Pelangi Untuk Lily

Pelangi Untuk Lily
Chapter 25. Bertemu Masa Lalu (2)


__ADS_3

Leon menatap tajam, cengkraman tangan pada pergelangan tangan Arnold semakin di eratkannya. Sorot mata Leon seakan ingin menguliti musuh di depan. Secepat kilat pandangannya beralih pada Lily. Leon memberikan isyarat untuk segera menyingkir.


Lily terkejut dengan keberadaan Leon. Namun dia sedikit merasa lega, entah mengapa setiap Leon berada di dekatnya jantung Lily berdetak dengan sangat cepat.


Mengerti dengan isyarat dari Leon, Lily pun mundur beberapa langkah.


"Hanya seorang pencundang, yang berani mengangkatkan tangan kepada seorang wanita!" Leon tersenyum sinis sambil mengibaskan tangan Arnold dengan kasar.


"Ck, apa urusan mu Leon. Jangan ikut campur,!" seru Arnold menatap tajam.


"Ini sudah menjadi urusanku. Lily kekasihku!" ucap Leon dengan sorot mata dingin.


Deg.


Lily terkejut mendengar pernyataan Leon, dia tampak heran. Sama halnya dengan Arnold dia pun terkejut.


"Apakah ada sesuatu yang terlewatkan dari Lily." Batin Arnold.


"Kekasih?Apakah Leon sedang berakting untuk menyelamatkan ku!" gumam Lily dalam hati.


"Tak usah berakting Leon!" ucap Arnold.


"Apakah wajah ku terlihat sedang berakting," ucap Leon dengan raut wajah serius.


Arnold terdiam. Dia jelas tahu bagaimana watak musuhnya itu.


"Cihh." Arnold menatap tajam kepada Leon.


Arnold segera mengalihkan pandangan pada Lily, dia menatap dingin pada mantan istrinya itu. Arnold tak mencintai Lily sedari dulu. Dia hanya menginginkan kekayaan Lily. Tidak ada rasa cinta untuk Lily. Arnold tak pernah menganggap anaknya ada.


Rencana awal memang tak ingin memiliki anak bersama Lily. Tetapi ibarat kucing di kasi ikan asin pun tidak akan menolak. Arnold melakukan hubungan intim selayaknya pasangan suami istri bersama Lily. Aktingnya begitu apik sehingga Lily menganggap Arnold sangat mencintainya.


Hingga suatu malam Arnold dan Rissa kepergok oleh Lily dan anaknya "Kendrick". Arnold tetap tak kehabisan akal. Dia pun berakting jika Lily tak bisa memuaskan dirinya di atas ranjang. Perkelahian mulut pun terjadi antara ketiga orang dewasa malam itu, hingga akhirnya kejadian yang tak di inginkan pun terjadi.


Kendrick dan Lily adalah korban kebengisan Arnold pada malam itu, malam mencengkam yang terjadi di bulan November.


Tatapan mata Arnold membuat Lily mengingat kejadian kala itu, tangan Lily gemetar.


Arnold tak mengucap sepatah kata pun hanya tatapan matanya yang menghunus ke dalam mata Lily. Lantas dia pun segera berlalu pergi meninggalkan kedua manusia itu.


Leon menghampiri Lily yang terlihat shock dengan kejadian beberapa detik yang lalu.


"Kau tak apa-apa?" tanya Leon sembari menatap dalam.


Lily segera tersadar dari lamunan.


"Maaf, anda jadi ikut campur urusan ku, sebelumnya terimakasih Tuan sudah berakting untuk menyelamatkan ku," jelas Lily dengan raut wajah sedih. Sungguh dia merasa tak enak hati pada Leon.


Leon tak membalas perkataan Lily. Dia menunjukkan ekspresi wajah yang tak bisa terbaca.


"Ayo, kita menikah!"


"Hah?"


Hening!

__ADS_1


Mendengar perkataan Leon. Lily terkesiap, dia terdiam membisu. Namun situasi di dalam organ jantung Lily berbeda, degup jantung Lily berpacu dengan sangat cepat. Lily berusaha bersikap tenang.


"Astaga jantung ada apa dengan diri mu berkerjasama lah. Leon bagus sekali aktingnya aku tidak akan tertipu. Ingat Lily belajarlah dari masa lalu mu" Batin Lily mengingatkan dirinya sendiri.


Leon melihat ekspresi dan gerakan gestur tubuh Lily. Sudut bibirnya terangkat sedikit, secepat kilat dia merubah ekspresinya. Entah apa yang sedang di pikirkan Leon saat ini, dia tak mengedipkan mata saat melihat wajah Lily.


"Lunna meninginkan mu jadi ibunya," jelas Leon.


"Tuan apakah sekrup kewarasan di otakmu sudah terlepas kemarin gara-gara ku tendang,?" tanyanya.


Leon tersenyum mendengar pertanyaan wanita di hadapannya. Lily tertegun sesaat melihat senyuman yang tak pernah dia lihat dari Leon.


Debaran jantung di dada Lily semakin bertambah saja, seperti lomba pacuan kuda.


"Ya Tuhan. kenapa dengan jantung ku. Ayo jangan lemah!" Teriak Lily di dalam hati.


"Kau tak ingin menjadi istri ku?" tanya Leon dengan raut wajah yang serius.


Lily menghela napas.


"Tuan Leon Andersean yang terhormat. Saat ini aku tak mengerti dengan topik pembicaraan kita. Tapi yang jelas jika Lunna menginginkan aku jadi ibu Aku mengizinkannya, Dia bisa menganggap aku sebagai ibunya. Dia bisa main kapan pun ke apartmentku," jelas Lily panjang lebar.


Raut wajah Leon datar tak berekspresi. Dia tampak sedang berpikir.


"Apakah aku kurang tampan,?" tanya Leon.


"Maksud anda Tuan?" Lily mengernyitkan dahi.


"Apa mungkin karna aku kurang tampan. Jadi kau tak mau menikah dengan ku?" ucap Leon.


"Tidak tuan. Tolak ukur menikah bukan hanya dari penampilan wajah saja. Tapi ada hal lain salah satunya pasangan harus saling mencintai Tuan. Apakah Tuan mencintai ku?" tanya Lily to the point.


Lily menunggu jawaban dari Leon.


"Kau berharap jawaban apa darinya Lily. Bodoh. Hei kau jantung bisa berkerjasama tidak." Batin Lily berperang.


Tiba-tiba....


"Daddy!" panggil Lunna dari kejauhan, dia berlari kecil ke arah Leon berada. Di belakang ada Lexi yang memantau pergerakan Lunna.


Lexi mengernyitkan dahi, mengapa Leon sedang bersama Lily. Bukannya tadi Leon izin sebentar untuk ke toilet.


"Jodoh tak kemana. Apakah Nyonya Lily sudah tahu?" gumam Lexi dalam hati.


Mendengar panggilan Lunna. Leon reflek menolehkan mata ke asal sumber suara. Lunna terlihat menggemaskan saat berlari.


Lily yang melihat tingkah Lunna pun tersenyum.


Deggg Degg Deggg.


Kali ini yang berdebar adalah jantung Leon. Senyuman Lily membuat jantungnya berdebar sangat cepat.


Lexi dan Lunna akhirnya berada di dekat kedua manusia itu.


"Mom, ada di Mall ya. Lunna lindu Mommy," ucap Lunna sambil mendekat ke arah Lily.

__ADS_1


Lily mensejajarkan tubuh dengan Lunna. Dia membawa Lunna ke dalam pelukan.


Leon mematung, saat ini dia mencoba memahami reaksi tubuhnya.


Lexi melihat dengan jelas ekspresi Leon yang tersipu. Jelas saja telinga Leon sedikit memerah.


"Sepertinya tadi terjadi sesuatu, apakah Tuan Leon sudah jatuh cinta pada Nyonya Lily. Berarti rencanaku akan bertambah mulus." Batin Lexi bersorak.


*****


Sementara itu, ada keempat manusia yang sedang menunggu seseorang dari tadi.


Marimar dan si kembar gelisah karena Lily tak kunjung datang, padahal tadi dia mengatakan tidak akan lama.


"Kemana Lily katanya tadi sebentar." Batin Marimar sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mommy kok lama ya,?" tanya Samuel sambil memanyunkan bibir.


"Mungkin mommy ke toilet sebentar." Kendrick menenangkan sang adik.


"Tapi ini udah lama kak. Apa jangan-jangan mommy hilang!" ucap Nickolas dengan raut wajah polos.


"Tidak mungkin." Kendrick menatap datar Nickolas.


Marimar yang mendengarkan obrolan si kembar, juga tampak khawatir. Sedari tadi dia sudah berusaha menelepon Lily, namun tak di angkat.


Alhasil Marimar pun mengajak si kembar untuk mencari, mereka berjalan perlahan sambil menelisik keberadaan Lily.


Lalu lalang pengunjung Mall membuat mereka berdesakan satu sama lain.


Bugh.


Marimar tak sengaja menabrak seseorang.


"Apakah kau tidak punya mata,?" tanya Pria dengan raut wajah marah.


Marimar pun terkesiap, dia dapat merasakan aura negatif dari pria itu. Namun wajah pria itu terlihat tak asing di matanya seperti pernah melihat di televisi. Dia pun mundur beberapa langkah sambil menggandeng tangan si kembar.


"Daddy'" panggil Nickolas secara tiba-tiba.


Marimar terkejut mendengar panggilan Nickolas.


"Apa ini mantan suami Lily" Batin Marimar.


Lantas pria yang di panggil dengan sebutan "Daddy" tak merespon panggilan Nickolas. Secepat kilat dia berlalu pergi meninggalkan keempat manusia itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2