
~I"m not running away,
I will feel the pain and stay~
•
•
•
5 menit yang lalu.
Gedung Apartment Lily.
Seorang pria tua sedang duduk tenang di kursi yang bercorak kayu, dia sedang menatap lurus kedepan. Kedua netra berwarna abu-abu itu menikmati riak air yang meliuk-liuk mencoba menyapanya, dari luar ruangan itu. Terdengar hembusan napas yang begitu pelan dari indera penciumannya. Dia masih tak bergeming dari posisi semula.
Tampak garis keriput menghiasi wajahnya itu, tapi tetap tak menghilangkan paras rupawan yang dimilikinya saat dia masih muda dulu. Jengot tebal dan lebat yang tampak memutih, menonjolkan rahang yang begitu kokoh. Terdapat satu sayatan kecil yang membekas di sebelah kanan alis matanya. Otot lengan menyembul keluar membuat setelan jas yang dikenakan tercetak pas di tubuh kekarnya itu.
Terlihat kepulan hawa panas dari kopi yang berada diatas meja, menguap hingga ke permukaan udara. Pria tua itu, mengambil secangkir kopi yang sedari tadi berada di meja. Dia menyeruput air kopi dengan begitu pelan, lidahnya menyesap rasa manis yang begitu pas baginya.
Drttt.
Terdengar suara getaran dari benda pipih diatas meja itu, kedua mata pria itu pun melirik sekilas. Dia segera menaruh cangkir kopi tersebut. Satu tangan kekarnya mengambil ponsel dengan sigap.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Jonathan di sebrang sana tanpa basa-basi.
"Dia baik-baik saja, Tuan," jawab Fabio cepat.
"Baiklah, aku percaya denganmu!" Jonathan langsung memutus panggilan dengan sepihak.
Tut.
Fabio, sang tangan kanan Jonathan tampak mengulum senyum, saat Jonathan menelpon dirinya menanyakan kabar Lily. Dia adalah orang kepercayaan Jonathan. Fabio sudah mendedikasikan dirinya saat masih remaja, hingga dia beranjak dewasa bersama Jonathan. Saat ini dia sedang ditugaskan untuk memantau pergerakan putri sulung temannya itu sekaligus atasannya.
Fabio adalah saksi kunci bagaimana kejamnya Jonathan saat dia masih berada di dunia gelap kala itu, hingga suatu hari Jonathan melabuhkan hatinya pada seorang wanita biasa yang berasal dari Negeri Seribu Pulau. Dia ingin berubah, dia ingin menjadi orang baik, dia ingin bertobat. Dia ingin meninggalkan lembah kelam itu. Jonathan ingin menua bersama dengan tambatan hatinya.
Namun, perbuatan Jonathan di masa lalu selalu mengikutinya kemanapun kakinya melangkah. Sekarang dia sedang menuai apa yang diperbuatnya dulu. Meskipun begitu, dia tetap berusaha yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Fabio sebagai temannya menghargai keputusan yang diambil oleh Jonathan, dia pun dengan sukarela mengikuti Jonathan kemanapun dia pergi.
Krek.
Samar-sama terdengar bunyi retak, Fabio dengan sigap bangkit berdiri. Dia menengadahkan kepalanya ke atas, kedua telinganya berusaha mencari asal sumber suara tersebut. Dia menajamkan pendengarannya, Fabio tampak sedang berpikir.
"****!" umpat Fabio.
Kedua tungkai kaki Fabio berjalan cepat ke arah pintu apartment dan membuka dengan kasar pintu tersebut. Dia menekan earpiece pada telinga sebelah kirinya.
"Max, cepatlah kemari, apartment Lily!" ucap Fabio singkat.
Saat ini Fabio berada di lantai 19, tepat di bawah ruangan apartment Lily berada. Dia berlari secepat mungkin ke arah lift, sepatu pantofel menggema di sepanjang lorong apartment.
Beruntung saja suasana di lorong sepi, sehingga pergerakan yang dilakukannya pun juga bebas.
__ADS_1
Dengan sigap jari telunjuknya menekan lantai 20, benda kotak tersebut segera membawanya kesana. Fabio segera keluar dan langsung melangkahkan kaki dengan lincah ke tempat tujuan. Dia langsung membuka paksa pintu apartment Lily dengan dua kali tendangan.
Brakk.
Pintupun terbuka.
"Nyonya!" jerit Fabio.
Kedua matanya terbelalak melihat pemandangan di depan. Dia terkesiap ruangan tersebut sangatlah berantakan,vas bunga berserakan di lantai dan terdapat beberapa bercak darah yang belum kering. Kaca beling berhamburan di sekitar ruangan tersebut. Mata elang Fabio menangkap sosok wanita yang dia cari.
Deg.
Terlihat Lily sedang mengatur ritme pernapasannya, dia baru saja naik dari permukaan kolam renang. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Fabio memicingkan mata saat melihat satu wanita yang sudah tak berdaya mengapung didalam kolam, Fabio pun mengalihkan pandangan kepada Lily.
"Nyonya!" panggil Fabio.
Lily tak menyahut, raut wajahnya tak berekspresi. Dia berjalan pelan ke arah sofa di ruang tamu yang sudah tak beraturan letaknya.
"Jangan mendekat, Nyonya! Banyak kaca, kakimu bisa terluka!" Fabio memperingati Lily agar tak melangkah. Saat ini pikirannya berkecamuk, dia mencoba membaca isi pikiran Lily, yang sudah dianggapnya sebagai putri itu.
Namun Lily tak mengindahkan perkataan Fabio, dia tetap berjalan pelan ke arah sofa dengan kedua kaki rampingnya itu. Beberapa kaca beling menancap di telapak kakinya, tak terdengar suara rintihan sakit dari bibirnya. Dia duduk perlahan di sofa itu, terdengar suara hembusan napas yang pelan.
Tap tap tap.
Maximus baru saja tiba, dia pun terkejut saat melihat pemandangan di depan matanya. Secepat kilat dia menutup pintu apartment yang sudah terlihat rusak.
"Daddy!" tegur Max sambil menepuk pundak Fabio. Fabio menoleh sekilas ke arah anaknya. Dia memberikan kode kepada Max untuk mengangkat tubuh wanita yang terapung didalam kolam. Dia pun menuruti perintah ayahnya.
Fabio menghela napas dengan kasar, dia memejamkan matanya sejenak. Dia sedang berpikir, apakah ini hasil keteledorannya karena kejadian 3 tahun yang lalu, saat Arnold lelaki bajingan itu menyakiti Lily sehingga menyebabkan dendam pada hatinya.
"Aku tidak dendam pada Arnold! Dia yang memulai semuanya, aku sudah memperingatinya untuk jangan mengangguku. Tapi mereka tak mendengarkanku." tutur Lily cepat, seakan bisa membaca pikiran Fabio.
Fabio tak menyahut, dia diam, berusaha memberikan ruang untuk Lily berbicara.
"Dan aku semakin marah saat mengetahui ternyata Arnold bersengkokol dengan Pablo," ucapnya lagi dengan sorot mata dingin.
Fabio terkesiap, dia tak menyangka Pablo masih menyimpan dendam dengan Jonathan, padahal dulu mereka bertiga adalah teman. Mereka bertiga adalah tiga serangkai yang mengembangkan bisnis dunia gelapnya kala itu. Hingga suatu hari kesalahpahaman pun terjadi, ah rumit sekali. Kawan bisa menjadi lawan, apa yang tidak mungkin bukan.
"Katakan pada Ayah, aku akan membereskan Arnold dulu di sini, dalam beberapa hari kedepan perusahaan Ayah akan stabil," ucap Lily mantap. Dia menoleh ke arah Fabio, senyum manis terukir diwajahnya.
Fabio pun membalas senyuman Lily, dia telah salah sangka. Lily hanyalah seorang anak yang ingin melindungi keluarganya. Sorot mata kehangatan ternyata masih ada pada dirinya. Fabio melangkah pelan dan mensejajarkan tubuhnya pada Lily. Dia memegang kepala Lily dengan pelan.
"Nyonya, aku akan membantumu," ucap Fabio pelan seraya tersenyum.
"Terimakasih, Dad!"
"Uh berat sekali, wanita ini. Apa yang dimakannya," sungut Max menginterupsi obrolan kedua beda generasi tersebut. Dia membaringkan perlahan tubuh Ardella yang basah kuyup itu dilantai.
Lily dan Fabio terkekeh pelan mendengar kekesalan Maximus.
"Dia tidak matikan?" tanya Fabio cemas sambil melirik sekilas ke arah Lily.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak ingin mengotori tanganku!" jawab Lily cepat.
Max pun berinisiatif menaruh jari telunjuknya pada hidung Ardella, reflek dia menganggukkan kepala menyetujui perkataan Lily.
"Iya, dia masih hidup, Dad. Tidak mati, uh tidak keren!" tutur Max dengan enteng.
Mendengar ucapan anaknya, Fabio melototkan mata.
"Aku cuma bercanda Dad!" ucap Maximus sambil terkekeh pelan.
Lily yang melihat interaksi keduanya mengulum senyum.
"Max kau bawa wanita itu kerumah sakit dan cepat bereskan ruangan ini!" Titah Fabio kepada anaknya itu.
"What! Haruskah aku semua Dad?" Max bertanya balik.
"Jadi kau mengharapkan aku yang tua renta ini, membawanya begitu?" Fabio menggelengkan kepala mendengarkan pertanyaan Maximus.
"Aku cuma bercanda, Dad." Maximus terkekeh pelan, dia sangat suka mengerjai ayahnya itu.
Fabio mengalihkan pandangan ke arah Lily.
"Nyonya, kau banyak berhutang penjelasan denganku. Dari mana kau bisa belajar bela diri?" tanya Fabio penasaran, pasalnya setahu dirinya Lily tak bisa berkelahi ataupun bela diri.
"Rahasia, Dad!" tutur Lily sambil menyilangkan tangan didada.
Fabio mengusap kepala Lily dengan pelan, memang seharusnya Lily harus pandai bela diri, pikirnya. Namun, Jonathan terlalu cemas dengan putri sulungnya itu, alhasil dia pun meredam bakat terpendam Lily.
"Dad, tolong berikan ini pada Ayah Jonathan," Lily mengambil dokumen yang berada diatas meja.
***
Mobil mini Lily melesat pelan meninggalkan apartmentnya, saat ini dia sedang menuju perusahaan Co. Marq.
Drttt.
Terdengar suara getaran dari dalam tasnya. Lily segera mengambil handphone mininya tersebut.
"Honey, kau dimana?" tanya Leon dengan cepat.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1