
Matahari mulai bergerak perlahan ke sisi barat.
Burung-burung di atas pencakar langit pun berterbangan ke sebuah pulau di tengah lautan, hendak beristirahat. Kumpulan hewan unggas itu masuk ke dalam hutan belantara, kemudian bertengker rapi di dahan pohon dan mulai menutup matanya dengan pelan.
Suara percikkan air di bibir laut mengalun syahdu di telinga kumpulan manusia di sisi sana. Terdapat tenda ala kadarnya yang beralaskan daun berdiri kokoh menghadap ke arah hamparan laut.
Beberapa obor di dirikan di sisi kanan dan kiri. Angin yang tidak kencang membuat api tetap terjaga, untuk menyinari aktivitas para manusia itu.
Leon dan Lily beserta pasukkannya, baru saja selesai menyantap hasil buruan mereka tadi siang.
Saat ini, mereka tengah bercengkrama dan berkeluh kesah di dekat api unggun, sambil menikmati semilir angin yang menerpa kulit tubuh mereka.
Suasana malam amat tenang, hanya terdengar samar-samar suara hewan kecil di belakang sana.
Saat ini, sepasang kekasih itu duduk agak jauh dari empat pria dewasa dan kelima bocah. Leon dan Lily berada di dalam tenda.
"Honey, apa kah kau yakin Rey bisa menemukan kita?" tanya Lily pelan sembari menatap lekat.
"Aku yakin, Honey. Hanya saja waktunya tidak akan cepat," jelasnya agar sang kekasih dapat tenang.
Lily menghela nafas. "Bagaimana jika Rey tak dapat menemukan kita?"
"Percayalah pada ku, Honey. Bersabarlah, paling lama 3 hari lagi." Leon menyibakkan rambut panjang Lily yang tertiup angin.
"Hmm." Lily menanggapi perkataan Leon dengan berdehem. Ia tampak melamun, tengah memikirkan sesuatu.
Leon memperhatikan gelagat wanitanya. Kemudian tanpa aba-aba melabuhkan kecupan di kening, hidung mancungnya, dan terakhir bibir ranumnya dengan begitu pelan.
Lily yang sedang melamun, tersentak kaget. Namun ia pun ikut terbuai, sebab sentuhan bibir kekasihnya membuat hatinya bergejolak seketika.
Tangan kanan Leon menyentuh pipi kekasihnya. Ia mengigit pelan bi_bir Lily, kemudian melilit indera pengecapannya.
Keduanya memejamkan mata.
Tampak Leon berusaha menahan sesuatu yang bersemayam di bawah perutnya.
Hawa panas melingkupi tubuh keduanya.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik....
Empat detik..
"Guk, guk, gukkk!!" Hiro menyalak tepat di hadapan mereka, ia sengaja menganggu aktivitas sepasang kekasih itu.
Lily segera tersadar dan mendorong pelan dada Leon. Ia menyeka bibirnya dengan cepat.
"Honey." Tampak semburat rona merah di kedua pipi Lily.
Ia memalingkan wajah pada hewan berkaki empat dan berbulu lebat yang baru saja menghampiri mereka. Saat ini Hiro, menggulingkan badannya ke pasir hendak mencari perhatian.
Bibir Lily melengkung, membentuk senyuman.
"Lucunya!"
Leon menggeserkan tubuhnya. Kemudian mendekatkan bibir di daun telinga kekasihnya. "Aku tidak sabar, pulang dari sini, aku akan memakan mu," sahut Leon dengan seringai.
Lily enggan menanggapi, ia sibuk melihat Hiro yang tengah berguling-guling.
Leon mengerutkan dahi sebab sang kekasih tidak bawel. Seringai licik terbit di wajahnya. Kemudian ia berbicara lagi. "Kau bau, Honey."
"Ha? Benar kah?" Lily mengendus-ngendus tubuhnya.
"Tentu saja aku bau, dari pagi sampai malam tak menyentuh air, lagian di sini kan tidak ada air, tidak mungkin kan, aku mandi di lautan itu." Batin Lily bermonolog.
Leon pun ikut menghirup aroma tubuh Lily dengan mendekatkan hidung di bahunya. Keringat Lily bercampur dengan wangi bunga yang sangat dia sukai.
Leon sengaja mengerjai Lily. Aktivitas terbaru yang akan sering dia lakukan nantinya.
"Bau, kan?" Leon menatap bola mata Lily.
Lily mengangguk sembari memanyunkan bibir.
Pria itu mengangkat sudut bibirnya. Saat melihat raut wajah Lily, yang tampak menggemaskan. "Kalau mau mandi, nanti aku antar?"
Lily menautkan kedua alisnya. "Memangnya, di sini ada air?"
"Ada air terjun di dalam sana. Mau aku antar?" tanya Leon dengan raut wajah tidak bisa terbaca.
Lily mengangguk.
Sepersekian detik.
Lily berkata, "Kau jangan mengintip ya, awas saja!" Kedua matanya mendelik.
"Hmm, kita tidur kan dulu anak-anak?" Leon melihat dari kejauhan Lunna dan Darla sudah tampak mengantuk.
Wanita itu mengangguk lagi.
.
.
__ADS_1
.
"Mommy!" Lunna tengah merebahkan badannya di atas daun. Ia masih terjaga sejenak.
"Iya." Lily mengelus pelan pipi bulat Lunna. Posisi badannya menyamping.
"Kata Daddy, Mommy Lunna ada di sana ya, Mom!" Lunna menunjuk ke atas langit yang kini bertaburan banyak bintang.
"Iya, sayang." Lily mengulum senyum.
"Mommy dan Daddy Dala juga ada di atas sana!!" Darla menimpali, sedari tadi ia memandang penuh takjub ke arah langit.
Lilt tertegun. Ia tak membalas ucapan Darla, tiba-tiba bayangan mendiang Daddy, dan adiknya melintas di benaknya. Ia tersenyum getir.
"Mom, Dalla mau ketemu Mommy! Dala lindu, Mommy lama ya di sulga?" Darla enggan mengedipkan mata. Ia berharap Mommynya mendengarkan permintaannya itu.
Lily lagi-lagi tak menyahut, ia hanya terdiam membisu, memberikan ruang untuk kedua bocah itu berkeluh kesah.
Tampak si kembar sudah masuk ke ruang mimpinya, begitu pula dengan empat pria dewasa sudah ikut terlelap. Terdengar dengkuran halus dari hidung mereka. Dada mereka naik turun dengan pelan.
Suara kedua bocah itu tak terdengar lagi. Mereka sudah ikut tertidur, keduanya saling berhimpitan.
Hiro juga sudah masuk ke ruang mimpi, ia berada di samping tubuh Darla.
Tampak kaki Darla menindih tubuh Lunna. Ia menjadikan Lunna seperti bantal guling.
Lily pun bangkit berdiri dengan pelan. Ia mengulum senyum, melihat wajah letih kelima bocah itu.
"Mereka sudah tidur?" Leon baru saja tiba, sedari tadi ia melihat lautan di dekat pohon kelapa. Melihat suasana malam yang menenangkan jiwanya.
Lily mengangguk. Ia menatap sendu Lunna dan Darla secara bergantian.
Leon melihat pancaran kedua mata Lily yang pilu. "Kenapa?" tanyanya sembari melingkarkan tangan di pinggang Lily. Ia meletakkan dagu di atas pundak Lily.
"Honey, jika mereka sudah beranjak dewasa nanti, aku bingung bagaimana caranaya mengatakan kebenaran tentang kedua orang tua mereka," sahut Lily pelan.
Leon menghela nafas. "Tenanglah, aku yang akan menjelaskan kepada mereka, jangan risau kan hal itu."
Mendengar penuturan Leon, ia pun tersenyum.
"Ayo, sekarang kita ke air terjun," ajak Leon.
Pria itu mengingatkan keinginan kekasihnya tadi, yang mau membersihkan diri.
"Iya, Honey."
.
.
.
Leon dan Lily sudah tiba di air terjun.
Kedua mata Lily menatap penuh takjub.
"Leon! Ini sangat lah indah!" Lily mengarahkan senter dari atas hingga ke bawah air terjun. Sinar rembulan dan bintang di atas sana menyinari tempat itu. Sehingga tidak menyulitkannnya untuk menelisik keadaan di sekitar.
"Iya!" sahut Leon sembari mena_ncapkan kayu obor ke dalam tanah. "Mandi lah!"
"Kalau begitu kau ke sana. Jangan mengintip!" Lily mencium bau akal busuk Leon. Ia memicingkan mata.
Leon menyeringai. "Baiklah!" Ia kemudian berjalan ke arah bebatuan besar yang terletak dua meter dari air terjun, ia hendak bersembunyi di situ.
"Awas saja kau mengintip ya!" Lily mengertak sambil mengepalkan tangannya. Ia melotokan kedua matanya.
Pria itu terkekeh. "Iya, iya Honey! Panggil aku jika sudah selesai!"
Lily mengangguk paham.
"Aku harus cepat mandi dan langsung pakai baju ku, awas saja dia mengintip!" Gumam Lily dalam hati sambil melepas satu-persatu kain yang melekat di tubuhnya. Ia meletakkan pakaian di tempat yang sekiranya tidak basah dan aman dari percikkan air.
.
.
.
Kurang lebih enam menit Lily sudah selesai membersihkan diri. Ia mengusap rambut panjangnya itu agar tak terlalu basah.
Wanita itu menyeka wajahnya dengan selendang Marimar. Ternyata di dalam tas pria gemulai itu, terselip kain tipis yang lumayan sedang ukurannya.
Ia mengigil sejenak, udara malam masuk ke dalam kulitnya.
"Honey!" panggil Lily, setelah selesai memakai pakaian.
"Iya!" Leon menyembulkan kepalanya tiba-tiba. "Sudah selesai?"
Lily mengangguk.
"Sekarang aku yang mandi!"
Seketika Lily tersipu malu. "Aku akan menunggu mu di situ juga!" ucapnya mengalihkan pandangan.
Pikiran Lily sudah melalang buana entah ke mana.
__ADS_1
Ia heran dengan dirinya sendiri, padahal dulu mantan suaminya Arnold sudah sering bertelanjang dada. Ia biasa saja. Namun mengapa dengan Leon sangat lah berbeda.
Perlakuan antara Leon dan Arnold benar-benar bagaikan langit dan bumi, pikirnya.
.
.
.
"Honey!" Leon mendekati batuan besar itu.
"Honey!!" panggilnya lagi.
"Iya, Leon!" Lily bangkit berdiri. Kedua matanya terbelalak. "Leon! Kenapa kau tidak memakai baju mu!" Ia menundukkan kepala ke bawah. Saat melihat Leon hanya mengenakan kain yang berbentuk segitiga.
Leon terkekeh. "Di mana kain mu?"
"Kenapa kau tidak meminta dari tadi!" Lily bersungut sembari menarik selendang yang melingkar di lehernya. Kemudian ia menyodorkan kain itu kepada Leon. Tanpa menatap ke depan.
Leon menyeringai. Ia berjalan dua langkah dan segera menarik pinggang Lily.
Lily tersentak kaget. Dapat ia rasakan setiap lekukan badan Leon yang menyentuh kulitnya, kemudian ia mendongakkan kepalanya ke atas.
Deg.
Kedua mata sepasang kekasih itu saling bersitatap satu sama lain.
Sejenak mereka membeku.
Tetesan air yang berasal dari rambut Leon membasahi pipi Lily.
Lily terpana.
Alis matanya yang tebal, bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung, bibir tebalnya berwarna pink tampak bergetar sedikit menahan sejuknya malam, rahangnya yang tegas dan kokoh di tumbuhi bulu-bulu halus, membuatnya terlihat amat menawan.
Cahaya rembulan di atas sana membuat parasnya semakin nampak jelas. Sorotan mata Leon yang mendambakan dirinya.
Leon tersenyum padanya.
Deg.. Deg.. Deg... Deg..
Jantung mereka berdetak dengan sangat cepat. Keduanya saling mengangumi satu sama lain.
"Aku sangat beruntung memiliki mu, aku ingin segera memiliki mu seutuhnya, aku bisa gila tanpa mu!"
"Oh my God. Kenapa aku baru menyadarinya, kalau dia sangat lah tampan, bisa gila aku!"
Kedua mata Lily enggan berkedip. Ia masih memperhatikan setiap inci wajah Leon.
Pria itu pun menatap ke dalam bola mata Lily yang berwarna biru laut. Ia semakin menempelkan tubuh Lily padanya.
Leon segera mengecup bibir ranum Lily dengan sangat rakus. Ia men_yesap, mengigit, melilit li_dahnya, kemudian mengeksplor rongga mulutnya tanpa memberikan jeda.
Leon menuntun Lily agar menempel pada batu berbentuk pipih, yang bisa di jadikannya tempat untuk bersandar.
Pria itu tak melepaskan tautan. Nafas keduanya mulai memburu. Saat punggung Lily sudah menempel di benda keras dan besar itu.
Leon berhenti sejenak. Kemudian beralih menge_cup kening, pipi, dan terakhir kedua mata Lily yang sedari tadi tertutup.
Nafas kedua insan itu tersengal-sengal seperti berlomba lari marathon.
Leon menyingkap kaos Lily, lalu tangannya menarik cepat benda berbentuk kaca mata yang menutup aset penting Lily.
Lily memekik. "Leon!"
"Shftttttt!"
"Honey, stop," pinta Lily dengan suaranya yang mendayu saat Leon mulai me_yesap biji kacang hijau itu.
Wanita itu geli namun terbuai nikmat, sambil menutup kedua matanya.
"Leon, please," pintanya memohon untuk berhenti sembari mengenggam kuat rambut pujaan hatinya.
Leon tak mengindahkan perkataan Lily. Ia semakin melancarkan aksinya dengan mulai membuka retsleting Lily.
"Honey, aku mohon, hentikan lah. Aku tak sanggup. Jangan lupakan prinsip mu," ucapnya pelan, membuat Leon segera tersadar kemudian ia menghentikan gerakan tangannya. Ia pun mundur dua langkah.
"Maafkan aku, Honey!" ucap Leon dengan raut wajah sesal.
"Ada apa dengan ku? Kenapa aku tidak bisa mengontrol diri ku. Padahal aku hanya ingin menciumnya saja tadi."
Lily memegang dadanya, ia tengah mengatur nafasnya. Ia menatap Leon sejenak.
"Kenapa dia sangat menggemaskan, sih." Batin Lily saat melihat pria di depannya menampilkan raut wajah seperti anak kucing.
Kedua insan manusia itu tertegun sejenak, dengan perbuatan mereka barusan.
Kemudian terkekeh pelan.
.
.
.
__ADS_1