoga saja yang ku lakukan sudah benar." Batin Lexi bermonolog.
Lexi berjalan cepat menghampiri mereka, Dia menundukkan kepalanya dengan pelan.
Leon yang melihat kedatangan tangan kanannya. Seketika menghentikan aktivitas. Leon mengelus pelan kepala Lunna.
"Lunna masuklah ke dalam! Daddy ingin berbicara dengan Lexi," ucap Leon dengan pelan.
Lunna menganggukkan kepala. Dia segera berlari pelan menuju mansion.
"Hmmm." Leon berdehem menyadarkan Lexi yang kedua matanya mengikuti pergerakkan Lunna.
"Maaf Tuan."
"Bagaimana apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai penyebab Lily berkerja di cabang perusahaan ayahnya?" Leon menatap serius.
"Sudah Tuan."
•••
Di ujung pilar mansion tampak Lunna memperhatikan dengan seksama kedua orang yang berada di taman. Lunna ternyata belum memasuki mansion, dia bersembunyi di balik pilar. Entah apa yang sedang di lakukan bocah kecil itu.
Terlihat Leon berjalan meninggalkan Lexi. Lantas Lexi pun segera berlalu ke rumah belakang paviliun. Lunna dengan sigap berlari mengejar Lexi. Kedua kaki mungilnya terlihat kesusahan mengejar Lexi.
Alhasil Lunna pun terjatuh.
Bugh.
"Awh!" pekik Lunna membuat Lexi menghentikan langkah kaki.
Secepat kilat ekor matanya mencari asal sumber suara tersebut. Dia melihat Lunma jatuh tersungkur. Reflek Lexi berlari cepat ke arah Lunna berada.
"Nona!" Lexi tampak khawatir.
Dengan sigap Lexi membantu Lunna untuk berdiri. Lunna tak merasakan sakit dan tak menangis. Hal itu membuat Lexi semakin bertambah khawatir saja.
"Nona tak kenapa-kenapa kan?" tanya Lexi sambil menatap dalam.
Lunna terkekeh pelan. "Lunna tentu baik-baik saja. Jadi Lunna ingin beltanyaaa. Apa bunganya sudah Lexi kilim,?" tanya Lunna dengan ekspresi menggemaskan.
Lexi menganggukkan pelan kepala.
"Sudah Nona."
"Bersabarlah Nona aku akan menjadi "Cupid Love" yang tidak akan gagal!" Batin Lexi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1