
***
Los Angeles.
Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan kuno yang menjulang tinggi.
Darla dan Lunna mengernyitkan dahi, saat melihat keempat pria di dalam mobil langsung turun dan tidak menghiraukan mereka sama sekali. Tampak mereka sedang berbicara dengan seseorang di ujung gedung.
"Lunna, kita kabul yuk," ajak Darla sambil berbicara pelan.
Lunna mengangguk cepat.
"Tapi bagaimana calanya?"
"Ikuti saja pelintah Dalla, okeyy."
Lunna membalas dengan mengacungkan jempol mungilnya.
"Shhfft, cekalang kita halus pula-pula tidul!" perintah Darla.
Lunna mengerutkan dahi. "Kenapa halus tidur?"
"Jangan banyak tanya, Lunna. Ayo cepat!" ucap Darla, saat melihat satu orang pria mendekat ke pintu mobil.
Darla menepuk pundak Lunna, bermaksud memberikannya kode. Lunna pun menurut. Seketika keduanya langsung tertidur.
"Damn!" jerit pria bertindik di hidungnya, saat melihat Darla dan Lunna sudah tergolek tak berdaya.
"Ada apa?" tanya seorang pria yang memiliki tato tengkorak kecil di pipi kiri. Dia terkejut saat melihat temannya berteriak seperti orang frustrasi.
"Kau lihat, mereka tertidur!" sungutnya.
"Hahaha, apa susahnya tinggal angkat saja mereka!"
Pria bertato tengkorak itu, malah tertawa keras melihat kekesalan temannya.
"Kau ini bodoh atau apa, lihat badan mereka!?"
Lantas, pria itu menghentikan tawanya. Kedua pria itu saling menatap satu sama lain. Kemudian menghembuskan napas dengan kasar.
"Kau bawa anak yang bergaun pink itu!"
"Tidak mau!" protes pria bertato tengkorak, dengan cepat dia mengangkat tubuh Lunna.
"Cih, kau!" Pria bertindik di hidung berdecak kesal. Terpaksa dia mengangkat tubuh Darla. "Kenapa anak ini berat sekali?" ucapnya pelan.
"Kulang ajal dia bilang aku belat! Lasakan ini!" Gumam Darla dalam hati.
BUGH.
"Ahhhhh belalai kuuuu!" jeritnya saat pergerakkan kaki Darla mengenai adik kecilnya yang berada di balik celana. Dia menahan tubuh Darla kecil agar tidak terjatuh ke bawah.
"Kau kenapa bodoh?" tanya pria bertato tengkorak, sambil menggelengkan kepala.
"Heiii kalian berhenti bermain-main! Cepatlah!" teriak pria berkulit hitam setinggi 185 cm di ujung gedung.
"Okey bro! Ayo cepat kau ini!" ajaknya kepada teman yang mengaduh kesakitan tadi.
Tak butuh waktu lama. Darla dan Lunna sudah berada di dalam ruangan. Dengan cepat kedua pria tadi membaringkan tubuh mereka di atas sofa. Derap langkah kaki menuju pintu terdengar dari telinga Lunna.
Hening sejenak!
Secepat kilat, Lunna membuka kelopak matanya. Dia menelisik ruangan yang mereka tempati sekarang.
Tidak besar ataupun tidak kecil!
Lunna melirik ke samping tubuhnya. "Darla bangun." Lunna berucap kepada Darla yang masih menutup matanya.
Lunna mengguncang tubuh Darla namun tidak ada pergerakan sama sekali. Terdengar dengkuran yang sangat halus dari bibir Darla.
"Oh my God, dia malah benelan tertidur," gerutu Lunna sambil memanyunkan bibir.
"Ah sudahlah aku tidul juga, hoaammmmmmmmm."
Lunna menguap beberapa kali. Kemudian tidak butuh waktu lama Lunna tertidur pulas, menyusul Darla ke alam mimpi.
Keesokan harinya.
Darla dan Lunna menggeliat sejenak. Tanpa sadar Darla kembali menimpa tubuh Lunna dengan kakinya. Darla memeluk Lunna seperti bantal guling.
Lunna mengernyitkan dahi, saat merasakan sesuatu yang sangat berat menekan tubuhnya. Kedua matanya terbelalak, saat Darla menjadikannya seperti bantal.
"Dalaa kau sangat menyebalkan!" gerutu Lunna dalam hati.
__ADS_1
"Dalaaaa! Bangun!" Lunna mengguncang tubuh Darla.
"Belicik cekali kau ini Lunna, hoammmmmmm." Darla menguap sembari mengerjapkan kedua bola matanya.
"Kita di mana?" Darla tampak bingung dengan ruangan yang sangat asing baginya.
"Kau lupa kemalin kita kan di culik, katanya semalam mau kabul eh malah ketidulan. Sekalang sudah pagi, pasti susah untuk kabul!" Kesal Lunna sambil melipat tangan di dada.
"Tidak susah, ayo!"
"Ha!? Nanti ketahuan!"
"Tidak! Ikuti saja pelintah ku."
Lunna membuang napas kasar. "Telselah, pusing kepala Lunna!"
Lunna pasrah dengan ide Darla yang tidak masuk akal menurutnya. Pasalnya mereka ini hanya anak kecil, bagaimana jika ketahuan lalu di pukul. Sama seperti kejadian tempo lalu, ketika dia di culik. Lunna pernah mencoba kabur namun tidak berhasil, menyebabkan Lunna harus di tampar oleh pria yang tak di kenalnya waktu itu.
Keduanya pun turun dari sofa, beruntung sekali sofa tersebut tidak tinggi.
Darla menelisik keadaan dalam ruangan. Mata elangnya melihat bangku plastik berukuran kecil. Dia mengambil bangku tersebut.
"Tunggu sebental!"
Darla berjalan cepat menuju ambang pintu sambil menenteng bangku. Darla menaruhnya di dekat pintu dan menaikinya.
Darla membuka pintu dengan pelan, kemudian menyembulkan sedikit kepalanya. Darla melihat dua orang pria yang sedang asik mengobrol membelakanginya.
Setelah itu Darla menutup kembali pintu tersebut.
"Aman!"
Darla menatap ke arah Lunna yang memperhatikan gerak-geriknya.
Darla mengambil dua selimut berukuran kecil yang terdapat di keranjang bulat dan melempar satu selimut pada Lunna.
"Apa yang kau lakukan?" sungut Lunna sambil mengambil selimut di atas kepalanya.
Darla tak menyahut, dia sibuk sendiri. Darla melihat jas pria berwarna hitam yang tergeletak di meja. Darla pun memeriksa saku jas dan menemukan dompet kecil. Dia menyelipkan dompet di gaun mungilnya.
"Dallaaa itu punya olang, kenapa kau ambil?"
"Diamlah, ini kan akan berguna untuk kita nanti!"
Kemudian Darla berlari cepat menuju jendela, sambil menenteng bangku kecil.
"Lunna, ayo cepat bantu Dalla buka jendela ini!"
Lunna menurut, mereka berdua membuka jendela dengan sekuat tenaga. Angin sangat kencang menerpa rambut panjang keduanya saat jendela berhasil di buka. Di luar jendela terdapat balkon kecil.
"Dingin!" celetuk Lunna sambil memeluk tubuh. "Sekalang apa?" tanyanya.
Darla tak membalas, dia menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Keadaan di luar masih sangat sepi. Terdapat bangunan kuno yang sama semuanya. Belum ada aktivitas dari penghuni gedung.
Darla menoleh ke bawah, dia melihat tempat sampah berukuran besar yang terbuka lebar. Sekelebat ide muncul di otaknya.
"Lunna ikuti semua pelintah Dalla. Kita akan berpetualang!"
"Ha!?" Lunna melonggo, barusan Darla bilang apa. Lunna semakin bertambah bingung saja dengan pemikiran Darla.
"Sekalang kita ke situ! Bawa selimut mu!" Darla menunjuk balkon yang berada di luar.
Lunna menuruti apa yang di katakan Darla, siapa tahu saja rencana Darla berhasil walaupun Lunna tampak ragu.
Keduanya saat ini sudah berada di atas balkon, angin menerbangkan rambut panjang mereka.
"Kita halus lompat ke tempat sampah itu!" Darla menunjuk tempat sampah yang besar di bawah mereka.
"Ap...."
"Shffft jangan belteliak Lunna, nanti kita ketahuan," ucap Darla pelan seraya menutup mulut Lunna.
Lunna mengangguk paham.
"Ikuti apa yang aku lakukan!" perintah Darla.
Darla membuka pagar pembatas balkon. Darla membungkus seluruh tubuhnya termasuk kepalanya dengan selimut dan tidak lupa membawa bangku kecil. Kemudian melompat ke bawah.
Bingo!
Tepat sasaran!
__ADS_1
Lunna terkejut, bagaimana bisa padahal mereka saat ini berada di tingkat lima.
Darla melambaikan tangannya memberikan kode padanya. Dia menyuruh Lunna untuk melompat.
Tanpa pikir panjang Lunna melakukan hal yang serupa, dia menyelimuti seluruh tubuhnya dan melompat ke bawah.
Jack pot!
***
Sementara itu di Kota yang sama.
Lily dan Leon berserta dua orang pria bertubuh tegap dan kekar sudah tiba di Los Angeles.
Leon memerintahkan Lexi untuk mencari penginapan saja yang dekat dengan tempat persembunyian Swedish House Mafia, milik Pablo Piccaso.
Leon sebenarnya ingin mengajak Lily untuk bertemu kedua orangtuanya. Akan tetapi mengingat tempat tinggal orangtuanya berada sangat jauh dari posisi mereka sekarang. Dia mengurungkan niatnya.
Selesai dengan urusannya Leon pasti akan mengajak Lily untuk bertemu kedua orangtuanya.
Lily sudah mengetahui hubungan antara Leon dan orangtua memang kurang baik. Lily berharap Leon dapat berdamai dengan kedua orangtuanya. Lily tak banyak bertanya, dia tipikal wanita yang menghargai privasi pasangannya.
"Honey," sapa Leon dari belakang. Dia melingkarkan tangan di pinggang dan menaruh dagunya di pundak Lily.
Kedua mata Lily sedang asik menikmati lalu lalang kendaraan di bawah hotel. Dia tengah memikirkan sesuatu.
"Honey," sapa Leon kembali saat tidak mendapatkan respon dari kekasihnya. Leon mengecup leher jenjang Lily.
"Leon geli!" seru Lily sambil mengeliat sejenak.
Bukannya berhenti, Leon kembali mencium dan mengigit kecil, meninggalkan tanda kemerahan di leher Lily.
"Hentikan, Leon! Geli!"
Leon berpura-pura tidak mendengar permintaan kekasihnya. Dia membalikkan tubuh Lily. Kemudian melahap bibir ranum kekasihnya dengan rakus.
Lily terkesiap, dia ingin memberontak namun Leon merengkuh dan me**mat bibirnya. Tanpa sadar ia pun terbuai dan menikmati apa yang di lakukan kekasihnya.
Tok ... tok... tok.
Terdengar ketukan dari luar pintu.
Sepasang kekasih itu, tidak menghiraukan suara ketukan. Mereka sedang menikmati kegiatan panas. Tangan Leon sudah bergerilya kemana-mana.
Tok... tok.... tok... tok... tok..
Kali ini ketukan lebih nyaring dan lebih keras.
Lily segera tersadar, dia mendorong tubuh Leon.
"Honey, ada orang!"
"Biarkan saja!" Leon menarik pinggang Lily kembali.
"Siapa tahu saja penting!" Lily melototkan kedua matanya.
"Tapi Hon.... "
"Leon!"
Leon menghela napas berat. Mau tidak mau Leon pun menuruti perkataan Lily. Leon berjalan gontai menuju ambang pintu dengan mukanya yang di tekuk.
"Ada apa?"
Sorot mata Leon sangat mencekam dan tajam. Lexi benar-benar menganggu aktivitas paginya.
Lexi menelan saliva dengan kasar melihat ekspresi Leon seperti mau membunuhnya saja.
Gleg!
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," gumam Lexi dalam hati.
"Tuan, Montero ingin bertemu anda," ucap Lexi tampak salah tingkah.
Mendengar penuturan Lexi, raut wajah Leon berubah drastis.
.
.
.
.
__ADS_1
.