
***
Marimar menajamkan indera penglihatannya. "Iya benar, itu mobil Leon!" ucapnya cepat saat melihat kendaran milik Leon keluar, detik kemudian mobil yang lain dia kenali keluar dari gang.
Kedua mata Marimar tak sengaja bertabrakan dengan netra seseorang di dalam mobil itu.
Siapa lagi kalau bukan Lexi.
Secepat kilat pria gemulai itu membalikkan badan.
Dugh.
"Awh! Kenapa kau menyundul kening ku bodoh!" seru Maximus seraya mengusap dahinya.
Pria blasteran itu mengaduh kesakitan sebab Marimar tanpa sengaja membenturkan pangkal kepalanya.
'Aduh, kening akika sakit! Ngak sengaja Max! Arghhh!" protes Marimar sambil melototkan mata dengan sangat tajam.
"Ckkk! Alasan!" Maximus berdecak kesal. "Kau ini seperti burung hantu, memutarkan kepala tidak pakai aba-aba!"
Maximus memojokkan pria di hadapannya, sembari membuang napas kasar.
"Hey, eyke mutar kepala juga ada sebab keles. Tuh tadi Lexi lihat eyke. Gimana kalau kita ketahuan, ha!?" Desis Marimar kesal, dia membela dirinya seraya melipat kedua tangannya di dada.
Maximus enggan membalas perkataan pria bertubuh lentur itu. Dia hanya melebarkan kedua matanya dan menatap tajam Marimar.
"Benarkah?" Samuel bertanya balik memastikan apa yang di lihat Marimar benar adanya.
"Hmmmm!" balas Marimar tanpa menatap lawan bicaranya. Dia tengah beradu pandang dengan Maximus. Mereka seperti berkelahi melalui kontak mata dan gestur tubuh.
"Eh, kutu kupret, tampan sih ya. Tapi you bukan selera eyke!"
"Dasar anabel, parasit! Pergi sana kau ke kutub utara. Selera-selera, emangnya indomie!"
"Kau!" ucap Marimar dan Maximus serempak di dalam hati.
"Hey kak, lebih baik kita ikutin saja mobil Daddy!" ajak Samuel cepat. Dia yakin jika Mommy dan Daddynya tengah berusaha menyelamatkan Darla dan Lunna. Jiwa berpetualangnya ingin segera membantu mereka.
"Iya, benar. Ayo kita ke mobil!"
Nickolas dan Samuel mengayunkan kaki menuju kendaraan roda empat yang mereka sewa.
Kendrick mengernyitkan dahi, sebab Marimar dan Maximus masih tak bergeming dari posisi. Kedua pria itu saling berkelahi tanpa mengeluarkan suara. "Hei, kalian! Mau sampai kalian seperti ini! Ayo cepat!" ucapnya tegas dan lugas sembari berlalu pergi menyusul saudara kembarnya.
Maximus dan Marimar tersadar dari pertikaian bisu itu. Mereka memalingkan muka dengan cepat.
Detik kemudian.
Brug.
Lagi dan lagi.
Keduanya bertabrakkan karena mereka berjalanan berlawanan arah.
__ADS_1
"Awwhhhhhhhhh!" jerit Marimar saat kaki Maximus menginjak ujung jari jempol kakinya.
Maximus sengaja, membalas perbuatan pria di hadapannya. Ia tertawa di dalam hati sambil menyeringai licik. Tiba-tiba indera penciumannya mengendus-endus bau yang tidak sedap di sekitarnya.
"Bau apa ini?!" Maximus mengernyitkan dahi sambil menutup hidungnya.
Marimar mengumpat-umpat kecil, dia tak menanggapi pertanyaan Maximus. Pria setengah wanita itu membuka flatshoesnya dan mengusap-usap pelan jari kakinya.
"Bau kenikmatan!" seru Marimar setelah rasa sakitnya berkurang. Kemudian dia berjalan mendahului Maximus.
Maximus pun mengekori Marimar dari belakang.
Ting.
Sekelebat ide jahil Marimar muncul di otaknya.
"Rasakan ini!"
Putttt.
Terdengar bunyi gas bersenandung besar melalui bokong sintal Marimar. Setelah memberikan bom kentut pada Maximus. Dia berlari gemulai dan lincah menuju mobil.
"Hahahaa, rasakan itu!" seloroh Marimar tanpa menghentikan kedua tungkai kakinya.
"Marcooooooo! Sialan kau!" teriak Maximus dan segera menutup rapat-rapat indera penciumannya kembali. Maximus mengejar pria gemulai itu dan hendak melayangkan pukulan.
"Stop! Bisakah kalian tidak usah bertingkah seperti anak kecil! Kita nanti kehilangan jejak!" seru Nickolas saat melihat Maximus ingin memukul punggung Marimar.
Pria blasteran itu menahan rasa kesalnya dan melampiaskan bogemannya ke udara.
"Bau apa ini?" cetus Kendrick. Hidungnya berkerut merasa asing dengan aroma yang baru saja di tangkap oleh indera penciumannya.
Nickolas dan Samuel pun mengendus bau yang tak sedap. Si kembar triplet serempak menutup hidungnya.
Marimar tak menyahuti perkataan Kendrick. Dia tengah menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Maximus yang baru saja menjatuhkan bokongnya di kursi pengemudi. Dia keheranan dengan tingkah si kembar.
"Ada bau yang tidak enak!" jawab Samuel cepat. Dia mengibaskan tangannya di udara berusaha menyamarkan bau yang menusuk.
Lantas Maximus menatap dingin pada Marimar yang berada di sampingnya. "Kau kentut atau berak ha?!" tanyanya menyelidik.
"Hehe, maaf eyke kecepirit di celana!" jawab Marimar tanpa rasa bersalah.
"Oh my God!" Samuel sungguh tak percaya dengan perkataan Marimar barusan. Pantas saja baunya menyengat.
"Hoekk!" Nickolas ingin memuntahkan isi perutnya saat mendengarkan penjelasan Marimar.
"Kau sangat jorok! Apa yang kau makan bodoh?!" desis Maximus agak menjauh dari Marimar.
"Eyke makan jengkol yang di bawa dari Indonesia. Tapi tanpa nasi hehe, habisnya ngak ada nasi sih. Kita ke toko dulu yuk beli celana!" pintanya sambil menunjukkan wajah puppy eyesnya.
"Tidakkkkk!" sahut Maximus, Nickolas dan Samuel serempak. Jika mereka ke toko pakaian akan membutuhkan waktu yang lama. Ketiga pria berbeda generasi itu tidak ingin kehilangan jejak.
__ADS_1
Sedangkan Kendrick hanya bisa menggelengkan kepala melihat gelagat Marimar.
"Ih, jahat banget sih, ayo lah. Akika juga ngak tahu kali kalau kecepirit. Mami, Papi, Marimar di jahatin sama mereka. Hikss hiksss!" cetus Marimar sambil mengusap-usap pipinya yang tidak keluar air mata.
Memang benar Marimar hanya ingin mengeluarkan gas yang beracun dari dalam organ pencernaannya. Dia tak menyangka kentut itu juga mengeluarkan sesuatu yang tidak di inginkannya. Sedari tadi dia merasa geli sendiri dengan sesuatu yang menempel di sela-sela pantatnya.
"Max! Kita ke toko pakaian dulu." Kendrick berkata pada Maximus melalui kaca di bagian tengah.
...----------------...
Mobil Range Rover Ovuque.
"Honey, kau tak apa-apa?" tanya Leon melirik sekilas pada sang kekasih.
"Aku baik-baik saja!" Lily mengambil pistol yang berada di dalam jaketnya.
Saat ini sepasang kekasih itu tengah di kejar oleh kelompok Swedish House Mafia. Leon mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.
"Honey, gunakan sabuk pengaman mu!"
Leon memperingati, sebab ia hendak berbelok ke kiri. Agar terhindar dari serangan anak buah Pablo.
"Iya, Honey!"
Wanita berambut panjang itu menuruti perkataan kekasihnya dan menggunakan seatbelt dengan begitu cepat.
Dor.
"Damn! Hampir saja!" seru Lily saat samping kendaraan mobil di tembak dari arah belakang.
"Rasakan ini!" Lily hendak menembakkan timah pelurunya tepat di ban kendaraan roda empat musuhnya.
Dor.
Dor.
Dua kali tembakan melesat cepat ke arah sasaran.
Berhasil.
Kendaraan di belakang sudah tertinggal jauh dari mereka. Namun dua mobil masih mengekori sepasang kekasih itu.
Kedua mata Leon melihat situasi di sekitarnya.
"Lex, suruh Montero menjaga barang haram Pablo. Jangan sampai mereka mendapatkannya. Kami akan menjebak dua mobil di belakang mu di Street Saint. Kau putar balik! Kita akan bertemu di tempat yang kita rencanakan!" perintah Leon cepat melalui wireless bluetooth di telinganya.
"Yes, King!" ucap Lexi di ujung sana.
.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote, hadiah dan komen.